63 tahun indonesia bingung

Intro: Persiapkan diri anda untuk bingung membaca tulisan ini.

63 tahun adalah usia yang sudah seharusnya pensiun, karena biasanya tidak efektif lagi bekerja. Tekanan darah tinggi, diabetes, asam urat, bahkan Stroke dan serangan jantung menjadi hal biasa bagi mereka yang berusia 63 tahun. Kadang-kadang ada juga yang mulai pikun alias penyakit bingung atau lupa. Jadi apa yang diharapakan dari usia 63 tahun? Ya pensiunlah. Semakin dekatlah kepada pencipta. Moga-moga dosanya diampuni sebelum ajal menjemput. Lo… apa hubungannya dengan indonesia..? Ya.. hubungkan aja sendiri. Kalau tidak ada hubungannya ya dipakskan saja sampai ada hubungannya. Toh di Indonesia ini paksa-memaksa kan sudah biasa… ha…ha…ha…

Semakin banyak orang yang pesimis dengan negara yang bernama indonesia ini. Saya sepenuhnya memahami ke-pesimis-an tersebut dan mungkin aku adalah satu diantara mereka, walaupun sering kali saya bingung mengapa saya ikut pesimis. Kami-kami yang pesimis ini semakin tidak percaya lagi kepada orang-orang yang mengelola negeri ini. Pemerintah, dpr, mahkamah agung, kejaksaan, badan pengawas, badan pemeriksa, bumn, partai-partai, ormas, lsm, lembaga-lembaga pendidikan, media massa, bahkan organisasi keagamaan tidak dapat lagi dipercaya. Apakah di negeri ini sudah muncul sekte atau aliran kepercayaan “tidak dapat dipercaya”…? Mungkin hal itulah yang menyebabkan bermunculannya orang-orang yang mengaku nabi bahkan mengaku tuhan. Waow…. Iii.. (sambil mengetarkan badan)

Kami orang-orang yang pesimis ini melihat indonesia ini adalah sebuah benda aneh yang digerogoti oleh sekumpulan mahluk aneh pula. Dengan berbagai cara aneh, mahluk-mahluk aneh itu mengambil bagian sebanyak-banyaknya dari benda aneh tersebut. Keanehan terjadi dimana-mana, terjadi setiap hari. Bahkan kamipun telah ikut menjadi aneh, melakukan hal-hal aneh dan tinggal di negeri yang aneh bin ajaib ini.

Tadi barusan aku membaca sebuah tulisan seorang pendeta di sebuah blog. Dia begitu galau dengan ke-indonesia-an ini. Dia mempertanyakan apakah masih ada gunanya negara indonesia ini.

Seandainya saya pergi bekerja di negara tetangga atau di negara sahabat nun jauh, dan disana saya disiksa serta dianiaya oleh majikan saya: apakah saya akan dibela mati-matian oleh negara ini, termasuk kalau perlu mengirimkan angkatan perangnya?

Seandainya saya sedang berada di luar negeri dan ditangkap oleh polisi setempat, dijebloskan ke penjara dengan atau tanpa pengadilan: apakah saya akan diperjuangkan oleh negara ini minimal dijamin akan mendapat perlakuan adil dan manusiawi?

Seandainya saya punya sebidang tanah dan diserobot oleh orang lain yang secara ekonomi dan politik jauh lebih kuat dari saya, apakah negara ini akan menjamin bahwa saya akan kembali mendapatkan hak-hak saya?

Seandainya saya jatuh miskin, mengalami cacad fisik dan psikis sehingga tidak lagi bisa bekerja atau berusaha, sakit permanen atau lumpuh, atau sudah lanjut usia, atau tidak punya ayah dan ibu, apakah negara menjamin hidup dan masa depan saya?

Seandainya saya tinggal sangat jauh dari Jakarta, yaitu di pulau-pulau kecil di ujung negeri ini, atau dibalik urat-urat pegunungan tinggi, atau malah di perkampungan miskin di tengah kota di depan mata penguasa, apakah saya dijamin tidak akan luput dari perhatian dan sokongan negara? Apakah negara memastikan bahwa saya mempunyai kedudukan yang sama dan setara di depan hukum, dan keadilan atas sumber-sumber kehidupan yang dipunyai bersama?

Seandainya saya memilih suatu agama dan ingin beribadah menurut agama yang saya pilih itu, namun ternyata saya dihalang-halangi atau diganggu oleh orang lain, apakah negara ini berkuasa untuk melindungi kebebasan saya?

Pak pendeta, aku mengerti dan merasakan kegalauanmu. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Kalau pak pendeta saja sudah galau, apalagi aku. Gundah, bingung, takut dan paranoid.

Sambil menulis tulisan ini aku memakan kerupuk yang selalu ada di kaleng kerupuk di atas loker samping mejaku. Tukang kerupuk menitipkannya sejak setahun yamg lalu. Setiap seminggu sekali si abang tukang kerupuk datang mengisinya dan kalau ada yang sisa diganti dengan yang baru. Awalnya kerupuk yang dia jual besar-besar, tetapi belakangan ini ukurannya makin kecil saja, padahal harganya naik. Alasan si abang tukang kerupuk, harga BBM naik sehingga ongkos produksi kerupuk juga naik. Apa kerupuk ini digoreng pakai BBM…? Tapi sudahlah dari pada pusing mencari hubungannya biar sajalah. Inikan hanya masalah kerupuk. Tapi kan dari masalah kerupuk dulu baru ke masalah aliran dana BI. Jadi mumpung masalahnya masih sebesar kerupuk yah harus di-solusi-kan. Masalahnya apa, solusinya apa…? bingung…

Beberapa hari yang lalu aku membaca headline Kompas “ICW mengajukan desain baju tahanan kasus korupsi kepada KPK”. Katanya untuk perlakuan yang sama dengan tahanan yang laih dan juga untuk efek jera. He…he….he… (dengan wajah sinis). Hanya itulah responku. Tidak tau mau respon apalagi. Mau dikasi baju apapun atau bahkan tak tipakaikan baju (telanjang), toh korupsi dan koruptor sudah lebih berkuasa dari siapapun dinegeri yang mengaku negara hukum ini. Lalu bagaimana…? Ya bagaimana lagi..?, lagi-lagi bagaimana..?

Hari rabu pagi kemarin aku naik angkot dari rumah menuju jatinegara, tempat aku biasa menunggu mobil jemputan. Tepat di jalan pinang pasar rawamangun, sebuah angkot yang sama berhenti persis didepan angkot yang aku tumpangi karena ada seorang penumpang dipinggir jalan. Dari arah depan ada taksi, maka angkot yang aku tumpangi tidak bisa mendaahului angkot yang berhenti didepan. Angkot yang aku tumpangipun berhenti persis di belakang angkot yang sudah duluan berhenti itu. Entah kenapa penumpang yang dipinggir jalan itu tidak masuk ke angkot di depan, melainkan masuk ke angkot yang saya tumpangi. Sopir angkot yang didepan marah-marah. Marah ke sopir angkot yang aku tumpangi, marah ke penumpang yang naik ke angkot yang aku tumpangi itu. Marah dengan sumpah serapah. Sore sehari sebelumnya sopir angkot yang aku tumpangi marah-marah dan mengucapkan kata-kata yang paling jorok kepada dua orang penumpang yang membayar ongkos kurang. Aku menyaksikan semua itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Sudah seburuk inikah orang-orang indonesiaku…?

Hari ini (maksudku dua hari lagi) 63 tahun sudah indonesia mengaku merdeka. Aku duduk disini, letih dan lelah menyaksikan semua sandiwara keanehan ini. Bingung memaknai wajah indonesiaku yang abstrak ini. Ketakutan dan paranoid membayangkan masa depanku dinegeri yang mengaku kaya raya ini. 34 partai akan bertarung di pemilu tahun depan. Haruskah aku menggantungkan harapanku kepada mereka…?

Iklan

2 pemikiran pada “63 tahun indonesia bingung

  1. 63 tahun Indonesia merdeka, 20% anggaran pendidikan, buku bisa didownload di internet, BBM semakin tidak disubsidi (saya mendukung ini 100%, agar kalau manusia itu jangan hanya tergantung pada minyak, agar manusia itu mencari jalan lain selain menunggun bahan bakar fosil, masalah harus bisa dijadikan sebagai kesempatan…), kemudian indonesia masih bisa dapat medali di Olympiade yang tidak didapat oleh Malaysia, Singapore, bahkan Thailand yang menjadi raja Asia tenggara, dan KPK sudah dan sedang mengganyang para koruptor, memang semua seperti terlambat, tapi semua itu adalah pertanda campur tangan Tuhan dalam bangsa ini, saya kurang suka dengan komentar pendeta di atas yang spt menghasut orang agar semakin disingkirkan di bangsa ini, seharusnya orang Kristen itu harus komit thp sikapnya yang harus menjadi garam dan terang dunia, itulah tugas orang Kristen, the rest done by God…kalau keadilan itu sudah tercipta, kalau koruptor itu sudah jera, kalau pemerintah sudah good governance, maka supir angkot itu tak perlu lagi memaki-maki supir dan penumpang yang tidak masuk ke angkotnya…hubungannya adalah spt BBM dengan kerupuk itu….kalau saya mulai melihat bansa ini akan mulai menanjak setelah terpuruk pada lubang paling dalam, tak ada lagi lebih dalam dari situ, saya sudah melihat tanda-tandanya dalam pemerintahan sekarang yang dipilih langsung oleh rakyat, selama kedaulatan dipegang rakyat maka bangsa ini perlahan namun pasti akan bangkit…maka saya tidak setuju 100% sama tulisan Pdt itu, kalau bisa tolong komentar saya ini disampaikan ke Beliau…dan negara kalau sudah maju otomatis kebebasan beragama itu akan tercipta…memang perut yang sejengkal ini kalau lapar maka akan mudah marah, dan yang paling bisa dimarahin adalah segala yang kita lihat berbeda dengan diri kita…

    Salam kemerdekaan…
    temuakan cerita lain tentang kemerdekaan di blog saya :
    http://paras129.wordpress.com/

  2. ha…ha…ha…, aku benar-benar ketawa-ketawa baca tulisanya, terutama cerita tentang yg naik angkot, soalnya jd ingat kalo naik angkot di stop tapi ngak jadi naik, ha..ha…ha…, tor marmera do pinggol na, halak hita do pasti supirnai kan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s