Biarkan Mereka Terseyum di Atas Sana

Tanggal 28 januari 2009 sekitar pukul 4 sore hp-ku berbunyi, “Tulang…! Nungga monding oppung boru” /terj: Tulang….! Oppung boru sudah meninggal/ suara Emi di ujung telepon. Ponakanku Emi memberitahukan kalau opung borunya yang juga ibuku telah meninggal. Itulah berita kematian pertama yang aku terima lewat hp-ku di tahun ini. Selang beberapa bulan kemudian aku mendapat berita meninggalnya Bapa Uda Desima di Belawan. Di bulan Mei kemarin berita meninggal juga aku terima dari Jamonton dan juga dari Herland. Orang tua (bapak) mereka meninggal. Bapaknya Jamonton meninggal karena kecelakaan sedangkan bapakya Herland meninggal karena sakit. Terahir seminggu yang lalu Tulang UKI (Tulang Maruhal yang tinggal di belakang kampus UKI) menelepon aku “Nungga lao be oppungmu” /terj: nenekmu sudah meninggal/, suara Tulang Uki, memberitahukan kalau ibunya baru saja meninggal di kampung .

Demikianlah setidaknya 5 berita kematian yang aku terima dari orang-orang dekatku dalam enam bulan ini. Kematian akan orang yang sangat mereka sayangi. Berita-berita itu tentu saja membuat aku sedih. Membuat aku ikut berduka. Walaupun tidak sampai membuat aku menangis untuk 4 berita kematian terahir yang aku sebut di atas. Mungkin air mataku sudah kering setelah kematian ibuku. Mungkin juga aku menjadi lebih kuat setelah kepergian ibuku, karena sepeninggal ibuku banyak apul-apul /terj: penghiburan/ yang kami terima agar kami tidak larut dalam kesedihan. Agar kami bisa mengerti dan memaknai bahwa kematian adalah jalan menuju sorga dan bertemu dengan sang pencipta.

Kematian memang meninggalkan segudang makna, pesan, pelajaran, peristiwa, kisah dan mungkin persoalan. Kadang-kadang di sela-sela peristiwa kematian ada saja terselip cerita-cerita lucu atau unik. Ketika ibuku meninggal kami kaget melihat abang kami yang paling tua, giginya ompong. Kakak saya bertanya ke abang “ Ai nandingan lobangon hamu ito?” /terj: kapan gigi abang ompong..?/. Lalu Abang menjelaskan “Molo adong halak marnipi iponna maponggol, berarti napaboahon na naeng adong do pamilina monding, alai molo au dang nipi. Botul-botul do iponhu maponggol. Baru dope lobangon au sebelum inanta monding.” /terj: Kalau seseorang bermimpi giginya patah, berarti memberitahukan akan ada familinya yang meninggal, tetapi kalau aku bukan mimpi. Benar-benar gigi saya patah. Ompong saya ini masih baru sebulum ibu kita meninggal/.

Ada tetangga kami (sebut saja namanya ibu Ani) yang memiliki kisah unik dengan kematian. Suatu ketika ada orang meninggal di kampung seberang. Ibu Ani bersama dengan tetangga-tetangga yang lain pergi maningkir /terj: melayat/. Di acara melayat tersebut ibu Ani mendapat tugas memberikan kata-kata turut berduka cita. Sebenarnya dia sangat berat menerima tugas itu, karena dia tidak bisa bicara serius dan belum pernah melakukan hal seperti itu. Tetapi karena didesak oleh teman-temannya akhirnya dia terima juga. Tibalah giliran ibu Ani memberikan kata ucapan duka cita. Kalimat pertama dan kedua masih lancar, tetapi selanjutnya dia tidak tau lagi mau mengatakan apa. Dia mulai grogi, keringatan dan bingung. Sejenak suasana hening. Semua orang menunggu kata-kata yang selanjutnya akan dia ucapkan. Tetapi benar-benar dia sudah kehilangan kata-kata. Di tengah kepanikannya muncul sebuah ide cemerlang di otaknya. Dia lansung maju menghampiri jenazah dan menangis sejadi-jadinya. Semua orang terharu melihat kejadian itu. Air mata buayanya telah menyelamatkan dia dari kepanikan dan mengakhiri kata-kata dukacita dengan kesan yang mendalam dari semua orang. Ada-ada saja…..

Ketika bapak saya meninggal, setiap malam selalu ada orang orang yang main kartu. Katanya harus selalu ada yang bangun jaga malam. Jadi sambil jaga malam, mereka bermain kartu. Satu ketika ada satu kelompok pemain kartu yang kekurangan pemain satu orang lagi. Mereka mencari orang yang mau bergabung bermain kartu dengan mereka tetepi tidak dapat. Bahkan mereka membanguni orang yang sedang tidur, tetapi tidak ada juga yang mau. Satu dari mereka kesal dan mengatakan “Molo dang adong be naolo markartu dohot hita, Tulang i ma dungoi ba manambai pemain!” /terj: kalau tidak ada lagi yang mau main kartu dengan kita, Tulang itulah banguni menambah pemain/. Maksudnya jenazah bapak saya. Ha..ha..ha..ha..

Hal-hal unik dan lucu di sela-sela peristiwa kematian mengurangi sedikit kesedihan kita. Menurunkan ketegangan di kepala kita dan mengejak bibir kita sejenak terseyum di antara derai air mata. Buat keluarga Amanguda Desima di Belawan, Keluarga Jamonton, Keluarga Herland keluarga Tulang UKI dan semua keluarga yang baru saja melepas kepergian orang yang disayangi, tetap semangat. Jadilah lebih kuat dari sebelumnya. Mari kita wujudkan cita-cita dari orang yang kita sayangi itu sehingga mereka terseyum di atas sana.

Iklan