Selamat Natal 2008

christmas-balls-2Titik-titik bening jatuh dari langit
Membasuh kulit bumi yang makin keriput
Udara dingin di penghujung tahun
Menyelimuti tubuh-tubuh bersahaja dengan hati yang sederhana

Orang-arang ramai-ramai bergegas ke sawah
Menyemai benih-benih pengharapan
Mencabut semai yang telah tumbuh itu
Lalu menanamnya di lahan-lahan kehidupan
Agar tumbuh sempurna sehingga saatnya nanti menghasilkan buah-buah berkat.

Titik-titik bening itu tidak menghalangi langkah-langkah menuju sawah
Titik-titik itu adalah anugrah yang harus disukuri
agar benih-benih kehidupan tembuh sempurna

Disana, di tepi sawah-sawah itu
Terdengar sayup-sayup lonceng gereja memanggil-manggil
Menyuarakan aroma natal yang kian mendekat
Memberitakan kabar gembira kelahiran mesias

Hari berganti malam
Orang-orang yang tadi siang bergumul dengan lumpur sawah
Menanam padi-padi kehidupan
Malam ini mereka berkumpul di sebuah gereja mungil
Melantunkan malam kudus dengan iringan poti marende
Melafalkan ayat-ayat suci
Memanjatkan doa-doa syukur dan pengharapan

Aroma natal bersatu dengan ritual menanam padi
Sebuah kolaborasi sederhana yang sarat makna
Sebuah momen yang sangat ditunggu sejak awal tahun
Ditunggu oleh anak-anak yang akan melafalkan “dimula ni mulana ditoppa debata ma langit dohot tano”
Ditunggu oleh kaum muda yang ingin “martina” (pacaran waktu natal)
Ditunggu oleh kaum ibu yang ingin mengenakan kembali sanggul yang telah setahun tersimpan dilemari
Ditunggu oleh kaum bapak yang ingin megenakan dasi dan jas kesayangannya
Ditunggu oleh orang tua yang anaknya akan pulang dari dari rantau
Ditunggu oleh semua.

Selamat natal 2008
Tuhan memberkati kita semua

selamatnatal1

Gulamo Na Tinutung

ikan-kecilTahun lalu aku ada dinas ke Palu-Sulawesi Tengah. Palu adalah kota Propinsi yang cukup sederhana, baik dari bangunannya maupun dari orang-orangnya. Ditengah kota masih banyak kita temukan pohon kelapa. Jumlah kendaraan belum begitu banyak sehingga tidak akan pernah terjadi kemacetan. Satu hal yang sangat menarik bagiku di kota Palu, yaitu ikan bakarnya. Makan ikan Bakar di sebuah restaurant yang berada persis di bibir pantai. Bangunan panggung dengan dinding terbuka. Kita bisa memandang jauh ke tengah lautan. Suara ombak jelas terdengar dan angin laut berhembus menerpa wajah.

Waktu itu kami memesan menu banyak sekali. Ada berbagai jenis ikan yang dibakar, ada kepiting rebus, ada udang goreng dan bakar, ada otak-otak, lengkap dengan berbagai macam sambal. Sambal terasi, sambal kacang, sambal kecap, sambal mangga dan yang paling khas adalah dabu-dabu. Rasanya “mak nyos” meminjam istilah pak Bondan. Ikan bakarnya benar-benar nikmat. Itulah ikan bakar paling enak yang pernag aku makan.

Beberapa bulan yang lalu aku ke Surabaya. Disana aku diajak makan ikan bakar di sebuah restaurant yang pengunjungnya ramai sekali. Aku membayangkan kalau ikan bakar di restaurant itu pasti sangat enak. Pengunjungnya saja sampai mengantri dan pesanan kami baru bisa kami nikmati hampir satu jam setelah kami pesan. Tetapi aku sedikit kecewa karena ikan bakar tsb tidak se-luar biasa yang aku bayangkan.

Sudah sejak lama saya sangat menyukai ikan bakar. Apabila di satu pilihan menu ada tersedia ikan bakar, biasanya aku akan memilih menu tersebut. Mungkin penyebabnya karena sejak kecil saya sudah diperkenalkan oleh orang tua saya dengan menu ikan bakar spesial yang kami kenal denga “GULAMO NA TINUTUNG”

Sampai sekarang saya belum tau dari mana asal kata  “gulamo”. Gulamo yang juga kami kenal dengan nama “gabbas” adalah ikan laut yang diawetkan dengan cara diasinkan sehingga tahan sampai berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Di kampung saya semua orang mengenal gulamo. Gulamo merupakan lauk utama sahabat nasi di waktu makan. Ibuku membeli gulamo di pekan Tigaraja setiap hari pekan, hari sabtu.

Cara mengolah gulamo memjadi lauk yang siap disantap sangat gampang. Gulamo biasanya digoreng kering, digoreng sambal atau yang paling praktis “ditutung” (di bakar di atas bara api). Dengan cara ditutung inilah cara yang paling sering dilakukan, sehingga dikenallan gulamo na tinutung. Waktu gulamo berada di atas bara api, aromanya yang khas akan tercium sampai jauh, bahkan sampai jarak ratusan meter. Siapapun yang mencium aroma itu akan merasa lapar dan ingin segera makan dengan gulamo na tinutung sebagai lauknya.

Waktu yang dibutuhkan untuk membakar gulamo ini sangat singkat (dalam hitungan menit, bahkan ada yang hanya dalam hitungan detik). Kalau membakarnya kelamaan, gulamo akan cepat gosong dan tidak dapat dimakan lagi. Gulamo ini harus segera disantap setelah dibakar, disaat masih hangat dan aroma khasnya masih tercium. Rasanya sangat nikmat apalagi ditemani dengan sayur daun singkong tumbuk, sambal andaliman dan lalap pete atau jengkol. Rasanya luar biasa. Tetapi sering kali gulamo natinutung ini hanya menemani nasi putih saja tanpa sayur dan yang lainnya. Namun tetap saja nikmatnya tiada tara.

Ada satu ungkapan masa kecil yang aku percayai saja tanpa memikirkan apakah ungkapan itu masuk akal. “Jangan makan gulamo banyak-banyak, nanti kulitmu akan bersisik!”. Sebuah ungkapan banyak orang tua di kampung kami kepada anak-anaknya. Sekarang setelah aku pikirkan, ternyata ungkapan itu sengaja diciptakan agar persediaan gulamo di rumah tidak cepat habis. Selain situasi ekonomi kala itu yang sulit sehingga uang untuk membeli gulamo terbatas, juga karena gulamo hanya bisa diperoleh sekali seminggu di pekan tigaraja. Dengan ungkapan tersebut persediaan gulamo akan tetap ada sampai hari pekan berikutnya tiba.

Gulamo na tinutung telah menjadi sahabat masa kecil saya. Aroma gulamo natinutung telah membius saraf hingga terbang ke langit ke tujuh. Menembus awan-awan menuju kayangan dengan kepuasan makan yang tiada bandingnya. Tetapi hari ini saya berpikir bahwa seandainya masa kecil saya selalu makan ikan laut yang segar yang penuh gizi, bukan gulamo natinutung yang gizinya telah terbang bersama proses pengawetan, mungkin kualitas hidup saya akan jauh lebih baik. Perkembangan otak saya pun mungkin akan lebih sempurna.

Gulamo natinutung…. Rinduku padamu…
Saya berencana pulang kampung beberapa hari lagi, imajinasiku telah mencium bau khas gulamo natinutung. Aku tak peduli apakah gulamo itu penuh gizi atau tidak. Aku ingi segera menikmatinya lengkap bersama sayur daun singkong tumbuk, sambal andalimandan dan lalap pete. Nikmat sekali……

Are You A Friend..?

18 September ’05

Mmmm…………………..

What a friend are for?” kalau tidak salah itulah sebuah judul lagu yang baru saja berlalu dari sebuah radio butut di ruangan ini.  “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more….” Demikian sepenggal syair dalam lagu tersebut. Kedengarannya memang sangant sederhana. Apakah anda juga berpendapat demikian? Yang jelas kalimat dalam lagu tersebut, apabila dinyatakan balam kehidupan yang sesunguhnya benar-benar luar biasa.

Disaat bumi semakin ujur, apakah syair lagu tadi masih berlaku? Disaat matahari semakin lelah bersinar, apakah seorang sahabat masih  dibutuhkan? Disaat bintang-bintang makin enggan menyapa malam, apakah arti shabat masih apa adanya? Dikala mimpi indah tak lagi hadir, apakah seorang sahabat mau hadir?

Di dunia yang semakin tua ini kehadiran seorang sahabat yang sesungguhnya telah menjadi barang langka. Menjadi sesuatu yang makin jauh dari jangkauan. Sahabat menjadi hanya sebatas kata-kata yang tergores dalam cerita-cerita, dongeng, atau syair-syair lagu. Sahabat bahkan telah menjadi barang komersil yang dapat diperjual-belikan.

Sahabat telah kehilangan makna yang sesungguhnya. Sahabat bukan lagi “I’ll be on your side for ever more”. Sahabat akan hadir jika hanya jika ada pembagian, jika ada keuntungan secara materi yang akan diperoleh.

Pada saat ada musibah, sahabat memang hadir, tetapi ia hadir di depan kamera dan para wartawan. Di saat bencana akan bermunculan sahabat. Sahabat yang mencari keuntungan akan popularitas, keuntungan akan pujian, sanjungan, bahkan keuntungan akan materi.

Sahabat sekarang bahkan telah memanfaatkan penderitaan orang lain untuk memuaskan nafsu dan keinginan diri sendiri

Sahabat…..

mmm…….

Apakah anda seorang sahabat? Sahabat yang bagaimana? “For good time, for bad time, i’ll be on your side for ever more”

Setuju?

Sipanganbolon1

sipanganbolon11Menurut cerita para orang tua, kata sipanganbolon berasal dari dua kata sipangan dan nabolon. Konon beberapa waktu yang lampau ada seekor gajah terjepit di sebuah tempat di harangan sitahoan. Tempat itu kemudian dikenal dengan Songsongan Gaja. Karena gajah itu tidak bisa melepaskan diri, akhirnya mati dan orang-orang di sana menyembelih gajah tersebut dan dimasak lalu dimakan rame-rame. Demikianlah gajah yang merupakan hewan besar dimakan dan terciptalah Kata Sipanganbolon.

Sipanganbolon adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. Ke sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tanah Jawa, ke sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir dan ke sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Girsang. Sipangan bolon berjarak sekitar 8 km dari kota Parapat- ibu kota kecamatan, 40 km dari kota Pematang Siantar-ibu kota kabupaten dan sekitar 182 km dari kota Medan-ibu kota provinsi.

Sipanganbolon terdiri dari beberapa kampung atau huta yaitu Sigala-gala, Paropo, Sibuttuon, Sitabu, Simandalahi, Simaibang, Suhutmaraja, Paras, Sosordolok, Sibaulangit, Sidasuhut, Porti, Sidahapintu, Sidallogan, Pussu dan Sosorpea. Penduduk asli adalah suku Batak Toba dan didominasi marga Sinaga.

Menanam Padi

Kontur tanah Sipanganbolon merupakan tanah berbukit sehingga jarang ditemukan dataran yang cukup luas. Hal ini merupakan ciri dari semua daerah yang terletak dikaki pegunungan Bukit Berisan. Pendudukmayoritas bekerja sebagai petani. Sebelum tahun 90-an hampir seluruh penduduk sipanganbolon mengandalkan sawah sebagai sumber penghasilan utama, namun setelah tahun 90 para petani banyak beralih dari sawah ke ladang, yaitu pertanian tanah kering. Beberapa kawasan persawahan di Sipanganbolon adalah Sigala-gala, Lokkung, Hole, Sitabu, Gabbiri, Adaran, Sidolon-dolon, Ramba Toruan, Binanga, Sitalolo, Sibolangit, Pussu, Porti, Sidahapintu dll.

Varietas Padi yang ditanam adalah padi lokal seperti Sirambe, Sikawat, dll. Varietas ini adalah jenis padi yang berumur lebih panjang dibanding varietas unggul separti IR. Karena varietas ini lebih lama maka penanaman padi dilakukan sekali dalam setahun.

Untuk mengolah sawah, pekerjaan pertama adalah membersihkan lahan dari rumput dan tumbuhan liar yang tumbuh di lahan setelah sekianlama dibiarkan. Pekerjaan ini dilakukan dengan membalikkan tanah yang sering disebut dengan mangombakbalik. Kegiatan ini dilakukan sekitar bulan September. Setelah itu lahan kembali dibiarkan selama satu bulan. Satu bulan kemudian lahan diolah separti perlakuan pertama. Pada akhir oktober atau awal novenber padi disemaikan. Setelah pengolahan kedua, lahan diolah kembali, digemburkan, pematang sawah dibersihkan dari rumput, tanah disisir, diratakan dan pertengehan desember padi yang disemaikan dicabut dan dipindahkan kelahan yang sudah siap ditanam.

Acara tanam padi bagi saya adalah suatu momen yang unik, karena pekerjaan ini dilakukan dengan berjalan mundur. Selain unik peristiwa ini juga menyenagkan. Makan siang pasti enak karena dipersiapkan khusus oleh yang punya sawah. Lauknya biasanya adalah ikan mas yang diarsik atau digoreng. Ikan mas ini jauh lebih enak dari ikan mas yang ada dipasar karena ikan mas ini diambil dari kolam sendiri. Biasanya setelah panen sebagian sawah dibuat menjadi kolam ikan mas. Selesai makan siang kita akan tidur sejenak dan inilah acara tidur terenakdi dunia, walaupun beralaskan rumput dan beratapkan langit. Suara air yang mengalir di pancuran menjadi musik yang indah, bau lumpur sawah menjadi aroma terapi, hembusan angin membelai kulit dan sinar mentari memberikan kehangatan. Benar-benar menyenangkan.

Setelah padi ditanam, lahan harus tetap diperhatikan terutama agar air di sawah tersebut tidak kering dan tidak banjir. Sekitar 2 minggu kemudian dilakukan pemupukan pertama. Sebulan kemudian rumput (oma-oma) yang tumbuh di antara batang-batang padi dan di pematang sawah dibersihkan. Kegiatan ini disebut marbabo. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut parbabo. Kadang kadang istilah parbabo ini diplesetkan menjadi parbada bolon…he…he…he… Parbabo biasanya adalah kaum perempuan. Mengapa? karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang memerlukan kesabaran, bukan dengan tenaga yang luar biasa seperti halnya mencangkul atau mambanting.

Untuk keperluan marbabo ada peralatan khosus yang dipakai yang disebut dengan tuil (kalau gak salah). Alat ini terbuat dari kaleng yang ditekuk berbentuk silinder dan pas bila dimasukkan ke jari. Jari yang dikenai alat ini adalah jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking, tapi jempol juga kadang-kadang dipakaikan. Alat ini berfungsi untuk melindungi jari dan sebagai alat untuk mencabut rumput dan menggemburkan tanah dengan jari. Kalau kaum perempuan marbabo, laki-laki membersihkan rumput yang tumbuh di pematang sawah. Alat yang digunakan untukmembersihkan pematang sawah adalah pangali dan balibak.

Sekitar dua bulan kemudian bunga padiakan mulai muncul atau sering disebut dengan boltok. Bunga padi yang muda ini kalau dimakan rasanya manis dan inilah satu sebab mengapa tikus tertatik memakan bunga-bungan padi yang masih muda. Beberapa waktu kemudian bunga padi ini akan berubah menjadi biji. Disaat biji padi mulai terbentuk, burung-burung pemakan biji seperti apporik akan menjadi hama pengganggu. Burung-burung ini akan semakin banyak sejalan dengan semakin matangnya biji-biji padi.

Setelah padi menguning, air dihentikan dan sawah dikeringkan. Hal ini bertujuan agar proses pematangan biji padi lebih optimal dan untuk mempermudah proses pemanenan. Setelah seluruh biji-biji padi menguning dan benar-benar matang, padi pun siap dipanen. Proses pemanenan dilakukan dalam dua tahap yaitu pemotongan dan perontokan. Proses pemotongan dan perontokan biasanya dilakukan pada hari yang berbeda, tetapi bila kedua gegiatan ini dilakukan pada hari yang sama, disebut sabi-batting. Pemotongan yang disebut dengan manabi, dilakukan dengan menggunakan sabit. Padi yang sudah dipotong ditumpuk dalam tumpukan-tumpukan kecil yang disebut dengan tibalan. Tibalan-tibalan ini dikumpulkan dalam satu tumpukan besar yang disebut dengan luhutan. Luhutan ini persis seperti kue bolu raksasa, atau miniatur stadion senayan. Ukuran besar dari luhutan ini didasarkan pada berapa lapis tumpukan batang padi yang menjadi dasar luhutan tersebut. Lapisan-lapisan ini disebut dengan sittak. Semakin banyak sittak dari sebuah luhutan, semakin besar pula ukuran dari sebuah luhutan. Ukuran luhutan disebut besar bila lebih dari 7 sittak. Pada pemotongan padi ini, ada kalanya beberapa bagian batang padi yang tidak dipotong karena belum benar-benar menguning. Padi yang belum menguning ini disebut dengan turiang.

Proses selanjutnya adalah merontokkan biji atau butir-butir padi. Proses ini dilakukan dengan dua cara dibanting atau didege. Didege yaitu, butir padi dirontokkan dengan cara diinjak-injak. Ini dilakukan oleh para petani yang dulu-dulu yang belum mengenal bantingan. Menurut cerita dari orang tua saya, sering kali mardege ini dilakukan sampai malam, karena prosesnya memang cukup lambat. Orang yang tidak biasa akan mengalami kesulitan karena telapak kaki akan mengalami iritasi bahkan sampai berdarah akibat bergesekan dengan kulit padi yang kasar.

Namun sudah lama kegiatan mardege ini ditinggalkan karena tidak efektif. Mambanting adalah penemuan berikutnya untuk merontokkan butir padi. Proses ini memerlukan seperangkat alat bantingan dan terdiri dari beberapa orang personil. Bantingan terbuat dari kerangka kayu yang dibentuk seperti kotak, panjang 2m, lebar 1m, tinggi 2,5m dindingnya dibalut dengan tenda plastik dan di tengahnya ada sebuah rak yang nantinya dimana kita membantingkan untaian padi sehingga terlepas dari batangnya. Personil dalam proses mambanting terdiri dari pangahit yaitu orang yang memindahkan tumpukan padi dari luhutan ke sipembagi, pambagi adalah orang yang membagi tumpukan padi menjadi tumpukan yang lebih kecil (ukuran sekali genggam dengan dua tangan), Pamiur yaitu orang pertama yang membantingkan padi, nomor dua yaitu orang kedua yang membantingkan padi setelah dari pamiur, nomor tiga adalah orang yang membantingkan padi setelah nomor dua, pambuang adalah orang yang membuang batang padi yang telah ditinggal oleh butir-butir padi (durame), panarsari yaitu orang yang bertugas mengumpulkan dan membersihkan durame dari tempat pambantingan.

Proses mambanting ini terlihat separti proses di sebuah pabrik yang bergerak otomatis dari satu proses ke proses berikutnya. Proses ini juga menghasilkan bunyi-bunyian yang harmonis seperti permainan musik. Indah dan harmonis sekali dilihat dan didengar. Secara umum kegiatan mambanting adalah kegiatan yang menyenangkan, walaupun kegiatan ini menguras banyak tenaga hingga keringat akan bercucuran seperti biji-biji jagung, sehingga ada istilah keringat jagung. Tetapi ada satu hal yang tidak saya suka setiap kali mambanting yaitu debu yang dihasilkan dari kulit padi yaitu rogon. Rogon ini sagat menggangu hidung dan rasanya perih di seluruh kulit yang dikenainya.

Setelah seluruh butir-butir padi selesai dirontokkan, dilanjutkan dengan mamurpur yaitu memisahkan padi yang berisi dengan padi kosong atau lapung. Proses ini memanfaatkan hembusan angin. Tenda plastik yang membungkus bantingan dilepas dan rak yang sebelumnya ada dibagian tengah dinaikkan ke atas. Dua orang pamurpur akan naik ke atas bantingan yang tingginya kira-kira 2,5m. Satu orang bertugas menerima kantong-kantong berisi padi yang masih kotor dan saru orang lagi bertugas menaburkan padi dari atas bantingan. Apabila angin cukup kencang, maka otomatis lapung akan ditiup angin jauh meninggalkan butir padi berisi yang jatuh tepat dibawah si penabur. Apa bila angin tidak bertiup atau tiupannya lambat, maka diperlukan angin buatan dengan menggunakan anduri dengan cara mengipas.

Proses terahir dari seluruh rangkaian acara panen ini adalah mengumpulkan padi yang telah bersih, memasukkannya ke dalam karung plastikatau karung goni selanjutnya dibawa pulang ke rumah. Dari seluruh rangkaian proses panen, proses inilah proses yang paling memberatkan, karena kita akan memundak kantong-kantong padi yang beratnya di atas 50 kg (ada yang sampai 80kg) melewati jalan yang berliku, menanjak, menurun, melewati sungai, melewati titian bambu hingga berkilometer jauhnya. Dalam memundak ini, tidak sedikit orang yang sipanggaron memaksakan diri memundakdengan berat yang tidak masuk akal. Mungkin ini satu penyebab banyak orang disana bertubuh pendek.

Demikianlah rangkaian panen ini berlansung dengan segala susah senangnya. Jujur, lebih banyak senagnya. Bisa bermain di atas durame, meniup trompet yang terbuat dari batang padi dan banyaklagi permainan selama masa panen.

my wonderfull office, 26 juni 2008

sangMatahari