Reunion (bagian 9)

Hari ini ada dua pemberkatan nikah yang akan dilangsungakan di gereja HKBP Parapat. Juha dan Inggrid menjadi pasangan pertama yang akan mengikuti prosesi pemberkatan nikah, sehingga harus dilaksanakan lebih pagi.

Hari masih pagi, tetapi cahaya matahari sudah datang menyapa. Sinarnya yang hangat menambah gairah setiap insan yang ada di sana. Air danau berkilauan bak mutiara memantulkan cahaya mentari yang keemasan itu. Air danau seakan ikut bersuka ria menyambut hari bahagia ini. Langit biru bersih dihiasi beberapa gumpalan awan putih menambah suka cita. Angin gunung berhembus dari sela-sela pohon pinus menuju danau, membuat daun-daun menari-nari mengikuti irama jiwa yang lagi bahagia. Semua itu membuncahkan suka ria dan gembira.

Seluruh undangan dan jemaat yang hadir berbaris rapih dengan tertib memasuki ruangan gereja yang anggun itu didahului oleh parhalado. Ibadah kali ini akan dipimpin khusus oleh bapak Pendeta Robinson Butarbutar yang juga memimpin ibadah Partumpolon seminggu yang lalu di gereja HKBP Sipanganbolon. Bapak pendeta ini sengaja dipilih oleh uluan HKBP di sana, karena beliau memiliki kemampuan memimpin ibadah dalam bahasa Inggris. Ibadah ini akan dilaksanakan dalam bahasa Batak, tetapi ada bagian-bagian tertentu yang akan dibawakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sedikit tentang Pendeta Robinson Butarbutar klik disini .

19875556_1830125883681848_1025760115540060919_n (2)

Ketika semua jemaat telah memasuki ruangan, parhalado telah menempati posisi masing-masing dan mempelai pria berdiri di altar, seorang parhalado meminta semua hadirin untuk bangkit berdiri, lalu musikpun mengalun perlahan dan lembut. Beberapa saat kemudian seorang pria tangguh berwajah lembut memasuki ruangan dengan langkah perlahan. Pria yang mengenakan jas hitam dengan menyandang ulos Ragidup itu dengan percaya diri menggandeng anak gadis satu-satunya. Pria yang rambutnya mulai keperakan itu melangkah pasti mendampingi putri kesayangannya itu.

Musik terus mengalun merdu dan hadirin tetap berdiri takjim menambah haru prosesi itu. Beberapa hadirin mengabadikan momen itu dengan smart phone mereka. Seakan mereka tidak mau melewatkan momen itu. Sepanjang langkah demi langkah yang bapak dan anak itu langkahkan, suasana hening. Interior gereja yang megah dan klasik menambah aura syahdu. Pandangan hadirin mengikuti langkah-langkah itu dengan terpana. Ada yang menahan nafas menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi. Hadirin seakan merasakan juga gemuruh yang bergelora di dada pria bermata sipit itu.

Pria itu memang berjalan tegap dengan langkah yakin, tetapi gurat di kening itu jelas menceritakan apa yang tersembunyi jauh di sudut hatinya. Momen yang pasti menegangkan bagi siapa saja ketika melepas putri kesayangannya. Di ujung langkahnya pria itu menyerahkan putrinya yang catik jelita itu kepada pria yang sedari tadi menunggu di depan altar. Seorang pria tampan yang datang dari negeri yang sangat jauh. Seorang pangeran yang berjanji akan memberikan seluruh jiwa dan raganya kepada boru sasada ini.

Saya melihat sorot mata yang tidak biasa ketika pria itu menyerahkan anak gadisnya kepada calon helanya itu. Walaupun tanpa ucapan kata-kata, calon helanya itu dengan berdiri tegap lalu membungkukkan badan  seakan sudah paham arti sorot mata itu. Mempelai pria itu kemudian menggandeng mempelai wanita menuju tempat duduk khusus di depan altar. Acara ibadah pun dimulai dengan menyanyikan lagu dari Buku Ende.

19883936_1830126773681759_2229878490707565801_nPuncak dari prosesi pemberkatan nikah itupun ditandai dengan ikras setia kedua mempelai dihadapan jemaat dan Tuhan. Kedua mempelai berjanji akan saling mencintai baik dalam suka maupun duka. Kedua mempelai juga saling menyematkan cincin ke jari manis sebagai tanda ikatan cinta kasih mereka. Puncak proses ini diakhiri dengan pimpinan ibadah menunpangkan tangan ke kepala kedua mempelai untuk meyampaikan berkat Tuhan sebagai tanda mereka berdua resmi sebagai suami istri.

Ibadah mengalir dengan penuh khikmad. Bapak Pendeta Butarbutar memimpin ibadah dengan teratur dan tutur kata yang sangat santun dan lembut. Bahasa Batak, Indonesia dan Inggris yang dia bawakan secara bergantian mengalir dengan sempurna. Pada saat kotbah Bapak Pendeta mengajak seluruh hadirin menyanyikan sebuah lagu batak legendaris yang sangat romatis.

Nasonang do Hita Nadua

Na sonang do hita na dua
Saleleng ahu rap dohot ho
Nang ro dina sari matua
Sai tong ingotonku do ho

Hupeop sude denggani basam
Huboto do tu ahu do roham
Nang ro dina sari matua
Sai tong ingotonku do ho

Dia berpesan kepada seluruh hadirin dan khususnya kepada kedua mempelai untuk saling mengasihi sepanjang hayat. Pak pendeta juga menterjemahkan syair lagu itu ke dalam bahasa Inggris agar mempelai laki-laki dapat memahaminya.

We are both always happy
As long as i'm with you
Until our old age
I will always remember you

I will remember all your kindness
I know your heart is always to me
Until our old age
I will always remember you

Ibadah tiga bahasa menjadi lebih lama, tetapi tidak membosankan. Waktu terasa berlari begitu cepat. Ibadah pemberkatan nikah inipun diakhiri dengan foto kedua mempelai bersama dengan orang tua mereka.

Bersambung ke bagian 10.

Iklan

Reunion (bagian 8)

Para ibu dan gadis-gadis tidak melewatkan backgraund yang cantik itu untuk berselfie ria. Segala macam gaya dan model mereka peragakan. Semua sudut-sudut yang indah mereka bidik. Seyum- seyum terbaik mereka perlihatkan. Gigi-gigi putih yang tadi pagi sengaja digosok dengan odol lebih banyak di tunjukkkan lebar-lebar. Satu…, dua…, tiga…, seyum… chisss…. Laman-laman Facebook pun mulai diramaikan oleh pose-pose mereka. Group-group WA pun tidak ketinggalan, membuat iri para saudara dan teman yang tidak bisa ikut di acara itu.

Waktu mendekati jam delapan pagi ketika sebuah mobil berhiaskan kembang memasuki halaman Confrence Hall. Mobil itu berhenti persis di depan pintu masuk yang juga dihiasi dengan kembang berbagai rupa dan warna. Seorang pria yang tidak asing lagi bagiku membuka pintu depan dan turun dari belakang setir mobil. Dia mengenakan baju safari abu-abu mengkilap, beda dari tampilan biasanya. Rambutnya yang agak keriting dan kumis tipisnya serta tubuhnya yang gempal membuat dia sangat gampang dikenali. Dia adalah anak namboruku yang tinggal di dekat terminal Parapat. Dia adalah pria pekerja keras yang selalu siap sedia mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya setiap kali keluarga kami mengadakan acara, bahkan bila kami hanya sekedar minta tolong. Pria itu kami kenal dengan Jin atau Bapak Iin.

Bapak Iin membuka pintu belakang dan dari sana turun seorang pria berkulit putih mengenakan stelan jas hitam rapih. Rambutnya yang berwarna coklat cerah dipotong pendek dan disisir rapih.  Pria itu menuntun tangan seorang wanita yang mengikutinya turun dari mobil. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang. Ditangannya ada rangkaian kembang dengan dominasi warna putih. Turun dari mobil, mereka berdua bergandengan tangan memasuki ruangan. Aura kebahagiaan dan suka cita tergambar dari raut wajah mereka. Senyum sumringah yang renyah selalu membuncah dari bibir mereka. Semua yang saudara dan undangan yang telah hadir datang mendekat menyambut kedatangan mereka. Suasana pagi itu semakin ceria penuh kegembiraan. Mereka berdualah bintang utama dari acara besar hari ini. Mereka berdualah mempelai yang akan mengikat janji hari ini untuk hidup bersama. Merekalah pengantin yang hari ini akan menjadi hela dan parumaen itu. Dialah Juha dan Inggrid.

Biasanya acara seperti ini diawali dengan acara sibuhabuhai, namun kali ini acara sibuhabuhai tidak dilakukan, melainkan hanya sekedar makan sarapan pagi, prosesi pemberangkatan dan diakhiri dengan doa oleh Tulang Napitu. Acara prosesi pemberangkatan ini tidak berlangsung lama karena jam sembilan tepat misa pemberkatan di gereja akan dimulai.

Dengan tidak membuang banyak waktu, kedua mempelai kembali ke mobil yang tadi membawa mereka ke sini. Semua orang juga bergegas menaiki mobil masing-masing dan mobil angkutan yang ada di sana.  Secara konvoi semua mobil bergerak menuju sebuah gereja besar yang tidak jauh dari gedung konfrence hall itu. Ansambel musik tiup yang menyanyikan lagu-lagu gereja mengawal konvoi itu. Tidak butuh waktu lama, kurang dari lima menit rombongan sudah tiba di depan gereja yang megah itu.

10471891_519435244852980_1790477322_nInilah Gereja HKBP Parapat yang menjadi salah satu icon baru kota Parapat itu. Inilah salah satu gereja terindah yang pernah dipunyai HKBP. Bangunan gereja ini mengambil ciri khas gereja-gereja eropa yang megah dan menjulang tinggi. Gereja ini juga dihiasi ornamen rumah bolon dengan gorganya yang menjadi identitas orang batak. Tanah yang berkontur membuat gereja ini semakin tampak perkasa berdiri di ketinggian. Dari halaman parkirnya kita harus mendongak ke atas untuk melihat salib yang ada di atas menaranya. Dari teras gereja ini kita akan memandang ke Danau Toba yang luas di depan. Rasanya kita berada di sebuah negeri lain ketika kita berada di halaman gereja ini. Inilah kali pertama saya ke gereja ini sejak selesai direnovasi. Di bangunan gereja yang lama saya pernah beribadah beberapa kali.

Hari ini ada dua pemberkatan nikah yang akan dilangsungakan di gereja HKBP Parapat. Juha dan Inggrid menjadi pasangan pertama yang akan mengikuti prosesi pemberkatan nikah, sehingga harus dilaksanakan lebih pagi.

bersambung ke bagian 9.

 

Reunion (bagian 7)

Jam tujuh pagi kami sudah mengenakan busana dan penampilan terbaik kami. Isteriku dan anak-anak mengenakan kebaya dan gaun yang telah dijahitkan di tukang jahit terbaik itu. Saya mengenakan kemeja dan dasi jatah yang sengaja dibeli panitia dengan warna yang sama. Sementara jas yang saya kenakan adalah jas abu-abu yang dulu saya beli di rest area km 98 Tol Purbalenyi (Orang-orang masih menyebutnya dengan Tol Cipularang) dengan harga super discount. Jam setengah delapan kami harus sudah berkumpul di gedung Confrence Hall untuk memulai acara besar yang akan kami gelar hari ini. Dari Sipanganbolon kami menaiki angkutan yang dikendarai oleh Tulang Rudol. Mobil angkutannya Tulang Rudol ini sengaja di pesan sepanjang hari ini untuk mengangkut siapa saja yang akan ke acara itu.

Di dalam angkutan itu ada saya, mama, Aurora Ayugeera, Aletona, ompung Arga, Arga, dan inanguda Pahae. Di dalam angkutan itu juga ada beberapa tandok besar berisi beras yang akan digunakan dalam prosesi acara nanti dan beberapa dus air mineral. Tidak lebih dari 15 menit kami sudah tiba di Confrence Hall. Gedung ini berada persis di tepian Danau Toba. Gedung ini adalah bangunan milik Pemda Simalungun yang digunakan untuk melaksanakan pertemuan dan rapat-rapat untuk membicarakan kesejahteraan rakyat di sana. Karena gedung ini tidak digunakan tiap hari, maka banguna ini disewakan juga kepada masyarakat umum yang akan menggunakannya.

Gedung ini mengambil bentuk rumah adat Simalungun yang jelas terlihat dari bentuk atapnya. Dari sisi kanan, kiri dan belakang gedung ini kita bisa menyaksikan keindahan Danau toba. Kita bisa melihat airnya yang biru dan berkilauan ketika di sinari matahari, demikian juga dengan bukit-bukit batu yang dengan kokoh memagarinya. Dari sebelah kanan bangunan kita bisa melihat dengan jelas Pulau Samosir di ujung sana. Hanya saja lingkungan bangunan ini kurang tertata. Trotoar atau pedestarian jalanan yang dibuat asal-asalan membuat pejalan kaki tidak nyaman melintasinya. Para pedagang souvenir yang hampir menutupi seluruh pinggiran jalan dengan kios-kios yang sangat tidak enak dipandang. Demikian juga dengan bibir pantai yang hampir seluruhnya tertutup oleh tenda-tenda kusam dan pondok-pondok darurat. Semua itu mengurangi kemolekan Danau Toba dan Kota Parapat yang sudah terkenal keindahannya sejak dahulu. Sekarang keindahan itu terlihat seperti lukisan indah tak berbingkai.

Pagi ini acara super spesial itupun akan segera dimulai. Acara pernikahan itupun akan segera digelar. Mengapa acara ini begitu spesial?. Bagitu banyak alasan sehingga acara ini menjadi sangat spesial. Momen menikah itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang sangat spesial. Menikah adalah menyatukan dua individu yang berbeda dan akan memulai kehidupan bersama dengan segala kekurangan masing-masing. Apakah itu bukan sesuatu yang tidak spesial?. Yang menikah adalah putri satu-satunya dari abang tertua saya, sehingga hanya sekali inilah dia Pamuli Boru dan memberikan Ulos Hela. Putri abangku ini menikah dengan seorang pria yang berasal dari negeri yang sangat jauh. Saya menyebutnya dari ujung dunia. Dia berasal dari Finlandia. Dua budaya yang sangat berbeda akan dipadukan, budaya Eropa dengan budaya Batak. Ini sesuatu yang luar biasa bagi kami, walaupun bagi orang lain ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Kami sangat berharap kedua mempelai bisa menjalani budaya yang sangat berbeda ini dengan baik sampai mereka Saur Matua. 

Hal yang bagiku membuat acara ini menjadi lebih spesial adalah karena acara ini dilaksanakan di tanah kelahiran ompung kami. Sesuatu yang tidak pernah kami impikan dan bayangkan sebelumnya, walaupun saya pernah berharap. Mempelai pria lahir dan besar di Finlandia, mempelai wanita lahir dan besar di Makassar, mereka berdua tinggal di Batam, orang tua mempelai wanita tinggal di Papua, kami saudara-saudaranya kebanyakan tinggal di seputaran Jakarta, sehingga sangat kecil kemungkinan acaranya dilakukan di kampung. Bukankah lebih bergengsi kalau acara itu dilakukan di kampung mempelai pria. Mungkin saya juga bisa ikut nebeng ke sana. Eropa lo… Atau mungkin di tempat tinggal mereka di Batam, sehingga teman dan sahabat-sahabat mereka bisa ikut menghadirinya. Atau di Papua saja tempat tinggal orang tua mempelai wanita. Atau mungkin di Makassar, Jakarta atau sekalian di Pulau Dewata Bali agar lebih keren. Namun kedua mempelailah yang menginginkan pernikahan mereka dilaksanakan di kampung.

Mempelai pria ingin langsung merasakan adat batak sejak pertama ia menjadi menantu orang batak, dan dia ingin merasakannya langsung di kampung. Sementara itu mempelai wanita ingin menunaikan janjinya sekitar setahun sebelumnya. Ketika itu dia diutus oleh bapaknya untuk menghadiri pernikahan seorang saudara di Siantar. Sepulang dari Siantar dia mengikuti kebaktian minggu di gereja di kampung dan di sana dia berdoa agar Sang Maha Pemurah menunjukkan jodoh baginya. Bila permintaan itu terkabul, dia berjanji untuk melangsungkan pernikahan di kampung. Dan ternyata dalam waktu yang tidak lama permintaan itupun dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Namun terlepas dari itu semua saya seakan merasakan ada sebuah kuasa besar diluar diri dan kemampuan kami yang mengatur agar momen itu berlansung di kampung. Yang memiliki kuasa besar itu menginginkan agar kami semua yang bersaudara semakin dekat satu dengan yang lain. Agar kami bisa berkumpul bersama di tanah leluhur kami. Agar kami bisa melakukan reuni mengenang masa kecil kami. Saya yakin Sang Penciptalah yang berkehendak agar momen ini membuat kami semakin mengasihi satu dengan yang lain. Kami hanya bisa berencana, tetapi kehendak-Nyalah yang jadi.

19884120_886218054868670_1034463698647776280_nSetibanya di Confrence Hall kami langsung bercengkrama dengan saudara-saudara yang telah ada di sana. Ada Tomy, isterinya dan Yusa. Tomy terlihat semakin kebapakan dengan Yusa yang ada dipangkuannya.  Ada juga Bill dengan tubuh gempalnya dengan brewok yang kian memanjang dan Nuel yang kurus tinggi bagaikan tiang listrik itu. Ada juga di sana saudara-saudara dari Toraja yang sudah berdandan dengan penampilan terbaik mereka. Satu-persatu saudara-saudara berdatangan dan ruangan semakin ramai.

Pagi itu kami awali dengan menikmati hidangan sarapan pagi dengan menu nasi putih dan lauknya daging sapi. Pagi ini kami semua harus mengisi penuh perut kami, agar kami kuat mengikuti acara panjang ayang akan berlangsung seharian, bahkan mungkin kan sampai malam hari. manu memang hanya nasi putih hangat dengan daging sapi yang dimasak dengan bumbu rendang, tetapi udara pagi yang langsung berhembus dari danau membuat makan pagi itu menjadi nikmat tiada tara. Teras belakang gedung yang langsung menghadap ke danau juga menambah nikmat suasana makan kami. Hari yang masih pagi membuat warna danau menjadi biru segar, hingga mata tak bosan-bosannya memandangi kemolekannya.

19959170_886400668183742_4849735931024723575_nPara ibu dan gadis-gadis tidak melewatkan backgraund yang cantik itu untuk berselfie ria. Segala macam gaya dan model mereka peragakan. Semua sudut-sudut yang indah mereka bidik. Seyum- seyum terbaik mereka perlihatkan. Gigi-gigi putih yang tadi pagi sengaja digosok dengan odol lebih banyak di tunjukkkan lebar-lebar. Satu…, dua…, tiga…, seyum… chisss…. Laman-laman Facebook pun mulai diramaikan oleh pose-pose mereka. Group-group WA pun tidak ketinggalan, membuat iri para saudara dan teman yang tidak bisa ikut di acara itu.

19875379_1830014750359628_5609624408322651782_n

 

Bersambung ke bagian 8.