Poco-poco dan Cucok rowo di Perkawinan orang Batak

20131109_153551Hari Sabtu yang lalu 9 Nopember 2013 saya menghadiri sebuah acara adat pernikahan di daerah Jatiasih. Saya sengaja datang terlambat, karena posisi saya dalam acara itu adalah bagian dari Hula-hula anak manjae pihak pengantin laki-laki. Dengan posisi itu ada dua prosesi yang akan saya ikuti. Prosesi pertama adalah prosesi memasuki gedung yaitu berjalan dari luar ke dalam gedung dengan membawa beras dalam tandok masing-masing dan diserahkan kepada suhut. Prosesi kedua adalah memberikan ulos kepada mempelai. Jadi saya sengaja datang terlambat, karena jarak waktu antara prosesi pertama dengan prosesi kedua yang akan saya ikuti bisa berselang 4-6 jam dan selama itu pula saya hanya akan jadi penonton (tolong pada pihak terkait waktu ini dipersingkat). Prosesi pertama biasanya antara jam 11.30 sampai 12.00, sedangkan prosesi kedua biasanya pada jam 4-6 sore, bahkan ada yang sampai jam 7 malam. Jadi biarlah saya hanya mengikuti prosesi yang kedua. Sebagai konsekwensinya saya tidak lagi kebagian makan siang dan tidak dapat sovenir. Tidak apa-apalah, saya memang sudah mengantisipasinya dengan makan siang dulu dari rumah.

Ketika pertama kali saya mengikuti acara adat pernikahan di Jakarta, saya sangat terkagum-kagum. Mengapa tidak?. Gedungnya yang mewah dengan segala aksesorisnya, mempelai yang dipajang di atas pentas bak raja dan ratu, makanannya yang melimpah, suara musik dan penyanyi yang menggelegar, para undangan yang berdandan mewah, dan banyak lagi. Belum pernah saya melihat acara pernikahan adat batak semewah itu sebelumnya. Kala itu saya yang masih lajang sempat berangan-angan kelak saya harus duduk di atas pentas itu sebagai raja. Di kampung kami acara seperti ini biasanya dilangsungkan di halaman rumah dengan naungan tenda-tenda plastik dan beralaskan tikar plastik bekas jemuran padi. Mempelaipun hanya didudukkan diatas sehelai tikar pandan. Sedangkan makanan hanyalah nasi putih dengan lauk sangsang. Jangan harap ada sayur, ayam goreng, sop jamur, apalagi eskrim.

Setelah beberapa kali mengikuti acara sejenis di Jakarta, saya mulai melihat banyak keanehan. Makanan yang disajikan memang enak, tetapi suara sound system yang di setel sekencang-kencangnya menghilangkan nafsu makan. Bahkan sering kali suara gemuruh loud speaker itu membuat perut mual. Sepanjang acara, saya tidak pernah bisa mendengar apa yang diucapkan oleh orang yang disamping saya, walaupun dia sudah berteriak sekencang-kencangnya. Sering kali para tamu undangan yang berpakaian necis dengan jas atau batik mahal dan berkebaya prancis yang hampir transparan, bersarung songket palembang dengan konde beraksessoris emas itu sudah menyantap hidangan sebelum doa makan dibacakan. Belum lagi tas-tas bermerek hermes yang mungkin dibeli di mangga dua atau pasar senen, dijejali dengan plastik berisi sangsang, ikan mas, panggang, ayam goreng yang dituang dari piring di atas meja. Pernah juga ada seorang ibu yang marah-marah karena dia tidak kebagian sebotol bir. Luar biasa.

Yang paling membuat saya terkejut, hampir di semua (tidak semua, tapi kebanyakan) pesta pernikahan batak di Jakata yang saya hadiri disuguhi dengan lagu poco-poco lengkap dengan gerakannya. Saya tidak tahu apa relevansinya lagu poco-poco ini dengan adat pernikahan orang batak. Saya tidak mengatakan lagu poco-poco ini jelek, atau murahan. Lagu ini sangat enak kalau dinyanyikan pada acara-acara santai, mengiringi senam pagi dan yang sejenis. Menurutku sangat tidak layak dinyanyikan pada acara adat pernikahan orang batak.

Ketika lagu cucak rowo muncul, lagu ini juga masuk ke dalam ritual adat pernikahan adat batak. Saya semakin tidak habis pikir. Sama seperti poco-poco, saya tidak menilai lagu ini jelek, tapi harus pada tempatnya. Coba kita lihat sepenggal syairnya:

Kucoba-coba melempar manggis

Manggis kulempar mangga kudapat

Kucoba-coba melamar gadis

Gadis kulamar janda kudapat.

Selain kedua lagu diatas masih banyak lagi lagu-lagu yang tidak layak telah mengotori kesucian ritual pernikahan adat batak. Lagu anak medan, jamila bahkan lagu pos ni uhur juga tidak cocok dinyanyikan pada acara pernikahan orang batak. Kadang saya berpikir tak usah sajalah ada lagu-lagu pengiring di acara adat batak. Toh dulu di awal mulanya adat itu tidak diiringi oleh lagu. Kalaupun ada pengiring hanya alunan musik dari seperangkat alat musik gondang.

Memang adat itu berkembang sejalan dengan perkembangan lingkungan sekitarnya. Sering kali pengaruh dari luar juga tidak terhindarkan, tetapi janganlah pengaruh yang jelek yang dimasukkan. Kalau memang pengaruh luar mau dimasukkan, buatlah acara adat itu diiringi oleh musik orkestra yang bunyinya begitu indah di telinga. Iringilah dengan lagu-lagu seperti The Prayer dan Endless Love. Saya yakin acara itu akan semakin syahdu dan bermakna.

Kembali ke acara yang saya hadiri hari Sabtu yang lalu. Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan acara yang sama yang saya ikuti sebelumya. Ketika seorang tulang dari pihak perempuan meminta lagu anak medan untuk mengiringi mereka menyematkan ulos kepada mempelai, seorang bapak-bapak yang duduk di barisan raja parhata berdiri dan mengangkat tangan lalu menyuruh pemain musik mengganti lagu anak medan tersebut. Sejak kejadian itu tidak pernah lagi pemain musik memainkan lagu yang aneh-aneh. Salut buat si bapak.

Di acara kali ini memang masih ada ibu-ibu yang membawa plastik, masih ada beberapa orang yang berjoget di kanan kiri pentas, tetapi tidak ada lagi lagu poco-poco, cucok rowo dan sejenisnya. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik. Saya jadi punya harapan suatu saat kelak adat batak dilakukan benar-benar sesuai dengan esensinya. Biarlah semua ksesoris yang mengotori kesakralan ritual adat itu bisa segera dibuang. Biarlah acara adat yang sekarang ini yang berbiaya super mahal hanya karena bunga-bunga itu segera berganti dengan adat batak yang sakral penuh dengan esensi yang sesungguhnya dengan biaya murah, sehingga tidak ada lagi anak muda batak yang hanya mangalua karena tidak punya duit beratus juta. Ditunggu kebijaksanaan dan hati nurani para orang tua yang mengaku pejebat elit di adat batak (raja parhata dan para pengurus punguan-punguan marga).

Hari telah menjelang malam ketika kami mangulosi pengantin, tapi saya bahagia karena bertemu dengan handai tolan, menambah kenalan dan terlebih dengan adanya tanda-tanda perbaikan pada prosesi adat batak.

Ai Na Ro Do Par Jakarta ?

Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta
Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta

Sekitar tahun 80-an, sudah ada beberapa orang dari kampungku Sipanganbolon yang merantau ke Jakarta. Bayanganku kala itu, orang yang merantau itu menjadi orang kaya setelah tinggal di Jakarta. Hal ini disebabkan penampilan yang mereka tunjukkan ketika mereka pulang kampung. Pakaian bagus-bagus, kulit putih mulus, beda jauh dengan kulit kami yang hitam legam dibakar matahari. Belum lagi dengan berbagai bawaan yang mereka bawa dengan koper-koper besarnya. Demikian juga dengan anak-anak mereka yang yang wajahnya tidak lagi marsuhi-suhi (bersegi, wajah kampungan khas orang batak), sehingga kala itu ada istilah “Ai na ro do Par Jakarta?”, terjemahan bebasnya Orang Jakarta datang ya?.

Kala itu setiap kali ada saudara yang pulang dari Jakarta selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri. Kehadiran mereka selalu menjadi berita besar. Para orang tua kami akan datang ke rumah tetangga yang anaknya pulang dari jakarta tersebut. Tentu saja kami anak-anaknya tidak mau ketinggalan, walaupun orang tua melarang kami ikut. Alasannya nanti bikin ribut, atau kami harus mengerjakan pekerjaan lain di rumah. Tetapi dengan berbagai cara, kami anak-anak selalu berhasil sampai di rumah par Jakarta tersebut. Salah satu alasan utama kami adalah agar ikut mencicipi dodol garut. Dodol garut yang menjadi oleh-oleh wajib yang dibawa Par Jakarta itu menjadi penganan yang nikmatnya tiada tara dan hanya akan kami temukan ketika ada  Par Jakarta yang pulang kampung. Selain itu kami juga pengen difoto. Biasanya par Jakarta membawa kamera foto dan itu adalah barang yang sangat langka di kampung kami kala itu. Jadi kalau wajah kita ikut nampang di foto, walaupun hanya terjepit di belakang wajah-wajah para orang tua, itu sudah menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Lebih membanggakan dibanding dapat juara satu di hari kenaikan kelas.

Tidak hanya anak-anak yang bergembira bila par Jakarta pulang kampung. Pengurus gereja juga ikut merasakannya. Biasanya par Jakarta akan memberikan persembahan minggu yang jauh lebih besar dibanding para jemaat setempat. Selain persembahan yang besar, par Jakarta juga akan memberikan uang ucapan syukur yang lebih kami kenal dengan “Sihamauliateon”. Ucapan syukur ini akan dibacakan pada saat warta jemaat atau “tingting”. Sintua yang membaca warta jemaat biasanya akan membaca demikian: “Jinalo do hamauliateon sian amanta Anu, anak ni ompu polan ala hipas-hipas do nasida diramoti Tuhan di pardalanan sian Jakarta sahat tu huta on. Dipasahat nasida tu huria xxx ribu rupiah, tu guru huria xxx ribu rupiah, tu parhalado xxx ribu rupiah, tu sintua lingkungan xxx ribu rupiah dohot tu diakoni sosial xxx ribu rupiah. Punguma sude xxx ribu rupiah. Sungguh mengagumkan memang par Jakarta ini.

Par Jakarta sering kali menginspirasi para anak-anak di kampung kami. Saya tidak tau persis alasannya mengapa perantau ke tempat lain seperti par Kalimantan, par Batam apalagi par Medan atau par Siantar tidak menginspirasi kami anak-anak kala itu. Par Jakarta menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami. Mungkin pelajaran di sekolah ikut membentuk bayangan kami kalau Jakarta itu adalah sebuah tempat yang paling membahagiakan. Ada istana presiden, ada kantor menteri-menteri, ada Monas dan banyak lagi. Walaupun kami hanya melihat dari gambar hitam putih di buku pelajaran SD, cerita para guru dan sesekali nonton TVRI hitam putih di tv tetangga, jakarta menjadi tidak asing di benak kami. Namun Jakarta yang ada di benak kami adalah jakarta yang serba bagus.

Hari ini saya sudah menjadi salah satu dari par Jakarta itu, walaupun saya tinggal di Bekasi. Saya tidak tahu lagi apakah istilah “Ai na ro do par Jakarta?” masih ada di kampung, karena ketika saya pulang kampung, saya tidak lagi mendengarya. Namun yang pasti setiap kali pulang kampung, saya selalu mengusahakan untuk membawa dodol garut. Saya sudah tahu kalau dodol garut bukanlah oleh-oleh khas Jakarta, tetapi kenangan masa kecil menikmatinya terlalu manis untuk dilupakan.

Jakarta memang tidak sesempurna bayangan saya kala masih kecil, orang-orang yang datang ke jakarta juga tidak otomatis menjadi orang kaya, bahkan sering kali membawa mereka tinggal di gang-gang sempit yang kumuh, tetapi bayangan masa kecil itu yang begitu kuat telah membawa saya sampai ke ibu kota ini.

Masihkah  Ai na ro do par Jakarta?????