aku “penjahat”…?

Tadi pagi aku membaca sebuah tulisan yang menarik yang ditulis oleh Ledy Simarmata, pembaca berita di RCTI seperti berikut:

aku “penjahat”…?

siang itu, seperti biasa, aku melangkah menuju studio. berpenampilan rapi (seperti pembaca berita pada umumnya), membolak-balik skrip, lengkap dengan penata rias yang sibuk membetulkan rambutku.

tak berapa lama, hitungan mundur-pun dimulai, diikuti dengan hentakan Opening Bumper SERGAP, program berita kriminal yang mulai aku akrabi sejak 2 bulan terakhir ini.

di program ini, anda akan banyak melihat orang, yang lebih akrab disebut “orang jahat”. mereka disebut “jahat”, karena 2 hal penting: pertama, karena mereka melanggar hukum tertulis yang ditetapkan negara republik Indonesia. kedua, karena mereka menganggu ketentraman masyarakat di sekitarnya. tak peduli apapun alasan mereka melakukan perbuatan “jahat”nya, mereka “salah di mata hukum”, atau paling tidak “salah di mata masyarakat”.

aku bukannya tak pernah bertemu dengan “orang-orang jahat” ini. saat aku bergelut dengan berita-berita kriminal di lapangan, hampir tiap hari aku berbincang dengan “orang-orang jahat” ini. meski sekarang, aku sudah tak lagi menjadi reporter kriminal, aku tetap akrab dengan berita kriminal sejak dipercaya membawakan program berita kriminal dengan pemirsa terbanyak di Indonesia ini.

sampai akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan: AKUPUN SAMA DENGAN “ORANG-ORANG JAHAT” ITU.

sebenarnya… aku tidak lebih baik dari mereka. karena ternyata, akupun memiliki “dorongan-dorongan” untuk berbuat “jahat”, yang JIKA TERLAKSANA, bisa saja menciptakan “tindakan kriminalitas”.

saat aku disakiti, akupun ternyata memiliki “dorongan” untuk membalas dendam. dan, seperti yang kita sering dengar, sakit hati dan keinginan balas dendam adalah faktor yang banyak kali menjadi awal sebuah “tindakan kriminalitas”. jadi…sebagai manusia, akupun ternyata selalu memiliki “peluang” atau “kecenderungan” untuk berbuat jahat.

bedanya adalah: “dorongan-dorongan jahat” itu tak pernah terlaksana sebagai “tindakan kriminalitas”, yang melanggar hukum. kenapa tidak terlaksana? mungkin karena aku berada di lingkungan yang sadar hukum, mungkin karena aku dibesarkan oleh keluarga “beradab”, mungkin karena aku punya masa depan – yang tak mungkin aku korbankan, dan faktor-faktor lainnya, termasuk Tuhan.

sedangkan mereka: mungkin kebanyakan mereka tak berada di lingkungan “terdidik” atau sadar hukum, hidup mereka keras, dipenuhi orang-orang kasar, mereka mungkin tak punya masa depan yang relatif jelas, dan mungkin, tak ada orang yang memberitahu mereka soal Tuhan.

lihatlah…betapa miripnya aku dengan “orang-orang jahat” itu. kami memiliki “kerapuhan” yang sama, kami sama-sama memiliki “sisi gelap”, kami bisa merasa tertekan, kami bisa merasa sakit hati. intinya, akupun sama tidak sempurnanya dengan “orang-orang jahat” itu. yang membedakan kami hanyalah “situasi”.

aku percaya, Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Dia tidak akan salah menciptakan seorang manusia. tidak ada seorang manusia-pun, yang diciptakan menjadi residivis, kriminil, pengedar narkoba, atau predikat penjahat lainnya. sebaliknya, tak ada seorang manusiapun yang lahir ke dunia ini, yang sempurna tanpa kemungkinan “berbuat jahat”. sebaik apapun seorang manusia, dia masih belum bebas dari peluang menjadi “orang jahat”, sampai dia mati.

akhirnya, aku percaya, ini bukan masalah “orang baik” atau “orang jahat”. toh, semua orang ternyata (bahkan yang disebut “baik” sekalipun), masih belum lepas dari “peluang berbuat jahat”. hanya masalah “situasi”.

lalu, kenapa semua manusia di muka bumi ini selalu punya peluang “berbuat jahat”? menurutku, karena semua manusia di muka bumi ini sudah “berdosa” sejak lahir.

coba deh pikir-pikir, pernah gak ibu atau bapak kita, mengajarkan kita untuk bohong, membantah atau melawan? kayaknya gak kan! tapi (bahkan sejak usia dini sekalipun), kita sudah bisa berbohong, membantah atau melawan, tanpa harus ada yang mengajari.

dosa adalah sesuatu yang sudah mendarah-daging di dalam diri manusia, dan membuat manusia selalu memiliki “peluang” untuk berbuat jahat.

jadi, rasanya tak ada alasan untuk merasa diri kita lebih suci daripada orang lain, termasuk merasa lebih suci daripada para “penjahat” itu…

p.s: I think, this is the reason why I need a SAVIOUR…

September 13, 2006 at 08:20 AM | Permalink

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s