Ulang Tahun DEKA ke 14

Hari Jumat, 25 Juli yang lalu, ada panggilan di HP-ku. “Halo, selamat sore”. “Halo… Paber ya..? ini Titus”. “…….” Pak Titus mengundang aku untuk ikut makan bersama hari Sabtu besoknya dalam rangka perayaan ulang tahun DEKA yang ke 14.

Hari Sabtu pagi jam 9.30 saya berangkat dari rumah. Dari terminal Pulogadung naik Trans Jakarta. Transit di halte Juanda dan Turun di halte Jelambar persis di samping Mall Citra Land (CL). Dari perempatan grogol naik mikrolet 12 jurusan kota dan turun di pintu 2 perkantoran Grogol Permai.

Aku singgah sebentar di trotoar tempat mangkalnya amangboru Hutapea. Aku lihat gerobaknya semaskin reot. Wajah amang boru itu semakin kering dan tua dibakar matahari, digerus debu jalanan dan mungkin juga didera keadaan ekonomi yang makin sulit. Amangboru Hutapea adalah salah satu pedagang kaki lima dipinggir jalan depan Perkantoran Grogol Permai. Aku pernah akrab dengannya ketika aku bekerja disana. Dia menjual minuman botol, rokok, tissue, permen dan lain-lain di atas sebuah gerobak kayu yang mungkin di buat sendiri dengan bahan apa adanya sehingga gerobak itu tidak simetris. “Horas Amangboru” aku menyapa. “Bah… Horas…” Dengan senymnya yang tulus, kami bersalaman. Lebih dari 2 tahun kami tidak bertemu karena sejak pindah kerja, aku hanya 2 kali kesana itu pun sudah lama. Wajahnya yang tersenyum itu dipenuhi kumis, jenggot dan cambang yang gersang dan sebagian sudah memutih dan kelihatan sekali jarang dicukur. Tidak lama aku ngobrol dengan amang boru itu. Setelah menuntaskan teh botol yang di sugukannya, akupun pamit. Tetap semangat amangboru…

Dari pintu dua aku langsung ke kantor PT. Deka Adhinusa yang berada di Blog G no 21 yang mau aku tuju. Tidak banyak yang berubah. Bangunan kantor yang warnanya sudah pudar masih tetap sama. Hanya ada satu dua bangunan yang mengalami renovasi kecil. Tanpa mengetok pintu atau menekan bel, aku mendorong pintu yang setengah terbuka dan masuk. Di dalam ada tiga orang laki-laki yang sedang beres-beres. Satu orang mirip dengan Adam. Adam adalah seorang pegawai deka ketika aku masih disana. Bertubuh super gendut dan suka senyum. Laki-laki itu menanyakan keperluanku. Aku mengatakan kalau aku mau ketemu dengan Pak Titus. Dia mengengat intercom dang mengatakan kalau di bawah ada tamu buat Pak Titus. Setelah itu dia mempersilahkan aku menunggu.

Aku memperhatikan ruangan bawah tersebut. Aku teringat kembali ketika dulu ada di sana. Bila Jam istirahat kami para karyawan sering ngumpul di satu ruangan kecil untuk sekedar ngobrol, makan siang, bergosip dll. Tapi kini ruangan itu sudah dipenuhi oleh dus-dus besar dan kursinya juga berdebu. Aku yakin tidakada lagi orang yang makan siang di ruangan itu.

Seorang gadis muncul di anak tangga dekat toilet dan berjalan ke arahku. “Pak Paber ya..?” “Iya” “Silahkan naik Pak…!”. Aku mengikuti si gadis itu naik ke lantai dua. Di tangga menuju lantai dua, aku melihat Ester. “Apa kabar Ester…? aku menyapa. “E….e Pak Paber…!.Sehaat…!” dia menjawab dengan suara khasnya yang agak sengau dan centil. Aku ngobrol sebentar dengan dia dan aku jadi tau kalau dia sudah punya seorang anak.

Di ujung tangga masih ada sebuah mesin foto copy. Posisinya masih seperti yang dulu. Disanalah untuk yang pertama kalinya aku belajar menggunakan foto copy, dan yang mengajari aku adalah Setya Wibagsana atau SW. Terimakasih Pak Set (aku biasa memanggilnya begitu). SW adalah inisial untuk Setya Wibagsana. Semua pegawai yang ada di Deka memiliki identitas pegawai yang sekaligus dipakai untuk nomor surat. Sebagai contoh 4PT-001, 4 artinya tahun 2004, PT artinya Philipus Titus, 001 artinya urutan. Inisialku dulu disana adalah PS sesuai dengan singkatan namaku. Tetapi tidak selamanya inisial itu adalah singkatan nama seperti beberapa contuh di atas. Ada kalanya yang diambil adalah huruf pertama dan huruf tengah seperti HL untuk Harli, PW untukPurwanto, HD untuk Hermedy, BN untuk Bina, SA untuk Saol, MU untuk Murdiati, AY untuk Toyibah (AYI), TT untuk Tita, dll.

Melewati pintu kaca aku memasuki ruangan lantai 2 yang merupakan jantung dar kantor tersebut. Disana ada “Big Boss” pak Titus di pojokkanan depan, selanjutnya ada Ester sebagai Administrasi, berikutnya ada Harli yang merupakan Super Sales Enginerr dan di pojok belakang ada Master Aplication Hermedy yang biasa dipanggil dengan Ahui. Sementara yang lain aku tidak kenal lagi karena mereka masuk setelah aku pindah.

Dulu mejaku ada di pojok kanan belakang menghadap ke dinding, di belakang pak Ahui, tetapi sekarang meja itu sudah tidak adal agi karena persis dipojok itu di buat pintu baru menuju ruko sebelah. Ternyata ruko sebelah sudah disewa untuk memperluas kantor deka. Aku rindu meja itu. Aku rindu dengan sebuah desktop yang merupakan alat bantu utamaku sebagai aplikasi. Aku rindu dengan kertas bekas yang aku potong-potong untuk oret-oretan atau untuk kalkulasi. Aku rindu dengan folder-folder besar berisi inquiry, penawaran, hitungan, brosur dll. Aku rindu dengan sebuah pesawat telepon diatas meja. Aku rindu semuanya.

Aku menyapa Pak Ahui yang duduknya memang dekat dengan pintu. Walaupun umurnya bertambah mendekati kepala 4, tetapi wajahnya semakin muda saja. Kulitnya yang putih kontras dengan brewoknya yang mungkin dicukur hanya sekali seminggu yang merupakan ciri khasnya. Pakaiannya selalu rapi bahkan “Fasionable” meminjam istilah para penata busana. Kali ini dia mengenakan kaos polo hitam garis-garis yang pas dengan badannya yang kecil. Celananya jeans dengan ukuran yang pas juga. Aku menyebut dia master aplication karena dia merupakan tukang aplikasi ulung paling senior dan telah menguasai semua hitung-hitungan pompa, vacumm dan blower. Dulu aku selalu bertanya kepadanya. Terimakasih pak Ahui, kamu mengajariku menghitung pompa.

Dari meja Ahui aku langsung ke meja Pak Titus. Masih seperti dulu, sibuk dan sibuk. Dia Seyum dan menatapku dengan mata sipitnya. Aku tau senyum itu tulus karena dari ekspressi mata kita bisa tau apakah seseorang senyum tulus atau hanya pura-pura, sesuai dengan yang aku pelajari ketika diklat Prajab di Bandung. Kami bersalaman dan sambil mengerjakan pekerjaannya kami ngobrol. Secara penampilan tidak ada yang berubah. Gaya bicara jug amasih sama. Aku ingat kembali bagaimana pertama kali aku bertemu dengan dia. Aku datang ke PT Deka akhir akhir september tahun 2003 untuk memenuhi panggilan test dan wawancara pekerjaan. Disitulah aku pertama kali bertemu, ngobrol dan makan siang di rumah makan padang. Waktu itu bulan puasa jadi agak suasah cari tempat makan. Aku juga teringat dengan saat-saat jalan ke PT Punj Lloyd di Cilandak. Naik mobil Atos berdua dengan Pak Titus setiap hari jumat. Bertemu dengan Mr Samir Vatt Cs dan juga seorang perempuan cantik receptionis Punj Lloyd tersebut yang namanya aku sudah lupa. Pernah sekali waktu Pak Titus berencana memberikan perempuan itu sebuah cendramata sebagai penghargaan kami kepadanya, tetapi aku tidak tahu mengapa tidak jadi. Masih ingat Pak…? Di perjalanan ke Punj Lloyd itulah Pak Titus menceritakan banyak hal kepada saya, tentang bisnis, tentang pendidikan, tentang relasi, tentang srategi, tentang impian-impian, tentang indonesia, tentang kehidupan sosial bahkan tentang ketuhanan. Terimakasih Pak Titus. Bapak telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya tidakakan lupa prinsip bapak bahwa membeli dan menggunakan barang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegunaan. Irit tidak sama dengan pelit. Bapak masih mau megumpulkan amplop-amplop bekas, memotongnya dan membuatnya menjadi kertas oret-oret?….he…he… sekarang aku juga melakukannya. Ada satu janjiku kepada Pak Titus yang belum aku penuhi yaitu menyetir. Aku janji akuakan memenuhinya dan kalau sudah, aku akan mengasi tahu bapak. Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan tentang pak Titus, nantilah aku ceritakan secara khusus.

Masih suasana ngobrol aku duduk di temapt dimana Bina dulu duduk. Disana ada dua buah layar televisi sebagai monitor CCTV untuk melihat bagian-bagian tertentu dari kantor itu dengan bantuan kamera. Di dekat meja Ester yang berbatasan langsung dengan meja Pak titus, ada sebuah mesin absensi. Dulu absensi adalah absensi tulis yang sering kali kita lupa mengisinya. Beberapa waktu sebelum aku pindah, sudah pernah diadakan mesin absensi sidik jari, tetapi tidak tahu bagaimana kelanjutannya.

Di depanku ada Harli aku langsung menyapa dia. Aku menyebut dia super sales engineer karena secara fakta, penjualan dialah yang paling besar bahkan bila dibandingkan dengan gabungan penjualan seles yang lain. Dalam hal menjual memang dia jago dan aku salut. Di awal aku bergabung dengan Deka, aku pernah sangat akrab dengan Harli. Sering pulang bersama walaupun hanya sampai perempatan CL. Kami sama-sama berasal dari sumatera. Aku dari medan, dia dari pekan baru. Hal inilah yang membuat kami semakin dekat. Tetapi beberapa waktu sebelum aku pindah aku membuat jarak dengan dia bahkan aku sama sekali berusaha agar tidak berkomunikasi dengan dia sampai aku meninggalkan deka. Hal itu disebabkan karena dimataku ketika itu dia terlalu keras kepada pegawai-pegawai yang baru-baru. Dia arogan, dia semena-mena dan aku tidak setuju. Aku tidak suka. Tetapi setelah beberapa lama aku pindah dari deka, aku menyesali perbuatanku. Aku sadar tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Harusnya ketidaksetujuanku aku ungkapkan saja dengan baik-baik tanpa harus membuat jarak dengan dia. Harusnya aku bisa memikirkan cara-cara yang lebih baik tanpa harus memusuhi dia. Maka ketika aku mendapat undangan dari Pak Titus untuk datang pada ulang tahun deka ini, hal pertama yang aku pikirkan adalah perbaikan hubungan dengan Harli. Dan TUHAN mengabulkannya. Harli maaf aku pernah membencimu. ini aku lakukan karena aku hanya menuruti emosiku saja. Aku sadar bahwa sikapku itu sangat tidak baik dan telah menjadi beban bagiku. Aku tetap salut kepada kamu makanya aku menyebut kamu Super Sales engineer.

Tak berapa lama Ibu Connie muncul. Tubuhnya yang mungil dengan kicauan yang memenuhi seisi ruangan menjadi ciri khasnya. “Hey…Paber….” dengan ekspressif dia menyahut ke aku. Ruangan menjadi tambah rame. Dia menanyakan banyak hal, bahkan dia sudah bertanya lagi sebelum aku selesai menjawab pertanyaan sebelumnya. Ibu Connie adalah perempuan yang tangguh. Tidak takut menghadapi siapapun. Aku masih ingat ketika kami pergi ke Kantor PT Idemitsu Indonesia di karawang. Dia dengan percaya diri menghadapi semua pimpinan perusahaan tersebut yang semuanya adalah orang jepang. Berkat kegigihannya, satu tahun kemudian deka memenangkan tender pengadaan pompa untuk perusahaan tersebut, walaupun melalui perusahaan lain. Aku masih ikut menangani proyek tersebut. Satu hal yang tak pernah aku lupa dari Ibu Connie adalah pernah satu kali diamarah besar ke aku. Pada hal waktu itu dia sedang di Surabaya. Saking marahnya dia marah di telepon dan juga marah melalui tulisan dengan menuliskan “SAYA BENAR-BENAR MARAH” dan mem-fax nya ke aku. Aku tersenyum membaca tulisan itu di mesin fax. Tapi aku sudah lupa apa penyebabnya. Sory ya bu Connie…. saya pernah membuat ibu marah besar…Mudah-mudahan ibu sudah memaafkannya.

Tak terasa waktu telah mendekati pukul 12 siang. Kamipun haru berangkat ke rumah makan AMPERA di jalan Pesanggarahan-Meruya. Aku naik Kijang innova baru yang disetir oleh Pak Titus dan aku duduk disampingnya. Aku tersanjung, sementara ibu connie beserta Murdiati, Lina dan satu orang lagi, duduk di bangku tengah. Yang lain ada yang naik mobil dan ada yang naik motor. Aku merasa terhormat. Aku merasa mendapat penghargaan yang besar dari Pak Titus.

Di Ampera kami makan siang bersama sepuasnya sebagai acara sukuran atas ulang tahun Deka yang ke 14. Disana ada juga Iwan, Santoso, Rahmat dan ada satu orang yang aku lupa namanya yang merupakan orang-orang yang pernah bekerja di Deka termasuk aku.

Dari Ampera kami singgah di joglo melihat bangunan baru yang akan dijadikan kantor baru deka. Bangunan ini lebih besar, lebih cantik lebih menarik. Rencananya sebagian pegawai deka akan di tempatkan di sana.

Dari joglo aku diantar Pak Titus bersama dengan ibu Connie ke depan Mall Taman Anggrek sesuai dengan permintaanku. Di depan Taman Anggrek itulah kami berpisah. Aku berjabat tangan dengan ibu Connie dan dengan Pak Titus. Kembali seyum tulus pak Titus mengembang.

Selamat Ulang Tahun ke 14 buat PT Dka Adhinusa. Tetaplah berkarya. Tetaplah maju. Doaku untukmu.

Are You A Friend..?

18 September ’05

Mmmm…………………..

What a friend are for?” kalau tidak salah itulah sebuah judul lagu yang baru saja berlalu dari sebuah radio butut di ruangan ini.¬† “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more….” Demikian sepenggal syair dalam lagu tersebut. Kedengarannya memang sangant sederhana. Apakah anda juga berpendapat demikian? Yang jelas kalimat dalam lagu tersebut, apabila dinyatakan balam kehidupan yang sesunguhnya benar-benar luar biasa.

Disaat bumi semakin ujur, apakah syair lagu tadi masih berlaku? Disaat matahari semakin lelah bersinar, apakah seorang sahabat masih  dibutuhkan? Disaat bintang-bintang makin enggan menyapa malam, apakah arti shabat masih apa adanya? Dikala mimpi indah tak lagi hadir, apakah seorang sahabat mau hadir?

Di dunia yang semakin tua ini kehadiran seorang sahabat yang sesungguhnya telah menjadi barang langka. Menjadi sesuatu yang makin jauh dari jangkauan. Sahabat menjadi hanya sebatas kata-kata yang tergores dalam cerita-cerita, dongeng, atau syair-syair lagu. Sahabat bahkan telah menjadi barang komersil yang dapat diperjual-belikan.

Sahabat telah kehilangan makna yang sesungguhnya. Sahabat bukan lagi “I’ll be on your side for ever more”. Sahabat akan hadir jika hanya jika ada pembagian, jika ada keuntungan secara materi yang akan diperoleh.

Pada saat ada musibah, sahabat memang hadir, tetapi ia hadir di depan kamera dan para wartawan. Di saat bencana akan bermunculan sahabat. Sahabat yang mencari keuntungan akan popularitas, keuntungan akan pujian, sanjungan, bahkan keuntungan akan materi.

Sahabat sekarang bahkan telah memanfaatkan penderitaan orang lain untuk memuaskan nafsu dan keinginan diri sendiri

Sahabat…..

mmm…….

Apakah anda seorang sahabat? Sahabat yang bagaimana? “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more”

Setuju?

SATU HARI DI ALUN-ALUN KOTA BANDUNG

Waktu masih menunjukkan jam 10.50. Ada jam digital besar di dalam mesjid raya jawa barat yang dapat aku lihat dengan jelas dari tempat dimana aku duduk. Aku duduk di tembok sekaligus pagar yang mengelilingi alun-alun kota Bandung. Aku duduk dibawah naungan pohon-pohon besar yang tumbuh berbaris di sisi depan alun-alun itu. Dari ukurannya, usia pohon itu pasti sudah puluhan tahun. Bahkan munkin pada jaman penjajahan, pohon-pohon itu sudah ada disana. Seandainya mereka bisa berbicara, mungkin kita bisa bertanya tentang apa saja yang terjadi di sana, tentang sejarah, tentang perkembangan kota bandung dari jaman dulu sampai sekarang. Pohon-pohon yang setia menaungi siapa saja yang mau berlindung di bawahnya. Kita perlu belajar pada pohon-pohon itu tentang kerelaan memberi tanpa syarat.

Hari itu ada beberapa orang yang lagi duduk-duduk di sana. Kira-kira dua puluhan orang. Aku duduk disana sekitar setengah jam. Aku sempat memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Ada pedangang asongan yang menjual minuman botol, menjual buah, makanan ringan, rokok,dan lain-lain. Ada tukang foto, ada anak sekolah. Tetapi yang paling banyak adalah orang-orang yang aku tidak tau apa kerjaan mereka di sana. Mungkin juga banyak dari mareka sama seperti aku, datang ke sana hanya untuk sekedar istirahat dibawah rindangnya pohon, sekalian memandang bangunan mesjid raya jawa barat dengan dua menaranya yang menjulang tinggi.

Semakin lama jumlah orang disana makin bertambah, dan tembok panjang dimana aku duduk makin penuh. Aku yakin sebagian besar orang-orang tersebut tidak sedang bekerja. Yang sedang bekerja disana paling pedagang asongan dan juru foto itu. Aku sempat berpikir seandainya orang-orang ini dimasukkan dalam satu pabrik, sudah berapa banyak barang yang bisa dihasilkan. Seandainya orang-orang ini di ajak ke sawah, sudah berepa luas lahan yang bisa digarap. Ini baru orang-orang yang ada di alun-alun kota bandung. Bagaimana dengan alun-alun kota jogja, alun-alun kota semarang, Jakarta, Surabaya dan semua kota provinsi yang jumlahnya 33, demikian juga kota kabupaten dan kecamatan yang jumlahnya bisa sampai ribuan. Disana juga pasti banyak orang-orang yang sedang tidak bekerja seperti di alun-alun kota bandung ini.

Pantas saja Negara ini tidak maju-maju. Penduduknya banyak yang malas. Kerjanya hanya duduk-duduk di bawah pohon rindang (mungkin termasuk aku juga). Banyak penduduk yang mengeluhkan kehidupan yang semakin sulit. Mahasiswa berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban pemenrintah atas kesusahan ini. Banyak masyarakat yang hanya bisa menuntut dan mengeluh,tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki hidupnya. Mereka hanya bermimpi agar pemerintah menjadi malaikat penolong yang bisa memenuhi keinginan rakyat tanpa rakyat bekerja.

Kembali aku memperhatikan orang-orang di alun-alun itu. Aku melihat tukang foto itu. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menyapa orang-orang dan menawarkan jasa foto. Dari wajahnya, umurnya mungkin lebih dari 60 tahun. Mungkin bisa jadi lebih muda, tetapi karena dibakar matahari setiap hari, menyebabkan tubuhnya lebih tua dari umurnya. Di lehernya tergantung sebuah kamera SLR yang juga sudah tua. Sebuah tas menggantung di pundaknya. Pastilah di dalamnya terdapat peralatan untuk foto juga. Kepalanya ditutupi oleh topi yang warnanya telah pudar. Tubuhnya dibalut oleh rompi empat saku yang warnanya sama pudarnya dengan topi yang ada di kepalanya.

Aku prihatin juga melihat tukang foto itu. Selama aku berada di sana tak satupun yang memakai jasa fotonya. Dia juga sempat menyapa aku dan menawarkan untuk difoto, tetapi saat itu aku juga membawa kamera yang aku beli setahun yang lalu. Jadi aku menolak tawarannya. Dari mana penghasilannya kalau tidak ada lagi orang yang mau dia foto? Dulu mungkin banyak orang yang menggunakan jasanya. Tetapi sekarang sudah lain. Orang sekarang lebih suka memoto sendiri, karena sudah banyak orang memiliki kamera sendiri (termasuk aku). Bahkan orang yang memiliki kamera film atau yang labih dikenal dengan handycam pun sudah banyak. Mungkin lebih baik tukang foto itu alih profesi saja. Tapi apa mungkin orang setua dia masih bisa memulai peofesi baru? (harusnya orang seusia dia sudah pensiun dan bersenang-senang menikmati sisa hidup) Atau mungkin dia termasuk orang yang setia pada profesi?. Tetapi lagi, untuk apa setia pada profesi kalau profesi itu tidak bisa menghidupi? Tidak bisa membuat hidup lebih baik dan sejahtera? Hanya tukang foto itu yang tau, dan dia masih setia dengan profesinya. Yang pasti dia tidak menghasilkan uang banyak dari pekerjaannya. Yang paling pasti lagi, pasti ada sesuatu kepuasan tersendiri dari hanya sekedar uang yang dia peroleh dari kesetiaannya pada profesinya. Kita perlu belajar tentang kesetiaan profesi kepada tukang foto itu.

Hari makin siang, sinar mata hari makin panas, orang-orang di sana makin ramai. Aku beranjak dari tembok tempat aku duduk. Aku meninggalkan alun-alun kota bandung itu, karena perutku sudah lapar. Aku bergegas menuju satu tempat makan di yogya mall. Di sana aku makan nasi rames ikan mas dan minum es kelapa muda. Maknyooosss.

Alun-alun kota bandung,

satu hari setelah 100 tahun kebangkitan nasional

sangMatahari

marga-marga batak

Dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak
Karya besar : Alm. H.B. situmorang
BPK Gunung Mulia, Jakarta - 1983

A.

1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN

B.

8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR

D.

34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)

G.

45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR

H.

53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK

K.

72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI

L.

74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP

M.

95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)

N.

119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING

O.


139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT

P.

141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK

R.

175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI

S.

189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOGANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU

T.

328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN

Tj ( C).

350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)

U.

353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU

KAROKARO

355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI

TARIGAN

375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO

PERANGINANGIN

387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR

GINTING

406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA

SEMBIRING

421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KALOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA

MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK

SINAGA

440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI

DAMANIK

448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK

SARAGI

453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP

PURBA

461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK

HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK

468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar
[sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan
ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)

-------
Seperti dikemukakan di awal, ini adalah salah satu versi tentang
Marga-marga Batak.
Yang mana tulisan ini juga mengacu pada Buku: PUSTAHA BATAK : Tarombo
dohot Turiturian ni Bangso Batak
karya besar : W. M. Hutagalung.
CV Tulus Jaya, 1991"

Raja Lontung

Tadi saya tertarik dengan sebuah artikel di web site k41ro wordpress.com

Mohon tanggapan dari pembaca, Terimakasih

Raja Lontung

Anak sulung Raja Lontung bernama Situmorang(sebagian orang berpendapat Sinaga ialah anak sulung Raja Lontung) , mendiami daerah Sabulan(Samosir). Selain di Sabulan marga Situmorang juga ada di Samosir selatan.

Marga Sinaga didapati juga di Samosir selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain. Di Simalungun terdapat marga cabang Sinaga yaitu: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.

Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan(Silindung). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan.

Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah yang disebutnya Nainggolan di Samosir. Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.

Marga Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho-Samosir.

Siregar pindah ke lobu Siregar-dekat Siborong-borong. Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan.

Marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang. Marga Peranginangin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.

Anak-anak si Raja Lontung( Si Sia Sada Ina):
1. Toga Situmorang (Situmorang).
2. Toga Sinaga (Sinaga).
3. Toga Pandiangan (Pandiangan).
4. Toga Nainggolan (Nainggolan).
5. Toga Simatupang (Simatupang).
6. Toga Aritonang (Aritonang).
7. Toga Siregar (Siregar).
8. Siboru Anak Pandan (menikah dgn Simamora).
9. Siboru Panggabean (menikah dgn Sihombing).

I. Toga Situmorang.
1. Raja Pande.
2. Raja Nahor.
3. Tuan Suhut ni Huta.
4. Raja Ringo (Siringoringo).
5. Sihotang Uruk.
6. Sihorang Tonga2.
7. Sihotang Toruan.

II. Toga Sinaga.
1. Raja Bonor >> Sidahapintu.
2. Raja Ratus >> Simaibang.
3. Sagiulubalang(Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.

III.Toga Pandiangan.
1. Raja Humirtap (Pandiangan).
2. Raja Sonang/Samosir (Gultom, Sidari, Pakpahan, Sitinjak).
– Sidari>> Harianja.

IV.Toga Nainggolan.
1. Toga Batu (Batuara, Parhusip)
2. Toga Sihombar(Rumahombar, Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian)
– Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.

V. Toga Simatupang.
1. Sitogatorop.
2. Sianturi.
3. Siburian.

VI.Toga Aritonang.
1. Ompu Sunggu.
2. Rajagukguk.
3. Simaremare

VII.Toga Siregar.

1. Silo.
2. Dongoran.
3. Silali.
4. Sianggian.

(sumber: Sejarah Batak, oleh Nalom Siahaan, 1964)

Tulisan Pertama

mmmmm………. Mau nulis apa ya…?

Beberapa hari yl aku jalan2 ke toko buku yg sudah menjadi kebiasaanku sejak kuliah dulu. Aku menemukan sebuah buku dengan judul “Understanding Your Potential” karangan Dr. Myles Munroe.

Yang menarik bagi saya, buku itu bercerita tentang kisah tragis sebagian besar umat manusia yang tidak pernah menemukan kemampuan terbaiknya sampai ajal menjemput mereka. Banyak orang yang tidak tau kalau dirinya memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri dan orang lain. Banyak karya-karya besar yang tidak sempat tercipta hanya karena pemilik karya itu tidak dapat melihat karya tersebut. Banyak lagu-lagu indah yang tidak sempat dinyanyikan karena pengarangnya belum menuliskan lagu itu. Banyak pemikiran-pemikiran baru yang belum dimanfaatkan karena pemikirnya tidak pernah membagikan pikiranpikiran itu. Semua ini adalah kisah tragis yang sangat mengerikan.

Yang menjadi pertanyaan “Apakah anda akan menambah kisah-kisah tragis itu…?