PULANG KAMPUNG (Part 2)

sambungan…..

Hanya sekejap kota parapat sudah hilang dari pandangan mata. Mobil MRT yang aku tumpangi melaju dengan kencangnya. Aku sudah berada di Sipanganbolon kampung halamanku. Tepat di depan rumah orang tuaku mobil yang ku tumpangi kuminta berhenti. Aku segera turun dan tak sabar ingin secepatnya menemui ibuku.

Tidak banyak yang berubah dengan wajah rumah orang tuaku. Pohon cengkeh di bagian kiri halaman rumah masih berdiri tegak. Dulu aku sering memanjat pohon itu kala ia berbunga. Di tengah halaman juga masih ada pohon jambu batu (attajau) dengan ranting-rantingnya yang menaungi hampir separuh halaman. Pot-pot yang ditumbuhi kembang-kembang yang tak pernah aku tau namanya juga masih ada di sana. Tanaman pengganti pagar yang sering kami sebut dengan bunga pagar juga masih memagari halaman. Semuanya masih ada, hanya saja semuanya sudah tampak tua dan kurang terawat. Sedikit perubahan mencolok adalah warna dinding rumah. Biasanya warna dinding rumah itu adalah biru muda atau putih. Kini warnanya menjadi merah muda. Ini pasti ide ponakan (bere)-ku Lisbet. Boleh juga warna itu…

Tanpa salam, dengan terlebih dulu melepaskan sepatu, aku langsung masuk ke rumah. Ruangan tengah sepi. Aku menuju kamar ibuku. Aku kaget melihat kondisi ibuku. Dia telah berubah tua setelah mengalami kondisi kitis Februari yang lalu. Dia duduk di atas ranjangnya dengan kepala tertunduk. Kakinya ditutupi selimut tebal bercorak garis-garis putih hijau. Tubuhnya dibalut baju hangat warna putih dengan garis biru merah di bagian depan. Rambutnya yang sudah dipenuhi uban dibiarkan tergerai.

Tanpa basa-basi aku langsung memeluk tubuhnya yang begitu kurus. Dia menatap wajahku. Kulihat air mata membasahi pipinya yang keriput. Sesunggunya aku ingin menangis melihat kondisi ibuku, tetapi kupaksa airmataku yang sudah menggantung di kelopak kembali ke asalnya. Aku tak ingin ibu melihat airmataku. Aku ingin memberi semangat kepada ibuku. Semangat untuk menjalani hari-hari yang cukup sulit dia hadapi.

Aku merasa bersalah, kenapa beberapa bulan sebelumnya ketika ibuku mengalami masa-masa sulit dengan penyakitnya, aku tidak ada di sampingnya. Penyakit yang hampir saja merubah segalanya. Penyakit yang membawanya menginap di ruang icu dalam waktu lama. Penyakit yang membuat kami anak-anaknya sangat kawatir. Penyakit yang menjadikan kami makin sering berdoa kepada TUHAN. Tapi sudahlah. Hari ini aku bersyukur bisa betemu dengan ibu yang sangat aku sayangi.

Tak banyak yang kami bicarakan. Ibuku sudah begitu berubah. Tidak lagi banyak bicara. Dia hanya menjawab seadanya setiap kali saya bertanya. Aku tau kalau dia sangat mengharapkan kehadiranku, ketika dia bertanya dengan suara hampir berbisik ”Boasa palelenghu ho ro…?” Aku menjalaskan bagaimana keadaanku di jakarta sehingga baru sekarang aku bisa menemuinya. Aku berharap dia bisa memahami keadaanku.

Tak berapa lama keponakanku Lisbet muncul dan langsung menyapa. Katanya dia baru saja mengurusi ternak babinya di belakang rumah. Aku menanyakan kondisi ibu kepadanya. Kami ngobrol cukup lama. Orolan kami terputus ketika ada pembeli di warung. Sejak ibu sakit, dia tidak bisa lagi ditinggal. Lisbet harus selalu ada di rumah. Karena itu, agar dia punya kegiatan sambil menemani oppungnya di rumah, dia membuka warung dibagian depan rumah.

Ketika lisbet melayani konsumennya, aku mengajak ibu keluar dari kamarnya. Dia harus dituntun, karena tidak kuat lagi berjalan sendiri. Aku menuntun ibu sampai ke teras depan. Kami duduk di kursi tua yang sudah ada sebelum aku lahir. Kami melanjutkan obrolan kami dengan Lisbet sambil dia melayani pembelinya di warung yang persis dekat teras.

Di jalanan aku melihat kakakku datang. Kakak ini adalah anak nomor dua ibuku. Dia adalah ibunya Lisbet dan tinggal bersama dengan ibuku. Dia baru saja dari acara pesta adapt tetangga. Di kejauhan dia terseyum melihat aku. Kami langsung berpelukan ketika dia sudah sampai di teras rumah. Begitulah kami mengekspresikan persaudaraan kami. Suasana menjadi semakin rame. Wajah ibukupun mulai cerah mengikuti suasana yang semakin rame.

Suasana yang makin rame menjadi semakin rame ketika anak-anak tulangku dari siantar yang baru jiarah ke makam oppung juga datang ke rumah. Mereka adalah Eben, Hermes, Candra, Dora, Astuti, Ojak dan dua lagi yang aku lupa namanya. Aku jarang sekali bertemu dengan mereka. Aku tidak menyangka kalau Astuti anak tulangku yang paling bungsu, yang dulu belum sekolah ketika aku tinggal di rumah mereka, kini sudah menjadi gadis centil yang sedang kuliah di USU. Ahh… ternyata telah banyak yang berubah.

Namun tak lama kenudian mereka pamit karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah tulang sibuttuan. Tulang sibuttuan adalah adik ibuku yang tinggal di kampung sibuttuon sekitar 1 km dari rumah orang tuaku. Tulang itu baru meninggal setahun yang lalu.

Sebelum mereka pamit, aku memotret mereka, dan inilah potretnya.cimg0001

Bersambung…

PULANG KAMPUNG

cimg0042

Tak terasa aku kembali lagi dengan rutinitas pekerjaan di bawah langit ibu kota yang kelabu ini. Seminggu sudah aku kembali dari kampung Sipanganbolon.

Tanggal 29 Desember 2008 yang lalu, pukul 07.45 pagi pesawat Batavia Air membawaku dari Jakarta menuju Medan. Titik-titik air yang turun dari langit menemani perjalananku. Batavia Air mendarat di landasan Polonia yang basah pukul 09.45. Sejak malam, hujan mengguyur kota Medan sesuai dengan informasi yang aku dapatkan dari seorang abang becak.

Keluar dari pesawat terasa aroma kota Medan yang selalu kurindui. Dua tahun sudah ketika aku terahir kali menginjakkan kaki di sana. Suasana hiruk bandara menjadi pemandangan khas penanda bandara Polonia. Para porter yang selalu menguasai troli menawarkan jasa dengan cara memaksa. Para agen dan supir taksi merayu penumpang, juga dengan cara memaksa. Kapankah kota Medanku ini akan berubah sedikit lebih ramah…? Apakah ini arti dari ungkapan “Ini Medan Bung!!”…?. Tapi sudahlah, aku tak ingin merusak suasana pulang kampungku hanya dengan memikirkan keriuhan bandara Polonia.

Gerimis masih turun. Aku meninggalkan Polonia menumpang becak motor setelah menyempatkan makan sepiring nasi goreng di bandara. Becak mengantarku sampai ke loket angkutan MRT (Medan Raya Tour). Aku sengaja menumpang becak agar bisa menikmati pemandangan kota Medan yang pernah menjadi bagian dari hidupku ketika aku kuliah di USU. Tidak banyak yang berubah. Hanya ada satu dua pusat perbelanjaan baru yang menghiasi pinggir jalan. Sedikit banyak kenangan beberapa tahun yang lalu muncul kembali ketika aku menyaksikan wajah kota Medan yang semakin tua. Aku ingin berlama-lama di sana, tetapi waktuku tidak banyak. Aku harus segera tiba di kampung halamanku.

Masih di bawah gerimis, aku melanjutkan perjalananku menaiki mobil angkutan MRT menuju kampungku Sipanganbolon. Jalanan agak macet di perempatan terminal Amplas. Disana sedang dibangun jembatan layang. Kata orang-orang proyek pembangunan jembatan itu sudah berlangsung lama, tetapi tidak tahu kapan akan selesai. Mengapa…?. Melewati Amplas mobil yang aku tumpangi melaju dengan kencang, walaupun jalanan cukup ramai. Aku berharap bisa tiba di kampung secepatnya.

Lewat tengah hari sekitar pukul 14.00 mobil yang aku tumpangi istirahat di Simpang Dua-Pematang Siantar. Gerimis sudah berhenti, mataharipun bersinar terang, tetapi jalanan masih basah. Aku menyempatkan untuk makan siang. Satu piring nasi putih, satu mangkok sup dan satu porsi panggang lengkap dengan sambal andalimannya menjadi menu makan siang yang aku pilih. Rasanya nikmat sekali.

Selesai makan siang dan istirahat sebentar, perjalanan berlanjut. Mobil yang aku tumpangi meninggalkan kota Pematang Siantar dengan laju yang kencang. Pohon-pohon sawit, pohon-pohon pinus, jalanan yang berbelok-belok menemani perjalananku. Semuanya menjadi hal-hal yang aku rindui dan membangkitkan berjuta kenangan di masa lalu. Ah…. Betapa indahnya kenangan-kenangan itu.

Tidak terasa kurang dari satu jam kemudian aku sudah berada di kota Parapat. Pemandangan Danau Toba yang dipagari oleh bukit-bukit batu terhampar luas. Pemandangan yang sangat mempesona. Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan menciptakan keindahan Danau Toba ini dari tanah surga. Udara parapat yang dingin menyambut kedatanganku. Membelai kulitku hingga ke tulang-tulangku, bahkan sampai ke pusat jantungku. Parapat dengan Danau Tobanyayang tak munkin hilang dari hatiku walau hanya sesaat. Beberapa puluh tahun yang lalu disana hari-hariku begitu indah bersama sahabat-sahabat masa kecilku. Di sana jugalah untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa di dunia ini ada yang namanya perempuan dan perempuan itu ternyata cantik. Anda pasti tau yang kumaksudkan bukan…? Butuh waktu lama untuk mengenang kembali masa-masa itu.

Hanya sekejap kota parapat sudah hilang dari pandangan mata. Mobil MRT yang aku tumpangi melaju dengan kencangnya. Aku sudah berada di Sipanganbolon kampung halamanku. Tepat di depan rumah orang tuaku mobil yang ku tumpangi kuminta berhenti. Aku segera turun dan tak sabar ingin secepatnya menemui ibuku.

Bersambung………………