OCCOP BERENG

2544992526_4505f994deKenal dengan makanan yang satu ini…? Occop Bereng (baca: loly pop).
Makanan ini adalah permen atau gula-gula atau bonbon atau candy yang memiliki tangkai sebagai pegangan. Disebut occop bereng karena cara menikmati makanan ini adalah dengan di-occop (diemut) kemudian di-bereng (dilihat) kemudian dioccop lagi, dibereng lagi. Begitu seterusnya secara berulang-ulang sampai permen ini habis.

Punya pengalaman dengan occop bereng…?
Tuliskan di comment.

Iklan

Namboru Timuran

hamparan-padi-di-tongging-danau-tobaAku memiliki dua orang namboru. Untuk yang tidak tau arti namboru, namboru adalah sebutan untuk saudara perempuan bapak. Kedua namboruku itu adalah Namboru Timuran (Op. Lemta) dan Namboru Parapat (Op. Letti). Kami sering menyebut saudara dengan tempat tinggal mereka. Namboru Timuran adalah namboru yang tinggal di Timuran, Tanah Jawa, sedangkan Namboru Parapat adalah namboru yang tinggal di Parapat.

Kali ini aku khusus akan bercerita tentang Namboru Timuran. Namboru Timuran menikah dengan Amangboru marga Nainggolan. Mereka dikaruniakan 4 anak laki-laki dan 2 anak perempuan (kalau tidak salah). Namboru dan Amang boru menamai anak-anaknya sesuai dengan situasi mereka. Anak pertama diberi nama Lindung. Katanya waktu Lindung lahir, mereka lagi mencari perlindungan karena waktu masa-masa pemberontakan. Anak kedua diberi nama Malum yang artinya sembuh. Ketika itu keadaan mereka sudah sembuh atau pulih dan bisa lebih tenang menjalani kehidupan keluarga. Anak berikutnya diberi nama Pasu yang berarti berkat Tuhan. Saat itu kehidupan mereka semakin membaik dan mereka merasakan itu adalah berkat Tuhan. Anak selanjutnya diberi nama Ojak yang artinya menetap. Ketika Ojak lahir mereka sudah menetap tinggal di Timuran. Setelah Ojak lahirlah Maria yang artinya bergenbira atau bersuka cita. Ketika Maria lahir mereka merasakan suka cita dan kegembiraan dari Tuhan. Terahir lahirlah Girsang. Nama Girsang diambil dari nama kampung asal Namboru dan Amang boru . Ketika itu mereka mau mengenang asal usul mereka dan ingin mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa dari Girsanglah mereka berasal. Wah… pemberian nama yang luar biasa.

Sejak aku mengenal Namboru ini, aku melihat wajahnya sudah nampak tua. Hal ini mungkin disebabkan oleh perjuangan hidup yang keras, ditambah lagi ia adalah seorang pemakan sirih yang merupakan kebiasaan para oppung-oppung di kampung. Sejak aku mengenal dia, rambutnya juga sudah putih dengan keriput di seluruh wajahnya. Melihat wajah namboru itu aku selalu teringat dengan sebuah gambar orang tua di dalam buku cerita bergambar serangan umum satu maret. Buku ini sengaja diterbitkan pada jaman orde baru sekitar pertengahan tahun delapan puluhan untuk menunjukkan heroik dari serangan umumsatu maret itu.

Namboru Timuran memiliki satu keahlian unik. Saya katakan unik karena diantara mereka bersaudara hanya namboru ini yang memiliki keahlian itu yaitu “mangandung (baca: mangaddung)” (red; bukan mengandung ya…), bahasa indonesianya apa ya…? Kira-kira artinya menangis sambil bersenandung…. Yang lebih unik lagi namboru ini mangandung bukan hanya ketika ada keadaan yang sedih seperti ketika ada orang yang meninggal, tetapi ia selalu mangandung ketika bersua dengan saudara. Aku masih ingat setiap kali ia datang ke rumah kami ia selalu mangandung sambil memeluk siapa saja yang pertama kali dia temukan di rumah. Dan uniknya lagi namboru ini jarang menitikkan air mata ketika ia magandung. Namboru yang unik…

Aku sangat gembira apabila namboru ini datang ke rumah kami. Selain gaya mangandungnya yang unik itu, namboru ini juga tukang cerita. Dia akan menceritakan apa saja yang pernah dia alami dengan cara bercerita yang mampu membawa pendegarnya masuk kedalam cerita tersebut. Ada cerita sedih, gembira, perjuangan dan juga pengalaman-pengalaman yang lucu. Dari namboru ini aku banyak mengetahui keberadaan keluarga bapakku di masa lampau.

Satu hari ketika aku kelas tiga SMA, aku pernah diajak oleh anak namboru Timuran yaitu Girsang ke rumah mereka di Timuran. Waktu itu aku bertemu dengan Girsang di pasar Horas Pematang Siantar. Hari itu hari minggu. Setibanya di Timuran hari sudah sore, sebagaimana saya ceritakan di atas, ketika namboru melihat saya datang, dia langsung memeluk aku dan dia mangandung tanpa air mata. Inilah kali pertama aku ke rumah namboru itu. Malam harinya kami makan malam dan ngobrol banyak hal. Dalam obrolan itu saya mengatakan ke namboru kalau besok pagi-pagi sekali saya harus kembali ke Siantar karena harus masuk sekolah. Setelah selesai ngobrol, akupun tidur bersama lae Girsang. Pagi-pagi sekali, hari masih gelap dan hanya diterangi lampu teplok, namboru membangunkan aku. Dia menyuruh aku untuk membasuh mukaku di belakang rumah. Setelah itu namboru mengajak aku duduk di ruang tengah dapur beralaskan tikar. Aku terharu dan air mataku hampir jatuh ketika aku melihat di atas tikar sudah terhidang masakan daging ayam. Ternyata namboru dipagi yang dingin dan gelap itu telah memotong seekor ayam dan memasaknya untuk dihidangkan khusus buat aku. Benar-benar aku sangat terharu. Tanpa banyak kata-kata kami menikmati masakan itu dengan terlebih dulu diawali dengan sepotong doa ucapan syukur.
Namboru…aku tidak akan pernah melupakan peristiwa ini. Setelah makan, akupun pamit karena harus segera tiba di Siantar agar tidak terlambat masuk sekolah. Sebelum menaiki angkutan aku memeluk namboru itu, amang boru dan lae Girsang. Tanpa kuduga namboru menyelipkan tangannya ke kantongku. Katanya sekedar untuk ongkos angkutan. Akupun meninggalkan Timuran dengan kesan yang sangat mendalam.

Seperti yang sudah kuceritakan di atas, Namboru Timuran kalau mangandung jarang menitikkan air mata, tetapi ketika bapakku meninggal, ia mangandung dengan air mata membasahi pipinya yang sudah keriput, bahkan sampai matanya memerah. Tak lama setelah bapakku meninggal, Namboru Timuranpun meninggal. Waktu itu aku masih kuliah di Medan. Aku tidak dikasi tau. Aku tau beberapa waktu kemudian ketika aku pulang ke rumah kami di Sipanganbolon. Ibuku cerita kalau Namboru Timuran sudah meninggal. Aku sedih, aku teringat kembali segala keunikannya, andung-andungnya, kisah-kisah yang pernah dia ceritakan kepada kami, terlebih-lebih jamuan makan pagi di rumahnya itu.

Itulah sedikit cerita tentang Namboruku yang kami panggil dengan Namboru Timuran.

UANG ADALAH SEGALA-GALANYA..?

Ditulis pada tanggal 09 Oktober 2003

poor-old-man1Sejauh manakah uang bagi diriku?
Sejak kecil aku sudah mengenal yang namanya uang. Ada uang logam (koin) dan ada uang kertas. Dulu aku mengenal lima rupiah atau lima perak (limper), sepuluh rupiah, lima puluh rupiah (limpul), seratus rupiah, lima ratus rupiah (limrat), seribu rupiah, lima ribu rupiah, dan sepuluh ribu rupiah. Kemudian muncul lagi dua puluh ribu rupiah, limapuluh ribu rupiah dan terahir muncul seratus ribu rupiah (uang plastik) belakangan dirubah menjadi uang kertas.

Waktu aku masih anak sekolah minggu, setiap hari minggu aku aku memperoleh seratus rupiah dai ibuku. Dua puluh lima rupiah untuk “durung-durung” dan tujuh puluh lima rupiah untuk jajan. Aku sering jajan “karupuk jange” yang harganya lima rupiah satu biji. Jadi dengan uang dua puluh lima rupiah aku sudah memperoleh lima biji kerupuk jange. Saat itu aku sudah sangat bahagia dengan kelima karupuk jange tersebut. Kadang aku membeli jajanan yang lain, tetapi tidak pernah lebih dari tujuh puluh lima rupiah. Hal ini berlangsung lama selama aku aku menjadi anak sekolah minggu. Pada masa itu aku tak pernah pusing bila aku tak punya uang, karena waktu itu aku lebih sering tidak punya uang dan itu terjadi juga dengan teman-temanku. Malah aku sering merasa tidak nyaman bila aku memiliki uang.

Seiring dengan waktu, perkenalanku dengan uang semakin dekat. Aku semakin pintar membelanjakan uang. Aku semakin sering menentukan pilihan untuk memenuhi kebutuhanku, sehingga orang tuaku mempercayakan lebih banyak lagi uang kepadaku. Bukan lagi hanya sebatas seratus rupiah seperti ketika aku masih sekolah minggu. Melihat kondisi sosial ekonomi orang tuaku, aku selaluberusaha menekan kebutuhanku seminimal mungkin. Aku hanya memenuhi kebutuhan yang sangat-sangat pokok, sehingga uang yang aku minta kepada orang tuaku sesedikit mungkin.

Belakangan ini aku melihat orang-orng di sekitarku. Mereka sangat tergantung dengan uang. Banyak dari antara mereka bisa diketahui berap abanyak uang yang dimilikinya dengan membaca raut wajah mereka. Ada juga dari mereka yang sampai pusing tujuh keliling hanya karena uang. Bahkan ada juga yang sampai menyusahkan orang lain karena terobsesi dan tergila-gila dengan uang. Ini semua sempat membuat aku terpengaruh. Aku jadi bimbang, apakah memang uang adalah segala-galanya..?

Sejauh yang saya alami, aku belum pernah mengalami kesulitan besar yang disebabkan oleh uang. Walaupun memang aku belum pernah memiliki uang banyak. Namun selalu saja ada uang secukupnya sesuai dengan kebutuhanku yang memang tidak banyak.

Sebelumnya aku punya pengertian bahwa uang hanyalah sebuah alat untuk mempermudah kegiatan manusia. Manisia tidak akan mati dan dapat hidup dengan wajar bahkan sejahtera walaupun ia tidak memiliki uang. Tetapi sekali lagi, orang-orang yang kulihat di sekitarku telah mempengaruhi aku untuk merubah pengertianku tentang uang. Karena itu aku sempat berpikir bahwa kita harus memiliki uang yang sangat banyak. Uang juga dapat menyelesaikan segala masalah. Manusia tidak akan pernah bahagia tanpa uang. Bahkan manusia akan mati bila ia tidak lagi memiliki uang.

Keadaan inilah yang membuat aku bingung. Haruskah kita memiliki uang banyak..? Ataukah kita cukup memiliki uang seperlunya..? Apakah kita pasti akan bahagia kalau kita memiliki uang banyak..? Atau apakah semua masalah kita aka terselesaikan bila uang kita banyak..?

Setelah kurenungkan lebih dalam, akumenemukan pengertian yang lebih baik mengenai uang. Yang jelas uang bukanlah segala-galanya. Uang hanyalah sebagai alat untuk mempermudah kegiatan manusia. Sama halnya dengan sebuah cangkul bagi seorang petani.Dengan cangkul petani dapat mengolah tanah untuk menanam tanaman yang nantinya dapat membuahkan hasil. Untuk menghasilkan panen yang baik, petani tidak hanya membutuhkan cangkul, tetapi ia juga harus memiliki parang, sabit, pupuk dan lain-lain. Tanpa cangkul petani juga dapat mengolah lahannya. Dia bisa menggunakan bajak, traktor atau peralatan yang lain. Disisi lain cangkul juga bisa mencelakai petani itu sendiri atau orang lain. Cangkul itu juga bisa hilang. Demikianlah halnya dengan uang, sama saja dan tidak ada bedanya. Nah… apakah cangkul adalah segala-galanya buat seorang petani..? Tentu saja tidak.

Apakah uang itu perlu..? Tentu saja uang itu perlu dan memang sangat-sangat perlu, tetapi bukanlah yang paling perlu. Sebagai manusia kita membutuhkan alat-alat yang dapat mempermudah aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari termasuk diantaranya uang. Apakah semakin banyak alat bantu, hidup kita akan semakin baik..? Belum tentu. Kita hanya memerlukan alat bantu seperlunya saja. Jangan sampai alat bantu itu membuat kita repot karena terlalu banyak. Jadi kita butuh alat bantu secukupnya dan seperlunya saja.

Sekali lagi…
Uang memang penting, tetapi uang bukanlah segala-galanya. Yang terpenting adalah kebijaksanaan kita dalam memaknai setiap alat bantu yang kita butuhkan untuk mempermudah jalannya hidup kita. Alat-alat itu harus kita gunakan sebaik-baiknya sesuai dengan maksud, tujuan dan keperluan yang sebenar-benarnya.

Kita manusia bekerja bukan untuk memperoleh uang, tetapi untuk menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik. Uang hanyalah bagian yang sangat kecil dari kehidupan yang sesungguhnya. Apakah kita akan pusing oleh hal yang sangat kecil ini..? Apakah kita masih akan menampakkan raut wajah sesuai dengan jumlah uang yang kita miliki…? (Terserah saya, anda dan kita semua)

Dulu, limper bisa beli satu biji karupuk jange dan aku sangat bahagia.

Tuhan….
Perbaikilah pengertianku terhadap alat-alat yang kuperlukan untuk mempermudah kegiatanku sehari-hari.
Buatlah kasih-Mu mengalir dalam hidupku
Amin…..!

Kepada yang pusing karena uang

sangMatahari

Today’s song: Semusim, Vocal: Marcellinus

Dolomite Camp

1_164550654lPosting ini agak miriplah isinya dengan posting sebelumnya yaitu Kampung Susuk, karena memang Dolomite Camp itu adanya ya di Kampung Susuk.

Dolomite Camp adalah nama sebuah tempat kost yang beralamat di Jl. Abdul Hakim Ujung No. 15 Kampung Susuk, Padang Bulan, Medan. Nama Dolomite Camp dilatarbelakangi oleh nama batu kapur atau dolomite yang merupakan hasil tambang di kampung pemilik kost tersebut, sedangkan camp merupakan sebutan untuk tempat kost di sekitar kampus USU. Aku belum menemukan alasan orang sana menyebut rumah kost dengan sebutan Camp. Dan memang banyak tempat kost disana yang memakai nama Camp diantaranya Rejoice Camp, Tampomas Camp, Firdaus Camp, Lora Camp, Dorkas Camp dan lain-lain.

Aku tinggal di Dolomite Camp dari tahun 1994 sampai tahun 2001. Tempat kost ini merupakan bangunan beton permanen dua lantai yang modelnya kotak mirip ruko-ruko yang sekarang ini menjamur di pinggir jalan. Lantai bawah dibagi menjadi dua bagian. Separoh ditempati oleh pemilik rumah dan separohnya lagi disekat-sekat menjadi 5 kamar dan disewakan menjadi kamar kost. Untuk lantai atas, semuanya di sekat menjadi kamar-kamar kost yang jumlahnya 12 kamar. Dan aku menempati kamar ketiga dari belakang sebelah barat di lantai dua. Di bagian depan lantai dua ada balkon yang digunakan sebagai tempat jemuran kain dan juga tempat nongkrong.

Anak kost yang tinggal di Dolomite Camp semuanya laki-laki, karena memang pemiliknya hanya menerima laki-laki untuk tinggal disana. Alasannya lebih gampang mengawasi laki-laki…(benarkah demikian…?)

Ketika aku mulai tinggal disana, suasananya sangat memprihatinkan. Ada bebrapa kamar yang kosong, tangga ke lantai dua yang sangat gelap (tidak dipasangi lampu), kamar mandi yang dekil, lantai yang penuh dengan debu dan pasir, bau apek dimana-mana, sampah berserakan di dekat pintu kamar mandi dan banyak lagi. Belum lagi toilet yang sering mampet. Awalnya aku sempat kaget dan tidak ingin tinggal disana, tetapi karena saat itu aku tidak punya duit banyak, akupun pasrah untuk tinggal disana. Pertama kali kost disana aku hanya membayar sewa 125 atau 250 ribu rupiah (aku udah lupa) untuk satu tahun. Sementara di kosan lain sudah 500 ribu an. Benar-benar murah kan…? Itupun masih kami bagi berdua dengan sahabatku Alfonco yang tinggal satu kamar denganku.

Teman-temanku yang tinggal di Dolomite Camp ada Barita Sinaga di kamar atas paling depan. Dia kuliah di pertanian. Kalau tidak salah dia 2 tahun diatasku. Awalnya kami kompak, karena kami sama-sama marga Sinaga. Kamar yang dia tempati dipasangi karpet berwarna merah, ada kursi empuk yang dapat berputar. Dia juga memiliki tape recorder yang untuk ukuran kami waktu itu sudah cukup bagus. Dia termasuk high class di Dolomite saat itu. Namun tak lama kemudian hubungan kami tidak harmonis, aku sudah lupa apa penyebabnya. Mungkin salah satunya karena dia suka berlama-lama di kamar mandi. Bisa sampai setengah jam lho… Perbandingannya ada teman disana yang mandinya hanya dalam hitungan detik….(mandi apa numpang lewat…..hhhhh)

Di kamar berikutnya setelah kamar Barita, ada Freddy Sinaga. Freddy kuliah di politeknik jurusan energi, satu angkatan denganku. Dia berasal dari Kutacane, Aceh Tenggara. Dari Dia aku tahu kalau di Aceh ada satu temapat yang dihuni mayoritas suku batak yaitu Kutacane. Freddy merupakan salah satu teman terdekatku di dolomite. Orangnya enerjik, suka tertawa, gampang bergaul dan suka “mengkompor-kompori”.

Awalnya Freddy tinggal sendiri satu kamar, tetapi setahun kemudian dia tinggal berdua dengan teman satu jurusannya Golfried Sinaga. Dia berasal dari Tebing Tinggi. Adeknya, Sahata Sinaga setahun kemudian menjadi juniorku di Teknik Mesin dan sempat tinggal juga di Dolomite.

Kamar berikutnya ditempati oleh aku dan sahabatku Alfonco. Benda-benda yang ada di kamar itu adalah 2 buah meja, 2 buah kursi kayu, dua buah tempat tidur, satu buah lemari plastik bongkar pasang, satu buah speaker besar, satu buah radio butut dan di dinding ada sebuah “jam gadang”. Semuanya serba sederhana dan sebagian sudah butut.

Disamping kamar kami tinggal seorang anak pertanian yang sering kami panggil dengan MON. Katanya sih namanya Mon Infantri. Dia tinggal sendiri di kamar itu. Kebiasaannya adalah mnyanyikan lagu-lagu dangdut terutama dangdutnya Roma Irama dan setiap malam dia membaca alkuran. Tidak seperti kami yang makan di warung, Mon memasak sendiri makanannya dan kadang-kadang rasa laparku digoda oleh wangi indomie yang sering dia masak. Tidak lama Mon tinggal di Dolomite. Setelah dia pindah, kamipun pindah ke kamar itu, karena memang kamar itu lebih luas setengah meter dibanding dengan kamar yang lain.

Di kamar ujung dekat kamar mandi ada temannya Mon yaitu Son. Aku juga sudah lupa nama lengkap dari Son tersebut. Son jarang ada dikosan. Dia lebih suka bertandang ke tempat teman-temannya dan dia juga tidak lama tinggal Didolomite.

Kalau kamar-kamar yang tadi ada di barisan sebelah barat, di kamar-kamar sebelah timur ada Jasopan Situmorang. Jasopan orang yang unik. Dia suka membaca buku sampai dini hari. Dia suka dengan lagu-lagu rock underground. Dia memiliki sebuah radio kecil yang selalu diputar kencang sekali sampai suara radio itu serak. Bahkan radio itu bisa bersuara seharian penuh.

Dikamar sebelah kamar Jasopan ada Alpin bersama abangnya yang gendut. Mereka berasal dari Siantar. Keduanya sama sama mengenakan kacamata. Alpin kuliah di teknik sipil, sementara abangnya kuliah di MIPA. Abangnya alpin pernah berfilsafat. Katanya Cinta itu ibarat kentut, dikeluarkan bikin malu, ditahan bikin sakit dan sesak. Ada-ada saja… Di kamar selanjutnya ada Wakimin Silaban dan Robiduan Damanik. Awalnya aku heran Wakimin kok pakai marga. Ternyata dia memang batak tulen, berasal dari Siborong-borong. Wakimin hanya setahun tinggal di sana. Tahun berikutnya Wakimin digantikan oleh Sikkat Sinaga. Robiduan dan Sikkat adalah orang-orang yang rajin belajar. Setiap ada waktu di kosan mereka selaku belajar, membahas pelajaran-pelajaran yang dikuliahkan, mengerjakan soal-soal. Mereka jarang ikut nongkrong. Dan memang hasilnya kelihatan. Prestasi mereka di kampus sangat memuaskan. Kebetulan mereka satu jurusanku, jadi aku sering minta diajari oleh mereka untuk pelajaran-pelajaran yang tidak aku mengerti. Robiduan hanya dua tahun disana. Dia bersama Freddy pindah ke gang Saudara.

Sikkat tinggal di Dolomite sampai dia tamat. Dia menjadi salah satu teman terbaikku Didolomite. Selain karena dia pintar dan rajin, dia juga orang yang baik dan suka menolong. Wajahnya yang imut membuat banyak mahasiswi di kampung susuk yang tertarik kepada dia. Laki-laki yang sungguh beruntung. Kami memanggilnya dengan sebutan “kat”. Sikkat, aku tidak akan lupa buah mangga dan ikan mujahir bakar di kampungmu. Kapan lagi kita ke sana…? Sekarang Sikkat sudah jadi bos di PLN Bagan Siapiapi.

Setelah Robiduan pindah, Mahlan Sipangpang menggantikannya satu kamar dengan Sikkat. Mahlan berasal dari Samosir dan dia kuliah di Sastra Batak. Orangnya asik, tukang cerita, gampang bergaul, tapi kata teman-teman dia gampang jatuh cinta dengan perempuan. Yang tak mungkin dilupakan dari dia adalah kumis, jambang dan jenggotnya yang selalu ditata dengan rapi dan sering kali berganti-ganti model. Benar-benar unik. Yang paling berkesan ketika dia mengajak kami ke kampungnya. Kami benar-benar bertualang dan jujur… itu pengalaman yang luar biasa.

Di kamar berikutnya ada Iskandar. Dia berasal dari Palembang dan kuliah di pertanian usu. Kehidupannya benar-benar memprihatinkan. Uang bulanan yang diterimanya dari orang tua tidak cukup untuk membiayai kuliah dan kehidupannya. Sering kali dia hanya makan sekali sehari untuk menghemat pengeluaran. Kasihan sekali. Pernah sekali waktu dia keracunan karena memakan jamur yang dia temukan dikampus USU. Dimana dia sekarang ya…?

Sementara di kamar bawah ada Rapinus, Jakaria, Parlindungan anak etnomisikologi, Bang Sinuhaji yang angkatan 86 farmasi USU dan ada lagi temannya Bang Sinuhaji. Selain itu di Dolomite Camp pernah tinggal Bintara yang sering dipanggil dengan “Gua Tara…?”, Sahata, Abdul Sinaga, Sadar Sinaga, Tinggil Napitu, Herman temannya Iskandar, Ronal Sihotang yang sering kami panggil dengan Rote atau ronal tentor, Manosor yang jambangnya yang tak pernah dicukur bersih dan banyak lagi.

Di pagi hari kami penghuni Dolomite sering kali berebutan kamar mandi dan di sore hari kami sering nongkrong di balkon depan. Kami mengobrolkan apa saja dan sekaligus menggoda mahasiswi-mahasiswi yang lewat di depan kosan kami. Aku masih ingat dulu ada cewe cantik yang tinggal di Rejoice Camp namanya Martha. Kalau pergi dan pulang kampus dia selalu melewati kosan kami. Kalau dia lewat kami memanggil namanya “Mar…”. Bila dia tidak menoleh ke kami, kami plesetkan namanya menjadi “Marudut…”. Ada juga yang namanya Ervina. Kalau dia lewat kamipanggil “Vin…”, kalau dia tidak merespon kami panggil lagi dengan “Vina…”, kalau belum juga merespon, kami panggil dengan “Pinahan…..”. haha….. ada-ada saja (Maaf ya Vina…. Soalnya kamu cantik sih….)

Di Dolomite Camp ada beberapa orang yang berprofesi juga sebagai tentor atau pengajar di bimbingan belajar atau disana dikenal dengan bimbingan test. Ronal, Sikkat, Mahlan, Sadar adalah tentor di Medika. Alfonco tentor di GO dan lebih sering jadi guru privat. Robiduan pernah tentor di Bima. Karena Tentor-tentor tersebut, setiap kali paskah Ebtanas SMA, Dolomite pasti kedatangan tamu-tamu istimewa. Mereka adalah adek-adek yang mau mengikuti UMPTN dan ingin berguru kepada tentor-tentor tsb. Mereka adalah teman atau saudara dari teman-teman kami yang ada di dolomite. Kesempatan ini sekalian dimanfarkan untuk mendekati kakak-kakak mereka…. Hehehe… Kesempatan.

Di Dolomite, sesama penghuni sering bertengkar. Biasanya disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti suara radio yang kekencangan, kesalah pahaman, masalah kamar mandi, masalah jemuran, masalah sendal jepit yang hilang dan lain-lain. Semua pertengkaran tidak pernah diakhiri dengan pertengkaran pisik dan biasanya akan baikan dalam waktu yang tidak lama.

Seperti yang saya ceritakan diawal, Dolomite Camp itu sangat memprihatinkan terutama dari sisi kebersihannya. Mungkin karena penghuninya laki-laki. Karena itu, beberapa tahun setelah aku tinggal disana diadakan perbaikan besar. Septik tank dipindahkan ke halaman depan, semua kamar mandi dikasi keramik, semua kamar dicat ulang. Dengan demikian Dolomite Camp sedikit lebih layak untuk dihuni. Tapi dasar laki-laki “cap lonceng” tetap saja tidak bisa menjaga kebersihan. Ya begitulahhh….

Banyak kisah, kejadian dan cerita yang terjadi di Dolomite Camp. Pernah sekali waktu di tengah malam kami rame-rame memotong seekor kucing. Waktu itu tepat di hari ulang tahunku 29 februari 1996. Untuk mematikan kucing yang akan dipotong, kucing dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan ke dalam ember yang berisi air. Kejam sekali. Kucing meronta-ronta beberapa lama dan kemudian mati. Kemudian kucing dikuliti lalu dicincang dan dimasak dengan bumbu apa adanya. Benar-benar baunya amis. Mencium baunya saja aku sudah mau muntah. Tetapi Andos, Mahlan dan yang lain sangat lahap menyantapnya. Ditemani dengan anggur dan TKW (bukan tenaga kerja wanita, tetapi minuman keras khas kota Medan), Andos sampai mabuk dan muntah-muntah. Semua daging kucing yang dia makan dia tumpahkan di halaman depan. Ha…ha.. Andos…Andos….

Kisah yang lain adalah di satu malam karena besoknya kami tidak kuliah kami berencana begadang. Untuk mengisi waktu begadang kami, kami mencari tuak dan durian. Ditemani dengan kacang kami menikmati tuak tersebut yang telah diramu dengan durian. Lagu-lagu batak dan tembang-tembang kenangan kami lantunkan dengan iringan petikan gitar Alfonco dan Tinggil secara bergantian. Nikmat sekali kala itu. Apalagi ketika menyanyikan lagu pamungkas “Didia Rokkappi”, tak tanggung-tanggug kami menyayikannya sekuat tenaga. Tak peduli ada yang terganggu.

Kisah lainnya, pernah ada yang main judi di Dolomite sampai tiga hari non stop. Mereka bermain leng. Anda tau kan permainan leng…? Taruhan lho… Ada yang kalah sampai ratusan ribu rupiah, ada yang menang banyak, ada juga yang bermain tipu-tipu alias tidak jujur. Kalau ada yang ketahuan main tidak jujur, biasanya permainan diakhiri dengan pertengkaran. Ketika mereka selesai bermain judi, ruangan begitu berantakan, puntung rokok dimana-mana, bekas bungkus nasi berserakan (kadang-kadang sisa nasinya masih ada), kartu bekas main leng itu juga ditinggal begitu saja.

Sekitar tahun 2008 si Abang pemilik Dolomite Camp menikah dan sedikit banyak terjadi perubahan di Dolomite Camp. Di halaman depan dibangun warung sembako. Halaman sisanya ditutupi dengan atap. Anak kost yang biasa nongkrong dan menyanyi sampai tengah malam mulai dilarang, dan banyak lagi larangan, tetapi masalah kebersihan tidak banyak berubah.

Delapan tahun sudah saya meninggalkan Dolomite Camp. Apakah Dolomite Camp masih ada…? Bagaimana dengan kabar si Abang (Turah Malem Tarigan) pemilik Dolomite Camp. Bagaimana dengan kabarnya Kak Kiki. Bagaimana dengan semua teman-teman yang pernah tinggal di Dolomite Camp, dimanakah kalian…? Masih ingatkah kalian dengan Dolomite Camp…? Masih ingatkah kalian dengan semua kisah yang pernah kita alami dan rasakan disana…?

Bagaimanapun keberadaannya, Dolomite Camp telah menjadi bagian dari sejarah panjang kehidupan kita-kita yang pernah tinggal disana.