PAGODA PARAPAT

PAGODA PARAPAT
Pagoda yang ada di kota Parapat bukanlah pagoda sebagaimana umumnya kita ketahui berupa bangunan bertingkat-tingkat menyerupai menara yang banyak terdapat di Thailand. Pagoda yang ada di Parapat adalah berupa sebuah lapangan terbuka dan sebuah rumah panggung tradisional Batak Simalungun. Saya tidak tahu mengapa tempat ini disebut dengan nama pagoda.

Tempat ini juga disebut dengan ‘Open Stage’ yang artinya lapangan terbuka. Tempat ini memang merupakan lapangan resmi yang digunakan oleh pemerintah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, layaknya lapangan merdeka atau alun-alun di tempat lain. Di lapangan inilah upacara 17 Agustus atau upacara/acara “kenegaraan” se-kecamatan Girsang Sipanganbolon dilaksanakan. Di lapangan ini juga dilaksanakan acara puncak Pesta Danau Toba setiap tahun. Selain acara-acara pemerintah, lapangan ini juga digunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat meyelenggarakan upacara adat, khususnya upacara adat pernikahan. Pentas kesenian sekolah juga sering dilakukan di lapangan ini. Selebihnya tempat ini digunakan anak-anak untuk tempat bermain.

Saya tidak tahu kapan persisnya Pagoda ini dibangun dan mulai digunakan sebagai lapangan resmi pemerintah, namun dari penampakannya terutama dari bangunan rumah adatnya, saya yakin tempat ini sudah ada lama sekali. Saya pertama kali ke lapangan ini ketika saya masih duduk di bangku kelas satu SD tahun 1982. Kala itu semua murid dari sekolah kami harus ikut merayakan 17 agustus di lapangan ini bersama semua sekolah sekecamatan. Sejak saat itu, saya mengagumi tempat ini. Lapangannya yang dikelilingi oleh lereng berumput hijau, rumah panggungnya yang gagah dengan berbagai ukiran gorganya, latar belakang Danau Tobanya dan yang lainnya membuat tempat ini semakin mengagumkan.

Lapangan ini sangat berbeda dibandingkan dengan banyak lapangan di tempat lain. Salah satu keunikan dari lapangan ini adalah kontur tanah yang mengelilinginya. Pada bagian utara dan barat berkontur miring menanjak, sementara bada bagian yang lain konturnya rata menuju ke danau toba. Kontur ini membentuk pagoda mirip stadion atau amphiteater setengah lingkaran. Bentuk yang sedemikian rupa ini memungkinkan banyak orang bisa menempati kontur yang miring itu untuk menyaksikan ketika ada pertunjukan di panggung yang ada di sana. Hal ini jugalah yang manjadi salah satu faktor mengapa tempat ini selalu menjadi tempat penyelenggaraan acara puncak Pesta Danau Toba. Tempat ini bisa menampung ribuan penonton, dan semua penonton dapat menyaksikan pertunjukan tanpa ada yang terhalang oleh penonton yang ada di bagian depan.

Selama saya duduk di bangku SMP, saya senang sekali kalau di tempat ini ada acara yang mengharuskan murid-murid dari sekolah kami menghadirinya, dan acara seperti itu cukup sering diadakan. Setiap kali acara selesai, saya tidak langsung meninggalkan tempat ini. Saya menyempatkan bermain bersama teman-teman, kadang sampai sore hari. Walaupun hanya bermain kejar-kejaran, menaiki balkon rumah adatnya melaui tangga berputar atau hanya sekedar bermain ayunan atau jungkat jungkit yang dulu ada di sana. Permainan akan kami akhiri dengan menceburkan diri ke air danau yang ada di pantai Danau Toba tidak jauh dari lapangan ini. Setelah puas menikmati dinginnya air danau, baru saya meninggalkan tempat ini dan pulang ke rumah yang jaraknya tidak kurang dari 10 km.

Sejak saya menamatkan sekolah menengah pertama, saya jarang datang ke lapangan ini, tetapi setiap kali datang ke Parapat, saya selalu menyempatkan ke lapangan ini walaupun hanya sekedar melintas menuju pantai Danau Toba yang ada di sana. Ketika saya kuliah saya semakin jarang datang ke lapangan ini. Namun ada satu kesempatan yang mengharuskan saya datang setiap hari ke tempat ini selama sebulan, yaitu ketika tahun 1998 ada kegiatan KKN dari kampus dimana saya kuliah. Saya bersama dengan tujuh teman saya ditempatkan KKN di kelurahan Tigaraja, dimana kantor kelurahan Tigaraja berada persis di belakang lapangan ini.

Selama saya KKN saya merasa lapangan ini menjadi kampung saya. Setiap pagi saya bersama teman-teman harus datang ke lapangan ini menemui Lurah. Di sore hari menonton teman-teman yang bermail bola dilapangan ini dan sebelum pulang ke posko mandi dulu di Danau Toba dan kadang-kadang mencoba keberuntungan memancig ikan. Disini juga saya mengenal seseorang bernama Doni. Doni dipercaya oleh Lurah untuk merawat pagoda. Sebagai konsekuensinya Doni diijinkan tinggal di lantai 2 rumah adat yang ada dilapangan itu. Selain merawat pagoda, Doni juga memelihara beberapa ekor kuda yang disewakan kepada wisatawan untuk berkeliling di sekitar pagoda dan pantai di sekitar pagoda. Di sela-sela kegiatan KKN kami sering ngobrol dengan doni di rumah adat pogoda ini sambil sekali-kali menikmati teh manis hangat dan pisang goreng yang kami beli urunan dari warung dekat lapangan itu.

Sejak saya mengenal lapangan ini sampai sekarang tidak ada perubahan yang signifikan. Perubahan yang pernah dilakukan hanyalah penambahan panggung di depan rumah adatnya, penambahan atap peneduh untuk penonton di beberapa tempat dan perubahan kecil lainnya. Namun bagi saya, semua perubahan ini tidaklah menambah pagoda ini semakin cantik, malah semakin semberaut. Apalagi dengan dipasangnya atap panggung di depan rumah adat, telah menghalagi keanggunan rumah adat panggung yang berdiri kokoh di belakangnya. Dua buah papan besar di kiri kanan rumah adat juga sangat mengganggu pemandangan. Demikian juga dengan tiang-tiang lampu penerang lapangan yang berdiri tak beraturan. Belum lagi kebersihan dan keasriannya yang semakin berkurang. Saya tidak tahu apakah pemerintah disana merasakan seperti apa yang saya rasakan. Semakin hari lapangan ini kian gersang.

Saya berharap pagoda kembali ke keadaan sekitar tahun 80-an, asri, rapi, bersih dan yang terutama karakter rumah adatnya jelas terlihat dan tidak diganggu oleh aksesoris atau banguna tambahan lain yang tidak selaras dengan rumah adat tersebut. Seandainya mau di tambah dengan fasilitas lain harus disesuaikan dengan karakter yang sudah ada. Biarlah karakter pagoda tetap ada menyimpan berjuta kenangan orang-orang yang pernah singgah di sana. Saya sangat berharap pemerintah memeliharanya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai satu saat pagoda ini berpindah tangan ke investor dan mengubahnya menjadi Hotel, Resort, atau peruntukan yang lain.