ADP sebuah fenomena, problema, dilema dan buah simalakama

 

Manusia dalam kehidupannya menciptakan aturan dan peraturan agar bisa hidup harmonis. Tetapi dalam pelaksanaannya sering kali ada orang-orang yang melanggar aturan-aturan tersebut. Salah satu pelanggaran itu adalah pelanggaran etika kesusilaan. Sejarah pelanggaran ini sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.

Perselingkuhan, pemerkosaan, pelecehan sexual, pornoaksi dan perzinahan merupakan pelanggaran kesusilaan yang sering dilakukan. Pelanggaran ini seringkali menggangu keharmonisan kehidupan manusia tersebut. Walaupun demikian pelanggaran ini tidak mudah dihilangkan. Untuk mengurangi pengaruh negatif dari pelanggaran itu, manusiapun mengadakan kompromi dengan pelanggaran tersebut. Manusiapun akhirnya menyediakan tempat-tempat tertantu untuk menampung orang-orang yang mau melakukan pelanggaran tersebut. Walaupun pada kenyataannya tempat-tempat ini tetap menimbulkan pro dan kontra sampaihari ini. Tempat-tempat itulah yang sekarang kita kenal dengan lokalisasi.

Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki lokalisasi masing-masing, tidak terkecuali dengan Desa Sipanganbolon. Lokalisasi yang ada di Sipanganbolon berada di ADP atau Adian Padang. ADP ini teretak pada sisi paling barat Desa Sipanganbolon, berada persisi di pinggir jalan lintas Sumatera (Jalinsum).

Menurut cerita orang tua, pernah dalam sebuah perjalanan, Raja Sisingamangaraja XII beristirahat di Adian padang. Bisa jadi peristiwa itulah yang mendasari orang-orang menyebut tempat tersebut Adian Padang yang artinya kurang lebih adalah tempat beristirahat. Memang kalau kita berada di ADP, kita dapat memandang ngarai Sigala-gala dengan hamparan sawah yang permai dan Girsang yang berbukit-bukit dengan latar belakang danau toba yang sangat indah dikajauhan.

Awalnya ADP itu adalah satu tempat yang tidak dihuni “langlang”, karena kontur tanahnya yang tidak cocok untuk mendirikan rumah di sana. Di satu sisi ada jurang dan di sisi yang lain ada bukit. Karena tempat tersebut tidak berpenghuni, sering kali truk-truk barang yang melintas di Jalinsum beristirahat di sana. Ada orang yang melihat keberadaan truk-truk yang sedang beristirahat itu merupakan satu peluang bisnis. Mulailah ada orang yang membangun warung disana untuk sekedar menjual kopi untuk sopir-sopir truk yang sedang beristirahat.

Dengan berjalannya waktu, warungpun bertambah dari satu menjadi dua, tiga dan seterusnya. Pinggir jalan yang dulunya jurang pun ditimbun agar bisa dibangun warung yang lebih besar. Kebutuhan para sopir-sopir pun bertambah, bukan lagi hanya sekedar minum kopi. Mereka butuh tempat makan, menginap bahkan butuh teman tidur atau penghangat dikala jauh dari istri, karena memang udara Sipanganbolon yang sangat dingin.

Warung-warung yang awalnya hanya menyediakan kopi, berkembang menjadi tempat multi fungsi yang menyediakan segala kebutuhan para sopir-sopir termasuk wanita-wanita penghibur. Para WTS didatangkan dari luar Sipanganbolon terutama dari pulau Jawa. Dan dengan demikian resmilah ADP menjadi sebuah lokalisasi walaupun tanpa sebuah acara gunting pita, penekanan tombol sirene atau penanda tanganan prasasti layaknya acara-acara peresmian.

Keberadaan ADP telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Desa Sipanganbolon. Ada sebagian orang Sipanganbolon yang mengantungkan hidupnya pada lokalisasi tersebut, baik langsung maupun tidak langsung. Ada orang yang dengan terang-terangan membuka usaha di sana, tetapi lebih bayak yang secara diam-diam, salah satunya dengan menyewakan tanahnya kepada orang lain yang mau membuka usaha disana. Jadi dari sisi ekonomi, Keberadaan ADP dapat mensejahterakan banyak orang termasuk beberapa orang Sipanganbolon. Mungkin transaksi ekonomi terbesar yang ada di Sipanganbolon berada di ADP.

Awalnya Keberadaan ADP tersebut tidak menggangu keyamanan hidup orang Sipanganbolon, tetapi lama-kelamaan ada satu dua bapak-bapak Sipanganbolon yang mau singgah disana. Awalnya mungkin hanya sekedar ingin tau, tetapi akhirnya mereka juga menjadi konsumen yang ingin menikmati layanan ADP tersebut. Hal ini lambat laun mengganggu kenyamanan orang Sipanganbolon. Ada istri yang telah dimadu, ada suami yang kawin lagi dan lain sebagainya. Pertengkaran antara suami istripun jadi banyak terjadi. Bukan hanya itu, anak-anak mudapun sudah datang menghibur diri ke sana. Bahkan kabarnya, narkobapun sudah ada di sana.

Setelah kenyamanan hidup orang Sipanganbolon terganggu, masyarakat mulai bereaksi. Suara-suara penutupan lokalisasi ADP pun mulai muncul. Tetapi kenyataannya ADP tetap beroperasi bahkan berkembang pesat hingga menyerupai kota satelit bagi Sipanganbolon. Kita tidak tau persis mengapa Lokalisasi itu tidak pernah benar-benar ditutup. Ada gosip yang berhembus, banyak yang berkepentingan dgn keberadaan ADP. Wow… luar biasa….

Dari sisi entertainment, keberadaan ADP memang diperlukan minus Prostitusi. Tetapi inti dari ADP yang ada sekarang adalah prostitusi. Demikianlah ADP telah berdiri tegak di gerbang Sipanganbolon membawa warna baru dan menjadi fenomena, problema, dilema dan buah simalakama bagi keberadaan Sipanganbolon.

jakarta, 3 juli 2008

Sang matahari

Iklan

One Reply to “ADP sebuah fenomena, problema, dilema dan buah simalakama”

  1. Memang pada saat ini ADP adalah merupakan fenomena yang tak terpisahkan dari desa sipanganbolon, tp saat ini saya melihat bahwa ADP tersebut sudah sangat menghawatirkan keberadaannya, hingga anak muda sipanganbolon sudah bnyak yang terjebak disana….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s