Senyum Itu

Awan berarak di cakrawala

Warnanya jingga membias

Diterpa sinar senja

Angin berhembus sepoi-sepoi

Membelai dedaunan hijau

Menyisir ilalang di padang

Lidah-lidah ombak menyapu pantai

Gemuruh suaranya bersahutan

Menyapa telinga

Aku yang sedari tadi

Bertengger di atas karang

Menatap jauh ke kaki langit

Menerobos ruang dan waktu

Menguak kenangan di masa lalu

Dan….

Otakku berhenti di satu masa

Sepenggal jalanku yang tertinggal

Tertinggal enam tahun yang lalu

Kala itu

Aku yang tak mengerti apa-apa

Tak punya apa-apa

Melangkah tanpa tujuan

Semuanya serasa serba kebetulan

Hari-hari yang kaku

Berganti dari waktu ke waktu

Tak pernah ada yang istimewa

Pun..! panca indraku

Tak berfungsi sama sekali

Hambar….

Tak ada yang indah

Tak ada yang merdu

Tak ada yang harum

Tak ada yang manis

Semua terasa hambar

Di satu malam yang kusam

Tiba-tiba…….

Jantungku berdetak kacau dan tak beraturan

Tiba-tiba…

Aku melihat di atas sana

Sinar rembulan begitu indah

Di depanku

Sebentuk ciptaan TUHAN

Datang entah dari mana

Aku mengusap mataku berkali-kali

Dan benar

Ini bukan mimpi

Dia bukan sekedar bayang-bayang

Dia benar-benar nyata di depanku

Ciptaan yang maha sempurna

Aku yakin dia diciptakan

Dikala TUHAN sedang tersenyum

Bola matanya yang sebening embun

Bercerita tentang harapan dan damai

Rambut hitamnya yang tergerai

Mengurai panjang

Menari perlahan

Dibelai hembusan malam yang sepoi

Sebentuk hidung yang mancung

Mengingatkanku akan malaikat-malaikat

Yang ku dengar ceritanya

Di sekolah minggu

Bibir itu…

Ya….

Bibir itu membangkitkan gairah

Warnanya yang merah merona

Menggugah selera

Dan….

Menggetarkan sendi-sendi

Magnetnya telah menarik aku

Dari dunia yang kaku

Ke dunia yang penuh warna-warni.

Sekali lagi…

Waktu telah berhenti di malam itu

Malam yang tidak ada duanya

Dia yang datang entah darimana

Dengan segala kesempurnaannya

Membuka mataku lebar-lebar

Dunia begitu indah dan sangat indah

Dia dengan suaranya

Yang serak basah nan merdu

Menyapa dengan santun

Tutur katanya yang berkarisma

Menyejukkan jiwa hingga ke ubun-ubun

Sepertinya……

Hariku dimulai di malam itu

Hari-hari yang penuh harapan dan keindahan

Malam-malam yang penuh dengan mimpi-mimpi manis

Wangi tubuhnya

Membawaku terbang ke langit

Melayang dari awan yang satu ke awan yang lain

Bahkan

Aroma itu membawa aku

Jauh tinggi hingga ke purnama

Tetapi…

Yang tak akan pernah ku lupa

Sampai kapanpun

Bahkan sampai waktu tak berputar lagi

Atau

Bahkan sampai bumi tiada lagi

Berganti surga dan neraka

Senyum itu

Semburat senyum dari wajah yang sempurna

Seyum yang tak dapat kulukiskan

Dengan rajutan kata-kata

Senyum itu….

Seyum yang telah membuat aku gila

Dan saat itu pun tiba

Dia yang datang harus pergi

Dia yang datang entah darimana

Tiba-tiba pergi entah ke mana

Datang tanpa pemberitahuan

Pergi tanpa pamit

Padahal….

Aku telah berandai-andai

Andai ini…

Andai itu….

Andai-andai itu berbaur dengan

Rasa yang ada dalam hati

Bermuara pada satu telaga keinginan

Keinginan untukmengungkapkan rasa

Rasa yang tidak ku tahu apa namanya

Rasa yang belum pernah ada sebelumnya

Ku kumpulkan segenap kekuatan

Untukmengungkapkan rasa itu

Ku kumpulkan kekuatan dari segala penjuru

Ku minta kekuatan dari matahari

Ku pinjam kekuatan dari rembulan

Kurangkai kata-kata terbaik

Untuk mengungkapkan rasa itu

Ku curi sajak-sajak para pujangga

Ku culik mantra-mantra para cerdik pandai

Ku contek syair-syair para sastrawan

Bahkan…

Ku terjemahkan bisikan angin malam

Ku pertimbangkan juga

Untuk menyampaikan rasa itu

Dalam bahasa yang berbeda

Bagaimana dengan bahasa tubuh

Bahasa tingkah laku

Atau bahasa senyum

Bagaimana pula dengan bahasa musik

Bahasa gambar, bahasa firtual

Nah…

Bagaimana dengan bahasa bunga

Mungkin lebih bermakna

Bunga melati

Bunga anggrek

Bunga “tahi ayam”

Atau mawar

Mawar putih, kuning, biru, hitam

Oh ini…

Mawar merah

Bagaimana

Romantis bukan…

Dan…

Sebelum rasa itu…..

Sebelum rasa itu diungkapkan

Dia telah pergi

Pergi entah kemana

Kini enam tahun sudah berlalu

28 augustus 2003

Dan seyum itu masih tersimpan dengan baik

Kini aku bertengger di sini

Di atas batu karang

Menatap jauh, jauh ke kaki langit

Matahari hampir terbenam

Matahari yang sama enam tahun yang lalu

Menyaksikan sepenggal jalanku yang tertinggal

Buat dia yang diciptakan

Disaat TUHAN sedang terseyum

Sang Matahari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s