Aletona Antony Sinaga

Hari masih pagi, namun cakrawala timur sudah datang menyapa membawa salam dari sang mentari. Pagi itu aku dan inongmu kembali lagi ke rumah sakit ini, entah untuk yang ke kesekian kali, sejak kedua kakakmu belum ada di rumah kita. Pagi itu inongmu mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan tubuhnya. Kontraksi yang dia rasakan kian cepat dan kian sakit. Janin yang bertumbuh di rahimnya sejak 40 minggu yang lalu sepertinya sudah ingin menghirup udara bebas.

Dan benar adanya, empat jam kemudian engkau hadir dengan suara tangis kecilmu. Seketika itu juga rasa sakit yang dirasakan ibumu sirna bersama sinar mata dari tatapan polosmu.

14358864_10210400471798373_1460347702941204190_n

Aletona Antony Sinaga, engkau hadir menambah ceria rumah kecil kita. Kita tidak tau pengalaman apa yang akan kita jalani. Tuhanlah yang memberi kekutan. Semoga pengalaman-pengalaman itu menjadikan kita semakin kuat dan semakin berarti bagi orang-orang di sekitar kita. Saya tidak meminta agar kelak kamu menjadi seorang pahlawan super. Saya hanya selalu mengingat pesan ompungmu agar selalu menjadi orang baik dan nama keluarga besar kita tidak pernah dipermalukan.

Kehadiranmu telah menjadi sukacita dan hadiah yang sangat berharga yang Tuhan berikan. Dukungan, bantuan dan doa dari teman, sahabat, tetangga, orang tua, saudara dan handai taulan akan menguatkan kita untuk menjalani hari-hari ke depan.

Mata mungilmu, pipi tembemmu, tangisanmu…. ahhhh. Rasanya ingin secepatnya pulang ke rumah lalu mengendongmu dan aku akan mensenandungkan kidung kesukaan kita.

Metmet auon, bahen ias rohangkon.

Sasada ho Jesus, donganhu tongtong.

Simbur mangodang ma ho uccok.

Iklan