PARNASIB

Kata ini membawa ingatan ke masa yang tak terlupakan sekitar 13 tahun yang lalu. Kata ini membawa ke suasana akhir tahun yang hangat, walaupun hampir setiap hari ditemani oleh gerimis bahkan hujan deras. Kata ini memunculkan kembali wajah sahabat-sahat yang dengan mereka suasana kelahiran Yesus di kampung jadi berbeda. Kata ini membangkitkan kembali kenangan ketika menjahitkan satu stel Jas warna krem untuk yang pertama kalinya, karena harus berdiri di podium dengan penampilan terbaik. Kata ini membangunkan kembali memori yang sudah lama tersimpan dengan rapi di sudut ingatan.

Beberapa anak muda yang masih sangat muda dipaksa keadaan untuk meninggalkan kampung halamannya menuntut ilmu di ibukota propinsi. Dalam kesehariannya mereka bergaul dengan orang-orang yang kurang lebih senasib dengan mereka yang berasal dari berbagai dusun dan kampung di seantero propinsi. Mereka melihat ada kebiasaan yang berbeda yang dilakukan teman-teman mereka yang berasal dari kampung lain setiap menjelang akhir tahun. Teman-teman mereka itu akan sibuk berkumpul dengan teman-teman sekampung melakukan rapat, latihan koor, mencari dana dan selanjutnya akan melakukan perayaan natal di kampung mereka.

Awalnya pemuda-pemuda itu tidak terpengaruh oleh fenomena akhir tahun teman-teman mereka. Awalnya pemuda-pemuda itu tidak tertarik dengan suara-suara latihan koor teman-teman mereka itu. Namun di tahun 1998 godaan itu semakin kuat dan tidak terbendung lagi. Godaan yang kuat itu membangkitkan mimpi indah, kalau mereka bisa mengapa kita tidak…? Godaan yang kuat itu menyemangati langkah mereka untuk bergandengan tangan mewujudkan mimpi itu. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda mewarnai suasana akhir tahun di kampung. Gang Cipta di Jalan Jamin Ginting menjadi saksi pertama dari mimpi besar mereka. Si Cantik yang tinggal disana menjadi tuan rumah rencana besar itu. Selanjutnya Simalingkar menjadi markas setiap hari Minggu sore untuk mengurai mimpi dan rencana besar itu.

Awalnya memang tidak mudah. Ternyata banyak sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi. Mulai dari tidak adanya pengalaman (Ini adalah kegiatan PANASIB yang pertama, mudah-mudahan bukan yang terakhir), kesulitan mencari biaya (Mereka semua berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, boro-boro untuk menyisihkan uang, untuk biaya makan, kost dan SPP saja kadang kurang), kesusahan mengumpulkan banyak teman-teman setiap akhir pekan (mereka terpencar di pelosok ibukota propinsi yang kalau mau kupul di satu tempat memerlukan waktu dan biaya) dan banyak masalah yang lain. Masalah-masalah tersebut sempat menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan mimpi itu. Namun keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di kampung pada akhir tahun menggerakkan langkah mereka untuk terus melangkah menwujudkan mimpi itu.

Persiapan-persiapan pun dilakukan. Setiap hari minggu sore berkumpul di Simalingkar, sehingga Simalingkar serasa menjadi rumah sendiri. Panitia dibentuk dan sang tuan rumah di Simalingkar dinobatkan menjadi ketua. Dikemudian hari keberadaan ketua ini dipertanyakan beberapa orang di kampung hanya karena marganya bukan marga mayoritas, namun panitia tidak terpengaruh. Ternyata bagi sebagian orang, faktor mayoritas-monoritas sebegitu pentingnya. Proposal disusun, tujuan utamanya tentu saja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, namun di lain pihak proposal ini dimaksudkan untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kegiatan apa yang mau dilakukan dan yang tidak kalah penting untuk mendapatkan legalitas dari penguasa di kampung yaitu Kepala Desa.

Setelah kepanitiaan tersusun dan proposal sudah diteken, dimulailah perburuan dana. Target utama yang disasar adalah bapak mantan anggota MPR-RI yang dikenal dengan koperasi angkutan umumnya. Walau tidak sebesar yang dibayangkan, dari beliau didapatkan dana yang tidak bisa dikatakan sedikit. Selain beliau ada satu-dua donatur yang diharapkan bisa memberi lebih, selebihnya hanya donatur dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja, bahkan cenderung ekonomi lemah. Hingga menjelang hari H keadaan dana sangat menghawatirkan, tetapi di detik-detik terakhir ternyata dana yang dikumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Di luar dugaan banyak orang yang berbaik hati untuk kegiatan yang dikerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Beberapa hari menjelang kegiatan dilaksanakan, kesibukan di Simalingkar dipindahkan ke Balai Desa di Kampung. Langkah awal adalah menggabungkan panitia yang dari simalingkar dengan pemuda-pemuda yang ada di kampung. Penggabungan ini tidak berjalan mulus, namun tidak terlalu sulit. Ada beberapa pemuda yang tinggal di kampung yang merasa resistan, terganggu, atau apalah namanya dengan kegiatan tersebut. Mereka tidak mau ikut bergabung, tetapi tidak menjauh. Mereka memantau dari jarak yang menurut mereka aman. Hal ini menjadi masalah tersendiri. Panitia tidak memiliki solusi untuk masalah ini, dan ini menjadi catatan kedepan.

Dalam waktu yang sangat terbatas, persiapan di kampung dikebut dengan berbagai kesulitannya dan dua hari menjelang pergantian tahun acara pun digelar dengan segala kekurangannya. Gereja HKI menjadi pilihan terbaik melaksanakan acara ini. Memang masih ada gereja HKBP yang daya tampungnya lebih besar, namun pilihan jatuh ke HKI dengan alasan kehati-hatian. Panitia ingin kegiatan pertama ini berlangsung secara sederhana, namun benar-benar berkesan.

Sejak acara dimulai, awalya tidak ada masalah. Undangan yang hadir cukup banyak. Mereka duduk berdesakan dibangku-bangku panjang yang jumlahnya tidak banyak, bahkan sebagian undangan berdiri di bagian belakang. Mereka mengikuti acara dengan seksama. Mereka sepertinya menunggu kejutan-kejutan yang akan muncul dalam acara tersebut. Tanpa diduga-duga kejutan itupun muncul. Tanpa disangka-sangka dipertengahan acara terjadi gangguan teknis. Sound system gereja yang dayanya kecil bermasalah. Panitia berusaha memperbaiki, tetapi tidak berhasil, sehingga hampir separuh acara berlangsung tanpa bantuan pengeras suara. Ketiadaan pengeras suara ini sangat mengganggu. Undangan jadi tidak mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh pengisi acara dari depan.

Yang lebih menghawatirkan panitia adalah operet yang akan ditampilkan di ujung acara bakal menjadi mimpi yang tidak akan terwujud kalau tidak ada pengeras suara. Operet ini hanya bisa dilakukan kalau ada sound system. Operet ini dilakukan dengan mengikuti suara dari kasette yang diputar, sehingga pemeran yang tampil hanya mengikuti suara yang muncul dari kasette saja. Tidak terbayangkan kekecewaan panitia, bahkan mungkin undangan, bila operet ini tidak jadi ditampilkan. Panitia sempat panik dan hampir pasrah, namun ditengah kepanikan panitia ada warga yang mengetahui kepanikan itu dan berbaik hati memberikan bantuan. Seseorang menawarkan ke panitia untuk menggunakan peralatan sound system yang ada di rumahnya. Seseorang ini menjadi dewa penolong disaat panitia hampir putus asa. Ternyata begitu banyak orang yang berbaik hati untuk menolong kegiatan yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati.

Acarapun diakhiri dengan menyantap lappet yang tadi siang dimasak oleh beberapa orang yang berbaik hati dan minum air mineral Aeros yang dijemput langsung dari Balige. Semua undangan bahagia sambil menikmati lappet dan minum aeros. Namun yang paling bahagia adalah panitia. Tujuan untuk memberikan sebuah sentuhan yang berbeda di kampung pada akhir tahun tercapai. Inilah kegiatan pertama dari pemuda yang tergabung dalam sebuah nama yang mereka sebut dengan PARNASIB. Nama ini dirancang oleh seseorang di sebuah kamar berukuran kecil ketika dia hendak tidur beberapa hari sebelum panitia dibentuk. Ketika nama ini ditawarkan ke panitia, semua setuju tanpa ada yang komplain. Mungkin nama ini langsung pas di hati mereka.

Malam telah larut ketika semua undangan meninggalkan gedung gereja HKI. Daun-daun pisang bekas bungkus lappet berserakan dimana-mana, demikian juga dengan gelas-gelas plastik aeros. Panitia bertanggung jawab membersihkan semua sampah itu, dan panitia melakukannya dengan suka cita.Tenaga yang dikerahkan untuk membersihkan sampah-sampah itu tidak seberapa disbanding dengan seyuman bahagia di wajah para undangan yang meninggalkan gedung gereja. Perayaan memang harus usai, namun semangat yang ditimbulkannya tetap bersemayam dalam hati. Mimpi itu telah jadi kenyataan, walaupun tidak sesempurna yang dibayangkan. Namun keyataan itu menunjukkan bahwa sesuatu maksud baik bisa terwujud bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Demikianlah pada masa itu ternyata pemuda-pemuda itu mampu memberikan sentuhan akhir tahun 1998 yang manis dan berkesan. Setiap masa memang memiliki generasi sendiri-sendiri. Setiap generasi berhak mengapresiasikan dirinya dimanapun dia berada. Setiap anak muda pasti punya berjuta mimpi mulia yang ingin dia sumbangkan buat orang-orang di sekitarnya. Hanya kesungguhan dan kerja keraslah yang bisa membuat mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Tentu saja dengan tidak boleh melupakan kemurahan Tuhan.

Tahun-tahun berikutnya kegiatan PARNASIB itu juga dilakukan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Namun beberapa tahun kemudian kembali redup. Tiba-tiba tanpa sengaja tahun kemarin saya dengar kegiatan itu kembali dibangkitkan lagi. Tentu saja dengan pemuda-pemuda yang berbeda. Saya sangat senang mendengarnya. Saya senang sekali kalau pemuda-pemuda yang ada sekarang di sana mau mengapresiasikan diri bagi orang-orang disekitarnya. Sesungguhnya banyak hal bisa di lakukan, bukan hanya sekedar perayaan natal saja. Saya yakin pemuda-pemuda yang ada sekarang disana mampu melakukan bayak hal yang bisa menggairahkan kampung. Yakinlah.. sekecil apapun sentuhan yang diberikan buat kampung kita pasti ada maknanya, pasti ada imbalanya. Tuhan juga pasti berpihak kepada mereka yang mau bekerja keras mewujudkan mimpi dan membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Saya rindu setiap wajah orang tua di kampung tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang pekerja keras. Saya rindu anak-anak kecil yang tinggal disana memiliki impian yang tinggi melihat abang dan kakaknya yang kreatif.

Salam hormatku buat panitia Natal Parnasib 2011
Tabe mardongan tangiang tu sude Naposo Sipanganbolon.
Tetap Semangat…..!

Kenangan itu muncul kembali dan terlalu manis untuk dilupakan.

Kenangan Natal Parnasib tahun 1999
Iklan

One Reply to “PARNASIB”

  1. Dari hari ke hari,tahun ke tahun selalu ada perubahan yang kita alami.hanya bagaimana kita menyikp perubahan itu
    Tahun 2011 kemaren kami membentuk kembali panitia natal Parnasib.dan Natal pun berlangsung dengan apa adanya.
    hanya sebahagian pemuda dan pemudi sipanganbolon yang mengikuti acara natal itu.Bahklan ada yang tidak mau tau sama sekali.saya sebagai salah satu dari panitia itu,miris melihat keadaan itu.Saya tidak tau apa yang membuat mereka tidak mau bergabung dengan parnasib.dan masih banyak kendala-kendala yang kami hadapi.
    Saya berharap untuk tahun ini panitia akan dibentuk lagi.dan panitianya bkan kami lgi berhubung saya akan mengadakan PKL selama 3 bulan kedepan.Kepada adek2 yang masih di medan semoga mampu memberikan hati untuk menyatukan kembali PARNASIB.
    Kepada senior kami,saya ucapkan banyak terimakasih dengan adanya tulisan ini smoga kami lebih memahami kemana sebenarnya tujuan adanya PARNASIB ini.
    Kami mengharapkan kehadiran senior kami untuk pembentukan panitia tahun ini.
    HORAS…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s