PULANG KAMPUNG (Part 3….?)

Namun tak lama kemudian mereka pamit karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah tulang sibuttuan. Tulang sibuttuan adalah adik ibuku yang tinggal di kampung sibuttuon sekitar 1 km dari rumah orang tuaku. Tulang itu baru meninggal setahun yang lalu.
………………………………

cimg0104Sebelum cerita pulang kampung ini selesai ditulis, ada sebuah kejadian luar biasa yang memaksa penulis untuk menghentikannya. Tepatnya tanggal 28 januari 2009, sebuah berita yang sangat tidak diinginkan memaksa penulis untuk segera kembali pulang ke kampung. Ibu yang sangat saya cintai yang saya ceritakan di cerita pulang kampung tersebut dipanggil Yang Maha Kuasa.

Belum lagi aku lupa seyum itu. Senyum tulus yang engkau hadiahkan untuk meyakinkan kami kalau kau baik-baik saja. Rasa Hangat jemarimu pun masih terasa di genggamanku. Jemari yang tampa pamrih telah menghantarkan kami ke kehidupan yang layak dalam ukuran kehidupan yang luhur. Sorot matamu masih jelas tergambar di hadapanku. Sorot mata yang selalu menjagai kami bila kami lalai, lemah atau tersesat. Suaramu yang lemah, nyaris berbisik masih jelas bersemayam di telingaku. Suara yang selalu mengajar kami akan kebaikan dan kehidupan yang lebih baik. Keriput di wajahmu yang menggambarkan masa-masa sulit yang kau lalui masih segar di benakku.

Namun kini engkau telah pergi untuk selamanya tanpa sepotong kata-kata berpisah. Tanpa seucap selamat tinggal. Rasanya waktu berlari begitu cepatnya dan aku tak sanggup mengejarnya. Aku bingung, aku kacau, aku tak tau harus berbuat apa-apa. Rasanya tulang-tulangku rontok bagaikan gelas yang jatuh di atas lantai. Pecah berkeping-keping dan terhambur beserakan di lantai. Rasanya langitku runtuh saat itu. Seketika duniaku gelap

Yang ada hanyalah sejuta penyesalan yang tak kupahami mengapa aku mesti menyesal. Yang tertinggal hanyalah berjuta kenangan yang hari ini aku tak sanggup memaknainya.
Aku bingung dengan air mata yang meleleh di pipiku. Air mata yang tak sanggup aku bendung jatuh hingga ke tanah. Membasahi tanah di halaman rumah kita.

bersambung…..

Iklan

Selamat Natal 2008

christmas-balls-2Titik-titik bening jatuh dari langit
Membasuh kulit bumi yang makin keriput
Udara dingin di penghujung tahun
Menyelimuti tubuh-tubuh bersahaja dengan hati yang sederhana

Orang-arang ramai-ramai bergegas ke sawah
Menyemai benih-benih pengharapan
Mencabut semai yang telah tumbuh itu
Lalu menanamnya di lahan-lahan kehidupan
Agar tumbuh sempurna sehingga saatnya nanti menghasilkan buah-buah berkat.

Titik-titik bening itu tidak menghalangi langkah-langkah menuju sawah
Titik-titik itu adalah anugrah yang harus disukuri
agar benih-benih kehidupan tembuh sempurna

Disana, di tepi sawah-sawah itu
Terdengar sayup-sayup lonceng gereja memanggil-manggil
Menyuarakan aroma natal yang kian mendekat
Memberitakan kabar gembira kelahiran mesias

Hari berganti malam
Orang-orang yang tadi siang bergumul dengan lumpur sawah
Menanam padi-padi kehidupan
Malam ini mereka berkumpul di sebuah gereja mungil
Melantunkan malam kudus dengan iringan poti marende
Melafalkan ayat-ayat suci
Memanjatkan doa-doa syukur dan pengharapan

Aroma natal bersatu dengan ritual menanam padi
Sebuah kolaborasi sederhana yang sarat makna
Sebuah momen yang sangat ditunggu sejak awal tahun
Ditunggu oleh anak-anak yang akan melafalkan “dimula ni mulana ditoppa debata ma langit dohot tano”
Ditunggu oleh kaum muda yang ingin “martina” (pacaran waktu natal)
Ditunggu oleh kaum ibu yang ingin mengenakan kembali sanggul yang telah setahun tersimpan dilemari
Ditunggu oleh kaum bapak yang ingin megenakan dasi dan jas kesayangannya
Ditunggu oleh orang tua yang anaknya akan pulang dari dari rantau
Ditunggu oleh semua.

Selamat natal 2008
Tuhan memberkati kita semua

selamatnatal1

Sipanganbolon1

sipanganbolon11Menurut cerita para orang tua, kata sipanganbolon berasal dari dua kata sipangan dan nabolon. Konon beberapa waktu yang lampau ada seekor gajah terjepit di sebuah tempat di harangan sitahoan. Tempat itu kemudian dikenal dengan Songsongan Gaja. Karena gajah itu tidak bisa melepaskan diri, akhirnya mati dan orang-orang di sana menyembelih gajah tersebut dan dimasak lalu dimakan rame-rame. Demikianlah gajah yang merupakan hewan besar dimakan dan terciptalah Kata Sipanganbolon.

Sipanganbolon adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. Ke sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tanah Jawa, ke sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir dan ke sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Girsang. Sipangan bolon berjarak sekitar 8 km dari kota Parapat- ibu kota kecamatan, 40 km dari kota Pematang Siantar-ibu kota kabupaten dan sekitar 182 km dari kota Medan-ibu kota provinsi.

Sipanganbolon terdiri dari beberapa kampung atau huta yaitu Sigala-gala, Paropo, Sibuttuon, Sitabu, Simandalahi, Simaibang, Suhutmaraja, Paras, Sosordolok, Sibaulangit, Sidasuhut, Porti, Sidahapintu, Sidallogan, Pussu dan Sosorpea. Penduduk asli adalah suku Batak Toba dan didominasi marga Sinaga.

Menanam Padi

Kontur tanah Sipanganbolon merupakan tanah berbukit sehingga jarang ditemukan dataran yang cukup luas. Hal ini merupakan ciri dari semua daerah yang terletak dikaki pegunungan Bukit Berisan. Pendudukmayoritas bekerja sebagai petani. Sebelum tahun 90-an hampir seluruh penduduk sipanganbolon mengandalkan sawah sebagai sumber penghasilan utama, namun setelah tahun 90 para petani banyak beralih dari sawah ke ladang, yaitu pertanian tanah kering. Beberapa kawasan persawahan di Sipanganbolon adalah Sigala-gala, Lokkung, Hole, Sitabu, Gabbiri, Adaran, Sidolon-dolon, Ramba Toruan, Binanga, Sitalolo, Sibolangit, Pussu, Porti, Sidahapintu dll.

Varietas Padi yang ditanam adalah padi lokal seperti Sirambe, Sikawat, dll. Varietas ini adalah jenis padi yang berumur lebih panjang dibanding varietas unggul separti IR. Karena varietas ini lebih lama maka penanaman padi dilakukan sekali dalam setahun.

Untuk mengolah sawah, pekerjaan pertama adalah membersihkan lahan dari rumput dan tumbuhan liar yang tumbuh di lahan setelah sekianlama dibiarkan. Pekerjaan ini dilakukan dengan membalikkan tanah yang sering disebut dengan mangombakbalik. Kegiatan ini dilakukan sekitar bulan September. Setelah itu lahan kembali dibiarkan selama satu bulan. Satu bulan kemudian lahan diolah separti perlakuan pertama. Pada akhir oktober atau awal novenber padi disemaikan. Setelah pengolahan kedua, lahan diolah kembali, digemburkan, pematang sawah dibersihkan dari rumput, tanah disisir, diratakan dan pertengehan desember padi yang disemaikan dicabut dan dipindahkan kelahan yang sudah siap ditanam.

Acara tanam padi bagi saya adalah suatu momen yang unik, karena pekerjaan ini dilakukan dengan berjalan mundur. Selain unik peristiwa ini juga menyenagkan. Makan siang pasti enak karena dipersiapkan khusus oleh yang punya sawah. Lauknya biasanya adalah ikan mas yang diarsik atau digoreng. Ikan mas ini jauh lebih enak dari ikan mas yang ada dipasar karena ikan mas ini diambil dari kolam sendiri. Biasanya setelah panen sebagian sawah dibuat menjadi kolam ikan mas. Selesai makan siang kita akan tidur sejenak dan inilah acara tidur terenakdi dunia, walaupun beralaskan rumput dan beratapkan langit. Suara air yang mengalir di pancuran menjadi musik yang indah, bau lumpur sawah menjadi aroma terapi, hembusan angin membelai kulit dan sinar mentari memberikan kehangatan. Benar-benar menyenangkan.

Setelah padi ditanam, lahan harus tetap diperhatikan terutama agar air di sawah tersebut tidak kering dan tidak banjir. Sekitar 2 minggu kemudian dilakukan pemupukan pertama. Sebulan kemudian rumput (oma-oma) yang tumbuh di antara batang-batang padi dan di pematang sawah dibersihkan. Kegiatan ini disebut marbabo. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut parbabo. Kadang kadang istilah parbabo ini diplesetkan menjadi parbada bolon…he…he…he… Parbabo biasanya adalah kaum perempuan. Mengapa? karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang memerlukan kesabaran, bukan dengan tenaga yang luar biasa seperti halnya mencangkul atau mambanting.

Untuk keperluan marbabo ada peralatan khosus yang dipakai yang disebut dengan tuil (kalau gak salah). Alat ini terbuat dari kaleng yang ditekuk berbentuk silinder dan pas bila dimasukkan ke jari. Jari yang dikenai alat ini adalah jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking, tapi jempol juga kadang-kadang dipakaikan. Alat ini berfungsi untuk melindungi jari dan sebagai alat untuk mencabut rumput dan menggemburkan tanah dengan jari. Kalau kaum perempuan marbabo, laki-laki membersihkan rumput yang tumbuh di pematang sawah. Alat yang digunakan untukmembersihkan pematang sawah adalah pangali dan balibak.

Sekitar dua bulan kemudian bunga padiakan mulai muncul atau sering disebut dengan boltok. Bunga padi yang muda ini kalau dimakan rasanya manis dan inilah satu sebab mengapa tikus tertatik memakan bunga-bungan padi yang masih muda. Beberapa waktu kemudian bunga padi ini akan berubah menjadi biji. Disaat biji padi mulai terbentuk, burung-burung pemakan biji seperti apporik akan menjadi hama pengganggu. Burung-burung ini akan semakin banyak sejalan dengan semakin matangnya biji-biji padi.

Setelah padi menguning, air dihentikan dan sawah dikeringkan. Hal ini bertujuan agar proses pematangan biji padi lebih optimal dan untuk mempermudah proses pemanenan. Setelah seluruh biji-biji padi menguning dan benar-benar matang, padi pun siap dipanen. Proses pemanenan dilakukan dalam dua tahap yaitu pemotongan dan perontokan. Proses pemotongan dan perontokan biasanya dilakukan pada hari yang berbeda, tetapi bila kedua gegiatan ini dilakukan pada hari yang sama, disebut sabi-batting. Pemotongan yang disebut dengan manabi, dilakukan dengan menggunakan sabit. Padi yang sudah dipotong ditumpuk dalam tumpukan-tumpukan kecil yang disebut dengan tibalan. Tibalan-tibalan ini dikumpulkan dalam satu tumpukan besar yang disebut dengan luhutan. Luhutan ini persis seperti kue bolu raksasa, atau miniatur stadion senayan. Ukuran besar dari luhutan ini didasarkan pada berapa lapis tumpukan batang padi yang menjadi dasar luhutan tersebut. Lapisan-lapisan ini disebut dengan sittak. Semakin banyak sittak dari sebuah luhutan, semakin besar pula ukuran dari sebuah luhutan. Ukuran luhutan disebut besar bila lebih dari 7 sittak. Pada pemotongan padi ini, ada kalanya beberapa bagian batang padi yang tidak dipotong karena belum benar-benar menguning. Padi yang belum menguning ini disebut dengan turiang.

Proses selanjutnya adalah merontokkan biji atau butir-butir padi. Proses ini dilakukan dengan dua cara dibanting atau didege. Didege yaitu, butir padi dirontokkan dengan cara diinjak-injak. Ini dilakukan oleh para petani yang dulu-dulu yang belum mengenal bantingan. Menurut cerita dari orang tua saya, sering kali mardege ini dilakukan sampai malam, karena prosesnya memang cukup lambat. Orang yang tidak biasa akan mengalami kesulitan karena telapak kaki akan mengalami iritasi bahkan sampai berdarah akibat bergesekan dengan kulit padi yang kasar.

Namun sudah lama kegiatan mardege ini ditinggalkan karena tidak efektif. Mambanting adalah penemuan berikutnya untuk merontokkan butir padi. Proses ini memerlukan seperangkat alat bantingan dan terdiri dari beberapa orang personil. Bantingan terbuat dari kerangka kayu yang dibentuk seperti kotak, panjang 2m, lebar 1m, tinggi 2,5m dindingnya dibalut dengan tenda plastik dan di tengahnya ada sebuah rak yang nantinya dimana kita membantingkan untaian padi sehingga terlepas dari batangnya. Personil dalam proses mambanting terdiri dari pangahit yaitu orang yang memindahkan tumpukan padi dari luhutan ke sipembagi, pambagi adalah orang yang membagi tumpukan padi menjadi tumpukan yang lebih kecil (ukuran sekali genggam dengan dua tangan), Pamiur yaitu orang pertama yang membantingkan padi, nomor dua yaitu orang kedua yang membantingkan padi setelah dari pamiur, nomor tiga adalah orang yang membantingkan padi setelah nomor dua, pambuang adalah orang yang membuang batang padi yang telah ditinggal oleh butir-butir padi (durame), panarsari yaitu orang yang bertugas mengumpulkan dan membersihkan durame dari tempat pambantingan.

Proses mambanting ini terlihat separti proses di sebuah pabrik yang bergerak otomatis dari satu proses ke proses berikutnya. Proses ini juga menghasilkan bunyi-bunyian yang harmonis seperti permainan musik. Indah dan harmonis sekali dilihat dan didengar. Secara umum kegiatan mambanting adalah kegiatan yang menyenangkan, walaupun kegiatan ini menguras banyak tenaga hingga keringat akan bercucuran seperti biji-biji jagung, sehingga ada istilah keringat jagung. Tetapi ada satu hal yang tidak saya suka setiap kali mambanting yaitu debu yang dihasilkan dari kulit padi yaitu rogon. Rogon ini sagat menggangu hidung dan rasanya perih di seluruh kulit yang dikenainya.

Setelah seluruh butir-butir padi selesai dirontokkan, dilanjutkan dengan mamurpur yaitu memisahkan padi yang berisi dengan padi kosong atau lapung. Proses ini memanfaatkan hembusan angin. Tenda plastik yang membungkus bantingan dilepas dan rak yang sebelumnya ada dibagian tengah dinaikkan ke atas. Dua orang pamurpur akan naik ke atas bantingan yang tingginya kira-kira 2,5m. Satu orang bertugas menerima kantong-kantong berisi padi yang masih kotor dan saru orang lagi bertugas menaburkan padi dari atas bantingan. Apabila angin cukup kencang, maka otomatis lapung akan ditiup angin jauh meninggalkan butir padi berisi yang jatuh tepat dibawah si penabur. Apa bila angin tidak bertiup atau tiupannya lambat, maka diperlukan angin buatan dengan menggunakan anduri dengan cara mengipas.

Proses terahir dari seluruh rangkaian acara panen ini adalah mengumpulkan padi yang telah bersih, memasukkannya ke dalam karung plastikatau karung goni selanjutnya dibawa pulang ke rumah. Dari seluruh rangkaian proses panen, proses inilah proses yang paling memberatkan, karena kita akan memundak kantong-kantong padi yang beratnya di atas 50 kg (ada yang sampai 80kg) melewati jalan yang berliku, menanjak, menurun, melewati sungai, melewati titian bambu hingga berkilometer jauhnya. Dalam memundak ini, tidak sedikit orang yang sipanggaron memaksakan diri memundakdengan berat yang tidak masuk akal. Mungkin ini satu penyebab banyak orang disana bertubuh pendek.

Demikianlah rangkaian panen ini berlansung dengan segala susah senangnya. Jujur, lebih banyak senagnya. Bisa bermain di atas durame, meniup trompet yang terbuat dari batang padi dan banyaklagi permainan selama masa panen.

my wonderfull office, 26 juni 2008

sangMatahari

Pohon Pisang di Belakang Rumah

Waktu aku anak-anak, di samping kiri belakang rumah kami ada serumpun pohon pisang. Jenis pisang itu adalah pisang kepok, tapi orang-orang di kampung kami mengenalnya dengan pisang sitabar. Aku lupa entah darimana ibuku mengambil bibitnya kemudian ditanam di situ. Kalau aku tidak salah bibitnya diambil dari anakan pohon pisang yang ada dipekarangan rumah Oppung Toruan. Oppung Toruan adalah inang tua ibuku yang tinggal sekitar 50 m ke arah toruan dari rumah kami. Kami biasa memanggil sanak saudara sesuai dengan nama tempat tinggal mereka seperti Oppung Siattar, Oppung Paropo, Namboru Parapat, Namboru Timuran, Amangtua Girsang, Amangtua Banua, Tulang Sitabu, Inanguda Pahae, Inanguda Bandarbetsi, Abang Ujungpandang dan sebagainya. Kapan-kapan aku akan ceritakan tentang mereka.

Kembali ke masalah pohon pisang itu. Menurutku pohon itu luar biasa, karena dia lebih subur dari semua pohon pisang yang ada di sekitarnya. Batangnya besar-besar dan tinggi-tinggi, buahnya banyak dan rasanya cukup manis, bahkan sering kami makan tanpa terlebih dulu dimasak. Padahal pisang jenis ini biasanya dikonsumsi setelah digoreng atau direbus. Pisang jenis ini bukanlah jenis pisang yang biasa langsung dimakan seperti jenis pisang ambon, barangan, singali-ngali atau yang lainnya.

Awalnya aku heran mengapa pisang ini lebih subur dari yang lain. Ternyata penyebabnya adalah karena persis dekat pohon pisang itu ada kandang babi. Kotoran dari kandang babi itu telah menjadi sumber gizi terbaik bagi kemakmuran pohon pisang tersebut. Antara pohon pisang dengan babi yang ada di kandang itu telah terjadi simbiosis mutualisme. Kotoran babi menjadi pupuk dan sebagian daun pisang dimakan babi. Mereka telah lama hidup rukun dan saling menguntungkan. Sekali-sekali manusia perlu belajar ke mereka tentang kerukunan.

Ada kebiasaan masa kecil yang sering aku lakukan dibalik pohon pisang tersebut. Aku sering kencing di balik pohonnya yang besar. Pohon itu sanggup menutupi aku dari pandangan orang yang munkin lewat. Sebenarnya waktu itu, kami sudah memiliki WC, tetapi karena jaringan air bersih belum ada, jadi kebutuhan air untuk WC itu kami ambil dari air hujan yang ditampung dari talang atap rumah dan dikumpulkan dalam satu bak. Bila musim hujan air memang melimpah, tetapi bila musim kemarau air di bak kami akan surut, bahkan kadang-kadang sampai kering. Nah disaat musim kemaraulah rumpun pohon pisang itu menjadi tempat kencing terbaik dan praktis bagiku. Ini kebiasaan yang tidak boleh ditiru.

Banyak keuntungan yang kami dapatkan dari pohon pisang itu, terutama dari buahnya. Setiap kali dia berbuah dan buahnya dipanen, kakakku atau ibuku akan memasak sebagian buahnya. Sebagian lagi kami makan tanpa dimasak dan sebagian lagi kadang dimakan oleh musang atau burung waktu masih tergantung di pohonnya. Kakakku cukup pintar mengolah buah pisang itu menjadi makanan yang enak, kadang digoreng, dikolak, digoreng jadi keripik, dibuat lappet (kami menyebutnya lappet pisang karena biasanya lappet terbuat dari tepung beras). Tetapi kalau ibuku yang mengolah pisang itu, paling hanya direbus “dibolgang”. Walaupun hanya direbus, rasanya tetap enak dan kami biasa membawanya ke ladang atau ke sawah menjadi penganan disaat istirahat.

Selain buah, daunnya juga kami manfaatkan. Daunnya bisa dijual ke pekan Tigaraja, atau digunakan menjadi bungkus lappet. Di rumah lumayan sering memasak lappet untuk makanan bila ada acara arisan, partangiangan, atau hanya sekedar dibawa ke ladang atau ke sawah sebagai pengganti roti. Di kampungku waktu itu masih jarang ada roti. Kalaupun ada di warung “kode” paling roti kelapa, roti bulan dan roti ketawa. Disebut roti kelapa, karena isinya adalah kelapa parut yang dicampur gula. Disebut roti bulan karena bentuknya bulat pipih persis seperti bentuk bulan disaat purnama. Disebut roti ketawa karena roti ini besarnya sebesar bola gof, tetapi kulitnya pecah-pecah seperti bibir orang yang sedang tertawa. Daun pisang ini juga sering digunakan abang dan kakakku untuk membungkus nasi bila mereka sekolah sore. Waktu itu belum ada tapper wear seperti yang dibawa anak TK jaman sekarang ke sekolahnya. Waktu itu ada kebiasaan sekolah sore, yaitu pelajaran tambahan pada sore hari di sekolah, satu atau dua bulan menjelang ujian akhir (EBTANAS). Pagi-pagi sekali abang dan kakakku akan menyiapkan bekal untuk makan siang di sekolah. Nasi dimasak diperiuk “hudon” diatas tungku “tataring” dengan bahan bakar kayu “soban”. Lauknya biasanya telur dadar atau ikan teri digoreng kering, kadang-kadang digoreng sambal. Setelah nasi dan lauknya matang, kemudian dibungkus dengan daun pisang yang telah disiapkan sebelumnya. Daun pisang ini kadang-kadang sudah terlebih dahulu dipanaskan di dekat api agar lebih lentur sehingga tidak robek bila digulung dan dilipat waktu membungkus. Proses ini harus dilakukan dengan cepat agar tidak terlambat tiba di sekolah. Jarak sekolah mereka dari rumah kami sekitar 10 km. Kehidupan waktu itu adalah susah untuk ukuran jaman sekarang, tetapi waktu itu kami bisa menikmatinya dan bahagia. Percaya atau tidak, aroma makanan yang telah dibungkus dengan daun pisang ini akan menjadi unik dan menambah selera makan.

Selain untuk membungkus makanan, daun pisang tersebut dipakai juga untuk alas bila ada kegiatan memotong babi atau kerbau. Kegiatan memotong ini dilakukan pada saat ada acara pesta atau pada saat natal dan tahun baru. Memotong babi atau kerbau pada saat natal dan tahun baru disebut marbidda. Babi atau kerbau dipotong dan dibagikan dengan bagian yang sama kepada seluruh warga. Untuk membuat bagian menjadi sama digunakan alat timbangan yang terbuat dari batang kayu berbentuk lengan yang sama panjang ke kiri dan ke kanan. Lain waktu akan aku ceritakan tentang marbidda ini.

Karena pohon pisang itu cukup tinggi, maka untuk mengambil daunnya harus memakai alat bantu. Pohon pisang bukanlah jenis pohon yang bisa dipanjat. Alat bantu itu adalah sebuah sabit yang diikatkan di ujung sebuah galah panjang. Galah diarahkan ke atas menuju pangkal pelepah daun pisang. Setelah sabit persis berada di atas pelepah, galah tiba-tiba dihentakkan dan pelepahpun akan terpotong dan jatuh ke tanah bersama daunnya. Pelepah dipisahkan dari daunnya, kemudian daun digunakan sesuai dengan keperluannya.

Sementara itu pelepahnya sering dibuang. Tetapi menurutku anak-anak disana termasuk kreatif. Pelepah daun pisang itu dapat dibuat menjadi mainan seperti mobil-mobilan, kuda-kudaan, tembak-tembakan dan satu lagi yang tidak ada nama bahasa indonesianya yaitu lapak-lapak. Disebut lapak-lapak karena mainan ini mengeluarkan bunyi mallapak. Menurutku anak jaman sekarang perlu juga mengetahui mainan-mainan tersebut sebagai bahan perbandingan dengan mainan yang mereka beli di toko, atau mainan yang sering mereka mainkan dilayar monitor.

Sepanjang yang aku tau, pohon pisang itu selalu memiliki anakan yang bayak. Tetangga sering mengambil satu atau dua anakannya untuk mereka tanam diladang atau pekarangan rumah mereka. Mereka mengambilnya bukan membelinya. Dalam kehidupan tidak harus selalu menjual dan membeli. Ada rasa kepuasan dan sukacita yang dalam bila kita bisa memberi, demikian juga dengan orang yang menerimanya. Disinilah aku melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ibuku dulu tidak membeli anakan pisang tersebut, tetapi kami telah menikmati banyak dari pohon pisang itu. Sadar atau tidak, pohon pisang itu telah ikut mewarnai sepenggal perjalanan hidup kami.

Tetapi sudah beberapa tahun ini rumpun pohon pisang itu tidak lagi ada disana. Mungkin sudah saatnya dia pensiun dari belakang rumah kami. Kami benar-benar merasa kehilangan. Tapi sudahlah. Kami tidak pernah menyesalinya. Setidaknya kami pernah punya pohon pisang terbaik dikampung kami.

Istana kecilku, 9 Mei 2008