PODA NI DAINANG (Masih Perlukah Mengikuti Nasehat Orangtua…?)

Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika saya harus pergi meninggalkan kampung halaman, tanah dimana saya lahir dan dibesarkan, meninggalkan orang tua dan meninggalkan banyak orang yang saya kasihi dan mengasihi saya, untuk jangka waktu yang sampai entah kapan, untuk meraih cita-cita di tanah pengharapan, meraih kehidupan yang lebih baik di negeri nun jauh di sana. Ketika itu kakak saya yang tertua yang selalu tinggal bersama ibu, memotong seekor ayam dan memasaknya menjadi hidangan khusus untuk jamuan makan keberangkatan saya. Kami menikmati makanan itu bertiga, saya, ibu dan kakak. Sebelum makan seperti biasa ibu akan mengawali setiap ritual makan bersama kami dengan memanjatkan doa. Doa yang sederhana. Doa yang hampir sama dari waktu ke waktu, sampai-sampai aku sudah hafal doa itu. Tapi sekarang aku sadar bahwa doa-doa itu adalah salah satu doa terbaik di dunia ini, karena doa itu benar-benar tulus dan tidak bertele-tele. Doa kali ini sedikit berbeda dari doa-doa biasanya, karena di dalam doa itu ibu juga meminta agar TUHAN menemani dan menjaga saya di perjalanan sampai di tempat yang akan saya tuju.

Selesai makan, kami masih tetap berkumpul di tempat di mana kami makan, yaitu ruang tengah rumah kami yang hanya di gelari tikar plastik. Ibu memberikan pesan kepada saya agar nanti sesampainya di tempat yang saya tuju, saya harus tetap menjadi orang baik, jangan sampai lupa berdoa dan ke gereja, selalu menghormati dan turut kepada abang dan kakak-kakak saya, jangan malas, harus rajin dan bekerja keras dan lain-lain. Satu lagi pesan ibu dari dulu setiap kali saya akan bepergian adalah hati-hati menjaga uang dan jangan sampai hilang, jangan sampai dicuri orang. Dulu saya pikir ibu terlalu hati-hati masalah uang, tetapi sekarang saya sadar bahwa kehati-hatian ibu saya cukup beralasan. Ibu mempunyai 8 orang anak, sedangkan bapak hanyalah seorang guru sd, jadi ibu harus pintar mengelola dan mecari tambahan agar gaji bapak cukup untuk membiayai kehidupan kami. Dan karena itulah ibu bisa membiayai sekolah saya sampai tamat sarjana. (Terima kasih ibu)

Ibu selalu memberikan banyak nasihat kepada kami anak-anaknya, di malam hari setiap kali kami berkumpul makan bersama, setiap kali kami di sawah atau di ladang, bahkan disetiap kesempatan dan terlebih setiap kali kami anak-anaknya akan berangkat merantau.

Sesaat sebelum saya berangkat, kami bertiga menyempatkan diri kembali menyatukan kedua tangan, menundukkan kepala dan ibu memanjatkan doa permohonan khusus untuk keberangkatan saya.

Ibupun turut mengantar saya hingga ke terminal, dan disanalah kami berpisah. Ibu memeluk saya dan berpesan agar saya menjaga diri dan segera memberikan kabar sesampainya saya di tempat yang saya tuju. Ibu tidak menangis seperti ketika abang dan kakak saya dulu pergi merantau. Mudah-mudahan ibu tetap tidak menangis bahkan setelah saya pergi dan ibu kembali ke rumah.

Tujuh tahun sudah waktu berlalu, poda itu masih tetap saya jaga di dalam hati saya.

Demikianlah PODA atau nasehat telah menyirami hidup saya hingga saya bisa menjadi apa saya sekarang ini (walaupun saya belum menjadi apa-apa dalam ukuran saya). Nasehat menjaga saya dari bahaya, memotivasi dan menyemangati saya, menghibur dikala sedih, mengingatkan disaat keliru, membangkitkan saya dikala jatuh, memberi solusi disaat masalah datang.

Saat ini saya melihat ada pergeseran makna dari sebuah nasehat. Kehidupan yang berlangsung sekarang ini menjadi suka-suka tanpa aturan. Anak-anak tidak lagi membutuhkan nasihat. Mereka hanya memerlukan rupiah yang bisa mereka gunakan untuk membeli kesenangan bahkan apa saja yang mereka suka. Orang tua tak lagi memiliki waktu untuk menasihati anak-anaknya. Mereka sibuk, sibuk dan sibuk.

Saya sungguh prihatin dengan keadaan ini. Banyak anak-anak yang melarikan diri dari orang tua. Sianak lebih betah berlama-lama diluar rumah, bersama-sama dengan teman-temannya. Mereka pulang jika hanya jika uangnya habis. Orang tua juga menganggap bahwa kewajibannya kepada anak hanya lah sebatas memberikan materi. Uang. Mereka tidak peduli apakah anak sedang di rumah atau tidak.

Mengapa ini terjadi…?

Banyak alasan.

Alasan orang tua
Jaman sudah berubah….!
Anak-anak sudah disekolahkan, diberikan segudang les…!
Ada pembantu yang menjaga anak-anak…!
Anak-anak lebih pintar dari orang tuanya…!

Alasan anak-anak
Sekarang jaman modern, globalosasi….!
Segala sesuatu hanya bisa diselesaikan dengan uang…!
Teman lebih penting dari orang tua…!
Nasehat bisa dicari di TV, majalah dan internet…!
Orang tua berpikirnya kuno….?

Benarkah alasan orang tua itu…?
Benarkah alasan anak-anak itu…?

Tidak….!
Baik orang tua, maupun anak hanya mencari-cari alasan untuk melepaskan tanggung jawab.

Kehidupan yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar jauh berubah dari 100 tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, setahun yang lalu, bahkan dari hari kemarin. Perubahan berlari begitu kencang.
Kalau dulu orang-orang masih berkirim surat untuk memberikan kabar, sekarang orang tinggal mengirimkan sms dan saat itu juga pesan akan sampai ke orang yang akan dituju. Atau mengirimkan e-mail, bahkan ke ujung dunia manapun akan bisa dijangkau. Kalau dulu kita membutuhkan waktu berhari-hari naik bis atau naik kapal menuju satu tempat yang jauh, sekarang pesawat dapat membawa kita hanya dalam hitungan jam, bahkan hitungan menit. Kalau dulu orang berdesak-desakan dipasar untuk membeli keperluan sehari-hari, sekarang sudah banyak supermarket yang akan menampung semua pengunjung dan pembeli. Kalau dulu anak-anak harus membuat sendiri barang-barang mainannya, sekarang tinggal membeli di toko, atau tinggal membuka layar digital dan memainkannya.

Demikianlah perubahan terus terjadi dan bergerak semakin cepat. Perubahan ini telah membawa pegaruh besar bagi orang-orang yang hidup di dalam perubahan itu. Pengaruh yang terjadi ada yang positif, tetapi banyak juga pengaruh negative. Banyak orang yang kaget dengan perubahan tersebut. Mereka beranggapan kalau perubahan itu adalah dewa penyelamat yang akan merubah kehidupannya ke kehidupan mimipi yang menyenangkan. Sering kali mereka lupa kalau perubahan itu adalah suatu keadaan yang harus disikapi dengan bijak. Perubahan itu bukan tuan yang harus disembah, tetapi hamba yang harus di atur dan dimanajemen dengan benar.

Keadaan ini memang telah diperkirakan beribu-ribu tahun yang silam. Raja Salomo salah satu orang yang telah memperkirakan dan memikirkan akibatnya, sehingga dia menuliskan banyak pesan kepada orang-orang agar bisa menjalani perubahan itu dengan baik dan benar. Kalau kita simak dan renungkan dengan dalam, semua pesan dan nasihat yang dituliskan Raja Salomo akan tetap berlaku di setiap masa,bahkan sampai jaman yang paling modern sekalipun.

Sesungguhnya apa yang dipesankan Salomo bukanlah sesuatu yang luar biasa, bukan pula sesuatu yang rumit dan susah dimengerti, melainkan sesuatu yang sederhana, bahkan saking sederhananya,banyak orang yang menyepelekannya.

Apa susahnya menasihati anak, apa susahnya bangun pagi-pagi, apa susahnya menghormati yang lebih tua, apa susahnya berbicara dengan santun, apasusahnya berpakaian dengan sopan, apa susahnya berhemat, apa susahnya menegur orang yang melakukan kesalahan, apa susahnya memaafkan kesalahan orang lain, apa susahnya memberikan senyuman, apasusahnya mengucapkan terimakasih, apa susahnya tidak korupsi, apa susanya menjaga kebersihan, apa susahnya rajin bekerja, apa susahnya mengasihi orang lain…?

Tidak susah….

Tetapi karena tidak susah, banyak orang yang menyepelekannya dan ada yang menganggap hal-hal seperti itu adalah kuno, kolot dan tidak modern.

Akhirnya…kalau kita mau menjalani kehidupan yang lebih berkwalitas dalam ukuran kehidupan yang sebenarnya dan ukuran TUHAN, baiklah kita kembali kepada hal-hal sederhana seperti apa yang dinasihatkan Raja Salomo. Baiklah para orang tua memberikan nasihat kepada anak-anaknya sebagaimana salah satu kewajiban seorang orang tua. Biarlah nasihat selalu mengalir dari mulut orang tua untuk mengawal anak-anaknya mengarungi kehidupan yang sungguh berubah ini. Biarlah orang tua memberikan waktu terbaikknya kepada anak-anaknya lebih dari kepada siapapun. Biarlah orang tua menjadi teman terbaik bagi anak-anaknya, tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat berlindung dan biarlah orang tua menjadi idola terbaik bagi anak-anaknya.

Anak-anak juga, patuhlah kepada orang tuamu. Anak-anak harus sadar bahwa anak tidak bisa memilih dari orang tua mana dia lahir . Yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan orang tuanya manjadi orang tua terbaik bagi dirinya. Pahamilah, kasih sayang orang tuamu jauh lebih berharga dibanding segudang rupiah yang diberikannya kepadamu. Belajarlah menyenangkan hati orang tuamu. Orang tuamu tidak menuntut macam-macam dari kamu. Mereka tidak meminta bayaran atas semua kebutuhanmu yang telah mereka penuhi. Mereka tidak meminta kelak dihari tuanya kamu membiayai sisa hidup mereka. Mereka hanya menginginkan agar kamu patuh kepada nasehat mereka.

Alangkah indahnya bila anak, ibu dan bapak hidup rukun, melakukan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Baiklah bapak benar-benar menjadi bapak, ibu benar-benar menjadi ibu dan anak benar-benar menjadi anak.

Alangkah bahagianya bila dimalam hari bapak, ibu dan anak berkumpul menikmati makan malam yang telah dimasak oleh sang ibu. Sebelum makan semua menundukkan kepala, melipat tangan dan sibapak memimpin doa ucapan syukur ke Sang Pencipta. Dalam suasana hangat saling berbagi dan meikmati makanan. Setelah makan, semua anggota keluarga mengutarakan pengalamannya hari itu, pengalaman sedih, gembira, lucu, berbagi tawa, berbagi cerita dan bersama-sama mencari solusi bila ada masalah yang tidak bisa diatasi sendiri. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anak. Dan terahir berdoa meminta kekuatah dan pertolongan TUHAN untuk menjalani esok hari.

Mungkinkah……….?

Poda 6: 20-29
6:20 Ale anaha, sai radoti ma tona ni amangmu, jala unang tulakkon poda ni inangmu.
6:21 Duduk ma angka i tongtong tu bagasan roham, jala horunghorungkon tu rungkungmu.
6:22 Molo mardalani ho, ingkon i ma mangiringiring ho; molo modom ho, ingkon i ma mangaramoti ho; jala ia dungo ho muse, ingkon * i ma donganmu mangkatai.
6:23 Ai * sulusulu do tona i, jala patik i do panondang, jala dalan tu hangoluan do angka pinsangpinsang ni pangajaron.
6:24 Laho mangaramoti ho maradophon parompuan parjahat dohot maradophon dila elaela ni sibabijalang.
6:25 Unang ma mangapian roham di hinaulina, jala unang tarjorgong ho binahen ni pangkirdop ni salibonna.
6:26 Ai binahen ni parompuan sibabijalang sahat iba tu roti sanseat sambing, jala jolma ni halak sileban mangago tondi na arga i.
6:27 Tung tarpatuba halak ma api di gedekgedekna, so soksohanna angka ulosna?
6:28 Tung tarbahen halak ma mardalan di atas gara ni api, so matutung patna?
6:29 Laos songon i do manang ise na manopot jolma ni donganna: Ndang tarbahen so manginsombut tu ganup na jerjer jamajama.
Martua ma halak na umbege Hata ni Debata jala naumpeopsa.

Pulogadung, 15 juni 2008

2 pemikiran pada “PODA NI DAINANG (Masih Perlukah Mengikuti Nasehat Orangtua…?)

    1. Salam Kenal don_don.
      Bah.. gabe tangis hape manjaha tulisan on ate..! Dang adong maksud mambahen tangis akka dongan na manjaha tulisan on. Holan sekedar manurthon aha na adong di pikkiran do.

      Mauliate ala nungga mampir di blok on.
      Horas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s