Haramonting dan Latteung

Sipanganbolon yang terletak di kaki pegunungan bukit barisan memiliki vegetasi yang beraneka ragam. Berikut ini ada berbagai tumbuhan liar khas yang tumbuh di sipanganbolon. Tumbuhan-tumbuhan ini tumbuh sejak dari dulu dan bukan merupakan tanaman yang dibudidayakan. Tanpa disadari tumbuhan-tumbuhan ini telah memberikan makna yang sangat penting bagi Sipanganbolon dan orang-orang yang tinggal disana. Banyak kenangan, kegembiraan, kisah dan cerita telah tercipta bersama tumbuhan-tumbuhan itu yang terlalu manis untuk dilupakan.

1. Haramonting
Haramonting atau di Sipanganbolon sering disebut ramonting (baca: ramotting) adalah tumbuhan liar. Tumbuh di daerah padang rumput atau lajangan. Tinggi ramonting dewasa sekitar 1 ½ meter dengan daun bebentuk lonjong sebesar koin lima ratus rupiah. Memiliki buah seperti bentuk buah delima, tetapi lebih lonjong dengan ukuran sebesar kelereng. Buah muda berwarna hijau dan rasanya kecut, sedangkan buah yang telah matang berwarna ungu dan rasanya manis.

Tumbuhan ini memiliki batang yang kuat dengan akar serabut yang kokoh mencengkram tanah sehingga bisa digunakan sebagai tempat mengikatkan tali kerbau. Karena buah ramonting memiliki rasa yang manis dan enak, anak-anak sangat suka memakannya. Tetapi kalau kebanyakan memakan buah ramonting menyebabkan susah buang air besar. Aku tidak tau mengapa bisa begitu. Haramonting telah menjadi teman akrab bagi “parmahan” di sipanganbolon.

2. Sanduduk
Sanduduk adalah tumbuhan yang memiliki banyak kemiripan dengan haramonting. Tumbuh di daerah padang rumput, tingginya sedikit lebih pendek dari haramonting, daunnya lebih lebar dan terdapat bulu-bulu halus. Buahnya lebih kecil berwarna merah dan kalau sudah matang akan pecah dan isinya yang berwarna ungu kehitaman bisa dimakan. Rasannya “sapot”.

3. Lamoja
Lamoja juga merupakan tumbuhan liar. Tumbuh di pinggiran hutan dengan tinggi bisa mencapai tiga sampai lima meter. Memilikibuah yang kecil sebesar buah lada. Buah muda berwarna hijau dan buah matang berwarn hitam dan keras. Buah lamoja ini tidak bisa dimakan karena rasanya tidak enak dan keras.

Anak-anak di Sipanganbolon sering menggunakan buah-buah lamoja ini sebagai peluru untuk mainan tembak-tembakan yang bernama pak-pak. Mainan ini terbuat dari sepotong bambu yang berlubang tembus dengan sepotong bambu lagi sebagai alat pendorong. Alat ini memanfaatkan tekanan udara yang ada dalam potongan bambu yang didorong dengan potongan bambu pendorong. Tekanan udara tersebut akan melesatkan peluru dengan kecepatan tinggi dan menghasiklan bunyi “pak” yang keras. Kulit yang dikenai peluru ini akan terasa sakit. Permainan ini menjadi salah satu permainan anak laki-laki yang mengasyikkan di Sipanganbolon ketika aku masih anak-anak.

4. Pirdot
Pirdot merupakan tumbuhan yang buahnya bisa dimakan. Pohonnya lumayan tinggi, batangnya mudah patah, daunnya lebar-lebar dan biasa tumbuh di tepi aliran air atau tempat yang lembab. Buahnya berbentuk bulat sebesar kelereng, kalau sudah matang mengandung cairan seperti lendir yang rasanya manis. Tupai sangat menyukai buah pirdot sehingga sering kali kita menemukan tupai di pohon pirdot.

5. Tumbor
Tumbor (baca: tubbor) merupakan tumbuhan merambat yang seluruh batangnya dipenuhi duri. Biasa tumbuh di tempat yang teduh dan lembab, berdaun lebar dan buahnya sangat cantik dan manis. Buah muda tertutup oleh kelopak berwarna hijau dan rasanya asam, sedangkan buah yang telah matang akan terbuka dari kelopaknya dengan warna merah merona yang rasanya manis keasam-asaman. Selain buahnya, tunas tumbor ini juga bisa dimakan dengan terlebih dulu membuang kulitnya yang dipenuhi duri. Rasanya asam-asam kecut.

6. Latteung
Latteung adalah tumbuhan jenis terung-terungan. Batang dan daunnya hampir sama dengan terung, hanya saja latteung memiliki duri dari batang sampai ke urat-urat daunnya. Buahnya bulat sempurna sebesar bola pimpong. Kulit buah mulus dan warnanya orange menarik. Tetapi buah ini tidak pernah dimakan.

Karena buah ini cantik tetapi tidak berguna (setidaknya sampai sekarang belum ditemukan manfaatnya) maka ada orang yang berpenampilan menarik tetapi sifatnya buruk disebut dengan “Latteung”.

7. Rau
Rau adalah tumbuhan berpohon besar dan tinggi. Biasanya tumbuh di tepi jurang dengan tanah yang lembab. Daunnya berukuran sedang dan buahnya bulat sebesar telur ayam. Buah yang matang bisa dimakan dan rasanya manis.

Bersambung……………

Ketakutan yang tak aku mengerti

Ketika aku anak-anak aku sangat takut dengan gelap. Aku percaya kalau di tempat gelap ada setan, hantu dan teman-temannya yang siap menyakiti aku. Di tempat yang sepi juga aku takut karena aku pikir di tempat yang sepi ada “pamangus”* yang akan mencelakaiku. Orang asing yang tidak aku kenal, mahluk aneh seperti serangga dan reptil, suara-suara aneh, kuburan, cerita-cerita horor dan banyak lagi hal-hal yang menakutkan di masa kecil.

Sejalan dengan berputarnya waktu, ketakutan-ketakutan itupun memudar. Pemahaman yang aku dan sebagian besar orang di sekitarku terima mengenai ketakutan itu mulai luntur. Kegelapan ternyata tidak benar berisi setan. Tempat sunyi tidak benar dihuni oleh “pamangus”. Cerita-cerita horor hanyalah sebuah ilusi yang sengaja diciptakan oleh pengarang. Mahluk-mahluk aneh tidak akan menyakiti salama kita tidak mengganggu mereka. Orang-orang asing juga manusia sama seperti kita yang ingin diperlalukan dengan baik. Jadi sesungguhnya tidak ada lagi alasan untuk takut.

Tetapi semakin aku bisa berpikir, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Ketakutan-ketakutan masa kecil memang memudar, namun muncul ketakutan-ketakutan baru. Dari sekian banyak ketakutan-ketakutan baru itu, ada sebuah ketakutan aneh yang sangat menganggu. Ketakutan atas kehadiran orag-orang baru di keluarga besar kami.

Awalnya memang aku tidak begitu peduli dengan kehadiran orang-orang baru itu. Mungkin karena aku terlalu larut dengan kepentingan diriku sendiri. Bahkan aku melihat orang-orang baru itu menambah semarak keluarga kami. Tetapi ketika ada satu orang baru yang extreem masuk ke wilayah keluarga besar kami, aku tersentak sampai-sampai adrenalinku meyentuh ubun-ubun. Aku merasa orang baru itu telah mencuri salah satu orang yang aku sayangi. Orang baru itu telah mengacak-acak ladang kebahagiaan kami. Orang baru itu telah menghina harga diri kami. Aku ingin mengusirnya, aku ingin membuat perhitungan dengannya, bahkan aku ingin membunuhnya, tetapi aku tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Sejak saat itu, setiap kali ada orang baru yang mau menyentuh wilayah keluarga besar kami, setiap kali itu pula muncul ketakutan yang sama. Aku merasa orang-orang baru itu adalah penjahat yang akan merampas kebahagiaan kami. Aku selalu mencurigai mereka. Mereka adalah serigala berbulu domba di mataku. Aku jadi sangat paranoid. Tetapi aku tetapsaja tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Satu persatu orang baru muncul dan masuk ke dalam keluarga besar kami. Sesungguhnya ada sebagian besar yang cukup baik, tetapi tetap saja selalu ada yang buruk menurut penilaianku. Orang-orang yang aku nilai buruk ini sebenarnya tidak bisa dikatakan masuk kedalam keluarga kami, melainkan mereka datang sekejap lalu mencuri orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang aku nilai buruk ini telah menumpahkan banyak air mata kami. Walaupun aku masih bisa ngobrol dengan orang-orang yang aku sayangi yang telah mereka curi, tetapi obrolanku tidak lagi jujur dan tulus. Ada sebuah tembok besar yang tidak mampu aku runtuhkan. Walaupun kadang-kadang kami bisa tertawa bersama, tetapi sesungguhnya hatiku pedih.

Orang-orang baru yang menurutku buruk itu, telah mendoktrinkan ajaran baru kepada orang yang aku sayangi yang telah mereka curi. Aku sebenarnya tidak menyalahkan sepenuhnya semua ajaran itu. Tetapi biarlah ajaran itu menjadi milik mereka-mereka di luar keluarga kami. Dan biarlah kami setia dengan ajaran yang telah kami anut. Kesederhanaan, cinta kasih, kerja keras, kejujuran, kemurahan, kesetiaan, kepedulian adalah sebagian dari ajaran yang kami anut. Tentu saja kepercayaan akan ajaran Juru Selamat menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar apalagi diperjual belikan.

Di lain sisi kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang meminta untuk dicuri. Jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang meminta untuk didoktrin dengan ajaran lain. Jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang menyerahkan dirinya untuk dibawa pergi. Kalau benar demikian sia-sialah ketakutanku selama ini. Kalau benar demikian, betapa bersalahnya aku telah memberikan tuduhan yang bukan-bukan kepada orang-orang baru itu. Kalau benar demikian mengapa..? Mengapa mereka melakukan itu. Apa yang salah dengan keluarga kami? A….hhh aku jadi bingung dan tak tau harus melakukan apa.

Hari ini ketakutan itu muncul kembali. Satu orang baru ingin menyentuh salah satu anggota keluarga besar kami. Satu orang baru yang belum aku tau prinsip hidupnya ingin memasuki beranda rumah kebahagiaan kami. Jantungku berdetak kencang walaupun adrenalinku tidak sampai ke ubun-ubun. Apakah aku harus mempersiapkan diri untuk kehilangan lagi? Aku tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Maafkanlah aku atas ketakutan ini.

Aku sangat menyayangi kalian. Aku tidak ingin ada yang mencuri kalian dari rumah kebahagiaan kita. Aku tidak ingin air mata kita tumpah lagi membasahi tanah di halaman depan. Yakinkanlah dirimu, diriku dan kita semua bahwa orang baru itu bukanlah serigala berbulu domba.

* pamangus= penjahat

63 tahun indonesia bingung

Intro: Persiapkan diri anda untuk bingung membaca tulisan ini.

63 tahun adalah usia yang sudah seharusnya pensiun, karena biasanya tidak efektif lagi bekerja. Tekanan darah tinggi, diabetes, asam urat, bahkan Stroke dan serangan jantung menjadi hal biasa bagi mereka yang berusia 63 tahun. Kadang-kadang ada juga yang mulai pikun alias penyakit bingung atau lupa. Jadi apa yang diharapakan dari usia 63 tahun? Ya pensiunlah. Semakin dekatlah kepada pencipta. Moga-moga dosanya diampuni sebelum ajal menjemput. Lo… apa hubungannya dengan indonesia..? Ya.. hubungkan aja sendiri. Kalau tidak ada hubungannya ya dipakskan saja sampai ada hubungannya. Toh di Indonesia ini paksa-memaksa kan sudah biasa… ha…ha…ha…

Semakin banyak orang yang pesimis dengan negara yang bernama indonesia ini. Saya sepenuhnya memahami ke-pesimis-an tersebut dan mungkin aku adalah satu diantara mereka, walaupun sering kali saya bingung mengapa saya ikut pesimis. Kami-kami yang pesimis ini semakin tidak percaya lagi kepada orang-orang yang mengelola negeri ini. Pemerintah, dpr, mahkamah agung, kejaksaan, badan pengawas, badan pemeriksa, bumn, partai-partai, ormas, lsm, lembaga-lembaga pendidikan, media massa, bahkan organisasi keagamaan tidak dapat lagi dipercaya. Apakah di negeri ini sudah muncul sekte atau aliran kepercayaan “tidak dapat dipercaya”…? Mungkin hal itulah yang menyebabkan bermunculannya orang-orang yang mengaku nabi bahkan mengaku tuhan. Waow…. Iii.. (sambil mengetarkan badan)

Kami orang-orang yang pesimis ini melihat indonesia ini adalah sebuah benda aneh yang digerogoti oleh sekumpulan mahluk aneh pula. Dengan berbagai cara aneh, mahluk-mahluk aneh itu mengambil bagian sebanyak-banyaknya dari benda aneh tersebut. Keanehan terjadi dimana-mana, terjadi setiap hari. Bahkan kamipun telah ikut menjadi aneh, melakukan hal-hal aneh dan tinggal di negeri yang aneh bin ajaib ini.

Tadi barusan aku membaca sebuah tulisan seorang pendeta di sebuah blog. Dia begitu galau dengan ke-indonesia-an ini. Dia mempertanyakan apakah masih ada gunanya negara indonesia ini.

Seandainya saya pergi bekerja di negara tetangga atau di negara sahabat nun jauh, dan disana saya disiksa serta dianiaya oleh majikan saya: apakah saya akan dibela mati-matian oleh negara ini, termasuk kalau perlu mengirimkan angkatan perangnya?

Seandainya saya sedang berada di luar negeri dan ditangkap oleh polisi setempat, dijebloskan ke penjara dengan atau tanpa pengadilan: apakah saya akan diperjuangkan oleh negara ini minimal dijamin akan mendapat perlakuan adil dan manusiawi?

Seandainya saya punya sebidang tanah dan diserobot oleh orang lain yang secara ekonomi dan politik jauh lebih kuat dari saya, apakah negara ini akan menjamin bahwa saya akan kembali mendapatkan hak-hak saya?

Seandainya saya jatuh miskin, mengalami cacad fisik dan psikis sehingga tidak lagi bisa bekerja atau berusaha, sakit permanen atau lumpuh, atau sudah lanjut usia, atau tidak punya ayah dan ibu, apakah negara menjamin hidup dan masa depan saya?

Seandainya saya tinggal sangat jauh dari Jakarta, yaitu di pulau-pulau kecil di ujung negeri ini, atau dibalik urat-urat pegunungan tinggi, atau malah di perkampungan miskin di tengah kota di depan mata penguasa, apakah saya dijamin tidak akan luput dari perhatian dan sokongan negara? Apakah negara memastikan bahwa saya mempunyai kedudukan yang sama dan setara di depan hukum, dan keadilan atas sumber-sumber kehidupan yang dipunyai bersama?

Seandainya saya memilih suatu agama dan ingin beribadah menurut agama yang saya pilih itu, namun ternyata saya dihalang-halangi atau diganggu oleh orang lain, apakah negara ini berkuasa untuk melindungi kebebasan saya?

Pak pendeta, aku mengerti dan merasakan kegalauanmu. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Kalau pak pendeta saja sudah galau, apalagi aku. Gundah, bingung, takut dan paranoid.

Sambil menulis tulisan ini aku memakan kerupuk yang selalu ada di kaleng kerupuk di atas loker samping mejaku. Tukang kerupuk menitipkannya sejak setahun yamg lalu. Setiap seminggu sekali si abang tukang kerupuk datang mengisinya dan kalau ada yang sisa diganti dengan yang baru. Awalnya kerupuk yang dia jual besar-besar, tetapi belakangan ini ukurannya makin kecil saja, padahal harganya naik. Alasan si abang tukang kerupuk, harga BBM naik sehingga ongkos produksi kerupuk juga naik. Apa kerupuk ini digoreng pakai BBM…? Tapi sudahlah dari pada pusing mencari hubungannya biar sajalah. Inikan hanya masalah kerupuk. Tapi kan dari masalah kerupuk dulu baru ke masalah aliran dana BI. Jadi mumpung masalahnya masih sebesar kerupuk yah harus di-solusi-kan. Masalahnya apa, solusinya apa…? bingung…

Beberapa hari yang lalu aku membaca headline Kompas “ICW mengajukan desain baju tahanan kasus korupsi kepada KPK”. Katanya untuk perlakuan yang sama dengan tahanan yang laih dan juga untuk efek jera. He…he….he… (dengan wajah sinis). Hanya itulah responku. Tidak tau mau respon apalagi. Mau dikasi baju apapun atau bahkan tak tipakaikan baju (telanjang), toh korupsi dan koruptor sudah lebih berkuasa dari siapapun dinegeri yang mengaku negara hukum ini. Lalu bagaimana…? Ya bagaimana lagi..?, lagi-lagi bagaimana..?

Hari rabu pagi kemarin aku naik angkot dari rumah menuju jatinegara, tempat aku biasa menunggu mobil jemputan. Tepat di jalan pinang pasar rawamangun, sebuah angkot yang sama berhenti persis didepan angkot yang aku tumpangi karena ada seorang penumpang dipinggir jalan. Dari arah depan ada taksi, maka angkot yang aku tumpangi tidak bisa mendaahului angkot yang berhenti didepan. Angkot yang aku tumpangipun berhenti persis di belakang angkot yang sudah duluan berhenti itu. Entah kenapa penumpang yang dipinggir jalan itu tidak masuk ke angkot di depan, melainkan masuk ke angkot yang saya tumpangi. Sopir angkot yang didepan marah-marah. Marah ke sopir angkot yang aku tumpangi, marah ke penumpang yang naik ke angkot yang aku tumpangi itu. Marah dengan sumpah serapah. Sore sehari sebelumnya sopir angkot yang aku tumpangi marah-marah dan mengucapkan kata-kata yang paling jorok kepada dua orang penumpang yang membayar ongkos kurang. Aku menyaksikan semua itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Sudah seburuk inikah orang-orang indonesiaku…?

Hari ini (maksudku dua hari lagi) 63 tahun sudah indonesia mengaku merdeka. Aku duduk disini, letih dan lelah menyaksikan semua sandiwara keanehan ini. Bingung memaknai wajah indonesiaku yang abstrak ini. Ketakutan dan paranoid membayangkan masa depanku dinegeri yang mengaku kaya raya ini. 34 partai akan bertarung di pemilu tahun depan. Haruskah aku menggantungkan harapanku kepada mereka…?

Kisah Sebening Kasih

Hari sabtu kemarin aku membaca Harian Kompas seperti biasanya. Kompas menjadi bagian dari sabtu-mingguku sejak aku tinggal di Jakarta. Di halaman pertama Kompas Sabtu kemarin itu terpampang gambar pembukaan olimpiade Beijing 2008. Aku membaca beritanya dan aku sangat menyesal karena aku tidak menonton acara pembukaan yang sangat megah tersebut yang disiarkan oleh TVRI sehari sebelummya.

Aku ingin memastikan kehebatan dari olimpiade tersebut. Aku coba menyetel channel TVRI di tivi Panasonic 14” di rumah. Wah… gambarnya jelek sekali. Istilah kami dulu dikampung “gok harinuanna” istilah kotanya “banyak semutnya”. Akupun menset ulang chanel-channel di tivi itu dengan harapan bisa mendapatkan gambar TVRI yang lebih jelas. Aku terkejut ternyata setelah di set ulang, gambar TVRI cukup bagus, bahkan nyaris sejernih channel TV swasta yang lain. Yang aku kaget lagi, ada beberapa stasiun tivi baru yang bisa di saksikan di tivi tersebut. Ada elshinta tv, Gtv, DAAITV dan satu stasiun tv yang masih siaran percobaan.

Sejak adanya stasiun-stasiun tivi baru itu, aku jadi lebih suka menyaksikan tivi-tivi baru tersebut, tentu saja olimpiade yang disiarkan TVRI juga. Dari semua tivi-tivi baru tersebut yang paling menyita perhatianku adalah DAAITV. Acaranya sangat berbeda dengan tivi-tivi yang lain, acaranya lebih menekankan pada masalah sosial yang menyentuh masyarakat golongan menengah ke bawah.

Kemarin sore, jam 19.00 DAAITV menyiarkan sebuah sinetron yang sangat bagus berjudul KISAH SEBENING KASIH. Sinetron ini bercerita tentang kisah seorang anak perempuan berumur sekitar 10 tahun. Sianak itu masih duduk di sekolah dasar dan tinggal di sebuah perkampungan kumuh di bantaran sungai kali Angke. Dia tinggal bersama ibu dan seorang adiknya yang masih kecil dan belum sekolah. Ayahnya seorang hansip yang memiliki dua isteri.

Si anak ini menginginkan sebuah sepeda agar ia bisa lebih cepat tiba disekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Keinginan ini sangat sulit diwujudkan karena pekerjaan ibunya hanya pembuat makanan peyek yang dijual ke warung. Hutang ibunya cukup banyak untuk ukuran orang miskin dan tidak mungkin membeli sebuah sepeda buat putrinya. Setiap kali putrinya meminta dibelikan sepeda, si ibu selalu menjawab akan membelinya nanti bila sudah dapat rejeki. Si anak sering kali kesal mendengar jawaban ibunya. Tetapi dia tidak bisa menuntut banyak karena memang ibunya tidak punya uang untuk membelinya. Untuk makan saja ibunya harus berhutang diwarung atau mengharapkan belas kasihan tetangga bila tukang warung tidak memberikan utangan.

Demikianlah kehidupan si anak di perkampungan yang memprihatinkan di sudut kota mertropolitan Jakarta. Perkampungan itu persis di bantaran kali Angke dan di sebelahnya ada jalan layang tol yang berdiri gagah dengan segala macam mobil berseliweran di atasnya. Rumah-rumah panggung yang sebagian berada di atas kali saling dempet berdesakan. Dinding-dinding rumah terbuat dari potongan kayu, papan dan tripleks bekas yang ditempel tak beraturan. Atapnya dari seng-seng bekas yang panasnya minta ampun bila disinari matahari siang. Didepan rumah ada jemuran, warung, bale-bale bahkan MCK dengan memanfaatkan air kali yang warnanya coklat dan kadang-kadang berwarna hitam.

Satu ketika impian si anak untuk memiliki sepeda terkabul, walaupun sepeda itu hanya sebuah sepeda bekas. Sepeda itu adalah sepeda milik anak bapaknya dari isteri yang satu lagi. Si anakpun senang sekali. Dia jadi lebih cepat sampai di sekolah. Bisa bermain dengan teman-temannya ke tempat yang lebih jauh, bahkan bisa mencuri mangga sampai ke pluit. Intinya kehidupan si anak menjadi lebih ceria dan bahagia sejak adanya sepeda tersebut. Semangat belajarnyapun bertambah.

Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Satpol PP, Polisi beserta Aparat Tramtib DKI Jakarta membawa sebuah buldozer meratakan rumah-rumah itu dengan tanah. Si anakpun menangis, ibunya menangis, tetangganya menangis, semua warga disana menangis. Mereka tidak tau akan berteduh dimana. Mereka tidak punya apa-apa. Sepeda itupun hancur diinjak-injak pasukan tramtib ketika sianak sedang mempertahankan sarung kesayangannya yang mau diambil oleh seorang satpol PP. Sarung itupun akhirnya robek Dan….Ceritanyapun Bersambung.

Kesederhanaan, perjuangan, keiklasan, kepedulian, realita mewarnai sinetron ini. Sebuah cerita yang disupervisi oleh Garin Nugroho, dibintangi oleh Widi-ABTree, Zainal Abidin Domba dll. Sebuah tontonan TV yang sudah lama ditunggu-tunggu ditengah Sinetron-sinetron yang memamerkan segala kepalsuan, kecengengan, kemalasan, keglamouran bahkan kemunafikan yang sangat tidak mendidik yang menjejali stasiun-stasiun tivi sekarang ini.

aku “penjahat”…?

Tadi pagi aku membaca sebuah tulisan yang menarik yang ditulis oleh Ledy Simarmata, pembaca berita di RCTI seperti berikut:

aku “penjahat”…?

siang itu, seperti biasa, aku melangkah menuju studio. berpenampilan rapi (seperti pembaca berita pada umumnya), membolak-balik skrip, lengkap dengan penata rias yang sibuk membetulkan rambutku.

tak berapa lama, hitungan mundur-pun dimulai, diikuti dengan hentakan Opening Bumper SERGAP, program berita kriminal yang mulai aku akrabi sejak 2 bulan terakhir ini.

di program ini, anda akan banyak melihat orang, yang lebih akrab disebut “orang jahat”. mereka disebut “jahat”, karena 2 hal penting: pertama, karena mereka melanggar hukum tertulis yang ditetapkan negara republik Indonesia. kedua, karena mereka menganggu ketentraman masyarakat di sekitarnya. tak peduli apapun alasan mereka melakukan perbuatan “jahat”nya, mereka “salah di mata hukum”, atau paling tidak “salah di mata masyarakat”.

aku bukannya tak pernah bertemu dengan “orang-orang jahat” ini. saat aku bergelut dengan berita-berita kriminal di lapangan, hampir tiap hari aku berbincang dengan “orang-orang jahat” ini. meski sekarang, aku sudah tak lagi menjadi reporter kriminal, aku tetap akrab dengan berita kriminal sejak dipercaya membawakan program berita kriminal dengan pemirsa terbanyak di Indonesia ini.

sampai akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan: AKUPUN SAMA DENGAN “ORANG-ORANG JAHAT” ITU.

sebenarnya… aku tidak lebih baik dari mereka. karena ternyata, akupun memiliki “dorongan-dorongan” untuk berbuat “jahat”, yang JIKA TERLAKSANA, bisa saja menciptakan “tindakan kriminalitas”.

saat aku disakiti, akupun ternyata memiliki “dorongan” untuk membalas dendam. dan, seperti yang kita sering dengar, sakit hati dan keinginan balas dendam adalah faktor yang banyak kali menjadi awal sebuah “tindakan kriminalitas”. jadi…sebagai manusia, akupun ternyata selalu memiliki “peluang” atau “kecenderungan” untuk berbuat jahat.

bedanya adalah: “dorongan-dorongan jahat” itu tak pernah terlaksana sebagai “tindakan kriminalitas”, yang melanggar hukum. kenapa tidak terlaksana? mungkin karena aku berada di lingkungan yang sadar hukum, mungkin karena aku dibesarkan oleh keluarga “beradab”, mungkin karena aku punya masa depan – yang tak mungkin aku korbankan, dan faktor-faktor lainnya, termasuk Tuhan.

sedangkan mereka: mungkin kebanyakan mereka tak berada di lingkungan “terdidik” atau sadar hukum, hidup mereka keras, dipenuhi orang-orang kasar, mereka mungkin tak punya masa depan yang relatif jelas, dan mungkin, tak ada orang yang memberitahu mereka soal Tuhan.

lihatlah…betapa miripnya aku dengan “orang-orang jahat” itu. kami memiliki “kerapuhan” yang sama, kami sama-sama memiliki “sisi gelap”, kami bisa merasa tertekan, kami bisa merasa sakit hati. intinya, akupun sama tidak sempurnanya dengan “orang-orang jahat” itu. yang membedakan kami hanyalah “situasi”.

aku percaya, Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Dia tidak akan salah menciptakan seorang manusia. tidak ada seorang manusia-pun, yang diciptakan menjadi residivis, kriminil, pengedar narkoba, atau predikat penjahat lainnya. sebaliknya, tak ada seorang manusiapun yang lahir ke dunia ini, yang sempurna tanpa kemungkinan “berbuat jahat”. sebaik apapun seorang manusia, dia masih belum bebas dari peluang menjadi “orang jahat”, sampai dia mati.

akhirnya, aku percaya, ini bukan masalah “orang baik” atau “orang jahat”. toh, semua orang ternyata (bahkan yang disebut “baik” sekalipun), masih belum lepas dari “peluang berbuat jahat”. hanya masalah “situasi”.

lalu, kenapa semua manusia di muka bumi ini selalu punya peluang “berbuat jahat”? menurutku, karena semua manusia di muka bumi ini sudah “berdosa” sejak lahir.

coba deh pikir-pikir, pernah gak ibu atau bapak kita, mengajarkan kita untuk bohong, membantah atau melawan? kayaknya gak kan! tapi (bahkan sejak usia dini sekalipun), kita sudah bisa berbohong, membantah atau melawan, tanpa harus ada yang mengajari.

dosa adalah sesuatu yang sudah mendarah-daging di dalam diri manusia, dan membuat manusia selalu memiliki “peluang” untuk berbuat jahat.

jadi, rasanya tak ada alasan untuk merasa diri kita lebih suci daripada orang lain, termasuk merasa lebih suci daripada para “penjahat” itu…

p.s: I think, this is the reason why I need a SAVIOUR…

September 13, 2006 at 08:20 AM | Permalink

Sejarah Marga Saragih Napitu

(dikutip dari blog parna)
Napitu merupakan salah satu MARGA dari marga-marga yang terdapat di kultur Orang Batak. Secara garis silsilah keturunan, Marga Napitu merupakan keturunan dari Op.Raja Nai Ambaton atau yang lebih dikenal dengan sebutan PARNA (Poparan Raja Nai Ambaton). Asal daerah Marga Napitu dari Desa Sibatu-batu yang berada di P.Samosir Danau Toba. Sibatu-batu merupakan daerah yang sangat menarik untuk di kunjungi.. saat ini, dahulu si Batu-batu merupakan daerah yang sangat susah untuk di kelola sebab sebagian besar wilayah tersebut merupakan batu kars, dari proses terbentuknya P.Samosir secara geologi akibat meletusnya Gunung Api jutaan tahun yang lalu.

Berdasarkan inventarisasi Poparan Raja Nai Ambaton saat ini berjumlah 72 marga, namun dalam tulisan ini hanya ada 68 Marga sehingga perlu informasi tambahan bagi yang lebih mengetahuinya. Adapun marga-marga yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton ( PARNA )

1.Bancin ( sigalingging )
2.Banurea ( sigalingging )
3.Boangmenalu (sigalingging)
4.Brampu ( sigalingging )
5.Brasa ( sigalingging )
6.Bringin ( sigalingging )
7.Gajah ( sigalingging )
8.Dalimunthe
9.Garingging ( sigalingging )
10. Ginting Baho
11.Ginting Capa
12.Ginting Beras
13.Ginting Guruputih
14.Ginting Jadibata
15.Ginting jawak
16.Ginting manik
17.Ginting Munthe
18.Ginting Pase
19.Ginting Sinisuka
20.Ginting Sugihen
21.Ginting Tumangger
22.Haro
23.Kaban
24.Kombih (sigalingging )
25.Maharaja
26.Manik Kecupak (sigalingging)
27.Munte
28.Nadeak (di pa lao)
29.Nahampun
30.Napitu
31.Pasi
32.Pinayungan (sigalingging?)
33.Rumahorbo
34.Saing
35.Saraan (sigalingging)
36.Saragih Dajawak
37.Saragih Damunte
38.Saragih Dasalak
39.Saragih Sumbayak
40.Saragih Siadari
41. Siallagan
42.Siambaton
43.Sidabalok
44. Sidabungke
45. Sidabutar
46.Saragih Sidauruk
47. Saragih Garingging
48.Saragih Sijabat
49.Simalango
50.Simanihuruk
51.Simarmata
52.Simbolon Altong
53.Simbolon Hapotan
54.Simbolon Pande
55.Simbolon Panihai
56.Simbolon Suhut Nihuta
57.Simbolon Tuan
58.Sitanggang Bau
59.Sitanggang Gusar
60.Sitanggang Lipan
61.Sitanggang Silo
62. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 (sigalingging )
63.Sitio
64.Tamba
65.Tinambunan
66.Tumanggor
67.Turnip
68.Turuten
Sumber : Rapolo,2007

Susunan nama marga diatas berdasarkan abjad .. jadi mohon maaf kapada susunan parabangan dimarga tidak diurutkan (maaf kepada abang marga tertua). Berdasarkan sejarahnya Marga Napitu dan Sitio adalah kembar.. yang tidak diketahui siapa yang lebih duluan lahir. Sehingga ada kesepakatan para leluhur dulu kalau yang usianya lebih tua dia lah abang yang lebih muda dia adalah adek, dan itu terjadi di dalam kekeluargaan Napitu dan Sitio saja. Penulis adalah Marga Napitu yang berasal dari Parbalogan – Tigaras. merupakan cucu dari Partuan Parbalogan atau poparan Op.Saip(+).

Di wilayah Simalungun Marga Napitu lebih identik dengan sebutan Saragih (Saragih Napitu) walaupun sebenarnya Saragih/Saragi sendiri merupakan marga tersendiri yaitu Marga Saragi dan keturunannya (dapat dilihat diatas) namun banyak keturunan PARNA yang berada di wilayah Simalungun menggunakan Marga Saragi/Saragih. Berdasarkan cerita para oppung yang pernah di himpun penulis, yang dapat di jadikan acuan penulisan ini. Dijelaskan bahwa pada saat kekuasaan Simalungun (Raja Purba) marga yang ada hanya diperbolehkan 4 Marga yaitu (Purba, Damanik, Saragih dan Girsang) untuk lebih jelasnya dapat di himpun berdasarkan sejarah (tulisan ini berdasarkan kemampuan dan pengetahuan penulis dari cerita para leluhur sebelumnya). Selain marga yang 4 tersebut dianggap mata-mata musuh atau buka Orang Simalungun maka akan di hukum dengan berat (hukuman mati).

Disebabkan hanya ada 4 Marga yang diperbolehkan maka marga lain yang berada di wilayah kekuasaan Raja Simalungun masuk ke pada marga yang empat tersebut. Salah satu dari empat marga tersebut adalah poparan keturunan Op.Raja Nai Ambaton yaitu “Saragih” sehingga pada saat itu semua keturunan PARNA yang bermukim di wilayah Simalungun masuk kedalam Marga Saragi/h.

Padahal yang masuk jadi “Marga Saragi” itu, bisa abang atau adik dari marga Saragih itu sendiri, contoh; dulu sering didengar Marga Saragih Simbolon. Simbolon termasuk marga tertua setelah Marga Tamba dan Saragi/h merupakan adik mereka, atau Saragi Sitio. Sitio adalah adik dari marga Saragi/h itu sendiri namun masuk kedalam marga Saragi/h. Demikian juga daerah Parbalogan – Tigaras asal Napitu (Parbalogan) yang berada di wilayah kekuasaan Simalungun masuk kedalam marga saragi/h. Perlu deiketahui, Tigaras merupakan tempat pertama berdirinya Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Sehingga sampai saat ini sering kita mendengar Marga Saragih Napitu (khususnya dari Parbalogan-Tigaras) atau bahkan masih ada yang hanya pakai “Saragih” saja, sehingga tidak dapat dikenali apa marga dibelakangnya sebenarnya misal ; Prof.Dr. Bungaran Saragih, namun dibelakang nama Saragi tersebut masih ada lanjutanya (ex.Saragih Turnip).

Seiring perkembangan dan kesadaran untuk memperbaiki yang sempat salah sehubungan dengan sejarah kekuasaan jaman itu, maka saat ini sudah banyak marga-marga dari keturunan PARNA memakai nama marganya sendiri-sendiri. Simbolon, Tamba, Kaban, Napitu dll. Sebenarnya dengan adanya Tona (Pesan) dari pada leluhur bahwa poparan (keturuan PARNA) adalah “sisada anak sisada boru” artinya keturunan PARNA merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu-sama lainnya. Bahwa anak atau keturunan dari satu marga merupakan anak dari ke 68 marga yang lain-nya dan “anak dohot boro, na sa poparan dang boi marsibuatan” artinya anak laki-laki dan anak perempuan dalam satu keturunan yang 68 Marga tersebut tidak dapat menikah karena merupakan kakak atau adeknya sendiri, maka pembagian tersebut tidak ada artinya.

Namun pembagian Marga, kembali kepada Marga yang sebenarnya adalah semata-mata supaya dapat mengetahui sejarah asal-muasal perjalanan sejarah suatu Marga atau keturunannya dengan perkembangan populasi yang terus bertambah. Bukan semata-mata untuk membedakan margasatu dengan yang lainnya dalamPARNA itu sendiri. Perlu diingat PARNA sesuai dengan tona akka oppung (pesan dari leluhur) adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan “sisada anak si sada boru”

Demikian tulis ini dibuat semoga bermanfaat.

Catatan : Tulisan ini dibuat atas pemahaman dan pengetahuan penulis semata untuk memberikan informasi sedikit tentang PARNA dan khususnya Marga Napitu sebagai Marga Penulis. Tulisan ini semata-mata di peroleh dari cerita para lulur (oppung) yang terdahulu. Sehingga apabila ada terdapat kesalahan penulis mohon maaf dan untuk pembenaran dapat dikirim komentar agar dapat di perbaiki ;

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati sejarahnya”

Marga yang besar adalah yang mengetahui dan menghargai leluhurnya termasuk kita poparan Op.Raja Nai Ambaton (PARNA)

Terima Kasih (JP.Napitu)

Urutan Proses Pernikahan Adat Batak

(dikutip dari Blog Parna)
1. Mangarisika.
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip.
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.
3. Marhata Sinamot.
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).
4. Pudun Sauta.
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :
4.1. Kerabat marga ibu (hula-hula)
4.2. Kerabat marga ayah (dongan tubu)
4.3. Anggota marga menantu (boru)
4.4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
4.5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.

5. Martumpol (baca : martuppol)
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk : Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis. Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
8.1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
8.2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.

9. Mangihut di ampang (dialap jual)
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.
10. Ditaruhon Jual.
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
11.1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
11.2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru
12. Paulak Unea.
12.1. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
12.2. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.
13. Manjahea.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.
14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

Jika saya memiliki uang Rp 100 Triliun

Jika saya memiliki uang Rp 100 triliun dan hanya boleh saya gunakan untuk kemajuan Sipanganbolon, apa yang akan saya lakukan…?

1. Saya akan membangun jalan bebas hambatan dari Sipanganbolon ke lapangan terbang Sibisa. Lapangan terbang tersebut juga harus dibangun menjadi bandara internasional yang bisa didarati oleh pesawat jenis apapun. Dengan demikian siapapun dan dari manapun bisa dengan mudah datang ke Sipanganbolon.
2. Di Sipanganbolon akan saya bangun fasilitas umum yang tidak hanya memadai tetapi mampu memenuhi dan menunjang kwalitas kehidupan yang tinggi bagi seluruh warga sipanganbolon. Selain itu fasilitas umum itu harus didesain dengan arsitektur etnik modern
• Rumah sakit yang mampu mengobati segala penyakit yang mungkin diderita warga. Rumah sakit ini juga harus mampu memeriksa kesehatan seluruh warga secara berkala, mendidik warga bagaimana caranya hidup sehat dan memberikan informasi-informasi kesehatan terkini kepada seluruh warga.
• Sekolah mulai dari plygroup sampai SMA. Untuk Perguruan tinggi biarlah berada di luar Sipanganbolon karena semua lulusan SMA akan diberikan beasiswa untuk melanjut ke perguruan tinggi terbaik di indonesia dan dunia. Setiap sekolah harus memiliki sarana yang lengkap. Sarana bermain, alat peraga, ruang kelas dan lingkungan sekolah yang ceria untuk playgroup dan TK. Ruang kelas yang bersih dan nyaman, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, laboratorium informatika, lapangan olahraga (lapangan bola, basket, voly, badminton, tennis) kolam renang, gimnasium, gedung teater dan musik lengkap dengan peralatannya, perpustakaan yang meyediakan semua jenis buku baik teks dan elektronik, untuk SD sampai SMA. Sekolah harus di ajar oleh guru-guru yang kualified. Secara berkala sekolah harus mengundang praktisi, pengajar, profesor dari tingkat nasional dan internasional untuk membagikan ilmu dan pengalamannya kepada siswa. Di setiap sekolah harus ada pisikolog yang selalu memantau keadaan pisikologis semua siswa.
• Kantor kepala desa sebagai pusat pemerintahan harus dirombak total. Bangunannya harus unik dan harus menjadi ikon Sipanganbolon. Kantor tersebut harus mampu mengerjakan seluruh administrasi desa dan warga secara cepat dan tepat. Kantor desa harus memiliki akses ke semua sumber informasi, akses ke semua kantor pemerintah dari camat sampai presiden, akses ke semua organisasi-organisasi dunia, akses keperdagangan dan bisnis. Kantor desa harus memiliki data base warga secara lengkap dan selalu di-update. Pegawai-pegawai kantor desa harus profesional dan pelayan masyarakat sejati.
• Jalan raya yang betul-betul baik harus menjangkau semua rumah penduduk dan tempat-tempat penting yang ada di Sipanganbolon. Semua jalan harus memiliki trotoar dan pinggirnya harus ditanami dengan pohon dan bunga-bunga yang indah.
3. Semua rumah warga harus direnovasi. Harus memenuhi standar kesehatan yang tinggi. Harus memiliki saluran air bersih/minum, jaringan telepon, solar sel sebagai sumber listrik tambahan selain dari PLN, saluran TV berlangganan dan internet. Semua rumah juga harus berarsitektur menarik. Setiap rumah juga harus memiliki satu atau lebih ruangan yang bisa ditinggali wisatawan yang ingin berwisata ke sipanganbolon dan sekitarnya. Diharapkan Sipanganbolon menjadi Desa Wisata dimana wisatawan yang ingin menginap tidak tinggal di hotel melainkan di rumah penduduk yang layak seperti hotel. Jadi nantinya di sipanganbolon tidak perlu ada hotel.
4. Membangun pusat pelatihan pertanian. Pusat ini akan megajari dan melatih patani bagaimana bertani yang baik dan benar. Pusat ini juga harus mengkaji dan mengembangkan jenis-jenis tanaman yang cocok ditanam di sipanganbolon.
5. Membangun pusat kebudayaan. Pusat ini mempelajari, menggali, mengembangkan dan melestarikan segala kebudayaan yang pernah ada di Sipanganbolon dan sekitarnya. Pusat kebudayaan ini harus memiliki unit yang secara husus mempelajari adat batak yang diterapkan di Sipanganbolon dan mensosialisasikannya kepada seluruh warga, sehingga pelaksanaan kegiatan adat menjadi lebih baik, lebih tertib dan benar-benar sesuai dengan adat batak yang sebenarnya tanpa menyalahi aturan agama.
6. Membangun pusat kerajinan. Pusat ini akan megajarkan cara-cara membuat kerajinan kepada warga, baik kerajinan tradisional maupun kerajinan modern. Pusat ini juga mengkaji kerajinan-kerajinan yang pernah ada di sipanganbolon dan juga mempelajari kerajinan-kerajinan yang mungkin diciptakan sesuai dengan potensi yang ada di sipanganbolon.
7. Membentuk kelompok-kelompok usaha masyarakat terutama dibidang pertanian dan pendukung pertanian. Tetapi kelompok usaha lain juga harus dikembangkan seperti, kerajinan, pariwisata, kesenian dll. Kelompok-kelompok usaha ini harus dimiliki dan dikelola oleh warga sendiri dengan bantuan bimbingan dari konsultan yang profesional di bidangnya masing-masing. Sehingga usaha ini harus dikoelola dengan manajemen modern.
8. Memperbaiki seluruh tempat ibadah yang telah ada lengkap dengan segala fasilitas pendukungnya. Semua tempat ibadah harus didesain dengan bentuk bangunan yang unik, berkarakter dan fenomenal. Halaman-halamannya harus ditata menjadi taman-taman yang indah. Harus memiliki unit-unit sosial yang tanggap terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya. Semua tempat ibadah membentuk satu forum komunikasi untuk menciptakan saling pengertian, kerjasama, toleransi dan harmonisasi.
9. Memperbaiki daerah alian sungai Naborsahan. Di hulu sungai harus dihutankan kembali sehingga debit sungai bertambah. Limbah tidak boleh dibuang kesungai. Di bagian-bagian sungai yang memungkinkan di bangun tempat-tempat bersantai.
10. Mengatur kembali tataletak dan pemanfaatan tanah sesuai dengan peruntukannya secara proporsional. Areal hutan harus dihutankan kembali dan dipelihara serta dijaga kelestariannya. Areal persawahan harus dikelola kembali dengan cara-cara yang lebih baik. Areal kebun, pemukiman dll dimanfaatkan dan dikelola dengan benar sehingga mampu menghasilkan kesejahteraan maksimal dalam kesetimbangan alam yang terjaga.
11. Membangun taman demokrasi yang asri lengkap dengan pasilitas pendukungnya. Ditempat ini secara berkala warga berkumpul untuk berbicara dan berdiskusi untuk membahas segala sesuatu tentang Sipanganbolon, permasalahan dan solusinya. Di taman ini juga harus disediakan tempat barmain anak-anak, tempat olah raga, tempat pertunjukan kesenian dan tempat melaksanakan acara adat seperti pesta pernikahan. Taman demokrasi ini harus didesain bernuansa etnik tetapi dikemas secara modern.
12. Membangun sebuah pusat promosi yang menampilkan seluruh profil, potensi dan produk baik pertanian, kerajinan, budaya, industri, kesenian dll, sehingga orang lain dapat mengetahui apa saja yang dihasilkan dan apa saja yang ada di Sipanganbolon. Pusat promosi ini harus bekerja sama dengan pusat pusat promosi nasional dan internasional, memiliki website dengan informasi yang lengkap dan selalu diupdate.
13. Merubah ADP menjadi tempat wisata untuk memandang ke ngarai sigala-gala, bukit-bukit yang ada di Sidahapittu, Girsang dan Motung serta memandang Danau Toba yang indah dikejauhan. Tempat wisata ini harus dikelola secara propessional. Tidak boleh ada lagi disana prostitusi dan segala yang berhubungan dengan prostitusi tersebut. ADP harus menjadi pintu gerbang Sipanganbolon yang ramah, berkarakter, bermartabat, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan harus menakjubkan sehingga susah untuk dilupakan orang.

Itulah sebagian kecil yang akan aku lakukan jika aku memiliki uang Rp 100 Triliun
Mimpi kali ya…..? …….huahahahahahaha……………………………
Boleh dong bermimpi.

Mimpi menghasilkan keinginan
Keinginan menghasilkan harapan
Harapan menghasilkan kemauan
Kemauan menghasilkan kerja keras
Kerja keras menghasilkan kenyataan

Selamat bermimpi dan ijinkanlah mimpi itu menjadi kenyataan.

sangMatahari
sipemimpi

KEMARAU

Medio Augustus 2003

Pohon ini telah lama meranggas

Oleh kemarau yang panjang

Gelisah dan harapan berbaur jadi Satu

Menunggu batas kemarau

Masihkah ranggas ini

Menyimpan tunas-tunas muda?

Kapankah penantian ini akan berakhir

Sementara tak ada tanda-tanda

Kemarau akan berakhir

Bahkan kian hari

Kabut asap masih menyelimuti angkasa

Rumpur-rumput kian kering dilalap api

Ilalang kini sudah layu dan mati

Kemarau kali ini sangat menyiksa

Kemarau telah meluas ke mana-mana

Bahkan……

Kemarau di jiwa dan kemarau di hati

Hingga naluri dan rasa

Pun…. Ikut meranggas

Kering lalu mati

Oh…..h…..h..!

Sang raja matahari

Yang bertahta di langit……………

Sampai kapankah kau biarkan kemarau ini

Menyiksa batinkami…?

Oh….h…..h..!

Dewa hujan dimana pun kau berada

Sentuhlah hati kami yang telah kering ini

Dengan airmu yang sejuk

Jangan juga kau biarkan tubuh kami

Trekubur dalam debu

Wahai sang penguasa semesta

Perlu kau tau akan utang kami

Yang belum kami lunasi di tanah ini

Oh…..

Engkau yang memegang kunci takdir

Jangan kau tutup pintu takdir kami

Dalam kegelisahan ini

Wahai sang penentu kehidupan

Ijinkanlah kami menikmati mimpi-mimpi kami

Walau hanay semalam saja

Kini hanya mimpi yang kami punya

Sementara yang lain telah musnah terbakar kemarau

Wahai engkau yang paling berkuasa atas apapun

Aku menengadah di tanah ini

Dengan sisa nafasku yang terakhir

Aku memohon kepadamu dari lubuk hati yang paling dalam

Dengan tulus aku meminta

Kiranya engkau sudi melihat air mata ini

Dan jadilah padaku

Apa yang seharusnya menurutmu terjadi

Kemarau di musim ini

Panjang dan entah sampai kapan

Oh……………..

Kepada siapa saja dan dimana saja

sangMatahari