HKBP Sipanganbolon (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

Saya tidak tahu kapan gereja ini pertama kali berdiri. Yang pasti sejak pertama, saya sudah melihat gereja ini berdiri kokoh, walaupun belum sebagus sekarang. Bahkan menurut cerita yang saya dengar sebelum almarhum ibu saya lahir gereja ini sudah berdiri. Yang paling mengejutkan saya adalah ketika saya membaca buku Biografi Cyrellus Simanjuntak saya jadi tahu kalau HKBP Sipanganbolon sudah ada pada tahun 1917. Dengan demikian gereja ini sudah berdiri hampir seratus tahun, atau bahkan mungkin lebih. Woww… sebuah usia yang cukup panjang.

Gereja ini dinamai dengan gereja HKBP Sipanganbolon karena memang terletak di Desa Sipanganbolon yang berjarak sekitar 9 km dari ibukota kecamatan, sekitar 40-an km dari ibukota kabupaten dan sekitar 180-an km dari ibukota provinsi. Gereja ini terletak persis di pinggir jalan lintas Sumatera, menempati lahan yang lumayan luas dengan halaman yang ditumbuhi rumput.

Bangunan yang ada di lokasi gereja terdiri dari bangunan utama gereja, rumah dinas pendeta, rumah dinas guru huria atau parhangir (maaf saya tidak tahu mengeja tulisan parhangir) dan bangunan yang terbaru adalah gedung taman kanank-kanak. Di bagian samping kiri belakang menyatu dengan gereja ada ruang konsistori yang dikenal juga dengan bilut parhobasan. Saya tidak tahu persis berapa ukuran pasti dari gedung gereja ini, namun gedung gereja inilah bangunan yang paling besar di Sipanganbolon (Saya tidak tahu apakah gedung HKI yang baru lebih besar).

Kalau dilihat dari bentuknya, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari bangunan gereja ini, Bentuknya persis dengan bentuk gereja HKBP kebanyakan. Bentuk memanjang monoton, atap segi tiga dan menara di bagian tengah depan, persis di atas atau merangkap teras. Apakah memang bentuk demikian sudah menjadi patokan HKBP yang harus diikuti..? Sesungguhnya saya lebih terkesan denga bangunan yang dulu dengan menara atau palas-palas yang terbuat dari kayu, dengan desain yang lebih artistik. Mungkin saking artistiknya sehingga menarik minat banyak burung wallet atau leang-leang untuk membangun sarangnya di sana. Kadang saya bertanya dalam hati apakah burung-burung itu tidak pusing mendengar suara dentangan lonceng besar yang sangat keras itu.

Menurut saya bentuk bangunan gereja yang paling artistik yang ada di Sipanganbolon adalah gereja Katolik yang berada persis di samping gereja HKBP. Bentuknya lebih unik walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin ukurannya disesuaikan dengan jumlah jemaat katolik yang tidak sebanyak jemaat HKBP di Sipanganbolon. Memang harus diakui bahwa hampir di semua tempat, gereja Katolik selalu mencuri perhatian. Namun posisi gedung gereja HKBP Sipanganbolon yang sangat strategis dengan halaman rumputnya yang luas membuat gedung gereja ini terlihat begitu anggun dan mencuri perhatian setiap orang yang melitas di sana. Saya sangant berharap halaman gereja HKBP yang luas dan hijau ini tetap dilestarikan. Karena halaman itulah yang membuat gereja itu menjadi anggun. Tak terbayangkan bila sesuatu dibangun di halaman itu dan menghalangi pandangan dari jalanan ke gedung gereja. Di masa mendatang pasti banyak godaan untuk membangun sesuatu di halaman gereja itu. Apakah itu sekolah, gedung serba guna, atau bahkan bangunan komersil. Mudah-mudahan tidak ada pimpinan atau anggota jemaat gereja di masa sekarang dan masa yang akan datang yang tergiur untuk merubah halaman hijau yang luas itu menjadi sesuatu yang menghilangkan keanggunan gedung gereja.

Berbicara mengenai halaman gereja ini, saya teringat suatu kejadian sederhana yang bagi saya sangat bermakna dan menyentuh. Ketika bangunan gereja yang sekarang selesai dibangun yang katanya atas bantuan mantan gubernur Sumatera Utara Rajainal Siregar, akan dilakukan pesta peresmian. Pesta peresmian ini dipimpin langsung oleh “ompui” Eporus HKBP saat itu SAE Nababan dan disaksikan langsung oleh Rajainal Siregar besrta para pejabat seantero sumatera utara. Beberapa hari sebelum acara puncak peresmian, oppung Sirait yang dikenal dengan sebutan Oppung Palliting, membawa mesin potong rumputnya kehalaman gereja itu dan merapikan rumput-rumput yang ada di halaman yang luas itu dengan tangannya sendiri dan tentu saja tanpa meminta bayaran. Kala itu Mesin potong rumput masih merupakan mahluk asing di Sipanganbolon, saya tidak tahu kalau sekarang. Mungkin bangi banyak orang tindakan Oppung Palliting yang tidak bisa membaca ini tidaklah begitu berarti, tapi menurut saya oppung yang suka marah-marah ini sangat tahu kalau keanggunan gedung gereja itu adalah karena halaman rumput hijaunya yang luas. Oppung yang sudah lama almarhum ini dengan mata rabunnya melihat dengan jelas keindahan halaman rumput hijau yang luas itu, sehingga dia dengan iklas merapikan rumput-rumput itu.

Awalnya gereja ini adalah gereja pagaran dari HKBP Ressort Parapat yang megah itu, tetapi beberapa tahun terakhir ini sudah naik kelas menjadi ressort. Ini adalah sesuatu yang harus disyukuri karena sejak jadi ressort disana sudah ditempatkan seorang pendeta tetap yang pengetahuan ke-HKBP-annya lebih fasih, kerohaniannya lebih dalam dan kepemimpinannya lebih mumpuni dibandingkan dengan hanya sekedar seorang sintua yang diangkat menjadi guru huria seperti pada masa pagaran dulu. Namun dilain pihak, jemaat dituntut untuk memberikan lebih karena semakin banyak pengeluaran gereja. Itulah konsekuensi logis, bila ingin kualitas lebih baik, harus mau membayar lebih banyak. Jemaat telah memilih untuk menjadikan gerejanya menjadi ressort, jadi jemaat harus dengan lapang dada menerima segala konsekuensinya. Tetapi lebih dari itu, saya berharap siapa saja pendeta yang ditempatkan di sana benar-benar dan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati melayani jemaat agar keimanan jemaat meningkat. Dengan kata sederhana agar pintu sorga dunia dan akhirat lebih terbuka buat seluruh jemaat. Kedengarannya memang terlalu berlebihan, tetapi saya pikir itulah tujuan utama mengapa jemaat bersusah payah menaikkan kelas gerejanya dari pagaran menjadi ressort.

Dari sejarahnya, gereja ini menjadi awal dimulainya pendidikan formal di Sipanganbolon. Sekolah dasar yang pertama, dilaksanakan di gereja ini. Guru yang mengajarpun dirangkap oleh guru huria gereja ini. Salah satu guru huria yang merangkap menjadi guru di gereja ini adalah Amangtua Tiopan Sinaga, abang kandung bapak saya. Setelah dari Sipanganbolon Amangtua ini pindah ke Tanahjawa dan terakhir dimakamkan di Girsang. Karena Amagtua inilah mengapa bapak saya bisa tingal di sipanganbolon, dan seterusnya menikah dengan ibu saya yang orang sipanganbolon dan selanjutnya melahirkan anak-anak di Sipangan bolon termasuk saya. Setelah beberapa tahun barulah pemerintah membangun gedung sekolah dasar didekat gereja ini yang dikenal dengan SD 1 dan proses belajar mengajar dipindahkan dari gedung gereja ke gedung sekolah yang baru. Waktu Saya masih sekolah minggu, masih ada beberapa bangku peninggalan dari sekolah yang dulu dipakai di gereja ini. Saya tidak tahu apakah bangku-bangku bersejarah itu masih ada.

Ketika terjadi pergolakan HKBP sekitar awal tahun 90-an yang menurut saya “memalukan” itu, yang menggenaskan itu, yang merusak hubungan persaudaraan itu, gereja HKBP Sipanganbolon tidak ikut-ikutan. Tidak beralih ke “SSA” dan tidak memihak ke “Monjo”, walaupun sesekali ada issu ancaman. Apalagi ketika berduyun-duyun massa melintas melewati Sipanganbolon menuju Tarutuang yang datang entah dari mana. Efek dari peristiwa ini sangat mengganggu jemaat HKBP Sipanganbolon. Keimanan jemaat saat itu banyak yang merosot. Kebaktian minggu sangat sepi, tidak ada koor selain parari kamis, pendeta resort jarang datang berkotbah ke Sipanganbolon dan banyak lagi. Tetapi puji Tuhan keadaan ini terlewati juga. Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi lagi mimpi buruk itu. Biarlah Pimpinan HKBP mengedepankan pelayanan kepada jemaat diatas kepentingan pribadi, golongan, apalagi ambisi pribadi.

Begitu banyak kenangan yang tertinggal di gereja ini. Masih jelas dalam ingatan bagaimana guru sekolah minggu bercerita tentang adam dan hawa yang biarpun tidak memakai baju tetapi hidup dengan damai di Taman Eden, namun pada akhirnya sang ular menggoda mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Guru sekolah minggu juga menceritakan tentang malaikat-malaikat Tuhan yang katanya cantik-cantik, hingga aku pernah bermimpi ingin bertemu dengan mahluk Tuhan yang cantik-cantik itu. Namun setelah saya tahu dati film-filn akhir pekan TVRI yang aku tonton di rumah tetangga bahwa orang yang bertemu dengan malaikat adalah orang yang diujung ajal, saya jadi takut dan tidak ingin lagi bertemu dengan mahluk cantik itu. Polos sekali pikiran saya kala itu. Masih jernih dalam memori ketika marayat-ayat “dimula ni mulana…” di altar gereja dengan pengeras suara TOA, penerangan lampu petromax dan ditemani pohon terang yang terbuat dari rangkaian ranting-ranting pohon pinus dengan lilin-lilin kecil sebagai hiasannya, ketika marguru malua, manghatindanghon haporseaon (sidi) dan yang paling istimewa ketika saya memasangkan cincin kawin di jari manis isteri tercinta di altar gereja ini. Jadi di gereja inilah banyak peristiwa penting hidup saya dilangsungkan. Mulai dari dibaptis sampai menerima pemberkatan nikah.

Di gereja ini jugalah saya mengenal sintua-sintua dengan segala karakternya masing-masing. Satu sintua yang tak munkin dilupakan adalah sintua Manurung dari Porti. Karakternya yang unik dan gemulai telah membuat gereja HKBP Sipanganbolon lebih berwarna, walau kadang-kadang ada yang tidak setuju dengan sikapnya. Namun bagi saya dia adalah sintua yang berkarakter dan istilah jaman sekarang “ngangenin”.

Dulu, ketika bapak dan ibu masih ada, sering kali rumah kami dikunjungi oleh calon pendeta, calon guru huria atau siapa saja yang ditempatkan pusat di gereja HKBP Sipanganbolon. Ada marga Bancin, marga Simanungkalit, marga Sitohang, marga Sihombing dan banyak lagi. Mudah-mudahan mereka datang bukan karena kala itu ada kakak saya yang cantik yang masih tinggal di rumah. Pernah juga ada calon guru huria yang lagi magang di Sipangan bolon sebanyak 5 orang sering datang ke rumah kami. Saking seringnya, sekalian saja ibu saya mengajak menreka mencangkul ke ladang. Salah satu diantara mereka orangnya nyentik dan suka bergaya. Pernah satu kali saya melihat dia melukai dagunya dengan pisau silet. Katanya biar dagunya berbelah seperti para bintang film barat itu. Ada-ada saja.

Saya sudah melakukan ibadah di beberapa gereja di tempat lain, di Siantar, di Medan, di Jakarta, di gereja HKBP Rawamangun yang katanya pelean mereka ke kantor pusat paling besar dari seluruh gereja HKBP yang ada, bahkan di sebuah gereja di Tokyo, tetapi perasaan saya ibadah di HKBP Sipanganbolon lebih mengena. Rasanya Tuhan lebih dekat kalau ibadah di HKBP Sipanganbolon dibanding semua gereja lain yang pernah saya kunjungi. Apakah munkin karena gereja ini lebih dekat ke langit…? Dari semua gereja yang pernah saya kunjungi, HKBP Sipanganbolonlah yang paling tinggi dari permukaan laut, sekitar 1000 m dpl. Jadi kalau paling tinggi dari permukaan laut, berarti paling dekat ke langit. Hhhhh… Kenikmatan beribadah di HKPB Sipanganbolon tentu saja bukan karen paling dekat ke langit. Ikatan batinlah yang menyebabkannya. Bukan hanya ibadah, tidurpun sangat nikmat di gereja ini. Berbahagialah jemaat HKBP Sipanganbolon memiliki gereja ini. Sayang sekali jika jemaat jarang datang ke gereja ini.

Saya dengar saat ini Gereja HKBP Sipanganbolon sedang melakukan renovasi, mengganti menara, memasang keramik lantai, memperpanjang bangunan gereja dll. Saya senang sekali mendengarnya. Itu tandanya kemajuan. Saya jadi teringat ketika acara pernikahan saya di gereja ini, samar-samar saya dengar suara seorang kerabat yang usil. Kok lantainya berbelang-belang…? Kok karpetnya berdebu…? Kok kembangnya plastik…? Kok…?,Kok….?, Kok…. Tetapi saya tidak terpengaruh. Saya bangga bisa melangsungkan pernikahan di gereja dimana masa sekolah minggu saya habiskan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun dengan pembangunan ini mungkin tidak akan ada lagi suara-suara sumbang dari orang seperti kerabat saya yang usil itu. Dan yang terpenting, dengan pembangunan ini mudah-mudahan Tuhan semakin dekat dengan jemaat dan bukan sebaliknya.

Saya berharap halama rumput hijau yang luas itu masih ada sampai seribu tahun lagi. (maaf… lebay dan saya baru bisa “omdo” omong doang)

Maaf bila ada kata yang tidak berkenan dalam tulisan ini. Tidak ada maksud lain selain mengungkapkan kecintaan terhadap HKBP Sipanganbolon.

Salam Hormat buat pimpinan HKBP Sipanganbolon
Tabe mardongan tangiang tu sude ruas HKBP Sipanganbolon

Walau sudah agak terlambat,

Selamat Tahun Baru 2012.

Sebuah pesta di halaman gereja HKBP Sipanganbolon

PARNASIB

Kata ini membawa ingatan ke masa yang tak terlupakan sekitar 13 tahun yang lalu. Kata ini membawa ke suasana akhir tahun yang hangat, walaupun hampir setiap hari ditemani oleh gerimis bahkan hujan deras. Kata ini memunculkan kembali wajah sahabat-sahat yang dengan mereka suasana kelahiran Yesus di kampung jadi berbeda. Kata ini membangkitkan kembali kenangan ketika menjahitkan satu stel Jas warna krem untuk yang pertama kalinya, karena harus berdiri di podium dengan penampilan terbaik. Kata ini membangunkan kembali memori yang sudah lama tersimpan dengan rapi di sudut ingatan.

Beberapa anak muda yang masih sangat muda dipaksa keadaan untuk meninggalkan kampung halamannya menuntut ilmu di ibukota propinsi. Dalam kesehariannya mereka bergaul dengan orang-orang yang kurang lebih senasib dengan mereka yang berasal dari berbagai dusun dan kampung di seantero propinsi. Mereka melihat ada kebiasaan yang berbeda yang dilakukan teman-teman mereka yang berasal dari kampung lain setiap menjelang akhir tahun. Teman-teman mereka itu akan sibuk berkumpul dengan teman-teman sekampung melakukan rapat, latihan koor, mencari dana dan selanjutnya akan melakukan perayaan natal di kampung mereka.

Awalnya pemuda-pemuda itu tidak terpengaruh oleh fenomena akhir tahun teman-teman mereka. Awalnya pemuda-pemuda itu tidak tertarik dengan suara-suara latihan koor teman-teman mereka itu. Namun di tahun 1998 godaan itu semakin kuat dan tidak terbendung lagi. Godaan yang kuat itu membangkitkan mimpi indah, kalau mereka bisa mengapa kita tidak…? Godaan yang kuat itu menyemangati langkah mereka untuk bergandengan tangan mewujudkan mimpi itu. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda mewarnai suasana akhir tahun di kampung. Gang Cipta di Jalan Jamin Ginting menjadi saksi pertama dari mimpi besar mereka. Si Cantik yang tinggal disana menjadi tuan rumah rencana besar itu. Selanjutnya Simalingkar menjadi markas setiap hari Minggu sore untuk mengurai mimpi dan rencana besar itu.

Awalnya memang tidak mudah. Ternyata banyak sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi. Mulai dari tidak adanya pengalaman (Ini adalah kegiatan PANASIB yang pertama, mudah-mudahan bukan yang terakhir), kesulitan mencari biaya (Mereka semua berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, boro-boro untuk menyisihkan uang, untuk biaya makan, kost dan SPP saja kadang kurang), kesusahan mengumpulkan banyak teman-teman setiap akhir pekan (mereka terpencar di pelosok ibukota propinsi yang kalau mau kupul di satu tempat memerlukan waktu dan biaya) dan banyak masalah yang lain. Masalah-masalah tersebut sempat menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan mimpi itu. Namun keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di kampung pada akhir tahun menggerakkan langkah mereka untuk terus melangkah menwujudkan mimpi itu.

Persiapan-persiapan pun dilakukan. Setiap hari minggu sore berkumpul di Simalingkar, sehingga Simalingkar serasa menjadi rumah sendiri. Panitia dibentuk dan sang tuan rumah di Simalingkar dinobatkan menjadi ketua. Dikemudian hari keberadaan ketua ini dipertanyakan beberapa orang di kampung hanya karena marganya bukan marga mayoritas, namun panitia tidak terpengaruh. Ternyata bagi sebagian orang, faktor mayoritas-monoritas sebegitu pentingnya. Proposal disusun, tujuan utamanya tentu saja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, namun di lain pihak proposal ini dimaksudkan untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kegiatan apa yang mau dilakukan dan yang tidak kalah penting untuk mendapatkan legalitas dari penguasa di kampung yaitu Kepala Desa.

Setelah kepanitiaan tersusun dan proposal sudah diteken, dimulailah perburuan dana. Target utama yang disasar adalah bapak mantan anggota MPR-RI yang dikenal dengan koperasi angkutan umumnya. Walau tidak sebesar yang dibayangkan, dari beliau didapatkan dana yang tidak bisa dikatakan sedikit. Selain beliau ada satu-dua donatur yang diharapkan bisa memberi lebih, selebihnya hanya donatur dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja, bahkan cenderung ekonomi lemah. Hingga menjelang hari H keadaan dana sangat menghawatirkan, tetapi di detik-detik terakhir ternyata dana yang dikumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Di luar dugaan banyak orang yang berbaik hati untuk kegiatan yang dikerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Beberapa hari menjelang kegiatan dilaksanakan, kesibukan di Simalingkar dipindahkan ke Balai Desa di Kampung. Langkah awal adalah menggabungkan panitia yang dari simalingkar dengan pemuda-pemuda yang ada di kampung. Penggabungan ini tidak berjalan mulus, namun tidak terlalu sulit. Ada beberapa pemuda yang tinggal di kampung yang merasa resistan, terganggu, atau apalah namanya dengan kegiatan tersebut. Mereka tidak mau ikut bergabung, tetapi tidak menjauh. Mereka memantau dari jarak yang menurut mereka aman. Hal ini menjadi masalah tersendiri. Panitia tidak memiliki solusi untuk masalah ini, dan ini menjadi catatan kedepan.

Dalam waktu yang sangat terbatas, persiapan di kampung dikebut dengan berbagai kesulitannya dan dua hari menjelang pergantian tahun acara pun digelar dengan segala kekurangannya. Gereja HKI menjadi pilihan terbaik melaksanakan acara ini. Memang masih ada gereja HKBP yang daya tampungnya lebih besar, namun pilihan jatuh ke HKI dengan alasan kehati-hatian. Panitia ingin kegiatan pertama ini berlangsung secara sederhana, namun benar-benar berkesan.

Sejak acara dimulai, awalya tidak ada masalah. Undangan yang hadir cukup banyak. Mereka duduk berdesakan dibangku-bangku panjang yang jumlahnya tidak banyak, bahkan sebagian undangan berdiri di bagian belakang. Mereka mengikuti acara dengan seksama. Mereka sepertinya menunggu kejutan-kejutan yang akan muncul dalam acara tersebut. Tanpa diduga-duga kejutan itupun muncul. Tanpa disangka-sangka dipertengahan acara terjadi gangguan teknis. Sound system gereja yang dayanya kecil bermasalah. Panitia berusaha memperbaiki, tetapi tidak berhasil, sehingga hampir separuh acara berlangsung tanpa bantuan pengeras suara. Ketiadaan pengeras suara ini sangat mengganggu. Undangan jadi tidak mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh pengisi acara dari depan.

Yang lebih menghawatirkan panitia adalah operet yang akan ditampilkan di ujung acara bakal menjadi mimpi yang tidak akan terwujud kalau tidak ada pengeras suara. Operet ini hanya bisa dilakukan kalau ada sound system. Operet ini dilakukan dengan mengikuti suara dari kasette yang diputar, sehingga pemeran yang tampil hanya mengikuti suara yang muncul dari kasette saja. Tidak terbayangkan kekecewaan panitia, bahkan mungkin undangan, bila operet ini tidak jadi ditampilkan. Panitia sempat panik dan hampir pasrah, namun ditengah kepanikan panitia ada warga yang mengetahui kepanikan itu dan berbaik hati memberikan bantuan. Seseorang menawarkan ke panitia untuk menggunakan peralatan sound system yang ada di rumahnya. Seseorang ini menjadi dewa penolong disaat panitia hampir putus asa. Ternyata begitu banyak orang yang berbaik hati untuk menolong kegiatan yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati.

Acarapun diakhiri dengan menyantap lappet yang tadi siang dimasak oleh beberapa orang yang berbaik hati dan minum air mineral Aeros yang dijemput langsung dari Balige. Semua undangan bahagia sambil menikmati lappet dan minum aeros. Namun yang paling bahagia adalah panitia. Tujuan untuk memberikan sebuah sentuhan yang berbeda di kampung pada akhir tahun tercapai. Inilah kegiatan pertama dari pemuda yang tergabung dalam sebuah nama yang mereka sebut dengan PARNASIB. Nama ini dirancang oleh seseorang di sebuah kamar berukuran kecil ketika dia hendak tidur beberapa hari sebelum panitia dibentuk. Ketika nama ini ditawarkan ke panitia, semua setuju tanpa ada yang komplain. Mungkin nama ini langsung pas di hati mereka.

Malam telah larut ketika semua undangan meninggalkan gedung gereja HKI. Daun-daun pisang bekas bungkus lappet berserakan dimana-mana, demikian juga dengan gelas-gelas plastik aeros. Panitia bertanggung jawab membersihkan semua sampah itu, dan panitia melakukannya dengan suka cita.Tenaga yang dikerahkan untuk membersihkan sampah-sampah itu tidak seberapa disbanding dengan seyuman bahagia di wajah para undangan yang meninggalkan gedung gereja. Perayaan memang harus usai, namun semangat yang ditimbulkannya tetap bersemayam dalam hati. Mimpi itu telah jadi kenyataan, walaupun tidak sesempurna yang dibayangkan. Namun keyataan itu menunjukkan bahwa sesuatu maksud baik bisa terwujud bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Demikianlah pada masa itu ternyata pemuda-pemuda itu mampu memberikan sentuhan akhir tahun 1998 yang manis dan berkesan. Setiap masa memang memiliki generasi sendiri-sendiri. Setiap generasi berhak mengapresiasikan dirinya dimanapun dia berada. Setiap anak muda pasti punya berjuta mimpi mulia yang ingin dia sumbangkan buat orang-orang di sekitarnya. Hanya kesungguhan dan kerja keraslah yang bisa membuat mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Tentu saja dengan tidak boleh melupakan kemurahan Tuhan.

Tahun-tahun berikutnya kegiatan PARNASIB itu juga dilakukan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Namun beberapa tahun kemudian kembali redup. Tiba-tiba tanpa sengaja tahun kemarin saya dengar kegiatan itu kembali dibangkitkan lagi. Tentu saja dengan pemuda-pemuda yang berbeda. Saya sangat senang mendengarnya. Saya senang sekali kalau pemuda-pemuda yang ada sekarang di sana mau mengapresiasikan diri bagi orang-orang disekitarnya. Sesungguhnya banyak hal bisa di lakukan, bukan hanya sekedar perayaan natal saja. Saya yakin pemuda-pemuda yang ada sekarang disana mampu melakukan bayak hal yang bisa menggairahkan kampung. Yakinlah.. sekecil apapun sentuhan yang diberikan buat kampung kita pasti ada maknanya, pasti ada imbalanya. Tuhan juga pasti berpihak kepada mereka yang mau bekerja keras mewujudkan mimpi dan membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Saya rindu setiap wajah orang tua di kampung tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang pekerja keras. Saya rindu anak-anak kecil yang tinggal disana memiliki impian yang tinggi melihat abang dan kakaknya yang kreatif.

Salam hormatku buat panitia Natal Parnasib 2011
Tabe mardongan tangiang tu sude Naposo Sipanganbolon.
Tetap Semangat…..!

Kenangan itu muncul kembali dan terlalu manis untuk dilupakan.

Kenangan Natal Parnasib tahun 1999