Merenda masa depan di p3tkebt

fotophp31Bahtera berlabuh di dermaga yang berbeda untuk kesekian kalinya. Bahtera yang sering diamuk badai dan dihadang gelombang. Dengan langkah yang tertatih letih menyususri samudra menuju pelabuhan baru. Pelabuhan yang asing dan aneh, yang tersembunyi sudut pantai, di balik rimbunnya daun-daun bakau. Aku ingin mengenal dermaga baru ini lebih dalam dan lebih intim. Aku ingin menjadikan dermaga ini tempat berlabuh dalam waktu yang cukup lama. Aku sudah cukup lelah berkelahi dengan badai dan gelombang di tengah lautan. Kali ini aku ingin menikmati angin pantai dan kedamain daratan.

Inilah pelabuhanku kini, pelabuhan yang bernama P3TKEBT. Sebuah nama yang sangat asing di telinga. Bukan hanya asing, tetapi juga janggal, susah diucapkanĀ  apalagi dihafal. Tetapi apalah arti sebuah nama kata seorang pujangga. Aku mempercayakan bahteraku sepenuhnya di sini. Di pelabuhan baru ini. Di pelabuhan yang bernama P3TKEBT ini.

Di sini aku memulai hari-hariku dengan merajut jala-jala kehidupan agar bisa kugunakan untuk menjaring rejeki. Rejeki yang akan menjaga jantungku tetap berdenyut setiap hari, menjaga nafasku tetap berhembus, menjaga darahku tetap mengalir. Bahkan lebih dari itu, rejeki yang bisa ku alirkan ke orang orang di sekitarku. Di sini aku harus memeras keringat untuk menyelesaikan jala-jala kehidupan itu.

Di pelabuhan mungil ini aku mantapkan niatku untuk mewujudkan berjuta mimpi yang selalu kubawa kemanapun aku melangkah. Mimpi akan kehidupan yang berkualitas tinggi, mimpi menghapus setiap air mata yang pernah membasahi wajah orang-orang disekitarku, mimpi menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan kehidupan yang sebenar-benarnya, mimpi menjadi saluran berkat bagi orang lain, bahkan mimpi menjadi matahari yang memberikan sinarnya dengan cuma-cuma kepada siapa saja. Mimpi-mimpi itu harus menjadi kenyataan indah apapun taruhannya. Kadang memang aku ragu, tetapi niat dan semangatku selalu mematahkan keraguan itu. Terlalu berharga mimpi-mimpi itu untuk dilupakan hanya karena sebuah keraguan. Terlalu mahal mimpi-mimpi itu ditinggalkan hanya karena sebuah ketidakyakinan.

Dua tahun sudah hari-hariku berlalu di dermaga ini. Memang tidak mudah. Jala yang aku rajut sejak semula belum juga selesai, bahkan dibagian lain jala itu sudah lapukdan bolong-bolong. Walau tidak maksimal jala yang masih bolong-bolong itu kugunakan juga menjaring rejeki agar nafasku tetap berhembus, agar jantungku tetap berdetak dan agar darahku tetap mengalir. Tangkapanku tidak sesempurna yang aku harapkan, tetapi aku tetap bersyukur. Ombak di dermaga ini tidak setenang yang aku bayangkan, tetapi aku tidak boleh menyerah. Cuaca di dermaga ini tidak sedamai yang aku harapkan, tetapi aku tidak boleh putus asa. Pelabuhan ini tidak secantik yang aku impikan, tetapi aku tidak boleh mengeluh.

Pertandingan sudah dimulai, layar sudah terkembang dan jangkar sudah diangkat ke geladak, pantang berbalik arah. Perjalanan panjang akan berlangsung di dermaga kecil ini. Akan banyak keringat yang tertumpah di sini. Tak apa-apa, memang begitulah adanya. Ombak yang bergelora, cuaca yang tidak bersahabat dan badai yang mengguncang akan selalu ada. Jalapun akan selalu bolong, robek dan lapuk, tetapi semangat harus tetap bertengger di ubun-ubun. Impian tidak boleh dilepas dari genggaman dan doa-doa tidak boleh ditinggalkan.

Dermaga mungil P3TKEBT, di sinilah aku akan menjalani hari-hariku selama sisa hidup produktif-ku. Aku tidak mau hari-hariku tersia-sia disini. Aku mau setiap hari itu bernilai, dipenuhi kerja keras dan nilai-nilai luhur. Aku mau dermaga ini menjadi besar oleh cucuran keringat, kesetiaan pada kebenaran, profesionalitas, penghormatan akan nilai-nilai luhur. Aku mau satu saat nanti, ketika aku purna bakti aku tersenyum bangga memandang dermaga kecil ini telah menjadi besar dengan cara-cara yang mulia.

Aku mau berjuta mimpiku menjadi kenyataan di dermaga kecil ini.

Harus…..