Sebuah Refleksi Menyongsong 2010

Tidak lebih dari 2 hari lagi tahun 2009 akan berlalu. Seperti biasanya di tahun-tahun yang lalu, hujan menyiram penghujung tahun ini. Sejak Natal kemarin cuaca dingain masih setia menemani hari-hari menjelang tahun 2010. Udara yang dingin dan langit yang mendung mengundang hati dan jiwa untuk sejenak merenung. Mengenang kembali lembaran hari-hari yang sudah berlalu sepanjang tahun ini. Peristiwa demi peristiwa mewarnai lembaran-lembaran itu. Suka dan duka silih berganti. Tawa dan air mata berbaur menjadi sebuah untaian mutiara hati penyambung hari-hari sepanjang 2009.

Tahun 2009 kami awali dengan sebuah ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Ungkapan syukur pergantian tahun yang telah menjadi tradisi keluarga yang wajib kami lakukan setiap tahun. Berbalutkan selimut-selimut tebal untuk menghalangi udara dingin menusuk tulang-tulang, kami berkumpul di ruang tengah rumah kami. Disana masih ada ibu tercinta sebagai pimpinan tertinggi keluarga kami saat itu. Kebaktian singkat yang sangat sederhana tapi penuh makna menjadi ungkapan syukur kami. Dengan suara sangat pelan layaknya berbisik yang terpatah-patah, ibu memanjatkan doa ucapan syukur dan permohonan agar Tuhan selalu menemani anak-cucunya. Kami tidak menyadari kalau kebaktian tersebut menjadi kebaktian tahun baru terahir yang kami lakukan bersama ibu, walaupun memang kami tau bahwa kondisi kesehatan ibu sudah sangat menurun. Kami masih punya harapan besar kalau kesehatan ibu kana pulih. Diakhir kebaktian kami merayakan ulang tahun ibu yang ke 75. Sebenarnya kami tidak tau pasti kapan ibu lahir, tetapi kami membuat kesepakatan bahwa ibu lahir tanggal 1 januari agar gampang diingat. Ini juga menjadi perayaan ulang tahun terahir buat ibu. Kami sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan, karena di awal tahun ini kami masih diijinkan berkumpul bersama ibu. Walaupun kesehatan ibu tidak prima, kami tetap bersuka cita.

Tidak sampai sebulan kemudian, tepatnya 28 januari 2009 ibu menghadap Sang Pencipta. Inilah peristiwa yang paling menguras air mata kami di tahun 2009. Kepergian ibu menjadi kehilangan terbesar kami di tahun ini. Kami sadar kalau kami masih sangat membutuhkan dia. Kami jadi sadar kalau kami belum memberikan apa-apa kepada ibu. Kami terlalu memikirkan kepentingan diri kami sendiri. Walaupun memang ibu tidak pernah menuntut banyak kepada kami. Ia sudah bahagia kalau kami bisa menjadi orang-orang yang lebih baik dari kehidupan dia. Memang penyesalan selalu datang terlambat, tetapi kami tetap beryukur bahwa Tuhan telah membarikan kepada kami seorang ibu yang luar biasa. Seorang ibu yang mampu melewati berbagai kesulitan, mempertaruhkan hidupnya untuk menghantarkan semua anak-anaknya ke kehidupan yang lebih baik. Kami tidak tau akan jadi apa hari ini kalau ibu tidak berjuang buat kami anak-anaknya. Selamat Jalan Ibu Tercinta.

Sekembalinya dari kampung setelah kami menghantarkan ibu tercinta ke tempat peristirahatannya, kami menempati rumah baru. Tepatnya minggu ketiga bulan Februari kami memindahkan barang-barang dari rumah kontrakan yang lama ke rumah yang baru. Walaupun sebuah rumah yang tidak mewah, namun rumah baru ini benar-benar merupakan anugrah Tuhan buat kami dan khususnya buat keluarga Abang Juston. Seminggu kemudian kami melaksanakan upacara ucapan syukur yang sangat sederhana atas rumah baru tersebut. Kami berharap harapan-harapan dan mimpi-mimpi kami dapat kami wujudkan dari rumah ini. Kami juga berharap di rumah ini kami akan selalu memuji Tuhan dan menjadi tempat berteduh bagi semua sanak saudara. Selain itu kami juga berharap rumah ini menjadi pembawa damai dan berkat bagi lingkungan sekitar.

Di pertengahan tahun 2009 banyak suka cita yang kami dapatkan khususnya untuk urusan sekolah anak-anak. Anak-anak yang UAN semuanya lulus. Kristin lulus dari SMU. Tono, Yenti dan Bill lulus dari SMP dan melanjut ke SMU. Topan lulus SD dan melanjut ke SMP. Fajar, Pael, Chris, dan None naik kelas di SD. Iren selesai TK dan masukke SD. Grace naik kelas di TK. Hansen dan Steven masuk TK. Kelulusan dan kenaikan kelas anak sekolah kelihatan memang seperti hal yang biasa-biasa saja, tetapi hal ini juga merupakan anugrah dan kemurahan Tuhan yang sering tidak kita sadari. Selain suka cita anak sekolah, suka cita yang lain adalah suka cita pekerjaan baru. Ichin mendapat pekerjaan baru dan baru-baru ini kami tau kalau Emi sudah dapat kerja di Papua dan akan mulai bekerja awal tahun depan.

Sepanjang tahun ini keluarga Rapael mendapatkan sebuah guncangan di perusahaan mereka, namun puji Tuhan guncangan itu dapat dilalui dan berahir dengan suka cita. Di penghujung tahun ini mereka membangun rumah dan ini juga merupakan kebaikan Tuhan sekaligus suka cita bagi kami semua.

Di Bulan Oktober, sebuah suka cita besar menyentuh keluarga kami. Lisbet melangsungkan pernikahannya di kampung. Walaupun kami tidak bisa berkumpul bersama-sama menghadiri pernikahan itu karena berbagai keterbatasan, tetapi kami benar-benar berbahagia.

Itulah sedikit dari banyak peristiwa yang mewarnai hari-hari kami Keluarga Besar Op. Chandra Sinaga. Kepergian ibu menjadi peristiwa terbesar yang kami alami di tahun ini. Bahkan sampai di penghujung tahun wajah ibu masih selalu hadir di mimpi-mimpi kami. Kami benar-benar menyadari kalau tahun ini dapat kami lalui hanya karena kemurahan Tuhan.

Kurang dari dua hari lagi, fajar 2010 akan terbit. Berjuta harapan telah kami semaikan. Berjuta mimpi telah kami taburkan. Akankah tahun depan lebih baik dari tahun iniā€¦? Akankah harapan dan mimpi itu dapat kami tuai di tahun depan..? Semoga..! Untuk itu kami harus bekerja keras dan lagi-lagi kami mengharapkan kemurahan Tuhan.

Selamat Tahun Baru 2010