Reunion (bagian 6)

Sekembalinya di rumah, abang Halim langsung tidur dengan mengenakan selimut tebal berwarna merah. Seingatku selimut itu sudah ada ketika ibu masih ada. Abang Halim harus istirahat, karena dari pagi ia menyetir mobil sejak mereka tiba di Bandara Kualanamu. Aurora, Ayugeera, Aletona dan mamapun sudah tidur di kamar. Kamar itu adalah kamar utama yang dulu ditempati bapak dan ibu. Di Kamar ini dulu ada sebuah tempat tidur besi dengan kasur yang terbuat dari kapuk. Katanya dulu aku sering ngompol di kasur itu, hingga kamar itu sering bau pesing. Kini tempat tidur itu sudah dipindah ke kamar sebelah. Sekarang sebuah kasur pegas telah menggantikannya yang langsung diletakkan di atas lantai.

Angin malam sudah terasa menusuk ke dalam tubuh. Jaket tebal tidak cukup untuk mencegahnya menyelusup ke kulit. Selimut-selimut tebalpun harus dikenakan membalut tubuh. Angin malam yang dingin itu tidak menyurutkan minat kami untuk memperbincangkan segala hal. Di tengah perbincangan kami yang makin malam makin hangat, Inanguda Pahae muncul bersama dengan Inangtua Muara. Inanguda Pahae adalah adik ibuku yang tinggal di Pahae, Tapanuli Utara. Sementara itu Inangtua Muara adalah putri dari inangtuanya ibuku. Inangtua Muara tinggal di Pulo Sibandang Muara. Begitulah kebiasaan kami menyebut saudara sesuai dengan tempat dimana mereka tinggal. Mereka sedari tadi siang berada di rumah Tulang Dewi di Toruan, sekitar lima puluh meter dari rumah kami.

Inanguda Pahae sudah lebih dari seminggu datang dari Pahae. Dia sangat antusia untuk mengikuti acara besok, sehingga dia sudah datang jauh-jauh hari. Terakhir aku bertemu dengan dia lebih dari tujuh tahun yang lalu ketika aku melangsungkan pernikahan di kampung. Hari ini penampilannya lebih segar, lebih ceria, walaupun keriput di wajahnya semakin bertambah. Tiga tahun yang lalu dia sempat menderita penyakit yang cukup serius dan dokter melarang dia untuk melanjutnya kebiasaan merokoknya. Berhenti merokok inilah yang memulihkan kesehatannya. Aku masih ingat rokok kesukaannya selain timbaho bakkal adalah rokok Kompil, Commodore Filter.

GBV4XAUK20161124120217Sementara itu Inangtua Muara baru datang dari Muara tadi siang. Dia membawa banyak buah mangga yang merupakan buah ciri khas dari kampungnya Pulo Sibandang. Buah mangga ini khas dengan ukuran yang lebih kecil dari mangga kebanyakan. Kadang-kadang ada juga yang menyebut mangga ini dengan mangga udang. Rasanya juga manis dengan kulit yang kebanyakan dipenuhi bintik-bintik coklat kehitaman. Mangga ini hanya tumbuh di sekitar Danau Toba. Dengan Inangtua Muara saya jarang bertemu, tapi saya tau kalau dia adalah seorang ibu yang tangguh. Perjuangannya menemani suami menghidupi anak yang sangat banyak itu layak diacungi jempol. Kini di masa tuanya dia hidup sendiri setelah ditinggal Amangtua beberapa tahun yang lalu. Perjuangannya tidak sia-sia, kini anak-anaknya sudah medapatkan kehidupan yang layak.

Malam semakin larut dan kisah-kisah yang kami perbincangkan tidak ada habis-habisnya. Waktu telah menunjukkan pukul 22.30 ketika sebuah Toyota Kijang berhenti persis di depan rumah. Rombongan Ito dari Jambi akhirnya tiba. Mereka terdiri dari Ito Jambi dengan tiga orang anaknya dan Ito Rawalumbu dengan dua anaknya. Sementara yang mengendarai mobil adalah bapaknya Cia. Rombongan merekalah rombongan yang terakhir tiba di kampung. Dengan Wajah yang lelah mereka turun dari mobil. Mereka juga menurunkan banyak sekali barang bawaan. Saya jadi bingung, bagaimana mereka semua dengan banrang sebanyak itu bisa muat dalam mobil yang tidak besar itu.

Dengan telebih dahulu bersalaman, berpelukan dan saling menanyakan kabar, mereka menceritakan bagaimana luar biasanya perjalanan mereka. Bagaimana anak-anak yang hampir semuanya mabok, bagaimana mereka bisa mendapatkan tempat-tempat makan enak tapi murah dan tempat penginapan yang nyaman namun juga murah. Keberuntungan selalu menamani perjalanan mereka hingga bisa tiba di kampung tepat waktu. Hampir separuh pulau Sumatra mereka jelajahi dengan mobil kecil Toyota Kijang dari Jambi hingga ke kampung Sipanganbolon ini. Ternyata rasa lelah tidak menyurutkan semangat anak-anak itu. Di tengah malam yang dingin, mereka malah bermain di luar rumah. Perintah dari ibu merekalah yang membuat mereka menarik selimut dan tidur, agar besok bisa bangun pagi.

Ruangan tengah rumah telah dipenuhi oleh orang yang tidur. Ruangan itu tidak sanggup lagi menampung semua orang untuk tidur, sehingga beberapa orang harus tidur di ruang belakang. Setidaknya ada 23 orang kami yang ada di rumah saat itu. Sementara itu beberapa orang termasuk saya masih ngorol di ruang tengah. Kami duduk sambil meringkuk mendekap selimut-selimut tebal disela-sela mereka yang sudah tidur. Sekitar pukul satu dini hari tukang salon yang akan datang ke rumah Sipanganbolon menelepon ke mamanya Arga. Mereka sudah datang, tetapi karena jalanan sngat gelap, mereka kelewatan sekitar 1 km. Mereka minta dijemput. Untunglah ada abang halim yang dimintai tolong untuk menjemput.

Tukang salon itu datang bersama dengan satu orang asistennya, suaminya dan anaknya yang masih kecil. Sungguh perjuangan yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Salut dengan perjuangan orang-orang seperti itu. Pasien pertama yang ditangani oleh tukang salon adalah ito Jambi dan ito Rawalumbu, tetapi baru rambut mereka yang dikerjakan, sedangkan wajah nanti setelah mereka pulang jiarah dari makan bapak dan ibu di Girsang. Di jiarah itu mereka akan marsuap, mencuci muka, sehingga tidak mungkin wajah mereka dimakeup terlebih dulu. Bapak Cia lah yang mengantar mereka ke Girsang. Bersama mereka ikut juga Wahyu.

Pasien salon berikutnya adalah Mama Arga, Inanguda Pahae, Ompung Arga, Mama Aurora, Aurora, Grace dan Ami. Ketika mereka bersalon saya menyempatkan tidur sejenak. Saya tidur tidak lebih dari dua jam. Mereka yang jiarah sudah kembali sebelum orang terakhir selesai disalon. Hari sudah terang ketika mereka semua selesai berdandan. Satu-persatu mereka difoto oleh tukang salon. Katanya buat dokumentasi dan sekaligus buat promosi. Perjuangan kalian untuk bangun dini hari, bahkan ada yang tidak tidur hanya untuk berdandan tidak sia-sia. Hasilnya memuaskan. Sempurna.

canva-photo-editor (41)Jam tujuh pagi kami sudah mengenakan busana dan penampilan terbaik kami. Isteriku dan anak-anak mengenakan kebaya dan gaun yang telah dijahitkan di tukang jahit terbaik itu. Saya mengenakan kemeja dan dasi jatah yang sengaja dibeli dengan warna yang sama. Sementara jas yang saya kenakan adalah jas abu-abu yang dulu saya beli di rest area km 98 Tol Purbalenyi (Orang-orang masih menyebutnya dengan Tol Cipularang) dengan harga super discount. Jam setengah delapan kami harus sudah berkumpul di gedung Confrence Hall untuk memulai acara besar yang akan kami gelar hari ini. Dari Sipanganbolon kami menaiki angkutan yang dikendarai oleh Tulang Rudol. Mobil angkutannya Tulang Rudol ini sengaja di pesan sepanjang hari ini untuk mengangkut siapa saja yang akan ke acara itu.

Bersambung ke bagian 7.

 

Reunion (bagian 5)

Di ruang tengah ini terlah digelar tikar lebar yang menutupi hampir seluruh lantai ruangan. mereka sengaja mempersiapkannya karena kami sudah bemberitahukan sebelumnya akan kedatangan kami. Jam dinding yang tergantung di dinding menunjukkan waktu setengah tiga. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari bandara Silangit sampai ke Sipanganbolon. Seandainya kami lewat bandara Kualanamu, kami akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, sekitar empat sampai lima jam.

sambal andalimanTidak butuh waktu lama dihadapan kami sudah terhidang menu makan siang. Rasa lapar yang tadi diperjalanan sudah sempat terlupakan, kini muncul kembali. Nasi putih hangat, ikan teri goreng sambal tomat, gulai ayam dan sambal andaliman sangat menggoda selera. Dengan tak lupa mengucapkan syukur pada Sang Pencipta, kami langsung menyantap hidangan itu. Waww… rasanya nikmat sekali. Ikan terinya khas dan rasa asinnya pas. Gulai ayam dengan ayam kampung yang masih muda rasanya maknyusss. Sambal andalimannya benar-benar menggetarkan lidah. Sampai sampai aku menambah nasiku sampai dua kali. Saat inilah kuliner kampung dimulai.

Selesai makan siang yang kesorean ini, kami melanjutkan bincang-bincang kami. Kami membicarakan banyak hal. Aku menanyakan keadaan itoku dalam setahun terakhir ini. Aku juga menanyakan keadaan saudara-saudara kami yang tinggal di kampung. kami juga membicarakan persiapan acara super spesial besok yang akan kami ikuti. Semua persiapan telah dilakukan dengan baik dan berjalan dengan sangat lancar, tinggal besok kami datang dan mengikuti acara itu.

Di tengah pembicaraan kami, mamanya Arga muncul di depan pintu. Dia mengangkat banyak sekali selimut tebal. Bawaannya langsung ditaruh di atas hamparan tikar dekat pintu masuk, ketika melihat kami sudah ada di rumah. Aku bangkit dari dudukku dan langsung memeluknya. Dia tersenyum bahagia melihat kami sudah tiba di rumah itu. Dialah satu-satunya putri itoku itu. Hatinya sangat baik dan sangat penurut kepada ibunya. Mamanya Arga baru datang dari rumah Dolok. Rumah Dolok adalah rumah mertuanya yang sekarang telah menjadi rumah mereka. Rumah ini terletak persis di depan gereja HKBP Sipanganbolon. Dia membawa selimut-selimut itu untuk kami pakai nanti malam. Angin malam di kampung yang sangat dingin harus dilawan dengan selimut-selimut yang sangat tebal.

Tidak terasa kami telah ngobrol begitu lama dan hari sudah menjelang malam. Anak-anak harus dimandikan, tetapi karena air di kamar madi sangat dingin, anak-anak tidak akan sanggup memandikannya. Aurora menyebut bak penampungan air yang ada di kamar madi itu adalah sebuah kulkas yang sangat besar, sehingga air yang ada di dalamnya menjadi dingin. Dia tidak tau kalau air itu sudah dingin sejak datangnya dari gunung. Untuk menghangatkan air itu, satu panci besar air harus dipanaskan terlebih dahulu. Namun tetap saja anak-anak itu mengigil ketika keluar dari kamar mandi.

Setelah anak-anak, kini giliran saya yang akan merasakan air dingin itu. Saya ingin merasakannya tanpa campuran air panas. Ketika air menyentuh kulit, dinginnya langsung merasuk sampai ke tulang. Uuuuuuu….. dinginnya luar biasa sampai-sampai kulit dan bagian tubuh yang lain mengkerut. Saya tidak tahan berlama-lama. Saya tidak mau membeku di kamar mandi itu. Kurang dari 10 menit saya sudah mengenakan pakaian kembali.

Ketika saya kembali ke ruang tengah, disana telah banyak saudara-saudara berkumpul. Mereka adalah saudara-saudara yang sudah datang ke kampung sebelum kami dan langsung berkumpul di Parapat. Mereka adalah Abangku yang tertua yang tinggal di Papua, Abang dan Kakak yang tinggal di Pulogadung beserta satu orang anaknya, Abang dan Kakak yang tinggal di Halim beserta ketiga anaknya, Mama Benny yang tinggal di Cempaka Putih dan Abang Duma yang tinggal di Parapat. Seperti biasa kami saling bersalaman, menanyakan kabar dan sebagainya. Selanjutnya dibicarakan kesiapan acara untuk besok dan ada beberapa keluarga dekat yang belum diundang. Malam ini orang-orang yang belum diundang itu akan dikunjungi langsung.

Sebelum Abang Papua dan Abang Duma kembali ke Parapat, kami terlebih dahulu makan malam. Malam ini ada menu spesial yaitu Ikan Mujahir goreng, daun singkong rebus dan sambal andaliman spesial. Ikan mujahirnya bebar-benar gurih, apalagi bila dicampur dengan sambal andalimannya, waww… benar-benar nikmat. Kali ini aku juga nambah dan rasanya perut tidak pernah kenyang. Dua potong ikan mujahir ukuran besar benar-benar aku tuntaskan dan tinggal tulang dan durinya yang tersisa di atas piringku.

Tidak lama setelah makan malam usai Abang Papua dan Abang Duma bergegas kembali ke Parapat. Mereka menaiki motor. Sementara yang lain masih tinggal di rumah. Mereka masih membicarakan ulos-ulos untuk keperluan besok. Mereka juga membicarakan salon yang sudah mereka pesan jauh-jauh hari. Ada yang akan bersalon di Parapat dan ada yang akan bersalon di rumah Sipanganbolon. Katanya tukang salon yang akan datang ke Sipanganbolon akan datang nanti jam satu dini hari. Haaa……. jam satu? Fantastis…, kapan tidur dan istirahatnya…? Luar biasa memang perjuangan kalian para ibu yang akan mengenakan konde itu.

Karena ulos yang mau dibeli lagi cukup banyak, maka ito ompung arga pun ikut bersama dengan kakak Pulogadung berangkat ke Tigaraja untuk membelinya. Sekalian Abang Pulogadung dan anaknya serta Mama Benny ikut bersama mereka yang akan kembali ke Parapat. Abang Halim yang sengaja mencarter mobil dari Medan mengantar mereka ke Tigaraja. Tidak lama mereka di Tigaraja. Tidak lebih dari 2 jam ompung Arga bersama dengan Abang Halim sudah kembali lagi di rumah Sipanganbolon.

Sekembalinya di rumah, abang Halim langsung tidur dengan mengenakan selimut tebal berwarna merah. Seingatku selimut itu sudah ada ketika ibu masih ada. Abang Halim harus istirahat, karena dari pagi ia menyetir mobil sejak mereka tiba di Bandara Kualanamu. Aurora, Ayugeera, Aletona dan mamapun sudah tidur di kamar. Kamar itu adalah kamar utama yang dulu ditempati bapak dan ibu. Di Kamar ini dulu ada sebuah tempat tidur besi dengan kasur yang terbuat dari kapuk. Katanya dulu aku sering ngompol di kasur itu, hingga kamar itu sering bau pesing. Kini tempat tidur itu sudah dipindah ke kamar sebelah. Sekarang sebuah kasur pegas telah menggantikannya yang langsung diletakkan di atas lantai.

Bersambung ke bagian 6.

Reunion (bagian 4)

Dari Sidasuhut mobil terus melaju menyusuri jalan menurun ke arah jembatan Binaga Naborsahan. Jembatan inilah satu-satunya jembatan di jalan raya di Sipanganbolon dan Binanga Naborsahan adalah satu-satunya sungai di Sipanganbolon. Sungai Naborsahan inipun tidak lebih baik dari Rambatoruan dan Dolok Sitanggurung. Seluruh pinggiran sungai sudah tertutup semak belukar. Sawah-sawah di pinggiran sungai juga sudah tidak diolah lagi. Permukaan sungai sudah tidak terlihat lagi. Padahal dulu sungai ini menjadi salah satu tempat favorit untuk bermain, berenang, tempat mencuci pakaian dan perabotan. Sepertinya saluran air minum yang sudah masuk ke rumah-rumah, membuat sungai ini dilupakan.

balaidesaDalam waktu singkat mobil sudah mendekati sebuah rumah yang kami tuju. Rumah itu tidak jauh dari Kantor Kepala Desa Sipanganbolon. Jaraknya hanya sekitar sepelemparan batu saja. Rumah itu hanya berjarak dua rumah di seberang simpang Sitahoan. Bentuk rumah itu kurang lebih sama dengan rumah-rumah di sekitarnya. Bentuknya kotak memanjang ke belakang dengan dinding sepertiga dari bawah menggunakan beton dan sisanya menggunakan papan. Sementara itu atapnya segi tiga yang terbuat dari seng. Dikampung hampir semua rumah menggunakan aptap seng dan hanya satu dua yang menggunakan genteng, itupun baru ada belakangan ini.

Saya meminta Abang Sianipar menghentikan mobilnya persis di depan rumah bercat kuning itu. Rumah ini tidak ada yang berubah sejak terahir aku mengunjunginya. Hanya catnya saja yang baru, tetapi dengan warna yang sama. Di rumah inilah aku dilahirkan 41 tahun yang lalu. Masa kecilkupun berlangsung dengan penuh kegembiraan di sini. Ketika aku mulai meninggalkan rumah ini untuk urusan sekolah, rumah ini menjadi sebuah magnet yang selalu menarik aku untuk pulang. Dan setiap kali pulang ke rumah ini aku selalu malas dan enggan untuk meninggalkannya. Entah sihir apa yang selalu membuat aku nyaman berlama-lama di bawah naungannya.

Suasana rumah sepi. Di teras hanya ada Arga dan ompungya yang sedang menuang bensin dari jerigen ke botol-botol kecil. Mereka di sana membuka warung kecil dan juga menjual bensin ketengan. Warung itu telah ada sejak aku masih SD, namun bensin ketengan itu baru ada sekitar 10 tahun terakhir ini.

Ketika mobil berhenti, mereka tidak memperhatikan kalau kami yang datang. Mereka baru sadar ketika aku turun dari mobil dan melangkah masuk ke teras rumah. Ompung Arga langsung berdiri, melepaskan botol yang tadi dipegangnya dan dengan seyum khasnya menyambut kedatanganku. Spontan aku langsung memeluknya dengan erat dan entah kenapa titik bening langsung menggelayut di sudut kelopak mataku.Titik bening itu hampir saja meluncur ke pipi, namun aku tahan sekuat yang aku mampu. Aku tak ingin Itoku itu melihatnya. Titik-titik bening itu hanya membuat mataku berkaca-kaca. Kami tidak banyak bicara, tetapi pelukan hangat itu lebih dari ribuan kata-kata sebagai ungkapan kerinduan pasombu sihol.

Ito itu masih tangguh dan sorot matanya masih setajam dulu. Tubuhnya yang relatif kurus masih seperti sebelumnya dan tidak ada yang berubah. Sepertinya usianya tidak bertambah sejak terakhir kami bertemu lebih dari setahun yang lalu. Saongsaong yang dia gunakan menambah kesan pekerja kerasnya. Saongsaong adalah kain sarung penutup kepala yang biasa dikenakan perempuan dikampung kami ketika beraktifitas di ladang atau sawah untuk menghindari terik sinar matahari. Saongsaong ini biasa terbuat dari sarung tenunan Balige.

Dibelakangku menyusul mama yang menggendong Aletona, kemudian Aurora dan Ayugeera. Mereka juga memeluk Ito itu secara bergantian. Kami berbicara sebentar menanyakan kabar berita. Kami juga menyapa Arga dan memeluknya. Dia terlihat salah tingkah dan malu-malu. Sementara itu sopir yang mengantar kami telah selesai menurunkan barang bawaan kami. Saya menemui si sopir untuk menyelesaikan transaksi sesuai dengan harga yang kami sepakati ketika di bandara Silangit. Setelah transaksi selesai si Sopirpun melajukan mobilnya meninggalkan kami dan kembali ke arah Siborongborong.

Memasuki ruang tengah itu saya merasakan aura khas yang tidak pernah aku temukan di tempat lain. Aura kedamaian yang sulit aku gambarkan. Di ruang tengah itu rasanya saya disambut oleh bapak dan ibu yang fotonya terpampang di dinding yang langsung menghadap ke pintu masuk. Senyum ibu di foto itu seakan menyapa “Ai na ro do ho hasian?“. Demikian juga dengan tatapan bapak yang beralis tebal di foto itu seakan berbisik “Ai nungnga masihol au da amang”. Dalam hati aku menjawab “Nungnga ro be au Inong“, “Au pe masihol do Among“. Pingin rasanya kembali ke masa itu ketika bapak dan ibu masih ada di sana. Mereka selalu menyambut kepulanganku dengan hangat walaupun tak pernah diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terlihat jelas dari raut wajah mereka.

Di ruang tengah ini terlah digelar tikar lebar yang menutupi hampir seluruh lantai ruangan. mereka sengaja mempersiapkannya karena kami sudah bemberitahukan sebelumnya akan kedatangan kami. Jam dinding yang tergantung di dinding menunjukkan waktu setengah tiga. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari bandara Silangit sampai ke Sipanganbolon. Seandainya kami lewat bandara Kualanamu, kami akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, sekitar empat sampai lima jam.

Bersambung ke bagian 5.

 

Reunion (bagian 3)

Simpang Sibisa di Aeknatolu menjadi tempat yang meninggalkan kesan masa kecil yang cukup dalam. Dulu sering melewati tempat ini bersama ibu menuju Sibisa setiap kali mau berjualan pakaian. Kami biasa menumpang angkutan umum Parsito milik tetangga yang juga ikut berjualan ke sana. Pernah juga naik Datsun pickup milik ompung jualan ikan asin dan jauh sebelumnya pernah juga menompang kereta kerbau. dan dulu semua itu indah sekali.  Kini di Simpang Sibisa ada yang baru. Sebuah gerbang besar berdiri disana.

Gerbang besar itu adalah gerbang sebuah kawasan pendidikan seminari dengan nama Bukit Gibeon. Katanya kawasan pendidikan baru ini milik seorang konglomerat bermarga Sitorus. Ironis memang, dibawah gerbang besar itu jalanan masih darurat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diperbaiki, sehingga masyarakat sekitar juga merasakan manfaatnya.

selamat jalan
Gerbang Perbatasan Toba Samosir dengan Simalungun

Meninggalkan Aeknatolu, sebuah gerbang Selamat Jalan terpampang di depan. Kami meninggalkan kabupaten Toba Samosir dan memasuki wilayah kekuasaan kabupaten Simalungun. Ada satu dua sopo-sopo di pinggir jalan yang memajang buah nenas. Dari sejak saya kecil daerah perbatasan ini memang terkenal dengan dagangan nenasnya.

honas2
Sopo Penjual Nenas

Selain terkenal dengan sebutan Parbatasan, daerah ini dikenal juga dengan sebutan Parhonasan. Setiap akhir pekan para muda-mudi di kampung berkumpul di tempat ini. Saya tidak tahu entah apa yang mereka lakukan disana. Apa ya…? Namun telah lama tempat ini tidak lagi menjadi favorit muda-mudi. Para penjual nenas juga tidak lagi seramai dulu, dan nenas yang mereka jualpun  bukan lagi nenas yang mereka tanam sendiri, melainkan nenas yang diimpor dari daerah Sipahutar di Tapanuli Utara.

pasar napintor
Pasar Napintor

Perbatasanpun lewat dan masuk ke Sosorpea dengan Pasarnapintornya. Disebut Pasarnapintor karena hanya disanalah ada jalan lurus dan panjang di desa Sipanganbolon. Walaupun sebenarnya jalan itu tidak panjang-panjang amat. Lepas dari Sosorpea masuk ke Sidallogan dan selanjutnya ke Sidasuhut. Sebuah gereja besar di sisi kiri jalan berdiri kokoh. Gereja itu adalah Gereja HKBP Sipanganbolon dimana saya dibaptis, sekolah minggu, naik sidi dan menerima pemberkatan nikah. Ahhh…. jadi rindu dengan teman-tema sekolah minggu itu, guru-guru sekolah minggu itu, rindu juga dengan seorang sintua yang centil itu. Sorry ya tulang…., saya sebut sintua centil.

Sedikit tentang HKBP Sipanganbolon  silahkan klik (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

sd1 1
SD Negeri 1 Sipanganbolon

Di depan HKBP Sipanganbolon ada SD Negeri 1 Sipanganbolon. Saya memang tidak pernah sekolah di SD ini, tetapi SD ini menjadi bagian sangant penting dari kehidupan kami. Di sekolah inilah Bapak kami mengabdikan lebih dari separuh masa hidupnya. Setiap kali melintas di depan sekolah ini saya selalu teringat dengan sosok tangguh yang pekerja keras itu. Sosok yang tidak pernah mengeluh dan setiap kata-katanya selalu menjadi penyemangat. Salah satu ungkapannya yang selalu saya ingat,

“Jangan beristirahat sebalum kamu capek, tetapi kalau sudah capek segeralah kamu istirahat dan setelah capekmu berlalu segeralah kembali bekerja. Jangan kamu makan sebelum lapar, tetapi segeralah makan ketika kamu lapar dan jangan makan sampai kekenyangan. Jangan kamu tidur sebelum mengantuk, tetapi segeralah tidur kalau kamu sudah mengantuk dan segeralah bangun kalau kantukmu sudah berlalu”.

Sosok idola dan penyemangat itu telah pamit ke dunia barunya persis 21 tahun yang lalu, tetapi seluruh dedikasi, etos kerja, gurat di wajahnya dan sorot matanya masih tersimpan rapih di sudut spesial hati ini. Cinta dan kasih sayangnya masih nyata menemani hari-hariku.

Dari depan SD Negeri 1 ini saya juga bisa menatap jauh ke kompleks persawahan Rambatoruan di lereng Bukit Barisan. Persawahan ini tampak suram dan tidak terurus. Tidak ada lagi rumpun padi yang menghijau. Tidak ada lagi lahan-lahan terasering yang berjajar rapih. Semuanya tampak muram dan kusam. Kemanakah tubuh-tubuh kekar yang selalu merawat Rambatoruan itu. Kemanakah para ibu dan gadis yang setia menemani tubuh-tubuh kekar itu. Barangkali mereka sudah lelah. Ahh… Rambatoruan yang dulu permai itu, kini sudah tarulang.

Di ujung sana juga terlihat jelas salah satu puncak bukit barisan yang kami kenal dengan Dolok Sitanggurung. Bukit ini juga tidak kalah tragisnya dengan Rambatoruan. Bukit ini terlihat seperti kepala seorang pasien kangker yang telah dikemoterapi. Pohon-pohonnya yang dulu rimbun, kini terlihat gersang dan terlihat ada warna coklat kekuningan bekas longsor.

jumbatan
Jembatan Binanga Naborsahan

Dari Sidasuhut mobil terus melaju menyusuri jalan menurun ke arah jembatan Binaga Naborsahan. Jembatan inilah satu-satunya jembatan di jalan raya di Sipanganbolon dan Binanga Naborsahan adalah satu-satunya sungai di Sipanganbolon. Sungai Naborsahan inipun tidak lebih baik dari Rambatoruan dan Dolok Sitanggurung. Seluruh pinggiran sungai sudah tertutup semak belukar. Sawah-sawah di pinggiran sungai juga sudah tidak diolah lagi. Permukaan sungai sudah tidak terlihat lagi. Padahal dulu sungai ini menjadi salah satu tempat favorit untuk bermain, berenang, tempat mencuci pakaian dan perabotan. Sepertinya saluran air minum yang sudah masuk ke rumah-rumah, membuat sungai ini dilupakan.

Dalam waktu singkat mobil sudah mendekati sebuah rumah yang kami tuju.

Bersambung ke bagian 4.

Reunion (bagian 2)

Bau tanah Toba dan dinginnya udara Bukit Barisan menyambut kedatangan kami. Bandara ini berada di ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.  Bandara kecil ini dikelilingi oleh lahan beruba sabana yang masih luas. Bandara sangat sepi, hanya ada satu pesawat Sriwijaya yang terparkir disana selain pesawat yang kami tumpangi. Gedung terminal kedatangan sangat kecil dan masih darurat. Di ruang sempit itulah kami merebutan barang bagasi termasuk para politisi tadi.

Ketika kami meninggalkan ruangan sempit itu dengan barang bawaan yang menunpuk di atas troli, ternyata kami tidak hanya disambut oleh bau tanah Toba dan angin dingin Bukit Barisan. Di depan ruangan itu banyak sekali orang yang menyambut kedatangan kami. Mereka menyapa dengan sangat sopan dengan bahasa Indonesai yang marpasir-pasir, bahakan ada yang marbatu-batu. Mereka juga menyajikan senyum terbaik yang bisa mereka berikan. Tetapi ketika kami melambaikan tangan, mereka satu persatu membuang seyum itu dan pergi menjauh. Hanya tinggal satu dua yang terus membuntuti kami. Mereka adalah para agen, calo, makelar dan sopir penyedia jasa angkutan dari bandara.

Seorang supir yang membuntuti kami menawarkan jasa mengantar dengan harga yang menurutnya harga paling murah dari bandara Silangit ke Sipanganbolon tempat yang akan kami tuju. Padahal harga yang ditawarkan itu masih jauh diatas harga standard yang biasanya. Untunglah beberapa hari yang lalu saya sudah bertanya kepada ompung “Google” mengenai tarif angkutan disana, sehingga proses tawar-menawar itu tidak berlangsung lama dan kami deal dengan harga yang wajar. Tadinya kami ingin menggunakan fasilitas angkutan DAMRI dari bandara, tetapi ternyata fasilitas ini masih hanya sampai kota Porsea. Mudah-mudahan di kemudian hari bisa di perpanjang sampai ke Parapat.

Dengan sigap si Lae supir itu mengangkat barang bawaan kami dari troli ke bagasi mobil Toyota Avanza yang akan kami tompangi. Barang bawaan kami terdiri dari satu buah koper super besar, satu buah kardus berisi oleh-oleh, tiga bauh tas besar berisi pakaian dan satu buah ransel berisi pelengkapan gado-gado mulai dari tissu, bubur bayi, air mineral, biskuit, charger HP sampai peralatan kosmetik dan banyak lagi perlengkapan yang kecil-kecil. Dalam waktu singkat semua barang itu tersusun rapi di bagasi mobil.

20161223082900-images-2-800x439 (1)Dengan perlahan mobil Avanza hitam itu meninggalkan area parkir bandara yang permukaannya masih belum mulus. Aurora, Ayugera dan mama duduk di bangku tengah, sementara saya dan Aletona duduk di samping lae supir. Saya mulai berkenalan dengan Si lae supir. Dia bermarga Sianipar dan menikah dengan boru Simanjuntak, sehingga saya merubah panggilan dari lae menjadi abang. Panggilan abang ini bukan karena dia marga Sianipar, tetapi karena isterinya boru Simanjuntak, jadi masih satu rumpun dengan isteri saya yang boru Siahaan.

Meninggalkan area bandara, mobil berbelok ke jalan besar yang cukup bagus. Mobil melaju lebih kencang. Angin semakin dingin membelai wajah. Sengaja kami membuka kaca jendela dan tidak menyalakan AC mobil. Kami ingin merasakan aroma Toba dan kesejukannya. Dalam waktu singkat kami memasuki kota Siborongborong. ombus ombusKota kecil ini memang benar-benar kecil dan keramaian hanya ada di sekitar jalan utama. Saya pernah melintasi kota ini dua kali sekitar 20 tahun yang lalu dan kota ini tidak banyak berubah.

Lagu-lagu batak mengalun perlahan dari audio mobil menemami perjalanan kami. Suasana menjadi sangat syahdu. Entah kenapa kenangan-kenangan masa lalu tiba-tiba datang memenuhi rongga kepala. Pohon-pohon pinus yang tumbuh di tebing kanan jalan ketika meninggalkan kota Siborongborong menambah kesyahduan itu.

Ai diingot ho dope ito rap dakdanak uju i
rap marmeam meam di hauma manang di balian i
ho marlojong lojong di batangi laos hu adu sian pudi
laos tinggang do ho ditikki i sap gambo bohimi
Lagu ini mengalun lembut dari audio mobil. Teringat kembali masa kecil ketika bekerja di sawah. Terlebih ketika masa menanam padi menjelang perayaan hari natal. Sebuah momen tahunan yang selalu dirindui semua orang di kampung. Aiihhh…. indahnya…. waktu ternyata begitu kencang berlari, hingga sering kita tak sanggup mengejarnya.
Ai diingot hodope ito nadiparsobanan i
ima naso tarlupahon au tikki roma rimbus i
laos hubukka ma dabajukki asa adong saong-saong mu
tung massai gomos do ho huhaol asa tung las ma daging mi
Syair ini mengingatkan masa-masa mengumpulkan kayu bakar ke hutan Sitahoan bersama teman-teman sebaya. Bila lapar, sering kita memakan buah apa saja yang ada di hutan itu. Buah markisa, buah rau, buah pirdot bahkan buah rotan. Kadang-kadang dihutan kita bertemu dengan gerombolan monyet atau babi hutan.  Setring juga disela-sela mengumpulkan kayu, kita menangkap burung “marpikket”. Kenangan yang sangat seru, menggembirakan, kadang-kadang memilukan dan kadang-kadang meyeramkan.
Hape dung saonari nungnga leleng dang pajumpang dohot ho hasian,
nungnga adong sappulu taon atik naung muli do ho
Molo tung namuli pe taho dang na pola sala i hasian
asal ma huida bohimi asa tung sonang rohakki
Anggo ala rokkap do itu si Tuhan ta do umboto i…..

ima na so tarlupahan au tingki ro

Teringat juga dengan orang-orang spesial yang pernah menggugah hati dan kini entah dimana.

Tidak lama mobil sudah mulai meninggalkan bukit-bukit dengan pohon-pohon pinus itu dan mulai memasuki kota Balige. Aurora dan Ayugera sudah tertidur pulas. Aletona juga sudah kembali ke pangkuan ibunya. Balige sedikit lebih ramai dari Siborong-borong. Namun menurutku Balige masih sebuah kota kecil, walaupun predikatnya sebagai ibu kota kabupaten. Danau Toba terbentang jelas di ujung sana. Melewati kota Balige, di kiri kanan jalan terhampar luas sawah yang sebagian sudah dipanen. Saya ingin menunjukkan sawah itu kepada Aurora, tetapi dia masih tertidur. Beberapa hari yang lalu dia bilang dia ingin melihat sawah. Kata temannya di sekolah, di sawah itu ada lumpur hidup yang bisa menelam orang. Ahhh. ada-ada saja.

KOTA-BALIGE-BALAM-HARIJalan lurus dan mulus ketika meninggalkan kota Balige membuat mobil bisa melaju dengan kencang. Kota Laguboti pun dimasuki dalam waktu singkat. Perut sudah mulai terasa lapar karena terakhir makan di pesawat hanya dengan setangkup nasi ayam. Namun rasa rindu untuk segera bersua dengan kampung halaman mengalahkan rasa lapar itu. Setelah Laguboti, kota Porseapun berlalu demikian pula dengan Lumban lobu lalu Lumbanrang, dan ketika memasuki Aeknatolu rasa rindupun semakin menggebu-gebu.

Simpang Sibisa menjadi tempat yang meninggalkan kesan masa kecil yang cukup dalam. Dulu sering melewati tempat ini bersama ibu menuju Sibisa setiap kali mau berjualan pakaian. Kami biasa menumpang angkutan umum Parsito milik tetangga yang juga ikut berjualan ke sana. Pernah juga naik Datsun pickup milik ompung jualan ikan asin dan jauh sebelumnya pernah juga menompang kereta kerbau. dan dulu semua itu indah sekali.

aeknatoluKini Simpang Sibisa ada yang baru. Sebuah gerbang besar berdiri disana.

Bersambung ke bagian 3.

Reunion (bagian 1)

Gelap masih memeluk bumi ketika Grab Car yang kami tompangi meluncur di Tol JORR. Grab Car meluncur lancar tanpa hambatan. E-money yang kemarin telah diisi mempercepat transaksi non tunai di setiap GTO. Cahaya lampu jalan yang remang dan dinginnya sisa angin malam menemani perjalanan kami menuju Terminal Ultimate Bandara Soekarno Hatta. Aurora dan Ayugeera kembali terlelap. Rasa gembira mereka masih belum mampu mengalahkan rasa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata. Aletona juga masih nyaman dengan mimpi indahnya di dalam gendongan bagaikan seekor kepongpong.

Fajar telah merekah di ujung timur ketika kami tiba di bandar udara yang megah itu. Para penumpang yang datang ke terminal itu memang banyak, tetapi tidak terlihat ramai karena ukuran terminal yang sangat luas itu. Anak-anak terkagum. tiga tahun lalu mereka masih melalui terminal yang lama. Tidak butuh waktu lama untuk melalui proses check-in sampai masuk ke ruang tunggu. Kami sudah berada di ruang tunggu jauh lebih awal dari waktu yang kami perkirakan.

Labih dari seminggu kami mempersiapkan perjalanan kali ini. Persiapan kami awali dengan merencanakan jawal keberangkatan dan pulang, mengurus ijin cuti, membeli tiket pesawat, sampai mempersiapkan barang bawaan. Khusus untuk kebaya yang akan dipakai sudah mulai dipersiapkan lebih dari sebulan sebalumnya. Tukang jahit terbaik telah dipilih untuk menjahitnya. Setiap pulang sekolah minggu selama sebulan kami mengecek perkembangannya. Kami memang benar-benar mempersiapkan perjalanan ini, karena kami akan mengikuti sebuah acara super spesial dan perjalanan kali ini merupakan perjalanan terbesar kami dalam tiga tahun terakhir.

JpegRuang tunggu yang luas dan mewah membuat waktu menunggu naik pesawat yang cukup lama tidak membosankan. Fasilitas bermain anak menjadi sarana hiburan yang sangat menyenangkan buat Aurora dan Ayugeera. Mereka tidak mengenal capek walau hanya sekedar naik perosatan, ayunan dan kuda-kudaan. Kata mereka mallnya luas bangat, kenapa baru sekarang kita kesini?. Sesekali saya mengabadikan keceriaan mereka dengan kamera hand phone. Sementara itu Aletona asik dipangku mamanya yang duduk di sofa biru panjang yang lapang sambil menikmati nasi buburnya.

Tidak kurang dari satu setengah jam kami menikmati ruang tunggu itu sebelum pengumuman naik pesawat diumumkan. Kami akan menaiki pesawat jet ukuran yang relatif kecil bagi maskapai sebesar Garuda Indonesia. Pesawat ini buatan Bombardier Kanada yang digunkaan Garuda untuk menjangkau badara di kota-kota kecil dengan landasan yang relatif pendek. Pesawat ini akan menerbangkan kami menuju Kota Ombus-ombus Siborongborong persis di tepi Danau Toba Sumatera Utara. Inilah pengalaman pertaman saya menaiki pesawat Bombardier dan pengalaman pertama terbang ke Siborongborong.

Ukuran pesawat memang relatif kecil, tetapi kabin masih terasa lapang. Pada penerbangan kali ini semua bangku terisi penuh. Diantara penumpang ada beberapa orang politikus negeri ini. Cuaca kali ini cukup bersahabat. Walaupun banyak awan, tetapi tidak menyebabkan goncangan yang berarti. Secara keseluruhan penerbangan ini cukup nyaman. Bukan saja karena pamugarinya yang cantik-cantik, tetapi terlebih karena jalannya pesawat yang cukup smooth.

JpegPersis tengah hari pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Silangit. Setengah jam lebih singkat waktu yang kami butuhkan dibandingkan bila kami terbang melalaui Kualanamu. Matahari persis diubun-ubun, namun hembusan angin gunung terasa lembut membelai kulit.  Bau tanah Toba dan dinginnya udara Bukit Barisan menyambut kedatangan kami. Bandara ini berada di ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.  Bandara kecil ini dikelilingi oleh lahan beruba sabana yang masih luas. Bandara sangat sepi, hanya ada satu pesawat Sriwijaya yang terparkir disana selain pesawat yang kami tumpangi. Gedung terminal kedatangan sangat kecil dan masih darurat. Di ruang sempit itulah kami merebutan barang bagasi termasuk para politisi tadi.

Bersambung ke bagian 2.