Na Olo Do Au-5

Durian Itu
Hari ini hari ketiga aku di Sipanganbolon. Tadi malam aku berencana pagi ini mau bangun agak siang, namun keyataannya pagi ini aku bangun hari masih pagi. Tidak lebih dari jam tujuh ketika aku menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhku. Udara masih dingin, namun suara rame para pembeli di warung Lisbet di ruangan kiri depan rumah kami menarik perhatianku. Mereka adalah para tetangga yang ingin belanja dan juga anak-anak sekolah yang singgah jajan sebelum berangkat ke sekolah. Anak-anak sekolah yang ceria itu mengingatkanku ketika aku masih sekolah separti mereka. Bersekolah, bermain menjadi kegiatan yang sangat menggembirakan. Walaupun seringkali terjadi keributan atau perkelahian sesama kami, tetapi kami tidak pernah bermusuhan dalam waktu yang lama. Bahkan seingatku tidak pernah bermusuhan lebih dari satu hari. Bermusuhan diantara kami sering kami sebut dengan “Marsending”. Memang hal-hal yang sangat kecil bisa memicu perkelahian, tetapi kami selalu memaafkan. Wah… ceritanya jadi ngelantur ya….. Begitulah kalau sudah mengingat masa-masa kecil.

Hari Sabtu menjadi hari yang istimewa bagi seluruh warga Sipanganbolon. Setiap hari Sabtu, warga Sipangan bolon akan berbelanja ke Pekan Tigaraja. Saya tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai. Demikian juga hari ini, Ito mama Lisbet juga pergi ke pekan Tigaraja. Ito akan belanja kebutuhan di rumah untuk seminggu ke depan. Selain itu ito juga akan membeli tiga ekor lomok-lomok untuk keperluan acara tanggal 22 sesuai dengan keputusan pembicaraan tadi malam. Aku juga memesan ke ito untuk membeli beberapa meter kabel listrik, fitting dan bohlam untuk dipasang di WC belakang.

Hari ini hanya ito yang pergi ke Tigaraja sedangkan Lisbet di rumah menjaga warungnya dan suaminya Lisbet pergi ke ladang yang ada di Simandalahi. Di sana mereka sedang menanam cabe. Sedangkan aku sendiri duduk-duduk di teras memandang ke jalanan memperhatikan kendaraan yang lewat terutama memperhatikan truk-truk logging yang turun dari harangan Sitahoan. Rumah kami berada persis di simpang Sitahoan. Aku heran mengapa truk-truk itu masih beroperasi…? Bukankah aktivitas penebangan hutan oleh Indorayon di Sitahoan sudah dihentikan….? Dan mengapa truk-truk besar yang bermuatan penuh kayu itu ditutupi oleh terpal…? Berbagai pertanyaan tentang truk-truk kayu itu muncul di kepalaku. Tapi sudahlah… aku datang ke Sipanganbolon saat ini bukan mau mengurusi truk-truk itu. Tujuanku adalah memenuhi salah satu kodratku sebagai manusia yaitu menikah. Aku tak mau acara pernikahanku nanti diganggu oleh pikiran-pikiran tentang truk-truk logging itu.

Aku masih duduk-duduk di teras ketika Tulang Walsen dengan motor RX King-nya berhenti di depan rumah. Dia membonceng sekeranjang penuh buah-buah durian. Tulang itu berhenti mau membeli bensin untuk motornya. Selain membuka warung,Lisbet juga menjual bensin ketengan di depan rumah. Aku menghampiri Tulang Walsen, menyalamnya dan menanyakan kabarnya. Dengan terlebih dahulu membuka helemnya, dia menyambut uluran tanganku dan membalas menayakan kapan aku datang. Sambil ngobrol, saya tertarik dengan buah durian yang dibawa Tulang Walsen. Saya menanyakan mau dibawa kemana durian-durian itu. Dia menjelaskan kalau diasekarang berjualan durian. Dia membeli durian dari Girsang dan menjajakannya sepanjang jalan di Sipanganbolon. Saya berminat dan Tulang itu menawarkan sebuah durian yang paling besar yang dia bawa. Harganya hanya 15 ribu rupiah. Tanpa menawar aku langsung membelinya dengan memastikan kalau buah durian tersebut enak dan tidak busuk. Tulang Walsen memberikan jaminan dengan mengatakan akan mengganti bila durian itu tidak enak. Saya hanya membeli satu saja. Nanti kalau enak saya akan beli lagi.

Setelah bensin selesai diisikan ke motor Tulang Walsen dan pembayaran selesai dilakukan, diapun pamit untuk melanjutkan perjalanannya menjajakan durian-durian yang dia bawa. Aku membawa durian yang kubeli ke ruang belakang rumah kami. Aku mencium aromanya yang begitu menggoda. Aku tak sabar untuk mencicipinya. Aku ambil parang dan kupakai untukmembelah durian tersebut. Susah juga ternyata membelah durian yang satu ini. Aku coba lagi-lagi dan lagi. Akhirnya durian itu terbelah juga dan langsung kucicipi. Waaww….. Mmmmmmmm…. Nikmat sekali. Rasanya pas. Benar-benar durian yang sangat enak. Rasanya tidak terlalu manis, ada sedikit rasa pahitnya. Matangnya juga pas. Tidak mengkal dan tidak terlalu matang.

Saat aku menikmati durian yang luar biasa enak itu, aku langsung menelepon Ros memeritahukan kalau aku sedang menikmati durian yang sangat enak. Aku berharap dia juga suka durian dan nantibila dia sudah ada di Sipanganbolon, akan aku belikan juga buat dia durian seperti ini. Aku membayangkan akan lebih nikmat bila kami bisa menikmatinya bersama. Namun ternyata Ros tidak suka durian. Dia tidak suka dengan buah yang aromanya kuat termasuk pete dan jengkol. Wah… sayang sekali Ros, ini buah yang sangat enak lo…. Ya sudahlah kalau Ros tidak suka,biar kunikmati sendiri. Di ujung pembicaraan kami di telepon, dia pesan agar jangan banyak-banyak makan durian nanti bisa pusing atau mabok. Ok Bosss…. Aku tidak memakan semua isi dari durian yang aku beli. Akuhanya memakan dua kamar saja. Nantilah kami makan bersama sisanya sesudah ito mama Lisbet pulang dari Tigaraja dan suaminya Lisbet pulang dari ladang.

Tidak lama ito mamanya Lisbet di Tigaraja. Dia sudah pulang sebelum tengah hari. Dia mambawa tiga ekor lomok-lomok, aneka belanjaan, peralatan listrik yang aku pesan dan yang yang aku tunggu-tunggu, jajanan pasar berupa pecal, misop, dan kue-kue basah khas pekan Tigaraja. Tanpa buang-buang waktu, kami langsung makan siang. Suaminya lisbet pun sudah pulang dari ladang. Makan siang yang nikmat dengan lauk ikan mujahir goreng dan pecal serta misop yang dibawa ito mama Lisbet. Aku makan sampai nambah. Entah mengapa perutku selalu lapar sejak tiba di Sipanganbolon, padahal makanku cukup banyak. Selesai makan siang, kami menuntaskan buah durian yang tadi aku sisakan. Rasanya perutku seperti karet balon yang bisa mengembang menampung apa saja yang aku masukkan. Kembali aku menikmati durian yang rasanya luar biasa itu.

Dari informasi yang kuterima dari ito mamanya Lisbet, ternyata sekarang itu lagi musim durian dimana-mana, termasuk di Girsang dan Sipanganbolon. Pada hal tahun-tahun sebelumnya,aku tidak pernah melihat pohon durian berbuan di Sipanganbolon. Dulu kami bisa makan durian yang didatangkan dari tanah jawa, Bandar dan daerah di sekitar Siantar, atau dari Pahae. Pernah satu kali ketika aku masih SD, inanguda adeknya mama yang tinggal di Pahae membawa durian satu goni dan kami memakannya sampai puas. Pahae memang penghasil buah durian,namun rasa durianPahaemasihkalah dibanding rasa durian Tanah jawa. Tanah jawa yang kumaksud bukan pulau jawa, tetapi satu daerah di kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Durian….oh durian…. Tulang Walsen… besok datang lagi ya…..! Bawa durian yang lebih enak lagi….. aku pasti beli….

Bersambung……

Iklan

Na Olo Do Au-4

Pulang Martuppol

Hari sudah hampir gelap ketika kami tiba di Sipanganbolon. Perjalanan kembali dari Siantar ditempuh lebih lama dibanding ketika siangnya berangkat ke Siantar. Mungkin ini karena hujan lebat yang turun ketika kami pulang. Namun ketika kami tiba di Sipanganbolon hujan sudah berhenti, tetapi ada sedikit yang mengganggu yaitu listrik PLN lagi padam sehingga suasana dalam rumah sangat gelap. Untuk mengusir sedikit kegelapan dalam rumah, lilin-lilin pun dinyalakan.

Disinari cahanya lilin yang redup, kami berkumpul di ruang tengah rumah kami. Makan malam sudah disiapkan untuk kami nikmati, karena di Siantar kami hanya makan lappet saja. Menu utama makan malam ini adalah lomok-lomok yang disangsang, soup, ikan teri sambal dan aneka sayuran rebus lengkap dengan sambal kemirinya. Menu ini ditambah lagi dengan nasi campur yang disediakan oleh pihak parboru dari Siantar. Sedianya nasi campur ini kami makan di perjalanan pulang dari Siantar, tetapi sebagian dari peserta rombongan memakannya setelah tiba di rumah kami di Sipanganbolon. Sampai acara makan malam selesai, listrik PLN masih padam.

Selesai makan malam, sebagian dari rombongan yang ikut ke Siantar pamit untuk kembali ke rumah masing-masing. Tinggal keluarga dekat saja yang masih ada di rumah untuk ikut membicarakan rencana acara tanggal 22 nanti. Pembicaraan dipimpin oleh sang komandan Abang Viktor Sinaga. Dia adalah anak tertua kedua dari keluarga besar Op.Mujur Sinaga yang ada di rumah saat itu. Abang Mujur yang merupakan anak paling tua masih di Medan dan akan datang hari Kamis. Pembicaraan diawali dengan menanyakan segala persiapan yang telah dilakukan dan pertanyaan ini dijawab oleh Lae Bapak Letti. Dia menjelaskan semua kegiatan yang telah dilakukan, mulai dari manukkun utang yang dilaksanakan dua hari yang lalu sampai martuppol yang telah kami laksanakan hari ini. Kemuadian Bapak Letti juga menjelaskan persiapan untuk acara tonggo raja hari Kamis dan acara puncak pamasu-masuon hari Jumat.

Dari semua persiapan yang dilakukan ada beberapa hal penting yang harus di atur yaitu orang-orang yang akan menerima ulos tohonan, nama-nama penerima pinggan panganan, orang yang bertugas mengundang dan lain-lain. Sesuai dengan hasil pembicaraan pada saat manukkun utang, pihak parboru akan memberikan 14 helai ulos tohonan, namun dari ke-14 ulos ini yang paling utama adalah 4 helai. Ke-4 ulos tersebut adalah:
1. Ulos Passamot diterima oleh Abang Arifin Sinaga. Abang arifin menjadi oerang tua pengantin laki-laki karena bapak dan ibu sudah tidak ada.
2. Ulos Hela diterima oleh pengantin.
3. Ulos Pamarai diterima oleh Abang Mujur Sinaga. Ulos Pamarai diterima oleh bapa tua atau bapa uda pengantin laki-laki, dalam hal ini bapa tua dan bapa uda sudah tidak ada, sehingga diwakili oleh anak bapa tua yaitu Abang Mujur Sinaga.
4. Ulos Sihutti Appang diterima oleh Lae Jintan Sirait. Ulos ini diterima oleh Namboru mempelai laki-laki. Ulos ini juga diwakilkan karena namboru sudah tidak ada.

Setelah penerima ulos ditentukan, dilanjutkan dengan menentukan nama-nama penerima pinggan panganan. Nama-nama ini sangat banyak sekitar 30 nama dan saya tidak ingat lagi siapa-siapa saja nama-nama yang ditentukan itu. Setelah semua selesai dibahas, diskusipun diakhiri dan listrik PLN pun sudah menyala kembali. Ruangan menjadi terang dan terlihatlah wajah-wajah yang kelelahan memenuhi ruangan. Semua orang memang merasa lelah dengan kegiatan hari ini, tetapi semuanya bersuka cita. Saya semakin mengerti makna persaudaraan dari apa yang saya rasakan hari ini. Saya semakin merasakan bahwa saya dan semua anggota keluarga besar kami benar-benar berharga. Penghargaan ini dinyatakan dalam kata dan tindakan.

Malam telah larut ketika sebagian besar saudara kami pamit untuk kembali ke rumah masing-masing. Kembali malam ini aku tidur larut. Besok aku tidak harus bangun pagi-pagi. Besok aku ingin istirahat seharian di rumah sambil menunggu oleh-oleh jajanan pasar yang akan dibawa Ito mamanya Lisbet dari pekan Tigaraja. Malam ini aku ingin tidur sepulasnya, namun sebelum tidur aku tak lupa menelepon Ros yang ada di Siantar. Aku ingin memastikan bahwa dia disana baik-baik saja.

Bersambung…..

Na Olo Do Au-3

Martuppol

Hari kedua aku di Sipanganbolon, aku bangun kesiangan. Tadi malam kami ngobrol sampai larut. Udara dingin Sipanganbolon juga membuat aku enggan melepas selimut yang membungkus tubuhku bagai kepompong. Matahari sudah mengintip di timur ketika aku bangun. Sinarnya yang hangat perlahan mengusir udara dingin. Di teras telah terhidang teh manis hangat dan pisang goreng. Dengan bermandikan cahaya matahari pagi, aku menyeruput teh hangat dan pisang goreng itu. Wahhh…nikmat sekali.

Pagi ini waktuku banyak kugunakan untuk ngobrol dengan saudara-saudaraku dan juga tetangga yang datang ke rumah. Sepertinya tidak habis-habis topik yang kami bicarakan. Menjelang siang hari aku bersiap-siap untuk acara martuppol nanti. Satu stel jas warna biru gelap ku keluarkan dari bungkusnya. Jas yang kami jahitkan di tukang jahit Sianipar di Pondok Kelapa. Bahannya dibeli khusus dari Pasar Baru. Kuperiksa sekilas lalu kugantung di dinding dekat kamar. Kemudian sepatu hitam yang aku beli di Pasararya Grande Blok M kulap untuk memastikan tidak ada debu yang menempel. Dasi berwarna biru muda yang kami beli bersama Ros di Pasar Baru kucoba ikatkan dileherku.

Setelah semua perlengkapan siap, aku beranjak untuk mandi. Lagi-lagi rasa dingin menjadi masalah. Air yang ada di rumah dinginnya luar biasa. Dinginnya sama dengan air yang dikeluarkan dari dalam kulkas. Untung saja sudah ada air yang telah dimasak untuk air minum dan jumlahnya cukup banyak. Air inilah yang aku gunakan untuk madi setelah terlebih dahulu dicampur dengan air dingin untuk mendapatkan suhu yang pas dikulitku. Uuuhhhh…. Segarrr. Baru ini aku mandi sejak dari jakarta kemarin.

Sebelum jam 12 aku sudah siap. Jadwal keberangkatan kami ke Siantar adalah jam 13.00. Makan siang juga telah selesai dengan menu yang tidak jauh berbeda dengan menu tadi malam, tetapi rasanya tetap sangat nikmat di lidahku. Ikan mujahir goreng dengan sambal andaliman itu lo yang tak mungkin aku lewatkan. Rasa ikan mujahir itu sangat beda dengan ikan mujahir yang dijual di Jakarta. Mungkin karena diambil langsung dari Danau Toba, bukan dari tambak atau keramba.

Satu-persatu saudara dan tetangga mulai berdatangan ke rumah. Jam 13 tepat kami berangkat dengan dengan dua buah mobil yang di sana dikenal dengan ELTOR singkatan dari L tolu ratus, L300. Perjalanan dari Sipanganbolon ke Siantar ditempuh tidak lebih dari satu setengah jam. Sekitar jam 14.30 kami sudah tiba di rumah bapatuanya Ros di Rambung Merah Siantar. Rumah masih sepi dan Ros masih di Salon. Kedatangan kami membuat suasana rumah menjadi rame. Banyak dari rombongan kami adalah tukang cerita dan cerita-cerita yang mereka lontarkan membuat kami tak sanggup menahan tawa.

Satu kisah nyata paling unik yang diceritakan adalah. Ketika salah seorang dari antara kami pernah pergi mengikuti sebuah undangan pesta pernikahan ke suatu daerah. Mereka berangkat menaiki satu bus besar dan satu mobil kijang. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, sopir mobil kijang pamit dan akan kembali ke tempat acara nanti sore sesuai dengan jadwal yang disepakati. Ketika acara dimulai dan giliran parboru akan menyampaikan ikan mas, ternyata ikan mas yang mereka bawa tidak kelihatan. Dicari ke semua tempat yang mungkin, tidak ketemu. Ternyata ikan mas tersebut masih tertinggal di mobil kijang yang yang telah pamit tersebut. Keadaan menjadi panik. Acara pemberian ikan mas ditunda sementara. Seorang dari rombongan berinisiatif mencari ke warung makanan khas batak yang ada di daerah itu. Ternyata tidak ditemukan masakan ikan mas yang sesuai dengan yang diinginkan. Dengan keadaan terpaksa dipakailah ikan mas yang telah dipotong-potong yang tersedia di warung yang ada disana. Dengan perasaan sangat malu, pihak parboru menyampaikan ikan mas yang apa adanya itu. Ketika hari sudah sore sopir kijang kembali ke tempat acara. Dengan emosi yang meluap dan tanpa basa-basi bapak dari mempelai perempuan langsung mendatangi si sopir kijang lalu mendarat sebuah pukulan telah di wajah si sopir. Si sopir tidak terima dengan pelakuan si Bapak, lalu mengadukan penganiayaan ini ke polisi. Sebuah kejadian yang tragis….

Dalam kesesriusan kami mendengarkan cerita tadi, Ros dengan dandanannya yang aduhai memasuki rumah dimana kami telah berkumpul. Kebaya merah jambu yang dijahit oleh Mas Min [dipanggil mas mince karena kromosom x nya lebih domonan] di daerah Cempaka Putih membalut tubuhnya. Bibirnya yang dipoles lipstik menebar senyum sambil menyalami satu-persatu orang yang ada di rumah. Aku jadi pangling melihat penampilannya….  wajahnya, rambutnya sampai ke ujung kaki begitu elegan, meminjam istilah orang-orang mode dan kecantikan. Menyusul dibelakang Ros ada Nantulang yang seminggu kemudian menjadi mertuaku. Dia juga telah siap dengan penampilan terbaiknya.

Tanpa menunggu lama, kami siap-siap untuk berangkat ke gereja. Dengan terlebih dahulu memanjatkan doa memohon penyertaan Tuhan yang dipimpin oleh Tulang marga Situmorang, kami meninggalkan rumah menuju gereja. Tiba di depan gereja, disana sudah ada beberapa saudara menunggu. Mereka langsung ke gereja, karena mereka tidak tau alamat rumah Tulang, bapatuanya Ros. Lumayan banyak juga saudara yang datang untuk mengikuti prosesi martuppol ini.

Gereja HKBP Parsaoran Na Uli menjadi tempat dimana aku dan Ros akan “Patuppolhon” rencana pernikahan kami. Aku tidak pernah menduga akan punya urusan lagi dengan gereja ini, tetapi kenyataan menhendaki lain. Lebih dari 18 tahun yang lalu, aku sering kebaktian di gereja ini. Waktu itu aku tinggal di rumah tulang di Gang Aman jalan Ahmad Yani Pematang siantar, karena aku sekolah di SMA N 2. Tampilan gereja ini masih persis seperti 18 tahun yang lalu. Altarnya atau langgatannya yang dipenuhi oleh relief-relief tentang TUHAN Yesus tidak ada yang berubah dan ini yang tak mungkin aku lupa dengan bangunan gereja ini. Yang berubah hanyalah di halamnnya yang cukup luas berdiri sebuah bangunan baru yang lebih besar dari bangunan gereja itu sendiri. Bangunan ini munkin adalah bangunan serba guna. Bagiku bangunan ini mengurangi keanggunan gereja tersebut.

Acara partoppolon dimulai dengan mengadakan persiapan di bilut parhobasan atau ruang konsistori yang ada persis di belakang gereja. Saat persiapan ini dijelaskan tata cara paruppolon yang akan dilaksanakan, diperiksa semua berkas-berkas yang diperlukan terutama surat pengantar dari gereja dimana mempelai laki-laki dan perempuan terdaftar. Aku terdaftar di gerja HKBP Sola Gratia Kayu Mas Jakarta Timur dan Ros terdaftar di gereja HKBP Duren Jaya Bekasi. Pada persiapan ini juga ditunjuk saksi-saksi yang akan turut menandatangani berita acara martuppol dan juga diberikan teks ikrar yang akan dibacakan oleh kedua mempelai di depan jemaat.

Selesai persiapan, seluruh jemaat, kedua mempelai dan parhalado memasuki gedung gereja. Lagu dari buku ende dinyanyikan bersama oleh jemaat yang dipandu oleh seorang parhalado menjadi awal dari kebaktian partuppolon. Yang menjadi puncak dari acaraini adalah disaat kedua mempelai maju kedepan altar dan menghadap jemaat membacakan ikrar ata perjanjian partuppolon atau pra nikah. Inti dari ikrar ini adalah bahwa kedua mempelai sudah siap menikah dan akanmemenuhi segalakonsekwensi dari sebuah pernikahan ala kreistren, yang salah satu aturannya adalah tidak mengenal perceraian. Satu lagi inti dari ikrar ini  adalah peryataan  tidak mempunyai hubungan khusus dengan orang lain. Di acara ini juga pimpinan acara mewakili gereja memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengajukan keberatan apabila mengetahui bahwa mempelai laki-laki maupun perempuan masih memiliki hubungan khusus dengan orang lain selain pasangannya yang sekarang. Kesempatan pengajuan keberatan ini diberikan selama rentang waktu dari martuppol sampai hari pemberkatan nikah atau mamasu-masu. Sesuai peraturan gereja HKBP, rentang waktu ini diberikan selama waktu dengan melewati dua kali hari minggu, dimana setiap hari minggu yang dilewati akan diadakan pengumuman di gereja dimana mempelai mertuppol dan dipasu-pasu. Pengumuman ini dikenal dengan tingting parbogason. Khusus buat kami yang tidak memiliki waktu cuti yang lama, maka hari minggu yang dilewati hanya sekali, jadi ting-ting parbogason hanya sekali. Acara kebaktian partuppolon diakhiri dengan kotbah dan doa berkat.

Selesai acara kebaktian, seluruh jemaat disuguhi dengan makanan ringan berupa lappet dan minuman kopi dan teh manis. Sambil menikmati makanan yang disediakan kami saling menanyakan kabar dengan saudara yang baru ketemu di gereja itu. Suasana begitu akrab dan kesan yang saya tangkap dari setiap obrolan dengan sadara2 yang ada disana, mereka sangat bahagia dengan acara pernikahan ini. Mereka sangat berharap kami bisa menjadi teladan bagi keluarga besar kami. Mereka berharap pernikahan kami membuat kehidupan keluarga besar kami lebih baik lagi. Wahhh…. Sebuah tanggung jawab yang sungguh besar. Sanggupkah kami mewujudkannya….? Semoga.

Usai seluruh rangkaian martuppol, kami meninggalkan gedung gereja. Kami rombongan mempelai laki-laki kembali ke Sipanganbolon, sedangkan Ros dengan rombongan mempelai perempuan kembali ke rumah bapatuanya. Perjalanan kami ditemani oleh guyuran hujan yang sangat lebat hingga jalanan menjadi banjir. Baru sekali ini aku melihat jalanan dari Siantar menuju Parapat banjir. Ada apa gerangan…? Apakah ini akibat dari perubahan iklim yang sering kita dengar di tipi-tipi…? Tapi sudahlah… aku anggap saja ini hujan berkat dari Tuhan. Hujan yang yang akan memberikan kehidupan di bumi. Seminggu lagi aku dengan Ros akan diberkati di gereja HKBP Sipanganbolon.

Bersambung….

Na Olo Do Au-2

Dari Siantar ke Sipanganbolon
Di terminal Parluasan aku berpisah dengan Ros, Nantulang dan Kak Ade. Aku menaiki mobil combi yang akan berangkat menuju Balige. Mobil beberapa kali berputar-putar di sekitar terminal untuk mencari penumpang, karena memang penumpang mobil tersebut baru dua orang termasuk aku. Sebelum meninggalkan terminal Parluasan ada beberapa orang penumpang yang naik dan sampai di Simpang Dua mobil sudah penuh.

Mobil yang aku tumpangi melaju dengan kencang, angin dingin bertiup melalui celah kaca mobil. Matahari sudah tidak tampak lagi, namun langit masih terang. Jalanan dari Siantar menuju Parapat selalu mengingatkan aku suatu masa ketika aku masih sekolah di Siantar dan Kuliah di Medan. Jalana n yang selalu aku lalui hampir setiap bulan. Pohon-pohon sawit di pinggir jalan yang berbaris rapi seakan memberi hormat setiap kali aku lewat di sana. Pohon-pohon pinus di Harangan Ganjang membuat suasana lebih teduh, tapi kadang-kadang mencekam. Jalanan yang selalu aku rindui. Aku merasa jalanan ini memiliki jiwa dan jiwaku merasakannya.

Hari masih terang, walau mentari sudah kembali ke peraduannya ketika Danau Toba menyambut kedatanganku. Airnya yang biru dan bukit-bukit batu yang memagarinya membuat mataku tak sanggup untuk berkedip. Pemandangan yang selalu kirindui, padahal baru setahun aku meninggalkannya. Jalanan menurun dan berkelok di pinggir Danau Toba memberikan sensasi sendiri. Dulu kelokan jalan ini selalu membuat aku mabok sampai muntah-muntah, tetapi sekarang kelokan jalan ini menambah indah panorama danau.

Hampir pukul tujuh sore aku tiba di Sipanganbolon. Di Sipanganbolon jam tujuh masih sore karena langit masih terang. Aku menurunkan barang bawaanku dari mobil combi yang aku tumpangi. Tas ransel, koper dan dua set jas aku tenteng menuju rumah kami. Di halaman rumah sudah ada suaminya Lisbet. Dia membantu membawa koperku masuk ke dalam rumah. Di pintu rumah ada Lisbet dan langsung aku peluk dia dan kutanyakan bagaimana kabarnya. Menyusul dari ruang belakang ito mamanya Lisbet muncul dan kami juga berpelukan. Kulihat mata ito basah. Aku tidak tau pasti apa artinya, namun aku yakin dia sangat senang dengan kehadiranku. Cukup lama kami ngobrol melepas rindu sambil menikmati oleh-oleh dodol garut Picnic yang aku bawa dari Jakarta. Sebenarnya dodol garut picnic sudah banyak di jual di Parapat, tapi aku sengaja memilih oleh-oleh ini karena ini merupakan oeh-oleh wajib bagi orang yang pulang dari jakarta sekitar tahun 80-an dan 90-an. Waktu kecil aku sangat terkesan dengan oleh-oleh yang satu ini, dan aku berjanji dalam hati bila kelak aku bisa sampai ke jakarta, aku akan membawa oleh-oleh yang sama ketika pulang kampung. Sedikit bernostalgialah pikirku

Di tengah obrolan kami, ito mamanya Letti dan Lae datang. Mereka juga sangat senang dengan kedatanganku. Kami melanjutkan obrolan kami. Suasana menjadi semakin rame. Sesekali kami tertawa. Tak terasa perutku pun sudah lapar. Kamipun menikmati makan malam apa adanya dengan ikan mujahir arsik sebagai lauknya. Ada juga sambal andaliman yang menambah nikmat makan malam itu. Aku makan lahap sekali, selain karena aku memang sudah lapar, ditambah lagi udara yang cukup dingin, juga karena rasa makanan yang sangat pas dilidahku. Makanan kampung yang sederhana yang dulu ketika aku masih kecil merupakan makanan mewah buat kami. Dulu kami lebih sering makan dengan lauk gulamo.

Selesai makan malam, lae bapaknya Letti menjelaskan segala persiapan yang telah dilakukan untuk acara kami nanti tanggal 22. Dia menceritakan keberangkatan mereka kemarin ke Siantar dalam rangka “Manukkun Utang”. Segala sesuatu telah dipersiapakan dengan baik, tinggal menjalankannya sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Dijelaskan juga bagaimana teknis keberangkatan kami besok ke Siantar untuk “Martuppol”. Disana juga sudah bergabung dengan kami Lae Bapak Iin. Lae ini adalah adeknya lae bapaknya Letti. Dia melaporkan bahwa sudah disediakan 2 mobil yang akan mengangkut kami besok ke Siantar.

Setelah membicarakan segala persiapan terkait dengan acara tanggal 22, kamipun kembali ngobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang perjalanan saya dari Jakarta sampai ke Sipanganbolon, tentang keadan saudara-saudara kami yang tinggal di Jakarta dan banyak lagi. Malam ini kami akhiri dengan tidur sama-sama di ruang tengah rumah kami. Udara dingin Sipanganbolon memaksa kami untuk mengenakan selimut yang super tebal. Kami harus banyak istirahat, karena besok banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan.

Bersambung….

Na Olo Do Au-1

Dari Jakarta ke Siantar
Hari masih gelap ketika aku menyandang ransel di pundakku, menjinjing koper dan menyandang dua pasang jas. hari ini 14 Januari 2010. Orang-orang di rumah masih terlelap, dan aku membangunkan abang Juston untuk pamit. Udara masih dingin ketika aku tiba di Rawamangun. Segera aku menaiki bis Damri jurusan bandara Sukarno Hatta. Telepon genggamku berbunyi dan dia yang ada di ujung telepon menanyakan posisiku. Dia adalah kekasihku Ros yang dengan dia aku akan terbang ke Medan. Dia sudah berada di tol bandara dan segera akan tiba di bandara. Tidak lebih dari satu jam bis Damri telah menghantarkan aku tiba di bandara terminal IA. Disana telah menunggu permaisuriku. Senyumnya menyambut kehadiranku. Senyum yang sama lebih dari setahun yang lalu ketika aku melihatnya untuk yang pertama kalinya.

Matahari baru mengintip di sebelah timur ketika pesawat yang kami tumpangi meninggalkan bandara Sukarno Hatta. Kami memilih penerbangan pagi, karena kami harus tiba di Siantar dan Sipanganbolon pada hari yang sama. Besok kami harus melaksanakan prosesi “martuppol” di Gereja HKBP Parsaoran Nauli Pematang Siantar. Cuti yang sangat terbatas menyebabkan jadwal kami sangat mepet. Cuaca sedikit tidak bersahabat hingga pesawat yang kami tumpangi beberapa kali bergoyang-goyang seperti naik mobil di jalanan berbatu. Kami tiba di Polonia Medan sesuai jadwal dan langsung menuju Paradep Taxi yang akan kami tumpangi menuju Siantar. Sambil menunggu Paradep Taksi berangkat, kami menyempatkan makan siang di sebuah tempat makan yang berada persis di depan parkiran Paradep Taxi. Menu makan siang khas medan mengingatkan aku 10 tahun yl ketika masih kuliah di USU. Menu yang sangat pas di lidahku.

Tengah hari Paradep Taxi melaju meninggalkan bandara Polonia menuju Siantar. Kami hanya istirahat sekali di Pasar Bengkel yang menjual makanan khasnya dodol. Sekitar jam 4 sore kami tiba di Siantar, tepatnya di daerah Rambung Merah dekat kompleks kuburan cina. Nantulang yang beberapa hari lagi akan menjadi ibu mertuaku telah menunggu di sana. Nantulang telah lebih dulu tiba di Siantar beberapa hari sebelumnya. Dia lebih dulu datang untuk melakukan persiapan untuk acara yang akan kami laksanakan. Dari jalan besar bersama nantulang kami berjalan beriringan menuju rumah Tulang atau bapa tuanya Ros. Bapa tuanya Ros akan menjadi wali Ros pada acara kami nanti.

Tidak lama aku di rumah bapa tuanya Ros. Setelah berkenalan dan berbincang seperlunya, bersama Ros, Nantulang dan Kak Ade atau putrinya bapatuanya Ros, kami menuju terminal Parluasan. Di terminal itu kami berpisah. Aku melanjutkan perjalananku menuju Sipanganbolon. Besok kami akan bertemu lagi di Siantar dalam acara Martuppol.

Bersambung……