Ulang Tahun DEKA ke 14

Hari Jumat, 25 Juli yang lalu, ada panggilan di HP-ku. “Halo, selamat sore”. “Halo… Paber ya..? ini Titus”. “…….” Pak Titus mengundang aku untuk ikut makan bersama hari Sabtu besoknya dalam rangka perayaan ulang tahun DEKA yang ke 14.

Hari Sabtu pagi jam 9.30 saya berangkat dari rumah. Dari terminal Pulogadung naik Trans Jakarta. Transit di halte Juanda dan Turun di halte Jelambar persis di samping Mall Citra Land (CL). Dari perempatan grogol naik mikrolet 12 jurusan kota dan turun di pintu 2 perkantoran Grogol Permai.

Aku singgah sebentar di trotoar tempat mangkalnya amangboru Hutapea. Aku lihat gerobaknya semaskin reot. Wajah amang boru itu semakin kering dan tua dibakar matahari, digerus debu jalanan dan mungkin juga didera keadaan ekonomi yang makin sulit. Amangboru Hutapea adalah salah satu pedagang kaki lima dipinggir jalan depan Perkantoran Grogol Permai. Aku pernah akrab dengannya ketika aku bekerja disana. Dia menjual minuman botol, rokok, tissue, permen dan lain-lain di atas sebuah gerobak kayu yang mungkin di buat sendiri dengan bahan apa adanya sehingga gerobak itu tidak simetris. “Horas Amangboru” aku menyapa. “Bah… Horas…” Dengan senymnya yang tulus, kami bersalaman. Lebih dari 2 tahun kami tidak bertemu karena sejak pindah kerja, aku hanya 2 kali kesana itu pun sudah lama. Wajahnya yang tersenyum itu dipenuhi kumis, jenggot dan cambang yang gersang dan sebagian sudah memutih dan kelihatan sekali jarang dicukur. Tidak lama aku ngobrol dengan amang boru itu. Setelah menuntaskan teh botol yang di sugukannya, akupun pamit. Tetap semangat amangboru…

Dari pintu dua aku langsung ke kantor PT. Deka Adhinusa yang berada di Blog G no 21 yang mau aku tuju. Tidak banyak yang berubah. Bangunan kantor yang warnanya sudah pudar masih tetap sama. Hanya ada satu dua bangunan yang mengalami renovasi kecil. Tanpa mengetok pintu atau menekan bel, aku mendorong pintu yang setengah terbuka dan masuk. Di dalam ada tiga orang laki-laki yang sedang beres-beres. Satu orang mirip dengan Adam. Adam adalah seorang pegawai deka ketika aku masih disana. Bertubuh super gendut dan suka senyum. Laki-laki itu menanyakan keperluanku. Aku mengatakan kalau aku mau ketemu dengan Pak Titus. Dia mengengat intercom dang mengatakan kalau di bawah ada tamu buat Pak Titus. Setelah itu dia mempersilahkan aku menunggu.

Aku memperhatikan ruangan bawah tersebut. Aku teringat kembali ketika dulu ada di sana. Bila Jam istirahat kami para karyawan sering ngumpul di satu ruangan kecil untuk sekedar ngobrol, makan siang, bergosip dll. Tapi kini ruangan itu sudah dipenuhi oleh dus-dus besar dan kursinya juga berdebu. Aku yakin tidakada lagi orang yang makan siang di ruangan itu.

Seorang gadis muncul di anak tangga dekat toilet dan berjalan ke arahku. “Pak Paber ya..?” “Iya” “Silahkan naik Pak…!”. Aku mengikuti si gadis itu naik ke lantai dua. Di tangga menuju lantai dua, aku melihat Ester. “Apa kabar Ester…? aku menyapa. “E….e Pak Paber…!.Sehaat…!” dia menjawab dengan suara khasnya yang agak sengau dan centil. Aku ngobrol sebentar dengan dia dan aku jadi tau kalau dia sudah punya seorang anak.

Di ujung tangga masih ada sebuah mesin foto copy. Posisinya masih seperti yang dulu. Disanalah untuk yang pertama kalinya aku belajar menggunakan foto copy, dan yang mengajari aku adalah Setya Wibagsana atau SW. Terimakasih Pak Set (aku biasa memanggilnya begitu). SW adalah inisial untuk Setya Wibagsana. Semua pegawai yang ada di Deka memiliki identitas pegawai yang sekaligus dipakai untuk nomor surat. Sebagai contoh 4PT-001, 4 artinya tahun 2004, PT artinya Philipus Titus, 001 artinya urutan. Inisialku dulu disana adalah PS sesuai dengan singkatan namaku. Tetapi tidak selamanya inisial itu adalah singkatan nama seperti beberapa contuh di atas. Ada kalanya yang diambil adalah huruf pertama dan huruf tengah seperti HL untuk Harli, PW untukPurwanto, HD untuk Hermedy, BN untuk Bina, SA untuk Saol, MU untuk Murdiati, AY untuk Toyibah (AYI), TT untuk Tita, dll.

Melewati pintu kaca aku memasuki ruangan lantai 2 yang merupakan jantung dar kantor tersebut. Disana ada “Big Boss” pak Titus di pojokkanan depan, selanjutnya ada Ester sebagai Administrasi, berikutnya ada Harli yang merupakan Super Sales Enginerr dan di pojok belakang ada Master Aplication Hermedy yang biasa dipanggil dengan Ahui. Sementara yang lain aku tidak kenal lagi karena mereka masuk setelah aku pindah.

Dulu mejaku ada di pojok kanan belakang menghadap ke dinding, di belakang pak Ahui, tetapi sekarang meja itu sudah tidak adal agi karena persis dipojok itu di buat pintu baru menuju ruko sebelah. Ternyata ruko sebelah sudah disewa untuk memperluas kantor deka. Aku rindu meja itu. Aku rindu dengan sebuah desktop yang merupakan alat bantu utamaku sebagai aplikasi. Aku rindu dengan kertas bekas yang aku potong-potong untuk oret-oretan atau untuk kalkulasi. Aku rindu dengan folder-folder besar berisi inquiry, penawaran, hitungan, brosur dll. Aku rindu dengan sebuah pesawat telepon diatas meja. Aku rindu semuanya.

Aku menyapa Pak Ahui yang duduknya memang dekat dengan pintu. Walaupun umurnya bertambah mendekati kepala 4, tetapi wajahnya semakin muda saja. Kulitnya yang putih kontras dengan brewoknya yang mungkin dicukur hanya sekali seminggu yang merupakan ciri khasnya. Pakaiannya selalu rapi bahkan “Fasionable” meminjam istilah para penata busana. Kali ini dia mengenakan kaos polo hitam garis-garis yang pas dengan badannya yang kecil. Celananya jeans dengan ukuran yang pas juga. Aku menyebut dia master aplication karena dia merupakan tukang aplikasi ulung paling senior dan telah menguasai semua hitung-hitungan pompa, vacumm dan blower. Dulu aku selalu bertanya kepadanya. Terimakasih pak Ahui, kamu mengajariku menghitung pompa.

Dari meja Ahui aku langsung ke meja Pak Titus. Masih seperti dulu, sibuk dan sibuk. Dia Seyum dan menatapku dengan mata sipitnya. Aku tau senyum itu tulus karena dari ekspressi mata kita bisa tau apakah seseorang senyum tulus atau hanya pura-pura, sesuai dengan yang aku pelajari ketika diklat Prajab di Bandung. Kami bersalaman dan sambil mengerjakan pekerjaannya kami ngobrol. Secara penampilan tidak ada yang berubah. Gaya bicara jug amasih sama. Aku ingat kembali bagaimana pertama kali aku bertemu dengan dia. Aku datang ke PT Deka akhir akhir september tahun 2003 untuk memenuhi panggilan test dan wawancara pekerjaan. Disitulah aku pertama kali bertemu, ngobrol dan makan siang di rumah makan padang. Waktu itu bulan puasa jadi agak suasah cari tempat makan. Aku juga teringat dengan saat-saat jalan ke PT Punj Lloyd di Cilandak. Naik mobil Atos berdua dengan Pak Titus setiap hari jumat. Bertemu dengan Mr Samir Vatt Cs dan juga seorang perempuan cantik receptionis Punj Lloyd tersebut yang namanya aku sudah lupa. Pernah sekali waktu Pak Titus berencana memberikan perempuan itu sebuah cendramata sebagai penghargaan kami kepadanya, tetapi aku tidak tahu mengapa tidak jadi. Masih ingat Pak…? Di perjalanan ke Punj Lloyd itulah Pak Titus menceritakan banyak hal kepada saya, tentang bisnis, tentang pendidikan, tentang relasi, tentang srategi, tentang impian-impian, tentang indonesia, tentang kehidupan sosial bahkan tentang ketuhanan. Terimakasih Pak Titus. Bapak telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya tidakakan lupa prinsip bapak bahwa membeli dan menggunakan barang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegunaan. Irit tidak sama dengan pelit. Bapak masih mau megumpulkan amplop-amplop bekas, memotongnya dan membuatnya menjadi kertas oret-oret?….he…he… sekarang aku juga melakukannya. Ada satu janjiku kepada Pak Titus yang belum aku penuhi yaitu menyetir. Aku janji akuakan memenuhinya dan kalau sudah, aku akan mengasi tahu bapak. Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan tentang pak Titus, nantilah aku ceritakan secara khusus.

Masih suasana ngobrol aku duduk di temapt dimana Bina dulu duduk. Disana ada dua buah layar televisi sebagai monitor CCTV untuk melihat bagian-bagian tertentu dari kantor itu dengan bantuan kamera. Di dekat meja Ester yang berbatasan langsung dengan meja Pak titus, ada sebuah mesin absensi. Dulu absensi adalah absensi tulis yang sering kali kita lupa mengisinya. Beberapa waktu sebelum aku pindah, sudah pernah diadakan mesin absensi sidik jari, tetapi tidak tahu bagaimana kelanjutannya.

Di depanku ada Harli aku langsung menyapa dia. Aku menyebut dia super sales engineer karena secara fakta, penjualan dialah yang paling besar bahkan bila dibandingkan dengan gabungan penjualan seles yang lain. Dalam hal menjual memang dia jago dan aku salut. Di awal aku bergabung dengan Deka, aku pernah sangat akrab dengan Harli. Sering pulang bersama walaupun hanya sampai perempatan CL. Kami sama-sama berasal dari sumatera. Aku dari medan, dia dari pekan baru. Hal inilah yang membuat kami semakin dekat. Tetapi beberapa waktu sebelum aku pindah aku membuat jarak dengan dia bahkan aku sama sekali berusaha agar tidak berkomunikasi dengan dia sampai aku meninggalkan deka. Hal itu disebabkan karena dimataku ketika itu dia terlalu keras kepada pegawai-pegawai yang baru-baru. Dia arogan, dia semena-mena dan aku tidak setuju. Aku tidak suka. Tetapi setelah beberapa lama aku pindah dari deka, aku menyesali perbuatanku. Aku sadar tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Harusnya ketidaksetujuanku aku ungkapkan saja dengan baik-baik tanpa harus membuat jarak dengan dia. Harusnya aku bisa memikirkan cara-cara yang lebih baik tanpa harus memusuhi dia. Maka ketika aku mendapat undangan dari Pak Titus untuk datang pada ulang tahun deka ini, hal pertama yang aku pikirkan adalah perbaikan hubungan dengan Harli. Dan TUHAN mengabulkannya. Harli maaf aku pernah membencimu. ini aku lakukan karena aku hanya menuruti emosiku saja. Aku sadar bahwa sikapku itu sangat tidak baik dan telah menjadi beban bagiku. Aku tetap salut kepada kamu makanya aku menyebut kamu Super Sales engineer.

Tak berapa lama Ibu Connie muncul. Tubuhnya yang mungil dengan kicauan yang memenuhi seisi ruangan menjadi ciri khasnya. “Hey…Paber….” dengan ekspressif dia menyahut ke aku. Ruangan menjadi tambah rame. Dia menanyakan banyak hal, bahkan dia sudah bertanya lagi sebelum aku selesai menjawab pertanyaan sebelumnya. Ibu Connie adalah perempuan yang tangguh. Tidak takut menghadapi siapapun. Aku masih ingat ketika kami pergi ke Kantor PT Idemitsu Indonesia di karawang. Dia dengan percaya diri menghadapi semua pimpinan perusahaan tersebut yang semuanya adalah orang jepang. Berkat kegigihannya, satu tahun kemudian deka memenangkan tender pengadaan pompa untuk perusahaan tersebut, walaupun melalui perusahaan lain. Aku masih ikut menangani proyek tersebut. Satu hal yang tak pernah aku lupa dari Ibu Connie adalah pernah satu kali diamarah besar ke aku. Pada hal waktu itu dia sedang di Surabaya. Saking marahnya dia marah di telepon dan juga marah melalui tulisan dengan menuliskan “SAYA BENAR-BENAR MARAH” dan mem-fax nya ke aku. Aku tersenyum membaca tulisan itu di mesin fax. Tapi aku sudah lupa apa penyebabnya. Sory ya bu Connie…. saya pernah membuat ibu marah besar…Mudah-mudahan ibu sudah memaafkannya.

Tak terasa waktu telah mendekati pukul 12 siang. Kamipun haru berangkat ke rumah makan AMPERA di jalan Pesanggarahan-Meruya. Aku naik Kijang innova baru yang disetir oleh Pak Titus dan aku duduk disampingnya. Aku tersanjung, sementara ibu connie beserta Murdiati, Lina dan satu orang lagi, duduk di bangku tengah. Yang lain ada yang naik mobil dan ada yang naik motor. Aku merasa terhormat. Aku merasa mendapat penghargaan yang besar dari Pak Titus.

Di Ampera kami makan siang bersama sepuasnya sebagai acara sukuran atas ulang tahun Deka yang ke 14. Disana ada juga Iwan, Santoso, Rahmat dan ada satu orang yang aku lupa namanya yang merupakan orang-orang yang pernah bekerja di Deka termasuk aku.

Dari Ampera kami singgah di joglo melihat bangunan baru yang akan dijadikan kantor baru deka. Bangunan ini lebih besar, lebih cantik lebih menarik. Rencananya sebagian pegawai deka akan di tempatkan di sana.

Dari joglo aku diantar Pak Titus bersama dengan ibu Connie ke depan Mall Taman Anggrek sesuai dengan permintaanku. Di depan Taman Anggrek itulah kami berpisah. Aku berjabat tangan dengan ibu Connie dan dengan Pak Titus. Kembali seyum tulus pak Titus mengembang.

Selamat Ulang Tahun ke 14 buat PT Dka Adhinusa. Tetaplah berkarya. Tetaplah maju. Doaku untukmu.

7 pemikiran pada “Ulang Tahun DEKA ke 14

  1. Mantap..mantap…berarti Deka punya kenangan yang baik dengan mantan karyawannya.

    Apalagi mantan karyawannya itu sudah menjadi bagian dari pelaksana pemerintahan di republik ini..

    Selamat ultah juga buat DEKA…

    Horas

  2. Mauliate….
    Memang selama kita mengerjakan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, orang-orang akan menghargai kita bahkan ketika kita tidak lagi bekerja dengan mereka. Itu yang saya rasakan dengan PT Deka Adhinusa tempat saya bekerja sebelumnya.

  3. saya senang sekali membacanya.
    saya kenal baik dengan nama2 orang yang anda tulis itu
    karna saya pernah bekerja di deka selama 6 bulan
    tapi yang paling saya kenal adalah bp dedi purwanto,daryo,hendar,yanto,dll mereka bekerja di bagian tehnik.
    slamat ultah yg ke 14 buat deka adhinusa
    hooraaaassss bah

  4. Halo Pak Paber,

    Salam kenal. Saya baca website anda setelah googling mencari nama “Setya Wibagsana” di sini. Dia teman sewaktu SMA 3 di Malang th 1989-1992. Jika benar, sudilah kiranya menyampaikan salam saya dan mengontak via email saya.

    Terimakasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s