Reunion (bagian 7)

Jam tujuh pagi kami sudah mengenakan busana dan penampilan terbaik kami. Isteriku dan anak-anak mengenakan kebaya dan gaun yang telah dijahitkan di tukang jahit terbaik itu. Saya mengenakan kemeja dan dasi jatah yang sengaja dibeli panitia dengan warna yang sama. Sementara jas yang saya kenakan adalah jas abu-abu yang dulu saya beli di rest area km 98 Tol Purbalenyi (Orang-orang masih menyebutnya dengan Tol Cipularang) dengan harga super discount. Jam setengah delapan kami harus sudah berkumpul di gedung Confrence Hall untuk memulai acara besar yang akan kami gelar hari ini. Dari Sipanganbolon kami menaiki angkutan yang dikendarai oleh Tulang Rudol. Mobil angkutannya Tulang Rudol ini sengaja di pesan sepanjang hari ini untuk mengangkut siapa saja yang akan ke acara itu.

Di dalam angkutan itu ada saya, mama, Aurora Ayugeera, Aletona, ompung Arga, Arga, dan inanguda Pahae. Di dalam angkutan itu juga ada beberapa tandok besar berisi beras yang akan digunakan dalam prosesi acara nanti dan beberapa dus air mineral. Tidak lebih dari 15 menit kami sudah tiba di Confrence Hall. Gedung ini berada persis di tepian Danau Toba. Gedung ini adalah bangunan milik Pemda Simalungun yang digunakan untuk melaksanakan pertemuan dan rapat-rapat untuk membicarakan kesejahteraan rakyat di sana. Karena gedung ini tidak digunakan tiap hari, maka banguna ini disewakan juga kepada masyarakat umum yang akan menggunakannya.

Gedung ini mengambil bentuk rumah adat Simalungun yang jelas terlihat dari bentuk atapnya. Dari sisi kanan, kiri dan belakang gedung ini kita bisa menyaksikan keindahan Danau toba. Kita bisa melihat airnya yang biru dan berkilauan ketika di sinari matahari, demikian juga dengan bukit-bukit batu yang dengan kokoh memagarinya. Dari sebelah kanan bangunan kita bisa melihat dengan jelas Pulau Samosir di ujung sana. Hanya saja lingkungan bangunan ini kurang tertata. Trotoar atau pedestarian jalanan yang dibuat asal-asalan membuat pejalan kaki tidak nyaman melintasinya. Para pedagang souvenir yang hampir menutupi seluruh pinggiran jalan dengan kios-kios yang sangat tidak enak dipandang. Demikian juga dengan bibir pantai yang hampir seluruhnya tertutup oleh tenda-tenda kusam dan pondok-pondok darurat. Semua itu mengurangi kemolekan Danau Toba dan Kota Parapat yang sudah terkenal keindahannya sejak dahulu. Sekarang keindahan itu terlihat seperti lukisan indah tak berbingkai.

Pagi ini acara super spesial itupun akan segera dimulai. Acara pernikahan itupun akan segera digelar. Mengapa acara ini begitu spesial?. Bagitu banyak alasan sehingga acara ini menjadi sangat spesial. Momen menikah itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang sangat spesial. Menikah adalah menyatukan dua individu yang berbeda dan akan memulai kehidupan bersama dengan segala kekurangan masing-masing. Apakah itu bukan sesuatu yang tidak spesial?. Yang menikah adalah putri satu-satunya dari abang tertua saya, sehingga hanya sekali inilah dia Pamuli Boru dan memberikan Ulos Hela. Putri abangku ini menikah dengan seorang pria yang berasal dari negeri yang sangat jauh. Saya menyebutnya dari ujung dunia. Dia berasal dari Finlandia. Dua budaya yang sangat berbeda akan dipadukan, budaya Eropa dengan budaya Batak. Ini sesuatu yang luar biasa bagi kami, walaupun bagi orang lain ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Kami sangat berharap kedua mempelai bisa menjalani budaya yang sangat berbeda ini dengan baik sampai mereka Saur Matua. 

Hal yang bagiku membuat acara ini menjadi lebih spesial adalah karena acara ini dilaksanakan di tanah kelahiran ompung kami. Sesuatu yang tidak pernah kami impikan dan bayangkan sebelumnya, walaupun saya pernah berharap. Mempelai pria lahir dan besar di Finlandia, mempelai wanita lahir dan besar di Makassar, mereka berdua tinggal di Batam, orang tua mempelai wanita tinggal di Papua, kami saudara-saudaranya kebanyakan tinggal di seputaran Jakarta, sehingga sangat kecil kemungkinan acaranya dilakukan di kampung. Bukankah lebih bergengsi kalau acara itu dilakukan di kampung mempelai pria. Mungkin saya juga bisa ikut nebeng ke sana. Eropa lo… Atau mungkin di tempat tinggal mereka di Batam, sehingga teman dan sahabat-sahabat mereka bisa ikut menghadirinya. Atau di Papua saja tempat tinggal orang tua mempelai wanita. Atau mungkin di Makassar, Jakarta atau sekalian di Pulau Dewata Bali agar lebih keren. Namun kedua mempelailah yang menginginkan pernikahan mereka dilaksanakan di kampung.

Mempelai pria ingin langsung merasakan adat batak sejak pertama ia menjadi menantu orang batak, dan dia ingin merasakannya langsung di kampung. Sementara itu mempelai wanita ingin menunaikan janjinya sekitar setahun sebelumnya. Ketika itu dia diutus oleh bapaknya untuk menghadiri pernikahan seorang saudara di Siantar. Sepulang dari Siantar dia mengikuti kebaktian minggu di gereja di kampung dan di sana dia berdoa agar Sang Maha Pemurah menunjukkan jodoh baginya. Bila permintaan itu terkabul, dia berjanji untuk melangsungkan pernikahan di kampung. Dan ternyata dalam waktu yang tidak lama permintaan itupun dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Namun terlepas dari itu semua saya seakan merasakan ada sebuah kuasa besar diluar diri dan kemampuan kami yang mengatur agar momen itu berlansung di kampung. Yang memiliki kuasa besar itu menginginkan agar kami semua yang bersaudara semakin dekat satu dengan yang lain. Agar kami bisa berkumpul bersama di tanah leluhur kami. Agar kami bisa melakukan reuni mengenang masa kecil kami. Saya yakin Sang Penciptalah yang berkehendak agar momen ini membuat kami semakin mengasihi satu dengan yang lain. Kami hanya bisa berencana, tetapi kehendak-Nyalah yang jadi.

19884120_886218054868670_1034463698647776280_nSetibanya di Confrence Hall kami langsung bercengkrama dengan saudara-saudara yang telah ada di sana. Ada Tomy, isterinya dan Yusa. Tomy terlihat semakin kebapakan dengan Yusa yang ada dipangkuannya.  Ada juga Bill dengan tubuh gempalnya dengan brewok yang kian memanjang dan Nuel yang kurus tinggi bagaikan tiang listrik itu. Ada juga di sana saudara-saudara dari Toraja yang sudah berdandan dengan penampilan terbaik mereka. Satu-persatu saudara-saudara berdatangan dan ruangan semakin ramai.

Pagi itu kami awali dengan menikmati hidangan sarapan pagi dengan menu nasi putih dan lauknya daging sapi. Pagi ini kami semua harus mengisi penuh perut kami, agar kami kuat mengikuti acara panjang ayang akan berlangsung seharian, bahkan mungkin kan sampai malam hari. manu memang hanya nasi putih hangat dengan daging sapi yang dimasak dengan bumbu rendang, tetapi udara pagi yang langsung berhembus dari danau membuat makan pagi itu menjadi nikmat tiada tara. Teras belakang gedung yang langsung menghadap ke danau juga menambah nikmat suasana makan kami. Hari yang masih pagi membuat warna danau menjadi biru segar, hingga mata tak bosan-bosannya memandangi kemolekannya.

19959170_886400668183742_4849735931024723575_nPara ibu dan gadis-gadis tidak melewatkan backgraund yang cantik itu untuk berselfie ria. Segala macam gaya dan model mereka peragakan. Semua sudut-sudut yang indah mereka bidik. Seyum- seyum terbaik mereka perlihatkan. Gigi-gigi putih yang tadi pagi sengaja digosok dengan odol lebih banyak di tunjukkkan lebar-lebar. Satu…, dua…, tiga…, seyum… chisss…. Laman-laman Facebook pun mulai diramaikan oleh pose-pose mereka. Group-group WA pun tidak ketinggalan, membuat iri para saudara dan teman yang tidak bisa ikut di acara itu.

19875379_1830014750359628_5609624408322651782_n

 

Bersambung ke bagian 8.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s