Ompung Siattar

Dia adalah ibu dari ibuku. Kami menyebutnya dengan Oppung Siattar karena dia tinggal di Kota Pematang Siantar. Kami biasa menyebut seseorang dengan tempat dimana dia tinggal. Dialah satu-satunya ompung kandung yang pernah aku kenal. Ompung doli dari ibu sudah lama meninggal dan kedua oppung dari bapak sudah meninggal lebih lama lagi, jauh sebelum aku lahir. Kadang aku iri dengan teman-teman yang ompungnya masih ada dan sering berinteraksi dengan mereka. Di kampungku, hampir semua ompung sangat sayang kepada cucu-cucunya. Ompung merupakan tempat mengadu yang ampuh ketika seorang anak kena marah orang tuanya. Ompung juga merupakan tempat meminta yang tidak pernah menolak.

Interaksi saya dengan ompung kami ini terbilang tidak banyak, karena memang dia tinggal jauh di kota Pematang Siantar, sementara aku tinggal bersama orang tuaku di kampung Sipanganbolon. Sedikit aneh memang. Biasanya bagi banyak orang, ompungnya yang tingal di kampung, sementara sang cucu tinggal di kota. Jadi bagi orang kebanyakan itu, kalau liburan mereka akan pulang kampung mengunjungi ompungnya, sedangkan saya liburan mengunjungi ompung yang tinggal di kota. Interaksi saya dengan ompung Siattar hanya beberapa kali saja ketika saya berkunjung ke rumahnya disaat liburan, ditambah ketika dimasa penghujung hidupnya dia pernah tinggal di rumah kami dalam waktu yang tidak lama.

Ketika saya belum mengenal ompung ini, saya mendengar cerita dari ibu dan kakak-kakakku kalau ompung ini seorang yang sangat cerewet. Saking cerewetnya tidak ada satupun anaknya yang tidak pernah disemprot oleh dia. Bahkan para menantunya juga tidak ada yang luput. Seakan-akan tidak ada aktivitas anak-anaknya yang beres di hadapannya. Kecerewetan ompung ini memang terbukti ketika saya berkunjung ke rumahnya.

Sampai sekarang saya tidak tau pasti mengapa ompung itu menjadi seperti itu. Namun menurut dugaan saya, kehidupan yang keraslah yang membuat dia seperti itu. Ompung ini harus menghidupi dan menyekolahkan sembilan anaknya, sementara pekerjaan omppung doli hanyalah seorang pesuruh di sekolah SD swasta di Kota Siantar. Untuk menambah penghasilan ompung doli yang tidak seberapa, ompung boru membuka warung di sekolah tersebut dan dengan cara inilah ompung boru bisa mengasuh anak-anaknya.

Ketika ompung doli meninggal, ompung boru tidak dibolehkan lagi tinggal di kompleks sekolah dimana ompung doli bekerja. Ompung boru lalu pindah ke pinggiran kota Siantar, tepatnya di Kampung Karo, Rambung Merah. Tempat ini memang masih masuk kota Siantar, tetapi lebih kampung dari kampung dimana aku tinggal. Jalan menuju tempat tersebut masih jalan setapak. Tempat itu dipenuhi banyak pohon besar seperti durian, alpukat, karet, kelapa dan yang lain. Disana juga masih banyak tanaman singkong.

Di tempat yang baru itu dia membangun rumah yang sangat kecil dari papan kayu sisa bongkaran warungnya yang di kompleks SD swasta sebelumnya. Untuk membiayai hidupnya ompung boru membuka warung yang sangat sederhana di rumah mungilnya yang baru. Untungnya biaya hidupnya tidak lagi banyak, karena anak-anaknya sudah dewasa dan sebagian besar sudah menikah, sehingga warung kecilnya sanggup membiayai hidupnya. Warung ompung ini hanya terdiri dari sebuah rak kaca yang disebut dengan steleng. Di dalamnya hanya terdapat beberapa bungkus rokok, beberapa bungkus gula pasir, teh, mi instan dll.

Ketika saya berkunjung ke sana, saya sangat prihatin dengan keberadaan ompung itu. Dengan rumahnya yang sangat kecil dan sangat sederhana, warung mungilnya, jalan setapak menuju rumahnya, kesendiriannya, membuat saya tak habis pikir. Saya heran mengapa ia bertahan hidup menyendiri di tempat itu. Padahal anak-anaknya sudah pada menikah dan mamiliki rumah yang lebih baik. Mengapa ompung tidak tinggal saja di salah satu rumah anaknya. Toh kebutuhan ompung tidak banyak dan pasti tidak akan membebani siapa-siapa. Dugaan saya mungkin ompung tidak mau menyusahkan anak-anaknya selama ia masih mampu menghidupi dirinya sendiri. Walaupun akhirnya di ujung sisa hidupnya dia menyerah dan mau tinggal di rumah anaknya, karena dia mulai sakit-sakitan. Walaupun tidak lama dia juga pernah tinggal di rumah kami.

Ketika Oppung Siattar tinggal di rumah kami, dia tidur di sebuah tempat tidur di ruang tengah. Waktu itu ompung sudah mulai sakit-sakitan. Sakitnya adalah sakit batuk yang berkepanjangan. Selama tinggal di rumah kami, sakit yang diderita ompung semakin membaik dan kami berharap oppung mau tinggal lebih lama, tetapi ompung tidak mau. Dia memilih untuk pindah ke rumah anaknya yang di Kampung Simaibang, tidak jauh dari rumah kami. Lagi-lagi dugaan saya, ompung itu merasa tidak enak tinggal berlama-lama di rumah kami, karena bapak juga waktu itu dalam keadaan sakit.

Setelah tinggal di kampung, ompung tidak pernah lagi kembali ke Siantar, namun kami tetap saja menyebutnya dengan Oppung Siattar. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di kampung ketika saya hendak melanjutkan sekolah ke Kota Siantar. Kami sangat kehilangan dan ibuku mewarisi kecerewetan ompung itu.

Ketika saya sudah dewasa, menikah dan memiliki anak, saya mulai memahami pilihan ompung Siantar untuk hidup sendiri di rumah mungilnya di Rambung Merah. Ternyata tidak mudah bagi seorang orang tua untuk tinggal menetap di rumah anaknya. Menjaga keharmonisan antara menantu dan mertua adalah sesuatu yang tidak mudah, walaupun memang harus diperjuangkan dan dibuat lebih mudah. Keinginannya untuk tidak berkonflik dengan siapapun memaksa dirinya untuk selalu bekerja keras menghidupi dirinya sendiri, meskipun kadang-kadang konflik itu tidak terhindarkan.

Perjuangan ompung itu dalam menjalani hidup merupakan warisan yang sangat berharga, yang sangat sayang untuk diabaikan. Kerja kerasnya yang tidak kenal lelah merupakan pelajaran mahal. Rasanya tidak perlu berguru kepada para tokoh motivator untuk sekedar berjuang menjalani hidup. Rasanya tak perlu belajar sampai ke Negeri Cina untuk belajar bekerja keras. Ompung Siantar telah mewariskan banyak hal untuk itu.

Kadang-kadang saya rindu mendengar suara batuknya di pagi hari. Kadang-kadang saya ingin lagi mendengar omelannya, memandangi keriput di wajahnya dan merasakan hangat senyumannya. Dan saya tidak pernah lupa ketika di suatu pagi yang masih gelap dan dingin dia mengintip dari balik selimutnya, memperhatikan kegiatan saya sebelum saya berangkat sekolah.

Ompung…

Banyak misteri yang tidak saya pahami tentangmu.

Banyak masa yang saya sesali terlewatkan begitu saja ketika kamu masih ada.

Namun…

Banyak pelajaran berharga yang telah kamu wariskan.

Dan yang pasti cintamu juga turut menjadikan saya apa adanya hari ini.

Bahagialah ompung di duniamu sekarang bersama dengan semua orang-orang yang pernah kita sayangi yang sudah ada di dunia sana.