Ulang Tahun DEKA ke 14

Hari Jumat, 25 Juli yang lalu, ada panggilan di HP-ku. “Halo, selamat sore”. “Halo… Paber ya..? ini Titus”. “…….” Pak Titus mengundang aku untuk ikut makan bersama hari Sabtu besoknya dalam rangka perayaan ulang tahun DEKA yang ke 14.

Hari Sabtu pagi jam 9.30 saya berangkat dari rumah. Dari terminal Pulogadung naik Trans Jakarta. Transit di halte Juanda dan Turun di halte Jelambar persis di samping Mall Citra Land (CL). Dari perempatan grogol naik mikrolet 12 jurusan kota dan turun di pintu 2 perkantoran Grogol Permai.

Aku singgah sebentar di trotoar tempat mangkalnya amangboru Hutapea. Aku lihat gerobaknya semaskin reot. Wajah amang boru itu semakin kering dan tua dibakar matahari, digerus debu jalanan dan mungkin juga didera keadaan ekonomi yang makin sulit. Amangboru Hutapea adalah salah satu pedagang kaki lima dipinggir jalan depan Perkantoran Grogol Permai. Aku pernah akrab dengannya ketika aku bekerja disana. Dia menjual minuman botol, rokok, tissue, permen dan lain-lain di atas sebuah gerobak kayu yang mungkin di buat sendiri dengan bahan apa adanya sehingga gerobak itu tidak simetris. “Horas Amangboru” aku menyapa. “Bah… Horas…” Dengan senymnya yang tulus, kami bersalaman. Lebih dari 2 tahun kami tidak bertemu karena sejak pindah kerja, aku hanya 2 kali kesana itu pun sudah lama. Wajahnya yang tersenyum itu dipenuhi kumis, jenggot dan cambang yang gersang dan sebagian sudah memutih dan kelihatan sekali jarang dicukur. Tidak lama aku ngobrol dengan amang boru itu. Setelah menuntaskan teh botol yang di sugukannya, akupun pamit. Tetap semangat amangboru…

Dari pintu dua aku langsung ke kantor PT. Deka Adhinusa yang berada di Blog G no 21 yang mau aku tuju. Tidak banyak yang berubah. Bangunan kantor yang warnanya sudah pudar masih tetap sama. Hanya ada satu dua bangunan yang mengalami renovasi kecil. Tanpa mengetok pintu atau menekan bel, aku mendorong pintu yang setengah terbuka dan masuk. Di dalam ada tiga orang laki-laki yang sedang beres-beres. Satu orang mirip dengan Adam. Adam adalah seorang pegawai deka ketika aku masih disana. Bertubuh super gendut dan suka senyum. Laki-laki itu menanyakan keperluanku. Aku mengatakan kalau aku mau ketemu dengan Pak Titus. Dia mengengat intercom dang mengatakan kalau di bawah ada tamu buat Pak Titus. Setelah itu dia mempersilahkan aku menunggu.

Aku memperhatikan ruangan bawah tersebut. Aku teringat kembali ketika dulu ada di sana. Bila Jam istirahat kami para karyawan sering ngumpul di satu ruangan kecil untuk sekedar ngobrol, makan siang, bergosip dll. Tapi kini ruangan itu sudah dipenuhi oleh dus-dus besar dan kursinya juga berdebu. Aku yakin tidakada lagi orang yang makan siang di ruangan itu.

Seorang gadis muncul di anak tangga dekat toilet dan berjalan ke arahku. “Pak Paber ya..?” “Iya” “Silahkan naik Pak…!”. Aku mengikuti si gadis itu naik ke lantai dua. Di tangga menuju lantai dua, aku melihat Ester. “Apa kabar Ester…? aku menyapa. “E….e Pak Paber…!.Sehaat…!” dia menjawab dengan suara khasnya yang agak sengau dan centil. Aku ngobrol sebentar dengan dia dan aku jadi tau kalau dia sudah punya seorang anak.

Di ujung tangga masih ada sebuah mesin foto copy. Posisinya masih seperti yang dulu. Disanalah untuk yang pertama kalinya aku belajar menggunakan foto copy, dan yang mengajari aku adalah Setya Wibagsana atau SW. Terimakasih Pak Set (aku biasa memanggilnya begitu). SW adalah inisial untuk Setya Wibagsana. Semua pegawai yang ada di Deka memiliki identitas pegawai yang sekaligus dipakai untuk nomor surat. Sebagai contoh 4PT-001, 4 artinya tahun 2004, PT artinya Philipus Titus, 001 artinya urutan. Inisialku dulu disana adalah PS sesuai dengan singkatan namaku. Tetapi tidak selamanya inisial itu adalah singkatan nama seperti beberapa contuh di atas. Ada kalanya yang diambil adalah huruf pertama dan huruf tengah seperti HL untuk Harli, PW untukPurwanto, HD untuk Hermedy, BN untuk Bina, SA untuk Saol, MU untuk Murdiati, AY untuk Toyibah (AYI), TT untuk Tita, dll.

Melewati pintu kaca aku memasuki ruangan lantai 2 yang merupakan jantung dar kantor tersebut. Disana ada “Big Boss” pak Titus di pojokkanan depan, selanjutnya ada Ester sebagai Administrasi, berikutnya ada Harli yang merupakan Super Sales Enginerr dan di pojok belakang ada Master Aplication Hermedy yang biasa dipanggil dengan Ahui. Sementara yang lain aku tidak kenal lagi karena mereka masuk setelah aku pindah.

Dulu mejaku ada di pojok kanan belakang menghadap ke dinding, di belakang pak Ahui, tetapi sekarang meja itu sudah tidak adal agi karena persis dipojok itu di buat pintu baru menuju ruko sebelah. Ternyata ruko sebelah sudah disewa untuk memperluas kantor deka. Aku rindu meja itu. Aku rindu dengan sebuah desktop yang merupakan alat bantu utamaku sebagai aplikasi. Aku rindu dengan kertas bekas yang aku potong-potong untuk oret-oretan atau untuk kalkulasi. Aku rindu dengan folder-folder besar berisi inquiry, penawaran, hitungan, brosur dll. Aku rindu dengan sebuah pesawat telepon diatas meja. Aku rindu semuanya.

Aku menyapa Pak Ahui yang duduknya memang dekat dengan pintu. Walaupun umurnya bertambah mendekati kepala 4, tetapi wajahnya semakin muda saja. Kulitnya yang putih kontras dengan brewoknya yang mungkin dicukur hanya sekali seminggu yang merupakan ciri khasnya. Pakaiannya selalu rapi bahkan “Fasionable” meminjam istilah para penata busana. Kali ini dia mengenakan kaos polo hitam garis-garis yang pas dengan badannya yang kecil. Celananya jeans dengan ukuran yang pas juga. Aku menyebut dia master aplication karena dia merupakan tukang aplikasi ulung paling senior dan telah menguasai semua hitung-hitungan pompa, vacumm dan blower. Dulu aku selalu bertanya kepadanya. Terimakasih pak Ahui, kamu mengajariku menghitung pompa.

Dari meja Ahui aku langsung ke meja Pak Titus. Masih seperti dulu, sibuk dan sibuk. Dia Seyum dan menatapku dengan mata sipitnya. Aku tau senyum itu tulus karena dari ekspressi mata kita bisa tau apakah seseorang senyum tulus atau hanya pura-pura, sesuai dengan yang aku pelajari ketika diklat Prajab di Bandung. Kami bersalaman dan sambil mengerjakan pekerjaannya kami ngobrol. Secara penampilan tidak ada yang berubah. Gaya bicara jug amasih sama. Aku ingat kembali bagaimana pertama kali aku bertemu dengan dia. Aku datang ke PT Deka akhir akhir september tahun 2003 untuk memenuhi panggilan test dan wawancara pekerjaan. Disitulah aku pertama kali bertemu, ngobrol dan makan siang di rumah makan padang. Waktu itu bulan puasa jadi agak suasah cari tempat makan. Aku juga teringat dengan saat-saat jalan ke PT Punj Lloyd di Cilandak. Naik mobil Atos berdua dengan Pak Titus setiap hari jumat. Bertemu dengan Mr Samir Vatt Cs dan juga seorang perempuan cantik receptionis Punj Lloyd tersebut yang namanya aku sudah lupa. Pernah sekali waktu Pak Titus berencana memberikan perempuan itu sebuah cendramata sebagai penghargaan kami kepadanya, tetapi aku tidak tahu mengapa tidak jadi. Masih ingat Pak…? Di perjalanan ke Punj Lloyd itulah Pak Titus menceritakan banyak hal kepada saya, tentang bisnis, tentang pendidikan, tentang relasi, tentang srategi, tentang impian-impian, tentang indonesia, tentang kehidupan sosial bahkan tentang ketuhanan. Terimakasih Pak Titus. Bapak telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya tidakakan lupa prinsip bapak bahwa membeli dan menggunakan barang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegunaan. Irit tidak sama dengan pelit. Bapak masih mau megumpulkan amplop-amplop bekas, memotongnya dan membuatnya menjadi kertas oret-oret?….he…he… sekarang aku juga melakukannya. Ada satu janjiku kepada Pak Titus yang belum aku penuhi yaitu menyetir. Aku janji akuakan memenuhinya dan kalau sudah, aku akan mengasi tahu bapak. Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan tentang pak Titus, nantilah aku ceritakan secara khusus.

Masih suasana ngobrol aku duduk di temapt dimana Bina dulu duduk. Disana ada dua buah layar televisi sebagai monitor CCTV untuk melihat bagian-bagian tertentu dari kantor itu dengan bantuan kamera. Di dekat meja Ester yang berbatasan langsung dengan meja Pak titus, ada sebuah mesin absensi. Dulu absensi adalah absensi tulis yang sering kali kita lupa mengisinya. Beberapa waktu sebelum aku pindah, sudah pernah diadakan mesin absensi sidik jari, tetapi tidak tahu bagaimana kelanjutannya.

Di depanku ada Harli aku langsung menyapa dia. Aku menyebut dia super sales engineer karena secara fakta, penjualan dialah yang paling besar bahkan bila dibandingkan dengan gabungan penjualan seles yang lain. Dalam hal menjual memang dia jago dan aku salut. Di awal aku bergabung dengan Deka, aku pernah sangat akrab dengan Harli. Sering pulang bersama walaupun hanya sampai perempatan CL. Kami sama-sama berasal dari sumatera. Aku dari medan, dia dari pekan baru. Hal inilah yang membuat kami semakin dekat. Tetapi beberapa waktu sebelum aku pindah aku membuat jarak dengan dia bahkan aku sama sekali berusaha agar tidak berkomunikasi dengan dia sampai aku meninggalkan deka. Hal itu disebabkan karena dimataku ketika itu dia terlalu keras kepada pegawai-pegawai yang baru-baru. Dia arogan, dia semena-mena dan aku tidak setuju. Aku tidak suka. Tetapi setelah beberapa lama aku pindah dari deka, aku menyesali perbuatanku. Aku sadar tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Harusnya ketidaksetujuanku aku ungkapkan saja dengan baik-baik tanpa harus membuat jarak dengan dia. Harusnya aku bisa memikirkan cara-cara yang lebih baik tanpa harus memusuhi dia. Maka ketika aku mendapat undangan dari Pak Titus untuk datang pada ulang tahun deka ini, hal pertama yang aku pikirkan adalah perbaikan hubungan dengan Harli. Dan TUHAN mengabulkannya. Harli maaf aku pernah membencimu. ini aku lakukan karena aku hanya menuruti emosiku saja. Aku sadar bahwa sikapku itu sangat tidak baik dan telah menjadi beban bagiku. Aku tetap salut kepada kamu makanya aku menyebut kamu Super Sales engineer.

Tak berapa lama Ibu Connie muncul. Tubuhnya yang mungil dengan kicauan yang memenuhi seisi ruangan menjadi ciri khasnya. “Hey…Paber….” dengan ekspressif dia menyahut ke aku. Ruangan menjadi tambah rame. Dia menanyakan banyak hal, bahkan dia sudah bertanya lagi sebelum aku selesai menjawab pertanyaan sebelumnya. Ibu Connie adalah perempuan yang tangguh. Tidak takut menghadapi siapapun. Aku masih ingat ketika kami pergi ke Kantor PT Idemitsu Indonesia di karawang. Dia dengan percaya diri menghadapi semua pimpinan perusahaan tersebut yang semuanya adalah orang jepang. Berkat kegigihannya, satu tahun kemudian deka memenangkan tender pengadaan pompa untuk perusahaan tersebut, walaupun melalui perusahaan lain. Aku masih ikut menangani proyek tersebut. Satu hal yang tak pernah aku lupa dari Ibu Connie adalah pernah satu kali diamarah besar ke aku. Pada hal waktu itu dia sedang di Surabaya. Saking marahnya dia marah di telepon dan juga marah melalui tulisan dengan menuliskan “SAYA BENAR-BENAR MARAH” dan mem-fax nya ke aku. Aku tersenyum membaca tulisan itu di mesin fax. Tapi aku sudah lupa apa penyebabnya. Sory ya bu Connie…. saya pernah membuat ibu marah besar…Mudah-mudahan ibu sudah memaafkannya.

Tak terasa waktu telah mendekati pukul 12 siang. Kamipun haru berangkat ke rumah makan AMPERA di jalan Pesanggarahan-Meruya. Aku naik Kijang innova baru yang disetir oleh Pak Titus dan aku duduk disampingnya. Aku tersanjung, sementara ibu connie beserta Murdiati, Lina dan satu orang lagi, duduk di bangku tengah. Yang lain ada yang naik mobil dan ada yang naik motor. Aku merasa terhormat. Aku merasa mendapat penghargaan yang besar dari Pak Titus.

Di Ampera kami makan siang bersama sepuasnya sebagai acara sukuran atas ulang tahun Deka yang ke 14. Disana ada juga Iwan, Santoso, Rahmat dan ada satu orang yang aku lupa namanya yang merupakan orang-orang yang pernah bekerja di Deka termasuk aku.

Dari Ampera kami singgah di joglo melihat bangunan baru yang akan dijadikan kantor baru deka. Bangunan ini lebih besar, lebih cantik lebih menarik. Rencananya sebagian pegawai deka akan di tempatkan di sana.

Dari joglo aku diantar Pak Titus bersama dengan ibu Connie ke depan Mall Taman Anggrek sesuai dengan permintaanku. Di depan Taman Anggrek itulah kami berpisah. Aku berjabat tangan dengan ibu Connie dan dengan Pak Titus. Kembali seyum tulus pak Titus mengembang.

Selamat Ulang Tahun ke 14 buat PT Dka Adhinusa. Tetaplah berkarya. Tetaplah maju. Doaku untukmu.

Iklan

MENGENAL ULOS BATAK

Ditulis pada Februari 18, 2008 oleh tanobatak

Oloan Pardede

[ JENIS DAN TATA CARA PENGGUNAANNYA ]

Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.

Proses pembuatan ulos batak.

Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.

Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.

Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.

Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.

Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.

Jenis Ulos

1. Ulos Jugia.

Ulos ini disebut juga “ulos naso ra pipot atau “pinunsaan”.
Biasanya ulos yang harga dan nilainya sangat mahal dalam suku Batak disebut ulos “homitan” yang disimpan di “hombung” atau “parmonang-monangan” (berupa Iemari pada jaman dulu kala). Menurut kepercayaan orang Batak, ulos ini tidak diperbolehkan dipakai sembarangan kecuali orang yang sudah “saur matua” atau kata lain “naung gabe” (orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan perempuan).

Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau belum mempunyai keturuan walaupun telah mempunyai cucu dari sebahagian anaknya, orang tua tersebut belum bisa disebut atau digolongkan dengan tingkalan saur matua. Hanya orang yang disebut “nagabe” sajalah yang berhak memakai ulos tersebut. Jadi ukuran hagabeon dalam adat suku Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan pangkat maupun kekayaan.

Tingginya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos sering menjadi barang warisan orang tua kepada anaknya dan nialainya sama dengan “sitoppi” (emas yang dipakai oleh istri raja pada waktu pesta) yang ukurannya sama dengan ukuran padi yang disepakati dan tentu jumlah besar.

2. Ulos Ragi Hidup.

Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita. Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.

Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga ( dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain. Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.

Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang. Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.

Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).

Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.

Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan didaerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.

3. Ragi Hotang.

Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai ulos “Marjabu”. Dengan pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin seperti rotan (hotang).
Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat.
Pada jaman dahulu rotan adalah tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Inilah yang dilambangkan oleh ragi (corak) tersebut.

4. Ulos Sadum.

Ulos ini penuh dengan warna warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai untuk suasana suka cita. Di Tapanuli Selatan ulos ini biasanya dipakai sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja. Untuk mengundang (marontang) raja raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas piring besar (pinggan godang burangir/harunduk panyurduan).
Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang memakai ulos ini. Begitu indahnya ulos ini sehingga didaerah lain sering dipakai sebagai ulos kenang-kenangan dan bahkan dibuat pula sebagai hiasan dinding. Ulos ini sering pula diberi sebagai kenang kenangan kepada pejabat pejabat yang berkunjung ke daerah.

5. Ulos Runjat.

Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang sebagai ulos “edang-edang” (dipakai pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu diluar hasuhutan bolon, misalnya oleh Tulang (paman), pariban (kakak pengantin perempuan yang sudah kawin), dan pamarai (pakcik pengantin perempuan). Ulos ini juga dapat diberikan pada waktu “mangupa-upa” dalam acara pesta gembira (ulaon silas ni roha).

Kelima jenis ulos ini adalah merupakan ulos homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini jarang dipakai hingga tidak perlu dicuci dan biasanya cukup dijemur di siang hari pada waktu masa bulan purnama (tula).

6. Ulos Sibolang.

Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan duka cita atau suka cita. Untuk keperluan duka cita biasanya dipilih dari jenis warna hitamnya menonjol, sedang bila dalam acara suka cita dipilih dari warna yang putihnya menonjol. Dalam acara duka cita ulos ini paling banyak dipergunakan orang. Untuk ulos “saput” atau ulos “tujung” harusnya dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain.

Dalam upacara perkawinan ulos ini biasanya dipakai sebagai “tutup ni ampang” dan juga bisa disandang, akan tetapi dipilih dari jenis yang warnanya putihnya menonjol. Inilah yang disebut “ulos pamontari”. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala peristiwa adat maka ulos ini dinilai paling tinggi dari segi adat batak. Harganya relatif murah sehingga dapat dijangkau orang kebanyakan. Ulos ini tidak lajim dipakai sebagai ulos pangupa atau parompa.

7. Ulos Suri-suri Ganjang.

Biasanya disebut saja ulos Suri-suri, berhubung coraknya berbentuk sisir memanjang. Dahulu ulos ini diperguakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipakai hula-hula menyambut pihak anak boru. Ulos ini juga dapat diberikan sebagai “ulos tondi” kepada pengantin. Ulos ini sering juga dipakai kaum wanita sebagai sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa. Bila dipakai sebagai ampe-ampe bisa mencapai dua kali lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga kelihatan sipemakai layaknya memakai dua ulos.

8. Ulos Mangiring.

Ulos ini mempunyai corak yang saling iring-beriring. Ini melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Ulos ini sering diberikan orang tua sebagai ulos parompa kepada cucunya. Seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir anak, kemudian lahir pula adik-adiknya sebagai temannya seiring dan sejalan. Ulos ini juga dapat dipakai sebagai pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali (detar) untuk kaum laki-laki. Bagi kaum wanita juga dapat dipakai sebagai saong (tudung). Pada waktu upacara “mampe goar” (pembaptisan anak) ulos ini juga dapat dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan pihak hula-hula kepada menantu. Bila mampe goar untuk anak sulung harus ulos jenis “Bintang maratur”.

9. Bintang Maratur.

Ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang yang teratur didalam ulos ini menunjukkan orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal “sinadongan” (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang, semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe), juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Sedangkan nilai dan fungsinya sama dengan ulos mangiring dan harganya relatif sama.

10. Sitoluntuho-Bolean.

Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai ulos parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan, yang dalam istilah adat batak dikatakan sebagai ulos panoropi yang diberikan hula-hula kepada boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntuho karena raginya/coraknya berjejer tiga, merupakan “tuho” atau “tugal” yang biasanya dipakai untuk melubang tanah guna menanam benih.

11. Uos Jungkit.

Ulos ini jenis ulos “nanidondang” atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dan keluarga Raja-raja untuk hoba-hoba yang dipakai hingga dada. Juga dipakai pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin.

Pada waktu dahulu kala, purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat Bandar Barus. Pada pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak ada lagi diperdagangkan. Maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara “manjungkit” (mengkait) benang ulos tersebut. Ragi yang dibuat hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang atau Lebong. Karena proses pembuatannya sangat sulit, menyebabkan ulos ini merupakan barang langka, maka kedudukannya diganti oleh kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik didaerah leluhur si Raja Batak pun pada waktu acara perkawinan kain songket ini biasa dipakai para anak gadis/pengantin perempuan sebagai pengganti ulos nanidondang. Disinilah pertanda atau merupakan suatu bukti telah pudarnya nilai ulos bagi orang Batak.

12. Ulos Lobu-Lobu.

Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Karenanya tidak pernah diperdagangkan atau disimpan diparmonang-monangan, itulah sebabnya orang jarang mengenal ulos ini. Bentuknya seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut ulos “giun hinarharan”. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.

Masih banyak lagi macam-macam corak dan nama-nama ulos antara lain: Ragi Panai, Ragi Hatirangga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi si Imput ni Hirik, Ulos Bugis, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Gipul, Ulos Takkup, dan banyak lagi nama-nama ulos yang belum disebut disini. Menurut orang-orang tua jenis ulos mencapai 57 jenis.

Seperti telah diterangkan, ulos mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara adat batak, karena itu tidak mungkin kita bicarakan adat batak tanpa membicarakan hiou, ois, obit godang atau uis yang kesemuanya adalah merupakan identintas orang Batak.

Penerima Ulos

Menurut tata cara adat batak, setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos sejak lahir hingga akhir hayatnya. Inilah yang disebut ulos “na marsintuhu” (ulos keharusan) sesuai dengan falsafah dalihan na tolu. Pertama diterima sewaktu dia baru lahir disebut ulos “parompa” dahulu dikenal dengan ulos “paralo-alo tondi”. Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (kawin) yang disebut ulos “marjabu” bagi kedua pengantin (saat ini desebut ulos “hela”).
Seterusnya yang ketiga adalah ulos yattg diterima sewaktu dia meninggal. dunia disebut ulos “saput”.

I. Ulos Saat Kelahiran.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga. 1. Bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping sianak, hanyalah orangtuanya saja (mar amani… ). 2. Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar disamping sianak, juga ayah dan kakeknya (marama ni… dan ompu ni… ).

Gelar ompu… bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan “si”, maka gelar yang diperoleh itu diperdapat dari anak sulung perempuan (ompung bao).
Bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar ompu yang diterimanya berasal dari anak sulung laki-laki (Ompung Suhut).

Untuk point pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan dua buah ulos yaitu ulos parompa untuk sianak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk sianak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri-suri ganjang atau ulos sitoluntuho.
Untuk point kedua, hula-hula harus menyediakan ulos sebanyak tiga buah, yaitu ulos parompa untuk sianak, ulos pargomgom untuk ayahnya, dan ulos bulang-bulang untuk ompungnya.

Seiring dengan pemberian ulos selalu disampaikan kata-kata yang mengandung harapan agar kiranya nama anak yang ditebalkan dan setelah dianya nanti besar dapat memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Disampaikan melalui umpama (pantun). Pihak hula-hula memberikan ulos dari jenis ulos bintang maratur, tetapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh saja ulos mangiring.

II. Ulos Saat Perkawinan

Dalam waktu upacara perkawinan, pihak hula-hula harus dapat menyediakan ulos “si tot ni pansa” yaitu; 1. Ulos marjabu (untuk pengantin), 2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki, 3. Ulos pamarai diberikan pada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah, 4. Ulos simolohon diberikan kepada iboto (adek/kakak) pengantin laki-laki. Bila belum ada yang menikah maka ulos ini dapat diberikan kepada iboto dari ayahnya. Ulos yang disebut sesuai dengan ketentuan diatas adalah ulos yang harus disediakan oleh pihak hula-hula (orang tua pengantin perempuan).

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan (sihunti ampang) hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita melihat begitu banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut “ragi-ragi ni sinamot”. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama (pantun) dalam suku Batak disebut “malo manapol ingkon mananggal”. Pantun ini mengandung pengertian, orang Batak tidak mau terutang adat.
Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima “goli-goli” dari ragi-ragi ni sinamot. Timbul kedudukan yang tidak sepatutnya (margoli-goli) sehingga undangan umum (ale-ale) dengan dalih istilah “ulos holong” memberikan pula ulos kepada pengantin.

Tata cara pemberian.
Sebuah ulos (biasanya ragi hotang) disediakan untuk pengantin oleh hula-hula. Orang tua pengantin perempuan langsung memberikan (manguloshon) kepada kedua pengantin yang disebut “ulos marjabu”. Apabila orang tua pihak perempuan diwakilkan kepada keluarga dekat, maka dia berhak memberikan ulos kepada pengantin, akan tetapi bila orang tua laki-laki yang diwakilkan, maka ulos pansamot harus diterima secara terlipat.

Sedangkan ulos pargomgom (untuk pangamai) dapat diterima menurut tata cara yang biasa, dan pada peristiwa ini harus disediakan ulos sebanyak dua helai (ulos pasamot dan ulos pargomgom). Dalam penyampaian ulos biasanya diiringi dengan berbagai pantun (umpasa) dan berbagai kata-kata yang mengandung berkah (pasu-pasu). Setelah diulosi dilanjutkan penyampaian beras pasu-pasu (boras sipir ni tondi) ditaburkan termasuk kepada umum dengan mengucapkan “h o r a s” tiga kali.

Selanjutnya menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau yang mewakilinya dalam hal ini seiring dengan penyampaian umpasa dan kata-kata petuah. Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos si tot ni pansa kepada pamarai dan simolohon. Biasanya pemberian ini disampaikan oleh suhut paidua (keluarga/turunan saudara nenek).
Setelah ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang (paman) pengantin laki-laki.

Tata cara urutan pemberian ulos adalah sebagai berikut; 1. Mula-mula yang memberikan ulos adalah orang tua pengantin perempuan, 2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan termasuk tulang rorobot, 3. Kemudian disusul pihak dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang disebut paidua (pamarai), 4. Kemudian disusul oleh oleh pariban yaitu boru dari orang tua pengantin perempuan, 5. Dan yang terakhir adalah tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari paranak dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari paranak. Bahagian ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang/paman pengantin laki-laki, inilah yang disebut “tintin marangkup”.

III. Ulos Saat Kematian.

Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberikan kepada seseorang ialah ulos yang diterima pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat (status memurut umur dan turunan) seseorang menentukan jenis ulos yang dapat diterimanya.

Jika seseorang mati muda (mate hadirianna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut “parolang-olangan” biasanya dari jenis parompa.
Bila seseorng meninggal sesudah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka kepadanya diberi ulos “saput” dan yang ditinggal (duda, janda) diberikan ulos “tujung”.
Bila yang mati orang tua yang sudah lengkap ditinjau dari segi keturunan dan keadaan (sari/saur matua) maka kepadanya diberikan ulos “Panggabei”.

Ulos “jugia” hanya dapat diberikan kepada orang tua yang keturunannya belum ada yang meninggal (martilaha martua).

Khusus tentang ulos saput dan tujung perlu ditegaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak “tulang”, sebagai bukti bahwa tulang masih tetap ada hubungannya dengan kemenakan (berenya).
Sedang ulos tujung diberikan hula-hula, dan hal ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah.

Tata cara pemberiannya.
Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga, setelah hula-hula mendengar khabar tentang ini, disediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak tulang menyediakan ulos saput. Pemberiannya diiringi kata-kata turut berduka cita (marhabot ni roha). Setelah beberapa hari berselang, dilanjutkan dengan acara membuka (mengungkap) tujung yang dilakukan pihak hula-hula. Setelah mayat dikubur, pada saat itu juga ada dilaksanakan mengungkap tujung, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hula-hula menyediakan beras dipiring (sipir ni tondi), air bersih untuk cuci muka (aek parsuapan), air putih satu gelas (aek sitio-tio). Pelaksanaan acara mengungkap tujung umumnya dibuat pada waktu pagi (panangkok ni mata ni ari). Setelah pihak hula-hula membuka tujung dari yang balu, dilanjutkan dengan mencuci muka (marsuap). Anak-anak yang ditinggalkan juga ikut dicuci mukanya, kemudian dilanjutkan dengan penaburan beras diatas kepala yang balu dan anak-anaknya.

Memberi ulos panggabei.
Bila seseorang orang tua yang sari/saur matua meninggal dunia, maka seluruh hula-hula akan memberi ulos yang disebut ulos Panggabei. Biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, dan cicit). Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula-hula mulai dari hula-hula, bona tulang, bona ni ari, dan seluruh hula-hula anaknya dan hula-hula cucu/cicitnya.
Acara kematian untuk orang tua seperti ini biasanya memakan waktu sangat lama, adakalanya mencapai 3-5 hari acaranya. Biaya acaranya cukup besar, karena inilah acara puncak kehidupan orang yang terakhir.

Yang Memberikan Ulos

Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada prinsipnya pihak hula-hulalah yang memberikan ulos kepada parboru/boru (dalam perkawinan). Tetapi diwilayah Pakpak / Dairi dan Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada kula-kula (kalimbubu) atau mora. Perbedaan spesifik ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna ulos dalam upacara adat.

Semua pelaksanaan adat batak dititik beratkan sesuai dengan “dalihan na tolu” (tungku/dapur terdiri dari tiga batu) yang pengertiannya dalam adat batak ialah dongan tubu, boru, hula-hula harus saling membantu dan saling hormat menghormati.
Di wilayah Toba yang berhak memberikan ulos ialah : 1. Pihak hula-hula (tulang, mertua, bona tulang, bona ni ari, dan tulang rorobot). 2. Pihak dongan tubu (ayah, saudara ayah, kakek, saudara penganten laki-laki yang lebih tinggi dalam kedudukan kekeluargaan). 3. Pihak pariban (dalam urutan tinggi pada kekeluargaan).

Ale-ale (teman kerabat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah diluar tohonan Dalihan na tolu (pemberian ale-ale tidak ditentukan harus ulos, ada kalanya diberikan dalam bentuk kado dan lain-lain).

Dari urutan diatas jelaslah bahwa yang berhak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan dari sipenerima ulos.

(Penulis adalah Wartawan, dan Ketua Nahdatul Ulama dan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Toba Samosir tinggal di Balige. Aktip sebagai perajin tenun ulos. Artikel ini ditulis, Pebruari 2005)

Are You A Friend..?

18 September ’05

Mmmm…………………..

What a friend are for?” kalau tidak salah itulah sebuah judul lagu yang baru saja berlalu dari sebuah radio butut di ruangan ini.  “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more….” Demikian sepenggal syair dalam lagu tersebut. Kedengarannya memang sangant sederhana. Apakah anda juga berpendapat demikian? Yang jelas kalimat dalam lagu tersebut, apabila dinyatakan balam kehidupan yang sesunguhnya benar-benar luar biasa.

Disaat bumi semakin ujur, apakah syair lagu tadi masih berlaku? Disaat matahari semakin lelah bersinar, apakah seorang sahabat masih  dibutuhkan? Disaat bintang-bintang makin enggan menyapa malam, apakah arti shabat masih apa adanya? Dikala mimpi indah tak lagi hadir, apakah seorang sahabat mau hadir?

Di dunia yang semakin tua ini kehadiran seorang sahabat yang sesungguhnya telah menjadi barang langka. Menjadi sesuatu yang makin jauh dari jangkauan. Sahabat menjadi hanya sebatas kata-kata yang tergores dalam cerita-cerita, dongeng, atau syair-syair lagu. Sahabat bahkan telah menjadi barang komersil yang dapat diperjual-belikan.

Sahabat telah kehilangan makna yang sesungguhnya. Sahabat bukan lagi “I’ll be on your side for ever more”. Sahabat akan hadir jika hanya jika ada pembagian, jika ada keuntungan secara materi yang akan diperoleh.

Pada saat ada musibah, sahabat memang hadir, tetapi ia hadir di depan kamera dan para wartawan. Di saat bencana akan bermunculan sahabat. Sahabat yang mencari keuntungan akan popularitas, keuntungan akan pujian, sanjungan, bahkan keuntungan akan materi.

Sahabat sekarang bahkan telah memanfaatkan penderitaan orang lain untuk memuaskan nafsu dan keinginan diri sendiri

Sahabat…..

mmm…….

Apakah anda seorang sahabat? Sahabat yang bagaimana? “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more”

Setuju?

Senyum Itu

Awan berarak di cakrawala

Warnanya jingga membias

Diterpa sinar senja

Angin berhembus sepoi-sepoi

Membelai dedaunan hijau

Menyisir ilalang di padang

Lidah-lidah ombak menyapu pantai

Gemuruh suaranya bersahutan

Menyapa telinga

Aku yang sedari tadi

Bertengger di atas karang

Menatap jauh ke kaki langit

Menerobos ruang dan waktu

Menguak kenangan di masa lalu

Dan….

Otakku berhenti di satu masa

Sepenggal jalanku yang tertinggal

Tertinggal enam tahun yang lalu

Kala itu

Aku yang tak mengerti apa-apa

Tak punya apa-apa

Melangkah tanpa tujuan

Semuanya serasa serba kebetulan

Hari-hari yang kaku

Berganti dari waktu ke waktu

Tak pernah ada yang istimewa

Pun..! panca indraku

Tak berfungsi sama sekali

Hambar….

Tak ada yang indah

Tak ada yang merdu

Tak ada yang harum

Tak ada yang manis

Semua terasa hambar

Di satu malam yang kusam

Tiba-tiba…….

Jantungku berdetak kacau dan tak beraturan

Tiba-tiba…

Aku melihat di atas sana

Sinar rembulan begitu indah

Di depanku

Sebentuk ciptaan TUHAN

Datang entah dari mana

Aku mengusap mataku berkali-kali

Dan benar

Ini bukan mimpi

Dia bukan sekedar bayang-bayang

Dia benar-benar nyata di depanku

Ciptaan yang maha sempurna

Aku yakin dia diciptakan

Dikala TUHAN sedang tersenyum

Bola matanya yang sebening embun

Bercerita tentang harapan dan damai

Rambut hitamnya yang tergerai

Mengurai panjang

Menari perlahan

Dibelai hembusan malam yang sepoi

Sebentuk hidung yang mancung

Mengingatkanku akan malaikat-malaikat

Yang ku dengar ceritanya

Di sekolah minggu

Bibir itu…

Ya….

Bibir itu membangkitkan gairah

Warnanya yang merah merona

Menggugah selera

Dan….

Menggetarkan sendi-sendi

Magnetnya telah menarik aku

Dari dunia yang kaku

Ke dunia yang penuh warna-warni.

Sekali lagi…

Waktu telah berhenti di malam itu

Malam yang tidak ada duanya

Dia yang datang entah darimana

Dengan segala kesempurnaannya

Membuka mataku lebar-lebar

Dunia begitu indah dan sangat indah

Dia dengan suaranya

Yang serak basah nan merdu

Menyapa dengan santun

Tutur katanya yang berkarisma

Menyejukkan jiwa hingga ke ubun-ubun

Sepertinya……

Hariku dimulai di malam itu

Hari-hari yang penuh harapan dan keindahan

Malam-malam yang penuh dengan mimpi-mimpi manis

Wangi tubuhnya

Membawaku terbang ke langit

Melayang dari awan yang satu ke awan yang lain

Bahkan

Aroma itu membawa aku

Jauh tinggi hingga ke purnama

Tetapi…

Yang tak akan pernah ku lupa

Sampai kapanpun

Bahkan sampai waktu tak berputar lagi

Atau

Bahkan sampai bumi tiada lagi

Berganti surga dan neraka

Senyum itu

Semburat senyum dari wajah yang sempurna

Seyum yang tak dapat kulukiskan

Dengan rajutan kata-kata

Senyum itu….

Seyum yang telah membuat aku gila

Dan saat itu pun tiba

Dia yang datang harus pergi

Dia yang datang entah darimana

Tiba-tiba pergi entah ke mana

Datang tanpa pemberitahuan

Pergi tanpa pamit

Padahal….

Aku telah berandai-andai

Andai ini…

Andai itu….

Andai-andai itu berbaur dengan

Rasa yang ada dalam hati

Bermuara pada satu telaga keinginan

Keinginan untukmengungkapkan rasa

Rasa yang tidak ku tahu apa namanya

Rasa yang belum pernah ada sebelumnya

Ku kumpulkan segenap kekuatan

Untukmengungkapkan rasa itu

Ku kumpulkan kekuatan dari segala penjuru

Ku minta kekuatan dari matahari

Ku pinjam kekuatan dari rembulan

Kurangkai kata-kata terbaik

Untuk mengungkapkan rasa itu

Ku curi sajak-sajak para pujangga

Ku culik mantra-mantra para cerdik pandai

Ku contek syair-syair para sastrawan

Bahkan…

Ku terjemahkan bisikan angin malam

Ku pertimbangkan juga

Untuk menyampaikan rasa itu

Dalam bahasa yang berbeda

Bagaimana dengan bahasa tubuh

Bahasa tingkah laku

Atau bahasa senyum

Bagaimana pula dengan bahasa musik

Bahasa gambar, bahasa firtual

Nah…

Bagaimana dengan bahasa bunga

Mungkin lebih bermakna

Bunga melati

Bunga anggrek

Bunga “tahi ayam”

Atau mawar

Mawar putih, kuning, biru, hitam

Oh ini…

Mawar merah

Bagaimana

Romantis bukan…

Dan…

Sebelum rasa itu…..

Sebelum rasa itu diungkapkan

Dia telah pergi

Pergi entah kemana

Kini enam tahun sudah berlalu

28 augustus 2003

Dan seyum itu masih tersimpan dengan baik

Kini aku bertengger di sini

Di atas batu karang

Menatap jauh, jauh ke kaki langit

Matahari hampir terbenam

Matahari yang sama enam tahun yang lalu

Menyaksikan sepenggal jalanku yang tertinggal

Buat dia yang diciptakan

Disaat TUHAN sedang terseyum

Sang Matahari

…..@telkom.co.id

Ini hari ke sekian internet tak dapat diakses di sini

Ini hari ke sekian aku tak dapat membaca emailmu

Aku rindu pada …..@telkom.co.id yang selalu hadir di inbox emailku

The Office, 07 September 2007

Sang Matahari

Usah Kau Lara Sendiri

Usah Kau Lara Sendiri

Liric: Katon Bagaskara

Voc: Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya

Kulihat mendung menghalangi Pancaran wajahmu

Tak terbiasa kudapati terdiam memdura

Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu

Sekilas galau mata inginign berbagi cerita

Kudatang sahabat bagi jiwa saat batin merintih

Usah kau lara sendiri masih ada asa tersisa

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Ooo…..

Di depan sana cahya kecil tuk memandu

Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan

Satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

Kudatang sahabat bagi jiwa saat batin merintih

Usah kau lara sendiri masih ada asa tersisa

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Ooo…..

Di depan sana cahya kecil tuk memandu

Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Ooo……………….

Ooo……………….

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

Ooo…..

Di depan sana cahya kecil tuk memandu

Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Tak hilang arah kita berjalan meng…..hada…..pi…..nya…..

Usah kau lara sendiri

Dolok Sitanggurung dan Binanga Naborsahan

Dolok Sitanggurung tegak berdiri disana

Mengawal setiap denyut jantung yang berdetak

Menemani setiap nafas yang mendesah

Mengawal sejarah, menyongsong masa depan

Pohon-pohon pinus yang hijau

Laksana serdadu yang selalu siaga siang dan malam

Menjaga jiwa-jiwa dari segala ancaman dan bencana

Walau kini serdadu itu tampak semakin renta, tetapi masih tetap setia

Walau semakin rapuh, tetapi tak pernah mengeluh

Binanga Naborsahan perlahan tapi pasti mengalirkan damai sejahtera

Menyirami tanah yang dilaluinya dengan kehidupan

Menyemangati benih-benih agar segera tumbuh menjadi berkat

Walau semakin ringkih, tetapi tak pernah alpa

Langkah yang makin tertatih tak pernah berhenti

Airnya yang bening membasuh jiwa

Airnya yang segar memuaskan dahaga

Dolok Sitanggurung dan Binanga Naborsahan

Dua sejoli yang sering terlupakan, terabaikan dan terlantar

Tetapi mereka telah minjadi jiwa yang tak terpisahkan

Dari sebuah negeri di kaki bukit barisan

Sebuah tanah yang subur dan permai

Sipanganbolon.

Aku disini bermenung,

Wahai Engkau Dolok Sitanggurung,

masihkah engkau berdiri disana dengan segala keperkasaanmu 30 Tahun lagi?

Masihkah serdadumu setia sampai 20 tahun lagi?

Dan engkau Binanga Naborsahan,

Masihkah damaimu mengalir sampai 40 tahun lagi?

Masihkah airmu yang bening mampu menghapus dahaga hingga 10 tahun lagi?

Dolok Sitanggurung dan Binanga Naborsahan

Tetaplah kalian berada disana selamanya

Mengawal sejarah dan menyongsong masa depan

Biarlah anak cucu kami tetap menikmati pesonamu

Seperti yang dinikmati nenek moyang kami

Dolok sitanggurung dan Binanga Naborsahan

Dua sejoli penanda Sipanganbolon

Permata indah yang nilainya tiada tara

Istana kecilku, 08 Juli 2008

sangMatahari

Seminar Nasional di BPPT

Kemarin, Kamis 03 Juli 2008 aku mengikuti sebuah seminar nasional yang diselenggarakan oleh KAHMI (Korps Alimni Himpunan Mahasiswa Islam) bertempat di gedung 2 BPPT jalan MH. Tamrin Jakatra. Thema dari seminar tersebut adalah “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir: Jalan Terahir”

Aku berangkat dari kantor jam 11.30 wib menaiki bis patas Bianglala 44 jurusan Ciledug Senen. Aku turun di depan Gedung Sarinah, karena seingatku gedung BPPT berada persis di depan gedung Sarinah. Tetapi ternyata setelah aku ada di depan Sarinah aku tidak menemukan Gedung BPPT. Aku bertanya kepada orang yang lagi lewat di sana, tetapi dia tidak tau. Aku bertanya lagi ke orang yang lagi nongkrong di trotoar, dia juga tidak tau. Kemudian aku bertanya kepada seorang petugas parkir di gedung yang ada persis di depan Sarinah dan dia bilang kalau gedung BPPT itu berada tiga gedung setelah lampu merah ke arah BI. Akupun mengikuti petunjuk dari tukang parkir tersebut dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Begitulah gedung yang sering saya lewati tapi jarang saya perhatikan. Pelajaran pertama, perhatikanlah dengan seksama setiap tempat yang kamu kunjungi atau lalui.

Setibanya di depan gedung BPPT aku menemui satpam. Aku tanyakan tempat seminar yang akan aku tuju dan dia menunjuk ke gedung belakang. Sebuah gedung bertingkat yang cukup megah. Wah…Hebat, BPPT ini memiliki gedung yang bagus, mewah dan luarbiasa, akukagum. Aku menuju gedung tersebut melewati sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah kali (perlu diketahui bahwa di jakarta banyak sekali jembatan yang tidak ada kali/sungainya), kemudian aku menaiki beberapa undakan dan masukmelalui pintu kaca. Di pintu aku disambut oleh dua orang sekuriti dan menyapa aku dan menanyakan tujuanku. Kemudian aku melalui sebuah gerbang detektor logamseperti yang ada di bandara-bandara itu. Melalui lift aku naik ke lantai 3 dimana seminar tersebut akan dilangsungkan.

Di lantai tiga aku mendaftar ke petugas registrasi seminar, kemudian naik ke lantai 4 untuk makan siang. Selesai makan siang kembli kelantai 3 dan masuk ke ruangan tempat seminar dilaksanakan.

Seminar diawali dengan sambutan dari Ketua presidium KAHMI, dilanjutkan dengan key note speaker oleh Menristek yang diwakili oleh deputinya, kemudian diskusi sesi pertama, diskusi sesi kedua dan diakhiri dengan penutupan.

Para pembicara pada seminar ini ada dari BATAN, BAPETEN, DPR, DEPLU, DESDM, UIN dan Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan.

Batan mempresentasikan apaitu PLTN dan segala seluk-beluk yang berkaitan dengan teknologi nuklir. Bapeten mempresentasikan mengenai safety dan pengawasan semua aktivitas manusia yang berkaitan dengan nuklir. DPR mempresentasikan nuklir dari sisi aspek politik. Deplu mempresentasikan kebijakan internasional pemerintah terhadap nuklir. DESDM mempresentasikan roadmap PLTN dan hubungannya dengan ketersediaan energi indonesia di masa yang akan datang. UIN mempresentasikan peranan dunia pendidikan khususnya universitas dalam mewujudkan PLTN. Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan mempresentasikan bagaimana informasi yang salah tentang PLTN yang diterima oleh masyarakat telah menghambat proses pembangunan PLTN.

Awalnya seminar ini cukup membosankan, karena sifatnya presentasi atau pemaparan, terlebih lagi karena diselenggarakan setelah makan siang. Tiupan udara AC membuat mata mengantuk, mulut menguap dan tubuh rasanya ingin tidur. Tetapi pada saat sesi tanya jawab suasana berubah rame. Para penanya begitu antusias dan bersemangat sampai sampai ada penanya yang berteriak mengajukan pertanyaan dan pendapatnya.

Ada penanya yang menanyakan mengapa sampai sekarang PLTN belum dibangun. Jangankan PLTN, indonesia seharusnya punya senjata nuklir kata penanya yang lain. Begitulah pertanyaan dan saran mengalir lancar dari banyak penayan. Yang unik lagi, seorang penanya adalah Mohammad Amin pemeran jin pada sinetron Jin dan Jun. Dia menyatakan bahwa pemerintah harus berani memulai membangun PLTN, kalau PLTN tsb memang layak dibangun di Indonesia. Masalah ada orang yang pro dan kontra, itu akan tetapada sampai kapanpun. Waktu Indonesia mau merdekapun tetap ada pro kontra. Tetapi setelah indonesia diproklamasikan dan masyarakat merasakan hasil dari kemerdekaaan itu, tidak ada lagi orang yang tidak setuju dengan kemerdekaan. Tidak ada lagi orang yang mau kebali dijajah. Demikian halnya dengan PLTN, kalau masyarakat sudah menikmati manfaat dari PLTN itu, makapenolakan-penolakan itu akan berakhir dengan sendirinya.

Seminar PLTN kali ini jauh berbeda dengan seminar serupa yang pernah sayaikuti di Semarang. Seminar kali ini hampir semua peserta mendukung PLTN. Peserta mengharapakn pemerintah segera merealisasikan PLTN di Indonesia.

Pukul 17.30 seminarpun berahir, aku meninggalkan ruang seminar. Di pintu keluar aku menerima sebuah sertifikat tanda telah mengikuti seminar tsb dari seorang gadis cantik  petugas yang  kepadanya aku mendaftar sebelum seminar dimulai. Tapi ada sesuatu yang aneh, Gadis tersebut berpesan agar akusendiri menuliskan namakudi sertifikat tersebut. Wah….. aneh…he…he…he…

ADP sebuah fenomena, problema, dilema dan buah simalakama

 

Manusia dalam kehidupannya menciptakan aturan dan peraturan agar bisa hidup harmonis. Tetapi dalam pelaksanaannya sering kali ada orang-orang yang melanggar aturan-aturan tersebut. Salah satu pelanggaran itu adalah pelanggaran etika kesusilaan. Sejarah pelanggaran ini sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.

Perselingkuhan, pemerkosaan, pelecehan sexual, pornoaksi dan perzinahan merupakan pelanggaran kesusilaan yang sering dilakukan. Pelanggaran ini seringkali menggangu keharmonisan kehidupan manusia tersebut. Walaupun demikian pelanggaran ini tidak mudah dihilangkan. Untuk mengurangi pengaruh negatif dari pelanggaran itu, manusiapun mengadakan kompromi dengan pelanggaran tersebut. Manusiapun akhirnya menyediakan tempat-tempat tertantu untuk menampung orang-orang yang mau melakukan pelanggaran tersebut. Walaupun pada kenyataannya tempat-tempat ini tetap menimbulkan pro dan kontra sampaihari ini. Tempat-tempat itulah yang sekarang kita kenal dengan lokalisasi.

Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki lokalisasi masing-masing, tidak terkecuali dengan Desa Sipanganbolon. Lokalisasi yang ada di Sipanganbolon berada di ADP atau Adian Padang. ADP ini teretak pada sisi paling barat Desa Sipanganbolon, berada persisi di pinggir jalan lintas Sumatera (Jalinsum).

Menurut cerita orang tua, pernah dalam sebuah perjalanan, Raja Sisingamangaraja XII beristirahat di Adian padang. Bisa jadi peristiwa itulah yang mendasari orang-orang menyebut tempat tersebut Adian Padang yang artinya kurang lebih adalah tempat beristirahat. Memang kalau kita berada di ADP, kita dapat memandang ngarai Sigala-gala dengan hamparan sawah yang permai dan Girsang yang berbukit-bukit dengan latar belakang danau toba yang sangat indah dikajauhan.

Awalnya ADP itu adalah satu tempat yang tidak dihuni “langlang”, karena kontur tanahnya yang tidak cocok untuk mendirikan rumah di sana. Di satu sisi ada jurang dan di sisi yang lain ada bukit. Karena tempat tersebut tidak berpenghuni, sering kali truk-truk barang yang melintas di Jalinsum beristirahat di sana. Ada orang yang melihat keberadaan truk-truk yang sedang beristirahat itu merupakan satu peluang bisnis. Mulailah ada orang yang membangun warung disana untuk sekedar menjual kopi untuk sopir-sopir truk yang sedang beristirahat.

Dengan berjalannya waktu, warungpun bertambah dari satu menjadi dua, tiga dan seterusnya. Pinggir jalan yang dulunya jurang pun ditimbun agar bisa dibangun warung yang lebih besar. Kebutuhan para sopir-sopir pun bertambah, bukan lagi hanya sekedar minum kopi. Mereka butuh tempat makan, menginap bahkan butuh teman tidur atau penghangat dikala jauh dari istri, karena memang udara Sipanganbolon yang sangat dingin.

Warung-warung yang awalnya hanya menyediakan kopi, berkembang menjadi tempat multi fungsi yang menyediakan segala kebutuhan para sopir-sopir termasuk wanita-wanita penghibur. Para WTS didatangkan dari luar Sipanganbolon terutama dari pulau Jawa. Dan dengan demikian resmilah ADP menjadi sebuah lokalisasi walaupun tanpa sebuah acara gunting pita, penekanan tombol sirene atau penanda tanganan prasasti layaknya acara-acara peresmian.

Keberadaan ADP telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Desa Sipanganbolon. Ada sebagian orang Sipanganbolon yang mengantungkan hidupnya pada lokalisasi tersebut, baik langsung maupun tidak langsung. Ada orang yang dengan terang-terangan membuka usaha di sana, tetapi lebih bayak yang secara diam-diam, salah satunya dengan menyewakan tanahnya kepada orang lain yang mau membuka usaha disana. Jadi dari sisi ekonomi, Keberadaan ADP dapat mensejahterakan banyak orang termasuk beberapa orang Sipanganbolon. Mungkin transaksi ekonomi terbesar yang ada di Sipanganbolon berada di ADP.

Awalnya Keberadaan ADP tersebut tidak menggangu keyamanan hidup orang Sipanganbolon, tetapi lama-kelamaan ada satu dua bapak-bapak Sipanganbolon yang mau singgah disana. Awalnya mungkin hanya sekedar ingin tau, tetapi akhirnya mereka juga menjadi konsumen yang ingin menikmati layanan ADP tersebut. Hal ini lambat laun mengganggu kenyamanan orang Sipanganbolon. Ada istri yang telah dimadu, ada suami yang kawin lagi dan lain sebagainya. Pertengkaran antara suami istripun jadi banyak terjadi. Bukan hanya itu, anak-anak mudapun sudah datang menghibur diri ke sana. Bahkan kabarnya, narkobapun sudah ada di sana.

Setelah kenyamanan hidup orang Sipanganbolon terganggu, masyarakat mulai bereaksi. Suara-suara penutupan lokalisasi ADP pun mulai muncul. Tetapi kenyataannya ADP tetap beroperasi bahkan berkembang pesat hingga menyerupai kota satelit bagi Sipanganbolon. Kita tidak tau persis mengapa Lokalisasi itu tidak pernah benar-benar ditutup. Ada gosip yang berhembus, banyak yang berkepentingan dgn keberadaan ADP. Wow… luar biasa….

Dari sisi entertainment, keberadaan ADP memang diperlukan minus Prostitusi. Tetapi inti dari ADP yang ada sekarang adalah prostitusi. Demikianlah ADP telah berdiri tegak di gerbang Sipanganbolon membawa warna baru dan menjadi fenomena, problema, dilema dan buah simalakama bagi keberadaan Sipanganbolon.

jakarta, 3 juli 2008

Sang matahari

Lapo

Di setiap masa dan tempat di muka bumi ini, manusia selalu menciptakan suatu tempat berkumpul dengan sesama mereka untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Di kota besar seperti Jakarta sangat gampang menemui tempat-tempat seperti ini. Ada mall, café, diskotik, tempat hiburan dan lain sebagainya. Di tempat-tempat ini kita bisa melakukan banyak hal. Berbagi cerita dengan teman-teman, menjelajahi dunia maya (internet) di café yang tersedia “hot spot”, sekedar membaca buku favorit kita, menyeruput secangkir kopi atau hanya sekedar “cuci mata”. Demikianlah kehidupan kota semakin semarak dengan hadirnya mall, café, diskotik, tempat hiburan dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan daerah yang jauh dari kota? Bagaimana dengan kampung-kampung yang ada di Toba? Ternyata disana ada tempat spesial yang disebut dengan lapo. Lapo sangat identik dengan minum tuak, tetapi di lapo ada juga kopi, the manis, susu, bahkan bir. Tetapi jangan cari di lapo minuman seperti cappuccino, hot cocolate, Juice apalagi tequila atau wine.

Selain minuman, lapo biasanya menyediakan makanan seperti sangsang (menulisnya saksang atau sang-sang ya…?!), arsik, tanggo-tanggo, panggang dll. Lapo adalah café dalam budaya orang Batak, sehingga semua makanan yang disediakan di sana adalah masakan khas orang batak. Jadi jangan cari di sana pecal lele, gudeg, sambal balado, tahu isi, bandeng presto, pizza, hamburger, steak, fried chicken, chicken teriyaki, shusi, shabu-shabu, kebab, kerak telor dll.

Sejarah lapo mungkin sama tuanya dengan usia sejarah suku batak. Awalnya lapo hanyalah tampat berkumpul para bapak-bapak di sore hari setelah seharian bekerja disawah atau ladang. Disanalah mereka menghibur diri dan berbagi cerita “markombur” atau ”markato”. Untuk menemani kebersamaan itu disediakanlah tuak sebagai minuman sekaligus katanya “penghangat tubuh” benar…?he…he…he…

Sejalan dengan waktu lapo pun mengalami perkembangan. Yang awalya hanya tempat markato dan minum tuak lapo juga menyediakan makanan seperti disebut di atas. Lapo juga menyediakan papan catur, menyediakan gitar dan televisi. Lapo tidak lagi hanya dikunjungi di sore hari, tetapi sejak pagi lapo sudah dibuka dan ditutup tengah malam. Di pagi hari orang-orang akan datang ke lapo untuk sarapan minum kopi atau teh manis dan makan lappet. Di siang hari orang datang ke lapo untuk makan siang dan di malam hari orang datang ke lapo untuk minum tuak, makan malam dan lain-lain. Tetapi sejauh apapun perkembangan lapo, tuak, sangsang dan teman-temannya tidak akan pernag hilang. Ya iyalah…. Nanti namanya bukan lapo lagi, tapi rumah makan, restoran atau café……J

Di lapo sering kali kita lihat kejadian-kejadian unik seperti orang yangmain catur dari pagi sampai malam sampai pagi lagi. Kok tahan ya…? Tapi lebih gila lagi ada orang yang tahan main kartu di lapo 2 hari 2 malam tanpa tidur. Waow… gia benar. Namun yang paling gila adalah kalauada orang yang mabuk ”Tenggen”.Orang yang mabukbiasanya akan berkicau dengan pronunciation yang tidak jelas seperti “ ahaaaa… urroa…!!!” “ishhe na amasssam –masssammm so khuuu rrribhak….” Kalau ada lebih lebih dari satu orang yang mabuk sering kali diakhiri dengan pertengkaran dan kadang-kadang hingga main pukul. Ada juga orang yang mabuk menceritakan semua rahasia pribadinya dan yang ini sering kali menjadi hiburan bagi yang mendengarkan. Wah…teganya…!

Dari sisi entertainment, lapo adalah sebuah tempat hiburan. Banyak lapo yang menyediakan gitar, sehingga orang bisa bernyanyi kapan saja dan dengan siapa saja. Jujur diakui bahwa orang-orang yang sering menyanyi di lapo itu memiliki suara-suara emas. Sayang sekali keberuntungan tudak berpihak kepada mereka sepertipenyanyi-penyayi yang ikutan audisi idola-idolaan seperti sekarang ini. Mereka menyanyi tidak menerima bayaran, hanya kadang-kadang ada orang yang berbaik hati mau membayari minum mereka. Kadang aku iri melihat mereka bisa bernyanyi dan bermain gitar dengan bagus. Tapi mungkin manusia memang memiliki talenta yang berbeda-beda. Karena lapo adalah cafenya orang batak, maka lagu-lagu yang dinyanyikan pun adalah lagu-lagu batak seperti Sai Anju Ma Au, Bunga na Bontar, Rap Hita na Dua, Marragam-ragam, Sitogol, Situmorang dan banyak lagi. Tetapi lagu yang paling identik dengan lapo, bahkan bisa desebut sebagai lagu kebangsaan lapo adalah “Lisoi”

Lisoi

Lisoi…lisoi….lisoi…lisoi

o…parmitu….

Lisoi…lisoi…lisoi….lisoi

Olo..tutu.

Minum ma-minum ma

Dorguk ma- dorgukma

Dorgukma tuakmi…

…………………….

Sejalan juga dengan perkembangan jaman lagu yang dinyanyikan di lapo bukan lagi hanya lagu-lagu batak. Lagu dangdut, pop indonesia bahkan lagu-lagu barat juga telah dinyanyikan di lapo. Apalagi telah ada sebagian lapo yang melengkapi alat musiknya dengan Keyboard. Jadi tidak asing lagi kalau di lapo kita dengar lagu poco-poco, cucak rowo atau kucing garong.

Dari segi politik, lapo tidak kalah seru dibandingkan dengan gedung dpr/mpr di senayan. Di lapo akan kita peroleh informasi terkini tentang politik atau berita apapun baik lokal, indonesia bahkan dunia. Aku masih ingat sekitar tahun 1991 bagaimana serunya orang-orang dilapo membahas perang teluk di Kwait sambil menonton Dunia Dalam Berita. Orang-orang sambil meminum tuak dan mengisap rokok union lama memberikan komentar tentang rudal squad dan rudal patriot. Aku kagum…wah… mereka memang hebat. Mereka juga berbicara tentang pemerintahan presiden, tentang korupsi, tentang pemilu dan lain-lain bahkan kadang kadang sampai berdebat mempertahankan pendapatnya. Tetapi itulah kehidupan dil apo, perdebatan tidak akan dibawa kelur dari lapo. Aku pikir orang-orang yang duduk di senayan sana perlu belajar berdemokrasi ke lapo.

Demikianlah lapo telah menjadi bagian hidup dari orang-orang batak, bahkan ketika orang-orang batak tersebut merantau, mereka juga membawa lapo-nya. Lihatlah sekarang ini dimana ada orang batak disitu ada lapo. Mungkin jumlah lapo yang ada di jakarta sudah lebih banyak dibanding yang ada di toba sana. Pernah aku ke bandung dan ternyata disana juga ada lapo. Wah….luar biasa. Apakah diluar negri juga ada?

Satu yang aku impikan, suatu saat ada lapo yang dikemas seperti Café, separti Sturbuck, seperti JCo, agar bila ada teman yang datang ke jakarta bisa aku ajak ke lapo, tetapi bukan lapo tondongta yang ada di pramuka melainkan lapo yang didesain dengan sempurna layaknya café-café terkenal di jakarta.

Semoga…. dan lisoi…lisoi….!

Mywonderfulloffice, 2 juli 2008

Sangmatahari