Ketakutan yang tak aku mengerti

Ketika aku anak-anak aku sangat takut dengan gelap. Aku percaya kalau di tempat gelap ada setan, hantu dan teman-temannya yang siap menyakiti aku. Di tempat yang sepi juga aku takut karena aku pikir di tempat yang sepi ada “pamangus”* yang akan mencelakaiku. Orang asing yang tidak aku kenal, mahluk aneh seperti serangga dan reptil, suara-suara aneh, kuburan, cerita-cerita horor dan banyak lagi hal-hal yang menakutkan di masa kecil.

Sejalan dengan berputarnya waktu, ketakutan-ketakutan itupun memudar. Pemahaman yang aku dan sebagian besar orang di sekitarku terima mengenai ketakutan itu mulai luntur. Kegelapan ternyata tidak benar berisi setan. Tempat sunyi tidak benar dihuni oleh “pamangus”. Cerita-cerita horor hanyalah sebuah ilusi yang sengaja diciptakan oleh pengarang. Mahluk-mahluk aneh tidak akan menyakiti salama kita tidak mengganggu mereka. Orang-orang asing juga manusia sama seperti kita yang ingin diperlalukan dengan baik. Jadi sesungguhnya tidak ada lagi alasan untuk takut.

Tetapi semakin aku bisa berpikir, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Ketakutan-ketakutan masa kecil memang memudar, namun muncul ketakutan-ketakutan baru. Dari sekian banyak ketakutan-ketakutan baru itu, ada sebuah ketakutan aneh yang sangat menganggu. Ketakutan atas kehadiran orag-orang baru di keluarga besar kami.

Awalnya memang aku tidak begitu peduli dengan kehadiran orang-orang baru itu. Mungkin karena aku terlalu larut dengan kepentingan diriku sendiri. Bahkan aku melihat orang-orang baru itu menambah semarak keluarga kami. Tetapi ketika ada satu orang baru yang extreem masuk ke wilayah keluarga besar kami, aku tersentak sampai-sampai adrenalinku meyentuh ubun-ubun. Aku merasa orang baru itu telah mencuri salah satu orang yang aku sayangi. Orang baru itu telah mengacak-acak ladang kebahagiaan kami. Orang baru itu telah menghina harga diri kami. Aku ingin mengusirnya, aku ingin membuat perhitungan dengannya, bahkan aku ingin membunuhnya, tetapi aku tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Sejak saat itu, setiap kali ada orang baru yang mau menyentuh wilayah keluarga besar kami, setiap kali itu pula muncul ketakutan yang sama. Aku merasa orang-orang baru itu adalah penjahat yang akan merampas kebahagiaan kami. Aku selalu mencurigai mereka. Mereka adalah serigala berbulu domba di mataku. Aku jadi sangat paranoid. Tetapi aku tetapsaja tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Satu persatu orang baru muncul dan masuk ke dalam keluarga besar kami. Sesungguhnya ada sebagian besar yang cukup baik, tetapi tetap saja selalu ada yang buruk menurut penilaianku. Orang-orang yang aku nilai buruk ini sebenarnya tidak bisa dikatakan masuk kedalam keluarga kami, melainkan mereka datang sekejap lalu mencuri orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang aku nilai buruk ini telah menumpahkan banyak air mata kami. Walaupun aku masih bisa ngobrol dengan orang-orang yang aku sayangi yang telah mereka curi, tetapi obrolanku tidak lagi jujur dan tulus. Ada sebuah tembok besar yang tidak mampu aku runtuhkan. Walaupun kadang-kadang kami bisa tertawa bersama, tetapi sesungguhnya hatiku pedih.

Orang-orang baru yang menurutku buruk itu, telah mendoktrinkan ajaran baru kepada orang yang aku sayangi yang telah mereka curi. Aku sebenarnya tidak menyalahkan sepenuhnya semua ajaran itu. Tetapi biarlah ajaran itu menjadi milik mereka-mereka di luar keluarga kami. Dan biarlah kami setia dengan ajaran yang telah kami anut. Kesederhanaan, cinta kasih, kerja keras, kejujuran, kemurahan, kesetiaan, kepedulian adalah sebagian dari ajaran yang kami anut. Tentu saja kepercayaan akan ajaran Juru Selamat menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar apalagi diperjual belikan.

Di lain sisi kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang meminta untuk dicuri. Jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang meminta untuk didoktrin dengan ajaran lain. Jangan-jangan orang yang aku sayangi itu yang menyerahkan dirinya untuk dibawa pergi. Kalau benar demikian sia-sialah ketakutanku selama ini. Kalau benar demikian, betapa bersalahnya aku telah memberikan tuduhan yang bukan-bukan kepada orang-orang baru itu. Kalau benar demikian mengapa..? Mengapa mereka melakukan itu. Apa yang salah dengan keluarga kami? A….hhh aku jadi bingung dan tak tau harus melakukan apa.

Hari ini ketakutan itu muncul kembali. Satu orang baru ingin menyentuh salah satu anggota keluarga besar kami. Satu orang baru yang belum aku tau prinsip hidupnya ingin memasuki beranda rumah kebahagiaan kami. Jantungku berdetak kencang walaupun adrenalinku tidak sampai ke ubun-ubun. Apakah aku harus mempersiapkan diri untuk kehilangan lagi? Aku tidak tau dan tidak melakukan apa-apa.

Maafkanlah aku atas ketakutan ini.

Aku sangat menyayangi kalian. Aku tidak ingin ada yang mencuri kalian dari rumah kebahagiaan kita. Aku tidak ingin air mata kita tumpah lagi membasahi tanah di halaman depan. Yakinkanlah dirimu, diriku dan kita semua bahwa orang baru itu bukanlah serigala berbulu domba.

* pamangus= penjahat

Iklan

9 pemikiran pada “Ketakutan yang tak aku mengerti

  1. nga hujaha jala nga hubalas be di email. Semoga para pamangus itu segera menyingkir.
    Alai hurasa porlu do ba diinformasihon taringot pabrik kopi na di napittor i ba, asa diboto angka dongan sipanganbolon.
    Sotung gabe tamu hita sahalion di hutanta sandiri

    ditunggu berita pabrik kopi nya di milis

  2. Jangan terlalu takut u jalani hidup, smua orang punya jalan hidup masing-masing. Saudara kita bukanlah milik kita, mereka milik Tuhan seutuhnya. Doain aja dan nasehati, sebelum yg yg kita khawatirkan terjadi. Dan yg sudah terlanjur ‘ ‘ pergi ‘tetaplah di nasehati juga, mudah-mudahan suatu hari nanti akan kembali ‘ kerumah ‘. Jadilah ‘ MATAHARI ‘ di dalam keluargamu, semoga.

  3. Om admin tolong tampilin kamus batak-indonesia dong.. Soalny bnyk comment2 yg make bhs batak.
    Jd biar yg lain jg ngerti, n sklian blajar bhs batak.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s