SATU HARI DI ALUN-ALUN KOTA BANDUNG

Waktu masih menunjukkan jam 10.50. Ada jam digital besar di dalam mesjid raya jawa barat yang dapat aku lihat dengan jelas dari tempat dimana aku duduk. Aku duduk di tembok sekaligus pagar yang mengelilingi alun-alun kota Bandung. Aku duduk dibawah naungan pohon-pohon besar yang tumbuh berbaris di sisi depan alun-alun itu. Dari ukurannya, usia pohon itu pasti sudah puluhan tahun. Bahkan munkin pada jaman penjajahan, pohon-pohon itu sudah ada disana. Seandainya mereka bisa berbicara, mungkin kita bisa bertanya tentang apa saja yang terjadi di sana, tentang sejarah, tentang perkembangan kota bandung dari jaman dulu sampai sekarang. Pohon-pohon yang setia menaungi siapa saja yang mau berlindung di bawahnya. Kita perlu belajar pada pohon-pohon itu tentang kerelaan memberi tanpa syarat.

Hari itu ada beberapa orang yang lagi duduk-duduk di sana. Kira-kira dua puluhan orang. Aku duduk disana sekitar setengah jam. Aku sempat memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Ada pedangang asongan yang menjual minuman botol, menjual buah, makanan ringan, rokok,dan lain-lain. Ada tukang foto, ada anak sekolah. Tetapi yang paling banyak adalah orang-orang yang aku tidak tau apa kerjaan mereka di sana. Mungkin juga banyak dari mareka sama seperti aku, datang ke sana hanya untuk sekedar istirahat dibawah rindangnya pohon, sekalian memandang bangunan mesjid raya jawa barat dengan dua menaranya yang menjulang tinggi.

Semakin lama jumlah orang disana makin bertambah, dan tembok panjang dimana aku duduk makin penuh. Aku yakin sebagian besar orang-orang tersebut tidak sedang bekerja. Yang sedang bekerja disana paling pedagang asongan dan juru foto itu. Aku sempat berpikir seandainya orang-orang ini dimasukkan dalam satu pabrik, sudah berapa banyak barang yang bisa dihasilkan. Seandainya orang-orang ini di ajak ke sawah, sudah berepa luas lahan yang bisa digarap. Ini baru orang-orang yang ada di alun-alun kota bandung. Bagaimana dengan alun-alun kota jogja, alun-alun kota semarang, Jakarta, Surabaya dan semua kota provinsi yang jumlahnya 33, demikian juga kota kabupaten dan kecamatan yang jumlahnya bisa sampai ribuan. Disana juga pasti banyak orang-orang yang sedang tidak bekerja seperti di alun-alun kota bandung ini.

Pantas saja Negara ini tidak maju-maju. Penduduknya banyak yang malas. Kerjanya hanya duduk-duduk di bawah pohon rindang (mungkin termasuk aku juga). Banyak penduduk yang mengeluhkan kehidupan yang semakin sulit. Mahasiswa berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban pemenrintah atas kesusahan ini. Banyak masyarakat yang hanya bisa menuntut dan mengeluh,tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki hidupnya. Mereka hanya bermimpi agar pemerintah menjadi malaikat penolong yang bisa memenuhi keinginan rakyat tanpa rakyat bekerja.

Kembali aku memperhatikan orang-orang di alun-alun itu. Aku melihat tukang foto itu. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menyapa orang-orang dan menawarkan jasa foto. Dari wajahnya, umurnya mungkin lebih dari 60 tahun. Mungkin bisa jadi lebih muda, tetapi karena dibakar matahari setiap hari, menyebabkan tubuhnya lebih tua dari umurnya. Di lehernya tergantung sebuah kamera SLR yang juga sudah tua. Sebuah tas menggantung di pundaknya. Pastilah di dalamnya terdapat peralatan untuk foto juga. Kepalanya ditutupi oleh topi yang warnanya telah pudar. Tubuhnya dibalut oleh rompi empat saku yang warnanya sama pudarnya dengan topi yang ada di kepalanya.

Aku prihatin juga melihat tukang foto itu. Selama aku berada di sana tak satupun yang memakai jasa fotonya. Dia juga sempat menyapa aku dan menawarkan untuk difoto, tetapi saat itu aku juga membawa kamera yang aku beli setahun yang lalu. Jadi aku menolak tawarannya. Dari mana penghasilannya kalau tidak ada lagi orang yang mau dia foto? Dulu mungkin banyak orang yang menggunakan jasanya. Tetapi sekarang sudah lain. Orang sekarang lebih suka memoto sendiri, karena sudah banyak orang memiliki kamera sendiri (termasuk aku). Bahkan orang yang memiliki kamera film atau yang labih dikenal dengan handycam pun sudah banyak. Mungkin lebih baik tukang foto itu alih profesi saja. Tapi apa mungkin orang setua dia masih bisa memulai peofesi baru? (harusnya orang seusia dia sudah pensiun dan bersenang-senang menikmati sisa hidup) Atau mungkin dia termasuk orang yang setia pada profesi?. Tetapi lagi, untuk apa setia pada profesi kalau profesi itu tidak bisa menghidupi? Tidak bisa membuat hidup lebih baik dan sejahtera? Hanya tukang foto itu yang tau, dan dia masih setia dengan profesinya. Yang pasti dia tidak menghasilkan uang banyak dari pekerjaannya. Yang paling pasti lagi, pasti ada sesuatu kepuasan tersendiri dari hanya sekedar uang yang dia peroleh dari kesetiaannya pada profesinya. Kita perlu belajar tentang kesetiaan profesi kepada tukang foto itu.

Hari makin siang, sinar mata hari makin panas, orang-orang di sana makin ramai. Aku beranjak dari tembok tempat aku duduk. Aku meninggalkan alun-alun kota bandung itu, karena perutku sudah lapar. Aku bergegas menuju satu tempat makan di yogya mall. Di sana aku makan nasi rames ikan mas dan minum es kelapa muda. Maknyooosss.

Alun-alun kota bandung,

satu hari setelah 100 tahun kebangkitan nasional

sangMatahari

Senyum sejenak (judul film dlm bahasa batak)

Judul Film dalam Bahasa Batak :

1. Enemy at the gates — Matte ho, nga ro musuhi!

2. Remember the Titans — Ingot hamu partompaon i

3. The Italian Job — Parbola

4. Die Hard — Dang ra mate

5. Die Hard II — Tong, dang olo mate

6. Die Hard III —— Dang marna mate puang !!

7. Bad Boys — Si roa balangs

8. Sleepless in Seattle — Markombur di radio, diaboi modom?

9. Lost in Space — Dibondut banua holling

10. X-Men — Pantang so bilak

11. X-Men 2 — Tong sai pabilak-bilakhon

12. The Brotherhood of War — Manat Mardongan-tubu

13. Paycheck — Bayar habis panen ma i, bah!

14. Independence Day — Agustusan

15. The Day After Tomorrow — Haduan

16. Die Another Day — Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi..

17. Home alone — Nunga lao tu balian natorasna

18. Silence of the Lamb — Hambing Parhohom

19. Planet of the Apes — Huta ni angka Bodat

20. Gone in Sixty Second — Marimpot-impot

21. Original Sin — Na taboi puang … (hush)

22. Freddy vs Jason — Peredi VS Jekson

23. Air Bud — Panangga (biang)

24. How To Lose A Girl in 10 Days — Nunga ditopari haletna

25. Lord Of The Ring — Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? )

26. Deep Impact — Hansit naii

27. Million Dollar Baby — Ai sajuta arga ni Babi saonari?

(Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? )

28. Blackhawk Down — Lali lao manangkup manuk

29. Saving Private Ryan — (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.)

30. Dumb and Dumber — Lam Loakon

31. The Collateral — Si Padalan Hepeng

32. Braveheart — Parate-ate

33. Payback — Garar Utangmu

34. My Greek Big Fat Wedding — Muli sikobol-kobol

35. I Know What You Did Last Summer – Datu

36. I Still Know What You Did Last Summer – Berarti Datu Bolon Ibana

37. Cold Mountain — Dolok Sanggul

38. Drunken Master — Parmitu

39. Any Given Sunday — Marminggu Hamu puang

40. The Gift — Durung-Durung

41. Run Away Jury — Martabuni Ho Tulang

42. Step Mom — Inang Panirang-Nirangan

43. Lion King = Sisingamangaraja

44. Beautiful Mind = Nipi Nama i

45. Mr. Mrs. Smith = Smith Dohot Oroan na.

46. Stop or my mom will shoot — Par roha ina

47. Rest In Peace = Dison Do Maradian

Pohon Pisang di Belakang Rumah

Waktu aku anak-anak, di samping kiri belakang rumah kami ada serumpun pohon pisang. Jenis pisang itu adalah pisang kepok, tapi orang-orang di kampung kami mengenalnya dengan pisang sitabar. Aku lupa entah darimana ibuku mengambil bibitnya kemudian ditanam di situ. Kalau aku tidak salah bibitnya diambil dari anakan pohon pisang yang ada dipekarangan rumah Oppung Toruan. Oppung Toruan adalah inang tua ibuku yang tinggal sekitar 50 m ke arah toruan dari rumah kami. Kami biasa memanggil sanak saudara sesuai dengan nama tempat tinggal mereka seperti Oppung Siattar, Oppung Paropo, Namboru Parapat, Namboru Timuran, Amangtua Girsang, Amangtua Banua, Tulang Sitabu, Inanguda Pahae, Inanguda Bandarbetsi, Abang Ujungpandang dan sebagainya. Kapan-kapan aku akan ceritakan tentang mereka.

Kembali ke masalah pohon pisang itu. Menurutku pohon itu luar biasa, karena dia lebih subur dari semua pohon pisang yang ada di sekitarnya. Batangnya besar-besar dan tinggi-tinggi, buahnya banyak dan rasanya cukup manis, bahkan sering kami makan tanpa terlebih dulu dimasak. Padahal pisang jenis ini biasanya dikonsumsi setelah digoreng atau direbus. Pisang jenis ini bukanlah jenis pisang yang biasa langsung dimakan seperti jenis pisang ambon, barangan, singali-ngali atau yang lainnya.

Awalnya aku heran mengapa pisang ini lebih subur dari yang lain. Ternyata penyebabnya adalah karena persis dekat pohon pisang itu ada kandang babi. Kotoran dari kandang babi itu telah menjadi sumber gizi terbaik bagi kemakmuran pohon pisang tersebut. Antara pohon pisang dengan babi yang ada di kandang itu telah terjadi simbiosis mutualisme. Kotoran babi menjadi pupuk dan sebagian daun pisang dimakan babi. Mereka telah lama hidup rukun dan saling menguntungkan. Sekali-sekali manusia perlu belajar ke mereka tentang kerukunan.

Ada kebiasaan masa kecil yang sering aku lakukan dibalik pohon pisang tersebut. Aku sering kencing di balik pohonnya yang besar. Pohon itu sanggup menutupi aku dari pandangan orang yang munkin lewat. Sebenarnya waktu itu, kami sudah memiliki WC, tetapi karena jaringan air bersih belum ada, jadi kebutuhan air untuk WC itu kami ambil dari air hujan yang ditampung dari talang atap rumah dan dikumpulkan dalam satu bak. Bila musim hujan air memang melimpah, tetapi bila musim kemarau air di bak kami akan surut, bahkan kadang-kadang sampai kering. Nah disaat musim kemaraulah rumpun pohon pisang itu menjadi tempat kencing terbaik dan praktis bagiku. Ini kebiasaan yang tidak boleh ditiru.

Banyak keuntungan yang kami dapatkan dari pohon pisang itu, terutama dari buahnya. Setiap kali dia berbuah dan buahnya dipanen, kakakku atau ibuku akan memasak sebagian buahnya. Sebagian lagi kami makan tanpa dimasak dan sebagian lagi kadang dimakan oleh musang atau burung waktu masih tergantung di pohonnya. Kakakku cukup pintar mengolah buah pisang itu menjadi makanan yang enak, kadang digoreng, dikolak, digoreng jadi keripik, dibuat lappet (kami menyebutnya lappet pisang karena biasanya lappet terbuat dari tepung beras). Tetapi kalau ibuku yang mengolah pisang itu, paling hanya direbus “dibolgang”. Walaupun hanya direbus, rasanya tetap enak dan kami biasa membawanya ke ladang atau ke sawah menjadi penganan disaat istirahat.

Selain buah, daunnya juga kami manfaatkan. Daunnya bisa dijual ke pekan Tigaraja, atau digunakan menjadi bungkus lappet. Di rumah lumayan sering memasak lappet untuk makanan bila ada acara arisan, partangiangan, atau hanya sekedar dibawa ke ladang atau ke sawah sebagai pengganti roti. Di kampungku waktu itu masih jarang ada roti. Kalaupun ada di warung “kode” paling roti kelapa, roti bulan dan roti ketawa. Disebut roti kelapa, karena isinya adalah kelapa parut yang dicampur gula. Disebut roti bulan karena bentuknya bulat pipih persis seperti bentuk bulan disaat purnama. Disebut roti ketawa karena roti ini besarnya sebesar bola gof, tetapi kulitnya pecah-pecah seperti bibir orang yang sedang tertawa. Daun pisang ini juga sering digunakan abang dan kakakku untuk membungkus nasi bila mereka sekolah sore. Waktu itu belum ada tapper wear seperti yang dibawa anak TK jaman sekarang ke sekolahnya. Waktu itu ada kebiasaan sekolah sore, yaitu pelajaran tambahan pada sore hari di sekolah, satu atau dua bulan menjelang ujian akhir (EBTANAS). Pagi-pagi sekali abang dan kakakku akan menyiapkan bekal untuk makan siang di sekolah. Nasi dimasak diperiuk “hudon” diatas tungku “tataring” dengan bahan bakar kayu “soban”. Lauknya biasanya telur dadar atau ikan teri digoreng kering, kadang-kadang digoreng sambal. Setelah nasi dan lauknya matang, kemudian dibungkus dengan daun pisang yang telah disiapkan sebelumnya. Daun pisang ini kadang-kadang sudah terlebih dahulu dipanaskan di dekat api agar lebih lentur sehingga tidak robek bila digulung dan dilipat waktu membungkus. Proses ini harus dilakukan dengan cepat agar tidak terlambat tiba di sekolah. Jarak sekolah mereka dari rumah kami sekitar 10 km. Kehidupan waktu itu adalah susah untuk ukuran jaman sekarang, tetapi waktu itu kami bisa menikmatinya dan bahagia. Percaya atau tidak, aroma makanan yang telah dibungkus dengan daun pisang ini akan menjadi unik dan menambah selera makan.

Selain untuk membungkus makanan, daun pisang tersebut dipakai juga untuk alas bila ada kegiatan memotong babi atau kerbau. Kegiatan memotong ini dilakukan pada saat ada acara pesta atau pada saat natal dan tahun baru. Memotong babi atau kerbau pada saat natal dan tahun baru disebut marbidda. Babi atau kerbau dipotong dan dibagikan dengan bagian yang sama kepada seluruh warga. Untuk membuat bagian menjadi sama digunakan alat timbangan yang terbuat dari batang kayu berbentuk lengan yang sama panjang ke kiri dan ke kanan. Lain waktu akan aku ceritakan tentang marbidda ini.

Karena pohon pisang itu cukup tinggi, maka untuk mengambil daunnya harus memakai alat bantu. Pohon pisang bukanlah jenis pohon yang bisa dipanjat. Alat bantu itu adalah sebuah sabit yang diikatkan di ujung sebuah galah panjang. Galah diarahkan ke atas menuju pangkal pelepah daun pisang. Setelah sabit persis berada di atas pelepah, galah tiba-tiba dihentakkan dan pelepahpun akan terpotong dan jatuh ke tanah bersama daunnya. Pelepah dipisahkan dari daunnya, kemudian daun digunakan sesuai dengan keperluannya.

Sementara itu pelepahnya sering dibuang. Tetapi menurutku anak-anak disana termasuk kreatif. Pelepah daun pisang itu dapat dibuat menjadi mainan seperti mobil-mobilan, kuda-kudaan, tembak-tembakan dan satu lagi yang tidak ada nama bahasa indonesianya yaitu lapak-lapak. Disebut lapak-lapak karena mainan ini mengeluarkan bunyi mallapak. Menurutku anak jaman sekarang perlu juga mengetahui mainan-mainan tersebut sebagai bahan perbandingan dengan mainan yang mereka beli di toko, atau mainan yang sering mereka mainkan dilayar monitor.

Sepanjang yang aku tau, pohon pisang itu selalu memiliki anakan yang bayak. Tetangga sering mengambil satu atau dua anakannya untuk mereka tanam diladang atau pekarangan rumah mereka. Mereka mengambilnya bukan membelinya. Dalam kehidupan tidak harus selalu menjual dan membeli. Ada rasa kepuasan dan sukacita yang dalam bila kita bisa memberi, demikian juga dengan orang yang menerimanya. Disinilah aku melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ibuku dulu tidak membeli anakan pisang tersebut, tetapi kami telah menikmati banyak dari pohon pisang itu. Sadar atau tidak, pohon pisang itu telah ikut mewarnai sepenggal perjalanan hidup kami.

Tetapi sudah beberapa tahun ini rumpun pohon pisang itu tidak lagi ada disana. Mungkin sudah saatnya dia pensiun dari belakang rumah kami. Kami benar-benar merasa kehilangan. Tapi sudahlah. Kami tidak pernah menyesalinya. Setidaknya kami pernah punya pohon pisang terbaik dikampung kami.

Istana kecilku, 9 Mei 2008