Kisah Sebening Kasih

Hari sabtu kemarin aku membaca Harian Kompas seperti biasanya. Kompas menjadi bagian dari sabtu-mingguku sejak aku tinggal di Jakarta. Di halaman pertama Kompas Sabtu kemarin itu terpampang gambar pembukaan olimpiade Beijing 2008. Aku membaca beritanya dan aku sangat menyesal karena aku tidak menonton acara pembukaan yang sangat megah tersebut yang disiarkan oleh TVRI sehari sebelummya.

Aku ingin memastikan kehebatan dari olimpiade tersebut. Aku coba menyetel channel TVRI di tivi Panasonic 14” di rumah. Wah… gambarnya jelek sekali. Istilah kami dulu dikampung “gok harinuanna” istilah kotanya “banyak semutnya”. Akupun menset ulang chanel-channel di tivi itu dengan harapan bisa mendapatkan gambar TVRI yang lebih jelas. Aku terkejut ternyata setelah di set ulang, gambar TVRI cukup bagus, bahkan nyaris sejernih channel TV swasta yang lain. Yang aku kaget lagi, ada beberapa stasiun tivi baru yang bisa di saksikan di tivi tersebut. Ada elshinta tv, Gtv, DAAITV dan satu stasiun tv yang masih siaran percobaan.

Sejak adanya stasiun-stasiun tivi baru itu, aku jadi lebih suka menyaksikan tivi-tivi baru tersebut, tentu saja olimpiade yang disiarkan TVRI juga. Dari semua tivi-tivi baru tersebut yang paling menyita perhatianku adalah DAAITV. Acaranya sangat berbeda dengan tivi-tivi yang lain, acaranya lebih menekankan pada masalah sosial yang menyentuh masyarakat golongan menengah ke bawah.

Kemarin sore, jam 19.00 DAAITV menyiarkan sebuah sinetron yang sangat bagus berjudul KISAH SEBENING KASIH. Sinetron ini bercerita tentang kisah seorang anak perempuan berumur sekitar 10 tahun. Sianak itu masih duduk di sekolah dasar dan tinggal di sebuah perkampungan kumuh di bantaran sungai kali Angke. Dia tinggal bersama ibu dan seorang adiknya yang masih kecil dan belum sekolah. Ayahnya seorang hansip yang memiliki dua isteri.

Si anak ini menginginkan sebuah sepeda agar ia bisa lebih cepat tiba disekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Keinginan ini sangat sulit diwujudkan karena pekerjaan ibunya hanya pembuat makanan peyek yang dijual ke warung. Hutang ibunya cukup banyak untuk ukuran orang miskin dan tidak mungkin membeli sebuah sepeda buat putrinya. Setiap kali putrinya meminta dibelikan sepeda, si ibu selalu menjawab akan membelinya nanti bila sudah dapat rejeki. Si anak sering kali kesal mendengar jawaban ibunya. Tetapi dia tidak bisa menuntut banyak karena memang ibunya tidak punya uang untuk membelinya. Untuk makan saja ibunya harus berhutang diwarung atau mengharapkan belas kasihan tetangga bila tukang warung tidak memberikan utangan.

Demikianlah kehidupan si anak di perkampungan yang memprihatinkan di sudut kota mertropolitan Jakarta. Perkampungan itu persis di bantaran kali Angke dan di sebelahnya ada jalan layang tol yang berdiri gagah dengan segala macam mobil berseliweran di atasnya. Rumah-rumah panggung yang sebagian berada di atas kali saling dempet berdesakan. Dinding-dinding rumah terbuat dari potongan kayu, papan dan tripleks bekas yang ditempel tak beraturan. Atapnya dari seng-seng bekas yang panasnya minta ampun bila disinari matahari siang. Didepan rumah ada jemuran, warung, bale-bale bahkan MCK dengan memanfaatkan air kali yang warnanya coklat dan kadang-kadang berwarna hitam.

Satu ketika impian si anak untuk memiliki sepeda terkabul, walaupun sepeda itu hanya sebuah sepeda bekas. Sepeda itu adalah sepeda milik anak bapaknya dari isteri yang satu lagi. Si anakpun senang sekali. Dia jadi lebih cepat sampai di sekolah. Bisa bermain dengan teman-temannya ke tempat yang lebih jauh, bahkan bisa mencuri mangga sampai ke pluit. Intinya kehidupan si anak menjadi lebih ceria dan bahagia sejak adanya sepeda tersebut. Semangat belajarnyapun bertambah.

Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Satpol PP, Polisi beserta Aparat Tramtib DKI Jakarta membawa sebuah buldozer meratakan rumah-rumah itu dengan tanah. Si anakpun menangis, ibunya menangis, tetangganya menangis, semua warga disana menangis. Mereka tidak tau akan berteduh dimana. Mereka tidak punya apa-apa. Sepeda itupun hancur diinjak-injak pasukan tramtib ketika sianak sedang mempertahankan sarung kesayangannya yang mau diambil oleh seorang satpol PP. Sarung itupun akhirnya robek Dan….Ceritanyapun Bersambung.

Kesederhanaan, perjuangan, keiklasan, kepedulian, realita mewarnai sinetron ini. Sebuah cerita yang disupervisi oleh Garin Nugroho, dibintangi oleh Widi-ABTree, Zainal Abidin Domba dll. Sebuah tontonan TV yang sudah lama ditunggu-tunggu ditengah Sinetron-sinetron yang memamerkan segala kepalsuan, kecengengan, kemalasan, keglamouran bahkan kemunafikan yang sangat tidak mendidik yang menjejali stasiun-stasiun tivi sekarang ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s