Satu Hari di Pajak Horas Bersama Ibu

Bagi orang-orang yang tinggal di sekirat Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun tak asing lagi dengan Pajak Horas yang sebenarnya bernama Pasar Horas. Disebut Pajak Horas karena di daerah Sumatera Utara pasar dikenal dengan sebutan pajak. Pajak Horas berada persis di tengah-tengah Kota Pematang Siantar dan diapit oleh dua jalan utama yaitu Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Pasar ini merupakan pasar terbesar yang dimiliki oleh Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Pasar ini agak mirip dengan Pasar Senen yang ada di Jakarta. Disana dijual berbagai keperluan mulai dari pakaian sampai bumbu dapur.

Satu kali ketika saya masih SD, ibu mengajak saya ke pasar ini untuk belanja pakaian yang nantinya akan dijual kembali oleh ibu. Selain pekerjaan utama bertani, ibu memiliki pekerjaan sampingan yaitu berjualan pakaian. Saya senang sekali diajak ibu ikut berbelanja ke Pajak Horas. Waktu itu kami berangkat pagi-pagi dari rumah. Perjalanan dari rumah ke pasar ini memakan waktu sekitar 2 jam. Angkutan yang kami naiki adalah bis 3/4 bernama Koperasi Diori. Selama perjalanan menaiki Koperasi Diori ini kepala saya pusing dan beberapa kali saya muntah. Untunglah ibu telah mengantisipasinya dengan menyediakan kantongan plastik untuk menampung muntahan saya. Dengan wajah saya yang lemas kami turun di Terminal Parluasan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan naik angkot atau disana dikenal dengan Mopen menuju Pajak Horas.

Sesampainya di Pajak Horas, kami lansung menuju ke grosir-grosir pakaian. Saya menikmati pemandangan di pasar itu. Para pedagang pakaian yang sibuk memajang dagangannya, penjual perabotan, penjual buku, dan yang lainnya menarik perhatian saya. Semua pemandangan itu telah membuat saya melupakan kepusingan saya selama perjalanan dari kampung sampai ke Terminal Parluasan.

Ternyata butuh waktu lama untuk memilih pakaian-pakaian yang akan dibeli ibu. Tak terasa waktu sudah lewat tengah hari ketika ibu menyelesaikan semua belanja pakaiannya. Ibu tahu kalau saya sudah lapar, kemudian ibu menitipkan semua belanjaannya kepada pemilik grosir yang sudah menjadi langganan nya, lalu ibu mengajak saya mencari tempat makan siang. Saya berharap ibu mengajak saya makan di kedai-kedai bakmi yang ada di Jalan Bandung atau Jalan Surabaya yang tidak jauh dari Pajak Horas itu. Kedai-kedai bakmi itu menjadi tempat makan favorit bapak kami ketika dia masih sehat. Bapak hamper tiap bulan ke sana karena urusan pekerjaan. Setiap kali pulang dari Siantar bapak pasti membawakan bakmi sebagai oleh-oleh, dan itu menjadi makanan yang sangat luar biasa buat saya. Mungkin itu juga yang meyebabkan sampai hari ini kami sekeluarga sangat memfavoritkan bakmi Siantar.

Pernah ada kisah unik mengenai bakmi ini. Ketika bapak saya meninggal, abang-abang saya yang tinggal di luar Sumatera (waktu itu saya masih kuliah di Medan) pulang bersama-sama dengan mencarter mobil dari Polonia menuju kampung. Di Siantar mereka singgah untuk makan siang. Mereka memilih makan bakmi, karena bakmi menjadi makanan kesukaan keluarga kami. Ketika mereka makan, pemilik kedai ngobrol dan berkenalan dengan abang-abang saya. Si pemilik bakmi mengatakan kalau dulu dia memiliki pelanggan seorang bapak yang marganya sama deangan marga kami dan kampungnya juga sama. Tapi entah kenapa sudah lebih dari sepuluh tahun si bapak itu tidak pernah muncul lagi. Pendek cerita ternyata si bapak yang dimaksud pemilik kedai itu adalah bapak saya. Dan si pemilik kedai itu sangat kaget kalau orang-orang yang lagi makan di kedainya adalah anak-anak dari si bapak langganannya itu, dan lebih kaget lagi kalau orang–arang yang lagi makan itu dalam perjalanan menuju kampung menemui bapaknya yang baru saja meninggal.

Ketika kami berjalan meninggalkan grosir pakaian sudah terbayang kelejatan bakmi Siantar di pikiran saya. Aromanya yang khas seakan menggoda indra penciuman saya. Mienya yang kenyal seakan menari-nari di mulut saya. Kuahnya yang gurih seakan sudah meluncur ke kerongkongan saya. Dan daging merahnya seakan memanggil-manggil untuk segera dikunyah. Wowww sedapnya…. Inilah kali pertama saya akan menikmati bakmi ini langsung di tempat penjualnya. Tidak seperti biasanya, saya memakan bakmi ini di rumah kami karena dibawa pulang oleh bapak kami. Perut sayapun semakin lapar membayangkan kelejatan bakmi Siantar itu.

Dalam perjalanan menuju tempat makan ternyata kami tidak meninggalkan gedung Pajak Horas tersebut. Saya malah diajak ibu menuju lantai bawah di pojok bagian belakang. Disebuah pojokan yang agak gelap terdapat sebuah kios kecil penjual makanan. Ternyata kesanalah ibu mengajak saya untuk malan siang. Disana hanya ada sebuah meja kecil, sebuah bangku panjang dari kayu, di atas meja ada rak kaca yang kacanya sudah agak buram sebagai tempat makanan di pajang, dan disana ada seorang ibu tua yang menungguinya.

Si ibu tua mempersilahkan kami duduk di bangku panjang dan menayakan kami mau makan apa. Saya melihat disana hanya ada menu berupa beberapa ekor ikan kembung yang digoreng, sedikit ikan teri dan beberapa butir telor rebus yang dibuang kulitnya lalu diberi sambal goreng. Seketika itu juga rasa lapar saya hilang. Saya ingin protes ke ibu, kenapa ibu mengajak saya makan di tempat yang sumpek ini, sementara di tempat yang tidak jauh dari sana ada bakmi lezat yang sudah menggoda hayalan saya sedari tadi. Namun saya tidak berani protes. Setahu saya belum pernah di keluarga kami ada yang protes, apalagi protes masalah makanan kepada orang tua. Saya hanya memendam kekecewaan saya di dalam hati.

Ibu memesan dua porsi nasi dengan lauk telor dan sayurnya kol bercampur buncis yang dimasak dengan santan seadanya. Minumnya adalah air putih yang warnanya tidak begitu jernih. Dengan perasaan terpaksa saya memakan makanan yang sudah terhidang di hadapan saya. Harapan akan nikmatnya bakmi pupus sudah. Sementara itu ibu hanya memakan separuh nasi yang ada di piringnya. Selebihnya dia pindahkan ke piring saya. Saya tau ibu juga lapar, tapi saya tidak mengerti mengapa ibu melakukan itu.

Sejak makan siang itu saya tidak lagi menikmati perjalananku dengan ibu sampai kami kembali ke rumah. Saya kecewa berat dengan makan siang itu. Cukup lama saya memendam kekecewaan itu. Namun setelah saya dewasa saya memahami tindakan ibu waktu itu. Sejak bapak kami sakit, ibu harus bertanggungjawab akan semua kebutuhan kami. Ibulah yang harus mencari uang, dan untuk itu ia harus berhemat sehemat mungkin. Bukannya ibu tidak mau mengajak saya makan siang di kedai bakmi kala itu, tetapi ibu lebih memilih membayar uang sekolah kami anak-anaknya dari pada hanya sekedar makan bakmi.

Begitulah cara yang ibu tau untuk memperjuangkan kehidupan kami. Mungkin pada saat itu banyak tindakan ibu yang tidak saya pahami, tapi hari ini saya menyadari bahwa semuanya ibu lakukan semata-mata agar masa depan kami lebih baik daripada kehidupan yang dia alami.

Iklan

PODA NI DAINANG (Masih Perlukah Mengikuti Nasehat Orangtua…?)

Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika saya harus pergi meninggalkan kampung halaman, tanah dimana saya lahir dan dibesarkan, meninggalkan orang tua dan meninggalkan banyak orang yang saya kasihi dan mengasihi saya, untuk jangka waktu yang sampai entah kapan, untuk meraih cita-cita di tanah pengharapan, meraih kehidupan yang lebih baik di negeri nun jauh di sana. Ketika itu kakak saya yang tertua yang selalu tinggal bersama ibu, memotong seekor ayam dan memasaknya menjadi hidangan khusus untuk jamuan makan keberangkatan saya. Kami menikmati makanan itu bertiga, saya, ibu dan kakak. Sebelum makan seperti biasa ibu akan mengawali setiap ritual makan bersama kami dengan memanjatkan doa. Doa yang sederhana. Doa yang hampir sama dari waktu ke waktu, sampai-sampai aku sudah hafal doa itu. Tapi sekarang aku sadar bahwa doa-doa itu adalah salah satu doa terbaik di dunia ini, karena doa itu benar-benar tulus dan tidak bertele-tele. Doa kali ini sedikit berbeda dari doa-doa biasanya, karena di dalam doa itu ibu juga meminta agar TUHAN menemani dan menjaga saya di perjalanan sampai di tempat yang akan saya tuju.

Selesai makan, kami masih tetap berkumpul di tempat di mana kami makan, yaitu ruang tengah rumah kami yang hanya di gelari tikar plastik. Ibu memberikan pesan kepada saya agar nanti sesampainya di tempat yang saya tuju, saya harus tetap menjadi orang baik, jangan sampai lupa berdoa dan ke gereja, selalu menghormati dan turut kepada abang dan kakak-kakak saya, jangan malas, harus rajin dan bekerja keras dan lain-lain. Satu lagi pesan ibu dari dulu setiap kali saya akan bepergian adalah hati-hati menjaga uang dan jangan sampai hilang, jangan sampai dicuri orang. Dulu saya pikir ibu terlalu hati-hati masalah uang, tetapi sekarang saya sadar bahwa kehati-hatian ibu saya cukup beralasan. Ibu mempunyai 8 orang anak, sedangkan bapak hanyalah seorang guru sd, jadi ibu harus pintar mengelola dan mecari tambahan agar gaji bapak cukup untuk membiayai kehidupan kami. Dan karena itulah ibu bisa membiayai sekolah saya sampai tamat sarjana. (Terima kasih ibu)

Ibu selalu memberikan banyak nasihat kepada kami anak-anaknya, di malam hari setiap kali kami berkumpul makan bersama, setiap kali kami di sawah atau di ladang, bahkan disetiap kesempatan dan terlebih setiap kali kami anak-anaknya akan berangkat merantau.

Sesaat sebelum saya berangkat, kami bertiga menyempatkan diri kembali menyatukan kedua tangan, menundukkan kepala dan ibu memanjatkan doa permohonan khusus untuk keberangkatan saya.

Ibupun turut mengantar saya hingga ke terminal, dan disanalah kami berpisah. Ibu memeluk saya dan berpesan agar saya menjaga diri dan segera memberikan kabar sesampainya saya di tempat yang saya tuju. Ibu tidak menangis seperti ketika abang dan kakak saya dulu pergi merantau. Mudah-mudahan ibu tetap tidak menangis bahkan setelah saya pergi dan ibu kembali ke rumah.

Tujuh tahun sudah waktu berlalu, poda itu masih tetap saya jaga di dalam hati saya.

Demikianlah PODA atau nasehat telah menyirami hidup saya hingga saya bisa menjadi apa saya sekarang ini (walaupun saya belum menjadi apa-apa dalam ukuran saya). Nasehat menjaga saya dari bahaya, memotivasi dan menyemangati saya, menghibur dikala sedih, mengingatkan disaat keliru, membangkitkan saya dikala jatuh, memberi solusi disaat masalah datang.

Saat ini saya melihat ada pergeseran makna dari sebuah nasehat. Kehidupan yang berlangsung sekarang ini menjadi suka-suka tanpa aturan. Anak-anak tidak lagi membutuhkan nasihat. Mereka hanya memerlukan rupiah yang bisa mereka gunakan untuk membeli kesenangan bahkan apa saja yang mereka suka. Orang tua tak lagi memiliki waktu untuk menasihati anak-anaknya. Mereka sibuk, sibuk dan sibuk.

Saya sungguh prihatin dengan keadaan ini. Banyak anak-anak yang melarikan diri dari orang tua. Sianak lebih betah berlama-lama diluar rumah, bersama-sama dengan teman-temannya. Mereka pulang jika hanya jika uangnya habis. Orang tua juga menganggap bahwa kewajibannya kepada anak hanya lah sebatas memberikan materi. Uang. Mereka tidak peduli apakah anak sedang di rumah atau tidak.

Mengapa ini terjadi…?

Banyak alasan.

Alasan orang tua
Jaman sudah berubah….!
Anak-anak sudah disekolahkan, diberikan segudang les…!
Ada pembantu yang menjaga anak-anak…!
Anak-anak lebih pintar dari orang tuanya…!

Alasan anak-anak
Sekarang jaman modern, globalosasi….!
Segala sesuatu hanya bisa diselesaikan dengan uang…!
Teman lebih penting dari orang tua…!
Nasehat bisa dicari di TV, majalah dan internet…!
Orang tua berpikirnya kuno….?

Benarkah alasan orang tua itu…?
Benarkah alasan anak-anak itu…?

Tidak….!
Baik orang tua, maupun anak hanya mencari-cari alasan untuk melepaskan tanggung jawab.

Kehidupan yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar jauh berubah dari 100 tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, setahun yang lalu, bahkan dari hari kemarin. Perubahan berlari begitu kencang.
Kalau dulu orang-orang masih berkirim surat untuk memberikan kabar, sekarang orang tinggal mengirimkan sms dan saat itu juga pesan akan sampai ke orang yang akan dituju. Atau mengirimkan e-mail, bahkan ke ujung dunia manapun akan bisa dijangkau. Kalau dulu kita membutuhkan waktu berhari-hari naik bis atau naik kapal menuju satu tempat yang jauh, sekarang pesawat dapat membawa kita hanya dalam hitungan jam, bahkan hitungan menit. Kalau dulu orang berdesak-desakan dipasar untuk membeli keperluan sehari-hari, sekarang sudah banyak supermarket yang akan menampung semua pengunjung dan pembeli. Kalau dulu anak-anak harus membuat sendiri barang-barang mainannya, sekarang tinggal membeli di toko, atau tinggal membuka layar digital dan memainkannya.

Demikianlah perubahan terus terjadi dan bergerak semakin cepat. Perubahan ini telah membawa pegaruh besar bagi orang-orang yang hidup di dalam perubahan itu. Pengaruh yang terjadi ada yang positif, tetapi banyak juga pengaruh negative. Banyak orang yang kaget dengan perubahan tersebut. Mereka beranggapan kalau perubahan itu adalah dewa penyelamat yang akan merubah kehidupannya ke kehidupan mimipi yang menyenangkan. Sering kali mereka lupa kalau perubahan itu adalah suatu keadaan yang harus disikapi dengan bijak. Perubahan itu bukan tuan yang harus disembah, tetapi hamba yang harus di atur dan dimanajemen dengan benar.

Keadaan ini memang telah diperkirakan beribu-ribu tahun yang silam. Raja Salomo salah satu orang yang telah memperkirakan dan memikirkan akibatnya, sehingga dia menuliskan banyak pesan kepada orang-orang agar bisa menjalani perubahan itu dengan baik dan benar. Kalau kita simak dan renungkan dengan dalam, semua pesan dan nasihat yang dituliskan Raja Salomo akan tetap berlaku di setiap masa,bahkan sampai jaman yang paling modern sekalipun.

Sesungguhnya apa yang dipesankan Salomo bukanlah sesuatu yang luar biasa, bukan pula sesuatu yang rumit dan susah dimengerti, melainkan sesuatu yang sederhana, bahkan saking sederhananya,banyak orang yang menyepelekannya.

Apa susahnya menasihati anak, apa susahnya bangun pagi-pagi, apa susahnya menghormati yang lebih tua, apa susahnya berbicara dengan santun, apasusahnya berpakaian dengan sopan, apa susahnya berhemat, apa susahnya menegur orang yang melakukan kesalahan, apa susahnya memaafkan kesalahan orang lain, apa susahnya memberikan senyuman, apasusahnya mengucapkan terimakasih, apa susahnya tidak korupsi, apa susanya menjaga kebersihan, apa susahnya rajin bekerja, apa susahnya mengasihi orang lain…?

Tidak susah….

Tetapi karena tidak susah, banyak orang yang menyepelekannya dan ada yang menganggap hal-hal seperti itu adalah kuno, kolot dan tidak modern.

Akhirnya…kalau kita mau menjalani kehidupan yang lebih berkwalitas dalam ukuran kehidupan yang sebenarnya dan ukuran TUHAN, baiklah kita kembali kepada hal-hal sederhana seperti apa yang dinasihatkan Raja Salomo. Baiklah para orang tua memberikan nasihat kepada anak-anaknya sebagaimana salah satu kewajiban seorang orang tua. Biarlah nasihat selalu mengalir dari mulut orang tua untuk mengawal anak-anaknya mengarungi kehidupan yang sungguh berubah ini. Biarlah orang tua memberikan waktu terbaikknya kepada anak-anaknya lebih dari kepada siapapun. Biarlah orang tua menjadi teman terbaik bagi anak-anaknya, tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat berlindung dan biarlah orang tua menjadi idola terbaik bagi anak-anaknya.

Anak-anak juga, patuhlah kepada orang tuamu. Anak-anak harus sadar bahwa anak tidak bisa memilih dari orang tua mana dia lahir . Yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan orang tuanya manjadi orang tua terbaik bagi dirinya. Pahamilah, kasih sayang orang tuamu jauh lebih berharga dibanding segudang rupiah yang diberikannya kepadamu. Belajarlah menyenangkan hati orang tuamu. Orang tuamu tidak menuntut macam-macam dari kamu. Mereka tidak meminta bayaran atas semua kebutuhanmu yang telah mereka penuhi. Mereka tidak meminta kelak dihari tuanya kamu membiayai sisa hidup mereka. Mereka hanya menginginkan agar kamu patuh kepada nasehat mereka.

Alangkah indahnya bila anak, ibu dan bapak hidup rukun, melakukan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Baiklah bapak benar-benar menjadi bapak, ibu benar-benar menjadi ibu dan anak benar-benar menjadi anak.

Alangkah bahagianya bila dimalam hari bapak, ibu dan anak berkumpul menikmati makan malam yang telah dimasak oleh sang ibu. Sebelum makan semua menundukkan kepala, melipat tangan dan sibapak memimpin doa ucapan syukur ke Sang Pencipta. Dalam suasana hangat saling berbagi dan meikmati makanan. Setelah makan, semua anggota keluarga mengutarakan pengalamannya hari itu, pengalaman sedih, gembira, lucu, berbagi tawa, berbagi cerita dan bersama-sama mencari solusi bila ada masalah yang tidak bisa diatasi sendiri. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anak. Dan terahir berdoa meminta kekuatah dan pertolongan TUHAN untuk menjalani esok hari.

Mungkinkah……….?

Poda 6: 20-29
6:20 Ale anaha, sai radoti ma tona ni amangmu, jala unang tulakkon poda ni inangmu.
6:21 Duduk ma angka i tongtong tu bagasan roham, jala horunghorungkon tu rungkungmu.
6:22 Molo mardalani ho, ingkon i ma mangiringiring ho; molo modom ho, ingkon i ma mangaramoti ho; jala ia dungo ho muse, ingkon * i ma donganmu mangkatai.
6:23 Ai * sulusulu do tona i, jala patik i do panondang, jala dalan tu hangoluan do angka pinsangpinsang ni pangajaron.
6:24 Laho mangaramoti ho maradophon parompuan parjahat dohot maradophon dila elaela ni sibabijalang.
6:25 Unang ma mangapian roham di hinaulina, jala unang tarjorgong ho binahen ni pangkirdop ni salibonna.
6:26 Ai binahen ni parompuan sibabijalang sahat iba tu roti sanseat sambing, jala jolma ni halak sileban mangago tondi na arga i.
6:27 Tung tarpatuba halak ma api di gedekgedekna, so soksohanna angka ulosna?
6:28 Tung tarbahen halak ma mardalan di atas gara ni api, so matutung patna?
6:29 Laos songon i do manang ise na manopot jolma ni donganna: Ndang tarbahen so manginsombut tu ganup na jerjer jamajama.
Martua ma halak na umbege Hata ni Debata jala naumpeopsa.

Pulogadung, 15 juni 2008