FENOMENA LAPO NI TONDONGTA SENAYAN

Tadi siang saya diajakoleh seorang teman untuk bersantap siang di daerah Senayan, tepatnya di Lapo ni Tondongta. Tiba disana seluruh halaman lapo sudah dipenuhi oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Kendaraan bahkan sudah meluap sampai ke tengah jalan persis di belakang gedung MPR/DPR. Setelah motor yang kami tumpangi di parkir, kami memasuki lapo yang sudah disesaki oleh begitu banyak pengunjung. Benar-benar ramai sekali. Semua meja terisi penuh dan bayak pengunjung yang masih berdiri menunggu meja kosong. Pengunjung yang berdiri itu termasuk saya dan teman saya itu.

Saya melihat penunjuk waktu yang ada di hp saya, wahhh… ternyata sudah jam 12.15. Pantasan, jam begini memang puncaknya pengunjung di lapo tersebut. Apalagi ini hari jumat, dimana para pegawai kantoran memiliki waktu istirahat yang lebih panjang dari hari keja lain. Seharusnya kami datang lebih awal sehingga tidak perlu ngantri. Tetapi tidak apalah, sudah terlanjur kami berada di sana. Kami menunggu lebih dari 15 menit sampai kami menemukan sebuah meja yang kosong untuk kami tempati. Meja kosong yang memiliki empat buah kursi itu pun harus kami bagi dengan dua orang pengunjung yang lain.

Ketika kami duduk, meja masih dipenuhi oleh peralatan makan dan sisa-sisa makanan dari pengunjung sebelumnya. Saya memanggil pelayan untuk membersihkan meja tersebut, namun semua pelayan begitu sibunya melayani pengunjung yang lain yang jumlahnya luar biasa itu dibanding dengan lapo sempit itu. Kami harus lebih sabar menunggu untuk dilayani. Dalam penungguan itu saya memperhatikan para pengunjung yang ada. Sebagian besar pengunjung mengenakan batik yang rapi. Penampilan mereka menunjukkan mereka adalah para pekerja-pekerja golongan menengah ke atas yang bekerja di kantor-kantor bagus di seputaran daerah senayan. Bahkan tidak sedikit para pengunjung adalah perempuan yang berpenampilan modis, berkulit putih mulus yang pasti sering bertandang ke salon kecantikan dan tempat-tempat perawatan kulit, tangan mereka yang berkuku rapi menggenggam blackberry dan sepatu mereka adalah sepatu pancus berhak tinggi. Hampir semuan pengunjung tidak berwajah “marsuhi-suhi” atau wajah “parhuta-huta”.

Apa sih yang mereka cari-termasuk saya- di lapo yang sangat terkesan kumuh dan berantakan ini…? Bukankah di tempat lain ada resto atau café yang lebih nyaman dengan desain minimalis, udara yang sejuk dari AC, alunan musik merdu yang ditata pas ditelinga untuk menambah nafsu makan dan menu-menu yang lejat, bergizi serta higienis itu. Mengapa mereka datang ke tempat yang sumpek dan panas ini…? Mengapa mereka antri dengan sabar menunggui meja kusam dengan kursi lipat tua yang sangat-sangat tidak menarik untuk di lihat dan diduduki itu..? Mengapa mereka selalu kembali ke tempat yang dibisingi oleh suara pengamen lagu-lagu batak dengan iringan keyboard murahan dan di setel sekencang-kencangnya melalui speaker butut yang suaranya cempreng itu…? Aku tidak abis pikir akan fenomena ini. Yang aku paling bingung adalah mengapa aku ada diantara mereka.

Setalah lama menunggu, pesanan kamipun datang dibawa oleh seorang pelayan berbaju kuning dengan gambar the poci di punggungnya. Wajah pelayan itu dipenuhi oleh butiran-butiran keringat yang menurut istilahku adalah keringat jagung. Sesekali ia menyeka keringatnya dengan lengan, karena tidak sempat mengambil saputangan atau tissu. Panggang, sangsang, sop, nasi dan minum frestea sudah terhidang di hadapan kami. Tanpa menunggu lama, kami langsung menyantap hidangan itu. Sementara pikiranku beralih dari orang-orang berfarfum wangi di sekitarku. Dalam waktu tidak lama, hidangan di hadapan ku tuntas dan sudah pindah ke dalam perut.

Tidak kurang dari lima puluh ribu rupiah harus ku bayar untuk pesanan kami berdua. Harga yang cukup mahal menurutku. Setelah membayar pesanan kami, kembali aku memikirkan apa yang menyebabkan orang-orang ini datang ke tempat ini. Kalau hanya sekedar makan sangsang, panggang dan masakan khas batak lainnya masih banyak di tempat lain, bahkan ada yang lebih murah, lebih enak dan tempat serta pelayanannya lebih beradat. Di tempat ini pengunjung layaknya orang-orang miskin yang sedang antri sembako dari seorang toke cina yang sedang merayakan imlek.

Sampai kami meninggalkan lapo itu, saya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Mengapa para pegawai berpenampilan eksekutif itu mau makan di lapo yang kumuh, berantakan, panas, dipenuhi asap, bising, jalanannya macet, pelayannya berkeringat, bahkan harganya mahal dan lain-lain. Apakah ada teman-teman yang tau…??????

Aku bermimpi ada lapo yang sangat beradab. Lapo yang didesain modern minimalis etnik dengan parkiran yang luas. Para pelayan yang ayu dengan penampilan modis dan enak dipandang yang selalu siap melayani pelanggan dengan ramah dan penuh simpati serta tidak lupa memberikan seyum terbaiknya kepada setiap pelanggan. Menu makanan yang benar-benar rasa tradisional tetapi sudah diolah dengan higienis dengan memperhatikan kandungan gizi yang seimbang sehingga tidak meningkatkan kolesterol pelanggan. Live musik yang menemani santapan pelanggan harus benar-benar pas di telinga dengan lagu-lagu batak terbaik diringi alat musik tradisional berkolaborasi dengan alat musik klasik dan modern.

Ahhhhh…. Mungkin gak ya….?