Kobbang Layang dan Kassang Tojen

Tahun baru memang masih lebih dari 2 bulan lagi, tapi hari ini saya ingin berbicara tentang makanan khas Tahun baru di kampung kita yaitu Kombang Layang dan Kacang Tojen (baca: kobbang layang dan Kassang Tojen).

Tadi pagi ada seorang teman di kantor membawa Kartika Sari, kemarin dia baru pulang dinas dari Bandung. Kita semua pasti sudah tau kalau Kartika Sari yang dimaksud bukanlah seseorang apalagi seorang gadis cantik, walaupun memamg Bandung merupakan gudangnya gadis-gadis cantik, sampai-sampai dijuluki dengan Kota Kembang. Kartika Sari yang dimaksud disini adalah makanan khas kota Bandung yang terbuat dari pisang.

Selain Kartika Sari, di Bandung Banyak sekali makanan Khas seperti Brownis Kukus Amanda, Keripik Tempe, Kripik Pisang, segala macam Dodol dll. Namun Kartika Sari masih tetap menjadi oleh-oleh paling pavorit sampai hari ini. Setiap kali ke bandung aku selalu mengusahakan untuk membelinya. Saya harus mengakuikalau makanan itu memang benar-benar enak dan khas.

Hari ini ketika aku memakan sepotong Pisang Bolen Kartika Sari, aku jadi berpikir… Kalau di Bandung ada Karika Sari, lalu di Sipanganbolon ada apa…? Kalau di Jokja ada Bakpia potuk, di Semarang ada Lumpia, Moci, dan Wingko Babad, di Tarutung ada Kacang Sihobuk, di Siborong-borong ada Ombus-ombus, di Tebing Tinggi ada Lomang, di Medan ada Bika Ambon dan Bolu Meranti, lalu di Sipanganbolon ada apa…? Di Sipanganbolon ada Kobbang Layang dan Kassang Tojen.

Berbicara tentang Kobbang Layang dan Kassang Tojen, memori kita akan langsung terbang ke sebuah suasana kampung menjelang tahun baru. Suasana yang sarat makna yang diwarnai dengan perayaan natal kampung dan ritual menanam padi atau Marsuan. Suasana yang sangat menyentuh, menggairahkan, bahagia dan terlalu indah untuk dilupakan. Kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, suka cita dan cinta kasih berpadu menjadi satu.

Kobbang Layang adalah makanan yang terbuat dari tepung beras, gula, santan, telur, essence oil dan air. Semua bahan dicampur menjadi satu dan diaduk menjadi adonan seperti adonan tepung untuk membuat goreng pisang. Adonan inilah yang kemudian digoreng dengan bantuan cetakan tembaga bermotif kembang. Mengapa disebut Kobbang Layang karena adonan yang melekat dicetakan panas akan segera megembang dan melayang ketika dimasukkan ke dalam minyak goreng panas di kuali. Adonan yang kembang dan melayang ini harus segera dibalikkan kemudian diangkat tidak lebih dari 2 menit. Kalau tidak… Kobbang Layang akan gosong.

Kobbang Layang rasanya manis dan rapuh seperti kerupuk dan ini menjadi makanan penanda Tahun Baru di kampung. Jadi kita tidak akan pernah menemukan Kobbang Layang di kampung selain akhir Desember sampai awal Januari.

Kassang Tojen adalah makanan kedua penanda tahun baru di kampung. Bahan dasar makanan ini adalah kacang tanah. Kacang tanah dikupas, direndam dalam air hangat selama beberapa jam agar kulit tipis pembungkus biji mudah dipisahkan, lalu digoreng. Kassang tojen rasanya gurih dan sangat cocok menemani orang-orang yang sedang ngobrol lama-lama bahkan sampai larut malam atau sampai pagi ketika tahun baru.

Acara memasak Kobbang Layang dan Kassang Tojen merupakan acara yang asyik yang biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan. Namun demikian laki-laki juga kebagian tugas separti menumbuk beras menjadi tepung atau manduda itak, membantu memisahkan biji dengan kulitnya yang tipis setelah kacang tanah direndam dan membantu mengangkat kombang layang-kombang layang yang telah matang dari dalam minyak goreng, meniriskannya dengan menggantungnya pada sebatang lidi atau potongan bambu.

Di akhir proses pembuatan Kobbang Layang ada sesuatu yang unik yaitu membuat Kue Tukkup. Sebenarnya membuat Kue Tukkup tidak pernah direncanakan, tetapi selalu terjadi karena kue tukkup dibuat dari adonan kobbang layang yang sisa yang tidak mungkin lagi dicetak menjadi Kobbang Layang. Adonan sisa ini kemudian digoreng di kuali dengan menggunakan sedikit minyak goreng dan selama proses penggorengan, kuali ditutup. Inilah mengapa dikatakan kue tukkup, karena waktu menggorengnya ditutup atau ditukkup. Kalau kombang layang garing dan rapuh seperti kerupuk, kue tukkup lembut dan lunak seperti bolu (mungkin…?)

Selain Kobbang Layang dan Kassang Tojen masih banyak makanan lain yang meramaikan suasana tahun baru seperti Roti Bawang, Kue Bolu, Kue Semprit, Dodol, Lomang, Wajit dan tidak lupa satu makanan yang ekstra hati-hati waktu memakannya, yaitu Sasagun. Jangan coba-coba makan Sasagun sambil tertawa. Dijamin separuh dari Sasagun yang ada di mulut akan terbang ke udara. Atau akan keselak “singgohan”(????). Namun demikian Kobbang Layang masih menempati urutan pertama dan Kassang Tojen di urutan kedua makanan penanda tahun baru di kampung.

Yang menjadi pertanyaan mungkinkah Kobbang Layang dan Kassang Tojen menjadi makanan primadona bagi semua orang (tidak hanya orang batak yang tinggal atau berasal dari kampung) seperti halnya Kartika Sari dari Bandung dan Bika Ambon dari Medan…?

Bagaimana Tanggapan Anda….?

Iklan