Lapo

Di setiap masa dan tempat di muka bumi ini, manusia selalu menciptakan suatu tempat berkumpul dengan sesama mereka untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Di kota besar seperti Jakarta sangat gampang menemui tempat-tempat seperti ini. Ada mall, café, diskotik, tempat hiburan dan lain sebagainya. Di tempat-tempat ini kita bisa melakukan banyak hal. Berbagi cerita dengan teman-teman, menjelajahi dunia maya (internet) di café yang tersedia “hot spot”, sekedar membaca buku favorit kita, menyeruput secangkir kopi atau hanya sekedar “cuci mata”. Demikianlah kehidupan kota semakin semarak dengan hadirnya mall, café, diskotik, tempat hiburan dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan daerah yang jauh dari kota? Bagaimana dengan kampung-kampung yang ada di Toba? Ternyata disana ada tempat spesial yang disebut dengan lapo. Lapo sangat identik dengan minum tuak, tetapi di lapo ada juga kopi, the manis, susu, bahkan bir. Tetapi jangan cari di lapo minuman seperti cappuccino, hot cocolate, Juice apalagi tequila atau wine.

Selain minuman, lapo biasanya menyediakan makanan seperti sangsang (menulisnya saksang atau sang-sang ya…?!), arsik, tanggo-tanggo, panggang dll. Lapo adalah café dalam budaya orang Batak, sehingga semua makanan yang disediakan di sana adalah masakan khas orang batak. Jadi jangan cari di sana pecal lele, gudeg, sambal balado, tahu isi, bandeng presto, pizza, hamburger, steak, fried chicken, chicken teriyaki, shusi, shabu-shabu, kebab, kerak telor dll.

Sejarah lapo mungkin sama tuanya dengan usia sejarah suku batak. Awalnya lapo hanyalah tampat berkumpul para bapak-bapak di sore hari setelah seharian bekerja disawah atau ladang. Disanalah mereka menghibur diri dan berbagi cerita “markombur” atau ”markato”. Untuk menemani kebersamaan itu disediakanlah tuak sebagai minuman sekaligus katanya “penghangat tubuh” benar…?he…he…he…

Sejalan dengan waktu lapo pun mengalami perkembangan. Yang awalya hanya tempat markato dan minum tuak lapo juga menyediakan makanan seperti disebut di atas. Lapo juga menyediakan papan catur, menyediakan gitar dan televisi. Lapo tidak lagi hanya dikunjungi di sore hari, tetapi sejak pagi lapo sudah dibuka dan ditutup tengah malam. Di pagi hari orang-orang akan datang ke lapo untuk sarapan minum kopi atau teh manis dan makan lappet. Di siang hari orang datang ke lapo untuk makan siang dan di malam hari orang datang ke lapo untuk minum tuak, makan malam dan lain-lain. Tetapi sejauh apapun perkembangan lapo, tuak, sangsang dan teman-temannya tidak akan pernag hilang. Ya iyalah…. Nanti namanya bukan lapo lagi, tapi rumah makan, restoran atau café……J

Di lapo sering kali kita lihat kejadian-kejadian unik seperti orang yangmain catur dari pagi sampai malam sampai pagi lagi. Kok tahan ya…? Tapi lebih gila lagi ada orang yang tahan main kartu di lapo 2 hari 2 malam tanpa tidur. Waow… gia benar. Namun yang paling gila adalah kalauada orang yang mabuk ”Tenggen”.Orang yang mabukbiasanya akan berkicau dengan pronunciation yang tidak jelas seperti “ ahaaaa… urroa…!!!” “ishhe na amasssam –masssammm so khuuu rrribhak….” Kalau ada lebih lebih dari satu orang yang mabuk sering kali diakhiri dengan pertengkaran dan kadang-kadang hingga main pukul. Ada juga orang yang mabuk menceritakan semua rahasia pribadinya dan yang ini sering kali menjadi hiburan bagi yang mendengarkan. Wah…teganya…!

Dari sisi entertainment, lapo adalah sebuah tempat hiburan. Banyak lapo yang menyediakan gitar, sehingga orang bisa bernyanyi kapan saja dan dengan siapa saja. Jujur diakui bahwa orang-orang yang sering menyanyi di lapo itu memiliki suara-suara emas. Sayang sekali keberuntungan tudak berpihak kepada mereka sepertipenyanyi-penyayi yang ikutan audisi idola-idolaan seperti sekarang ini. Mereka menyanyi tidak menerima bayaran, hanya kadang-kadang ada orang yang berbaik hati mau membayari minum mereka. Kadang aku iri melihat mereka bisa bernyanyi dan bermain gitar dengan bagus. Tapi mungkin manusia memang memiliki talenta yang berbeda-beda. Karena lapo adalah cafenya orang batak, maka lagu-lagu yang dinyanyikan pun adalah lagu-lagu batak seperti Sai Anju Ma Au, Bunga na Bontar, Rap Hita na Dua, Marragam-ragam, Sitogol, Situmorang dan banyak lagi. Tetapi lagu yang paling identik dengan lapo, bahkan bisa desebut sebagai lagu kebangsaan lapo adalah “Lisoi”

Lisoi

Lisoi…lisoi….lisoi…lisoi

o…parmitu….

Lisoi…lisoi…lisoi….lisoi

Olo..tutu.

Minum ma-minum ma

Dorguk ma- dorgukma

Dorgukma tuakmi…

…………………….

Sejalan juga dengan perkembangan jaman lagu yang dinyanyikan di lapo bukan lagi hanya lagu-lagu batak. Lagu dangdut, pop indonesia bahkan lagu-lagu barat juga telah dinyanyikan di lapo. Apalagi telah ada sebagian lapo yang melengkapi alat musiknya dengan Keyboard. Jadi tidak asing lagi kalau di lapo kita dengar lagu poco-poco, cucak rowo atau kucing garong.

Dari segi politik, lapo tidak kalah seru dibandingkan dengan gedung dpr/mpr di senayan. Di lapo akan kita peroleh informasi terkini tentang politik atau berita apapun baik lokal, indonesia bahkan dunia. Aku masih ingat sekitar tahun 1991 bagaimana serunya orang-orang dilapo membahas perang teluk di Kwait sambil menonton Dunia Dalam Berita. Orang-orang sambil meminum tuak dan mengisap rokok union lama memberikan komentar tentang rudal squad dan rudal patriot. Aku kagum…wah… mereka memang hebat. Mereka juga berbicara tentang pemerintahan presiden, tentang korupsi, tentang pemilu dan lain-lain bahkan kadang kadang sampai berdebat mempertahankan pendapatnya. Tetapi itulah kehidupan dil apo, perdebatan tidak akan dibawa kelur dari lapo. Aku pikir orang-orang yang duduk di senayan sana perlu belajar berdemokrasi ke lapo.

Demikianlah lapo telah menjadi bagian hidup dari orang-orang batak, bahkan ketika orang-orang batak tersebut merantau, mereka juga membawa lapo-nya. Lihatlah sekarang ini dimana ada orang batak disitu ada lapo. Mungkin jumlah lapo yang ada di jakarta sudah lebih banyak dibanding yang ada di toba sana. Pernah aku ke bandung dan ternyata disana juga ada lapo. Wah….luar biasa. Apakah diluar negri juga ada?

Satu yang aku impikan, suatu saat ada lapo yang dikemas seperti Café, separti Sturbuck, seperti JCo, agar bila ada teman yang datang ke jakarta bisa aku ajak ke lapo, tetapi bukan lapo tondongta yang ada di pramuka melainkan lapo yang didesain dengan sempurna layaknya café-café terkenal di jakarta.

Semoga…. dan lisoi…lisoi….!

Mywonderfulloffice, 2 juli 2008

Sangmatahari

Iklan

2 pemikiran pada “Lapo

  1. met hari minggu tulang sukses selalu tulang , tulang saya buat acara batak di bandung tulang , saya masih kuliah di unpad bandung tulang , saya mebuat musik batak dan orang batak haru sukses selalu di kota bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s