HKBP Sipanganbolon (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

Saya tidak tahu kapan gereja ini pertama kali berdiri. Yang pasti sejak pertama, saya sudah melihat gereja ini berdiri kokoh, walaupun belum sebagus sekarang. Bahkan menurut cerita yang saya dengar sebelum almarhum ibu saya lahir gereja ini sudah berdiri. Yang paling mengejutkan saya adalah ketika saya membaca buku Biografi Cyrellus Simanjuntak saya jadi tahu kalau HKBP Sipanganbolon sudah ada pada tahun 1917. Dengan demikian gereja ini sudah berdiri hampir seratus tahun, atau bahkan mungkin lebih. Woww… sebuah usia yang cukup panjang.

Gereja ini dinamai dengan gereja HKBP Sipanganbolon karena memang terletak di Desa Sipanganbolon yang berjarak sekitar 9 km dari ibukota kecamatan, sekitar 40-an km dari ibukota kabupaten dan sekitar 180-an km dari ibukota provinsi. Gereja ini terletak persis di pinggir jalan lintas Sumatera, menempati lahan yang lumayan luas dengan halaman yang ditumbuhi rumput.

Bangunan yang ada di lokasi gereja terdiri dari bangunan utama gereja, rumah dinas pendeta, rumah dinas guru huria atau parhangir (maaf saya tidak tahu mengeja tulisan parhangir) dan bangunan yang terbaru adalah gedung taman kanank-kanak. Di bagian samping kiri belakang menyatu dengan gereja ada ruang konsistori yang dikenal juga dengan bilut parhobasan. Saya tidak tahu persis berapa ukuran pasti dari gedung gereja ini, namun gedung gereja inilah bangunan yang paling besar di Sipanganbolon (Saya tidak tahu apakah gedung HKI yang baru lebih besar).

Kalau dilihat dari bentuknya, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari bangunan gereja ini, Bentuknya persis dengan bentuk gereja HKBP kebanyakan. Bentuk memanjang monoton, atap segi tiga dan menara di bagian tengah depan, persis di atas atau merangkap teras. Apakah memang bentuk demikian sudah menjadi patokan HKBP yang harus diikuti..? Sesungguhnya saya lebih terkesan denga bangunan yang dulu dengan menara atau palas-palas yang terbuat dari kayu, dengan desain yang lebih artistik. Mungkin saking artistiknya sehingga menarik minat banyak burung wallet atau leang-leang untuk membangun sarangnya di sana. Kadang saya bertanya dalam hati apakah burung-burung itu tidak pusing mendengar suara dentangan lonceng besar yang sangat keras itu.

Menurut saya bentuk bangunan gereja yang paling artistik yang ada di Sipanganbolon adalah gereja Katolik yang berada persis di samping gereja HKBP. Bentuknya lebih unik walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin ukurannya disesuaikan dengan jumlah jemaat katolik yang tidak sebanyak jemaat HKBP di Sipanganbolon. Memang harus diakui bahwa hampir di semua tempat, gereja Katolik selalu mencuri perhatian. Namun posisi gedung gereja HKBP Sipanganbolon yang sangat strategis dengan halaman rumputnya yang luas membuat gedung gereja ini terlihat begitu anggun dan mencuri perhatian setiap orang yang melitas di sana. Saya sangant berharap halaman gereja HKBP yang luas dan hijau ini tetap dilestarikan. Karena halaman itulah yang membuat gereja itu menjadi anggun. Tak terbayangkan bila sesuatu dibangun di halaman itu dan menghalangi pandangan dari jalanan ke gedung gereja. Di masa mendatang pasti banyak godaan untuk membangun sesuatu di halaman gereja itu. Apakah itu sekolah, gedung serba guna, atau bahkan bangunan komersil. Mudah-mudahan tidak ada pimpinan atau anggota jemaat gereja di masa sekarang dan masa yang akan datang yang tergiur untuk merubah halaman hijau yang luas itu menjadi sesuatu yang menghilangkan keanggunan gedung gereja.

Berbicara mengenai halaman gereja ini, saya teringat suatu kejadian sederhana yang bagi saya sangat bermakna dan menyentuh. Ketika bangunan gereja yang sekarang selesai dibangun yang katanya atas bantuan mantan gubernur Sumatera Utara Rajainal Siregar, akan dilakukan pesta peresmian. Pesta peresmian ini dipimpin langsung oleh “ompui” Eporus HKBP saat itu SAE Nababan dan disaksikan langsung oleh Rajainal Siregar besrta para pejabat seantero sumatera utara. Beberapa hari sebelum acara puncak peresmian, oppung Sirait yang dikenal dengan sebutan Oppung Palliting, membawa mesin potong rumputnya kehalaman gereja itu dan merapikan rumput-rumput yang ada di halaman yang luas itu dengan tangannya sendiri dan tentu saja tanpa meminta bayaran. Kala itu Mesin potong rumput masih merupakan mahluk asing di Sipanganbolon, saya tidak tahu kalau sekarang. Mungkin bangi banyak orang tindakan Oppung Palliting yang tidak bisa membaca ini tidaklah begitu berarti, tapi menurut saya oppung yang suka marah-marah ini sangat tahu kalau keanggunan gedung gereja itu adalah karena halaman rumput hijaunya yang luas. Oppung yang sudah lama almarhum ini dengan mata rabunnya melihat dengan jelas keindahan halaman rumput hijau yang luas itu, sehingga dia dengan iklas merapikan rumput-rumput itu.

Awalnya gereja ini adalah gereja pagaran dari HKBP Ressort Parapat yang megah itu, tetapi beberapa tahun terakhir ini sudah naik kelas menjadi ressort. Ini adalah sesuatu yang harus disyukuri karena sejak jadi ressort disana sudah ditempatkan seorang pendeta tetap yang pengetahuan ke-HKBP-annya lebih fasih, kerohaniannya lebih dalam dan kepemimpinannya lebih mumpuni dibandingkan dengan hanya sekedar seorang sintua yang diangkat menjadi guru huria seperti pada masa pagaran dulu. Namun dilain pihak, jemaat dituntut untuk memberikan lebih karena semakin banyak pengeluaran gereja. Itulah konsekuensi logis, bila ingin kualitas lebih baik, harus mau membayar lebih banyak. Jemaat telah memilih untuk menjadikan gerejanya menjadi ressort, jadi jemaat harus dengan lapang dada menerima segala konsekuensinya. Tetapi lebih dari itu, saya berharap siapa saja pendeta yang ditempatkan di sana benar-benar dan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati melayani jemaat agar keimanan jemaat meningkat. Dengan kata sederhana agar pintu sorga dunia dan akhirat lebih terbuka buat seluruh jemaat. Kedengarannya memang terlalu berlebihan, tetapi saya pikir itulah tujuan utama mengapa jemaat bersusah payah menaikkan kelas gerejanya dari pagaran menjadi ressort.

Dari sejarahnya, gereja ini menjadi awal dimulainya pendidikan formal di Sipanganbolon. Sekolah dasar yang pertama, dilaksanakan di gereja ini. Guru yang mengajarpun dirangkap oleh guru huria gereja ini. Salah satu guru huria yang merangkap menjadi guru di gereja ini adalah Amangtua Tiopan Sinaga, abang kandung bapak saya. Setelah dari Sipanganbolon Amangtua ini pindah ke Tanahjawa dan terakhir dimakamkan di Girsang. Karena Amagtua inilah mengapa bapak saya bisa tingal di sipanganbolon, dan seterusnya menikah dengan ibu saya yang orang sipanganbolon dan selanjutnya melahirkan anak-anak di Sipangan bolon termasuk saya. Setelah beberapa tahun barulah pemerintah membangun gedung sekolah dasar didekat gereja ini yang dikenal dengan SD 1 dan proses belajar mengajar dipindahkan dari gedung gereja ke gedung sekolah yang baru. Waktu Saya masih sekolah minggu, masih ada beberapa bangku peninggalan dari sekolah yang dulu dipakai di gereja ini. Saya tidak tahu apakah bangku-bangku bersejarah itu masih ada.

Ketika terjadi pergolakan HKBP sekitar awal tahun 90-an yang menurut saya “memalukan” itu, yang menggenaskan itu, yang merusak hubungan persaudaraan itu, gereja HKBP Sipanganbolon tidak ikut-ikutan. Tidak beralih ke “SSA” dan tidak memihak ke “Monjo”, walaupun sesekali ada issu ancaman. Apalagi ketika berduyun-duyun massa melintas melewati Sipanganbolon menuju Tarutuang yang datang entah dari mana. Efek dari peristiwa ini sangat mengganggu jemaat HKBP Sipanganbolon. Keimanan jemaat saat itu banyak yang merosot. Kebaktian minggu sangat sepi, tidak ada koor selain parari kamis, pendeta resort jarang datang berkotbah ke Sipanganbolon dan banyak lagi. Tetapi puji Tuhan keadaan ini terlewati juga. Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi lagi mimpi buruk itu. Biarlah Pimpinan HKBP mengedepankan pelayanan kepada jemaat diatas kepentingan pribadi, golongan, apalagi ambisi pribadi.

Begitu banyak kenangan yang tertinggal di gereja ini. Masih jelas dalam ingatan bagaimana guru sekolah minggu bercerita tentang adam dan hawa yang biarpun tidak memakai baju tetapi hidup dengan damai di Taman Eden, namun pada akhirnya sang ular menggoda mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Guru sekolah minggu juga menceritakan tentang malaikat-malaikat Tuhan yang katanya cantik-cantik, hingga aku pernah bermimpi ingin bertemu dengan mahluk Tuhan yang cantik-cantik itu. Namun setelah saya tahu dati film-filn akhir pekan TVRI yang aku tonton di rumah tetangga bahwa orang yang bertemu dengan malaikat adalah orang yang diujung ajal, saya jadi takut dan tidak ingin lagi bertemu dengan mahluk cantik itu. Polos sekali pikiran saya kala itu. Masih jernih dalam memori ketika marayat-ayat “dimula ni mulana…” di altar gereja dengan pengeras suara TOA, penerangan lampu petromax dan ditemani pohon terang yang terbuat dari rangkaian ranting-ranting pohon pinus dengan lilin-lilin kecil sebagai hiasannya, ketika marguru malua, manghatindanghon haporseaon (sidi) dan yang paling istimewa ketika saya memasangkan cincin kawin di jari manis isteri tercinta di altar gereja ini. Jadi di gereja inilah banyak peristiwa penting hidup saya dilangsungkan. Mulai dari dibaptis sampai menerima pemberkatan nikah.

Di gereja ini jugalah saya mengenal sintua-sintua dengan segala karakternya masing-masing. Satu sintua yang tak munkin dilupakan adalah sintua Manurung dari Porti. Karakternya yang unik dan gemulai telah membuat gereja HKBP Sipanganbolon lebih berwarna, walau kadang-kadang ada yang tidak setuju dengan sikapnya. Namun bagi saya dia adalah sintua yang berkarakter dan istilah jaman sekarang “ngangenin”.

Dulu, ketika bapak dan ibu masih ada, sering kali rumah kami dikunjungi oleh calon pendeta, calon guru huria atau siapa saja yang ditempatkan pusat di gereja HKBP Sipanganbolon. Ada marga Bancin, marga Simanungkalit, marga Sitohang, marga Sihombing dan banyak lagi. Mudah-mudahan mereka datang bukan karena kala itu ada kakak saya yang cantik yang masih tinggal di rumah. Pernah juga ada calon guru huria yang lagi magang di Sipangan bolon sebanyak 5 orang sering datang ke rumah kami. Saking seringnya, sekalian saja ibu saya mengajak menreka mencangkul ke ladang. Salah satu diantara mereka orangnya nyentik dan suka bergaya. Pernah satu kali saya melihat dia melukai dagunya dengan pisau silet. Katanya biar dagunya berbelah seperti para bintang film barat itu. Ada-ada saja.

Saya sudah melakukan ibadah di beberapa gereja di tempat lain, di Siantar, di Medan, di Jakarta, di gereja HKBP Rawamangun yang katanya pelean mereka ke kantor pusat paling besar dari seluruh gereja HKBP yang ada, bahkan di sebuah gereja di Tokyo, tetapi perasaan saya ibadah di HKBP Sipanganbolon lebih mengena. Rasanya Tuhan lebih dekat kalau ibadah di HKBP Sipanganbolon dibanding semua gereja lain yang pernah saya kunjungi. Apakah munkin karena gereja ini lebih dekat ke langit…? Dari semua gereja yang pernah saya kunjungi, HKBP Sipanganbolonlah yang paling tinggi dari permukaan laut, sekitar 1000 m dpl. Jadi kalau paling tinggi dari permukaan laut, berarti paling dekat ke langit. Hhhhh… Kenikmatan beribadah di HKPB Sipanganbolon tentu saja bukan karen paling dekat ke langit. Ikatan batinlah yang menyebabkannya. Bukan hanya ibadah, tidurpun sangat nikmat di gereja ini. Berbahagialah jemaat HKBP Sipanganbolon memiliki gereja ini. Sayang sekali jika jemaat jarang datang ke gereja ini.

Saya dengar saat ini Gereja HKBP Sipanganbolon sedang melakukan renovasi, mengganti menara, memasang keramik lantai, memperpanjang bangunan gereja dll. Saya senang sekali mendengarnya. Itu tandanya kemajuan. Saya jadi teringat ketika acara pernikahan saya di gereja ini, samar-samar saya dengar suara seorang kerabat yang usil. Kok lantainya berbelang-belang…? Kok karpetnya berdebu…? Kok kembangnya plastik…? Kok…?,Kok….?, Kok…. Tetapi saya tidak terpengaruh. Saya bangga bisa melangsungkan pernikahan di gereja dimana masa sekolah minggu saya habiskan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun dengan pembangunan ini mungkin tidak akan ada lagi suara-suara sumbang dari orang seperti kerabat saya yang usil itu. Dan yang terpenting, dengan pembangunan ini mudah-mudahan Tuhan semakin dekat dengan jemaat dan bukan sebaliknya.

Saya berharap halama rumput hijau yang luas itu masih ada sampai seribu tahun lagi. (maaf… lebay dan saya baru bisa “omdo” omong doang)

Maaf bila ada kata yang tidak berkenan dalam tulisan ini. Tidak ada maksud lain selain mengungkapkan kecintaan terhadap HKBP Sipanganbolon.

Salam Hormat buat pimpinan HKBP Sipanganbolon
Tabe mardongan tangiang tu sude ruas HKBP Sipanganbolon

Walau sudah agak terlambat,

Selamat Tahun Baru 2012.

Sebuah pesta di halaman gereja HKBP Sipanganbolon

8 pemikiran pada “HKBP Sipanganbolon (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

    1. @ Yanray Parada Purba.
      Benar. Gereja ini berada di jalan lintas Siantar-Balige. Tepatnya sekitar 9 km dari pusat kota parapat ke arah balige. Berada di sebelah kanan jalan. Kalau lae melintas disana silahkan singgah.
      Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s