Berita Itu Menyentak Jantungku

Kemarin aku dengar lagi salah satu anggota keluarga kami telah menikah dengan seorang muslim. Kembali jantungku tersentak, walaupun tudak sekuat sentakan-sentakan sebelumnya. Mungkin karena semakin sering saya mendapat berita yang sama. Jantungku semakin terbiasa mendapatkan kabar seperti ini. Pertama sekali aku mendapat kabar seperti ini sekitar empat belas tahun yang lalu, duniaku rasanya mau kiamat. Berita itu bagiku lebih buruk dibandingkan dengan berita meninggalnya bapakku dua tahun sebelumnya. Berhari-hari aku merasa berduka (jauh lebih lama dari duka sepeninggal bapakku) tanpa ada yang menghibur. Semuanya terasa sesak mengganjal di rongga dadaku. Sampai hari ini aku belum bisa berdamai seratus persen dengan kekecewaan itu. Hari ini memang perasaanku tidak lagi sedahsyat kala itu. Hari ini memang dadaku tidak sampai sesak walau napasku sejenak tertahan. Hari ini memang saya tidak sampai berduka. Namun tetap saja berita kali ini menggangu pikiranku. Berita kali ini membangkitkan kembali ingatan akan berita-berita yang sama .

Mungkin bagi banyak orang apa yang saya rasakan kedengaran terlalu berlebihan. Bukankah seharusnya aku ikut bergembira, karena telah banyak anggota keluarga besar kami yang berasimilasi dengan agama yang berbeda di negara yang berbinneka tunggal ika ini. Bukankah seharusnya aku ikut berbahagia karena sebagian saudaraku sudah menerapkan demokrasi dan toleransi yang sangat tinggi dalam kehidupannya yang paling pribadi. Bukankah seharusnya aku mendorong agar saudara-saudaraku yang lebih muda lebih banyak lagi mengikuti kakak-kakaknya.

Tidak…! Sekali lagi tidak…!

Sesungguhnya aku tidak pernah membenci atau bahkan memusuhi orang yang tidak seagama denganku. Aku sangat menghormati semua agama dan aliran kepercayaan, bahkan sejak kecil aku sudah bergaul dan bersahabat dengan sahabat-sahabat terbaik dari berbagai agama. Ada yang beragama Islam, Hindu, Budha, Parmalim dan juga yang tidak beragama. Aku tidak pernah menganggap agamaku lebih baik dari mereka atau sebaliknya. Tapi mengapa aku belum rela anggota keluarag kami menikah dengan agama lain selain kristen? Hal ini bukanlah karena aku menganggap saudaraku yang menikah dengan agama selain kristen kelak tidak akan masuk sorga. Menurutku agama tidak membawa seseorang masuk sorga atau masuk neraka, tetapi hubungan pribadi seseorang dengan Sang Maha Penciptalah yang menentukan.

Sekali lagi mengapa sampai saat ini aku tidak rela anggota keluarga kami menikah dengan orang yang agamanya bukan kristen? Tentu saja banyak alasan yang menyebabkannya. Keluarga besar kami adalah keluarga Batak Kristen yang tentu saja menganut banyak sekali kearifan budaya suku Batak dan ajaran Kristen. Salah satu kearifan budaya itu adalah keharusan menghormati orang tua dan kearifan ini juga sejalan dengan ajaran kristen dalam “Patik Palimahon: ikkon pasangaponmu natorasmu”(Harus menghormati orang tua).

Aku merasakan sendiri sejak kecil bagaimana keharusan menghormati orang tua ini diterapkan. Keharusan menghormati orang tua ini diterapkan bukan hanya sepihak dalam artian hanya enak di orang tua saja. Namun aturan menghormati orang tua ini telah memaksa orangtua bertindak bahkan berjuang sehingga orangtua layak dihormati. Orang tua bahkan berjuang mati-matian demi kebaikan anak-anaknya sehingga kelak anak-anaknya juga menjadi anak-anak yang terhormat. Dalam hal ini yang dimaksudkan terhormat bukanlah gila hormat, tetapi sejahtera, bermartabat dan bisa menolong orang lain, sehingga tidak dilecehkan orang lain. Aku merasakan sendiri bagaimana orang tua kami berjuang mati-matian agar kami anak-anaknya bisa sekolah. Menurut orang tuaku kala itu pendidikan (sekolah) merupakan cara terbaik memperbaiki kehidupan anak-anaknya.

Orang tuaku dan kebanyakan orang tua batak yang tinggal di kampung adalah pekerja keras. Kerja keras mereka semata-mata hanyalah untuk anak-anaknya. Mereka tidak pernah mengatakan kepada anak-anaknya agar kelak anak-anak membayar segala jerih payang mereka. Mereka sudah sangat bahagia bila kelak mengetahui anaknya sudah berhasil sesuai dengan alur kehidupan yang mereka pahami. Untuk semua jerih payah orang tua itu haruskah sianak mengabaikan…? Tentu saja tidak. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh si anak untuk kebahagiaan orang tuanya..? Sebagaimana yang saya rasakan dan juga terjadi pada banyak orang batak dan kristen pula, kebahagiaan yang dirasakan orang tua dari seorang anak menurut alur kehidupan yang mereka pahami dimulai sejak sianak itu lahir. Orang tua akan sangat bahagia mendengar tangisan pertama anaknya, menggendong sianak dibabtis di altar gereja, mengantarkan anaknya ke sekolah dengan seragam sekolah pertamanya, menerima kertas ulangan anaknya dari sekolah, menyaksikan anaknya “marayat-ayat” di malam natal, mendengar si anak lulus dari sekolahnya, menemani si anak mengikrarkan iman kesetiaannya dalam upacara sidi, Mengetahui anaknya mendapat pekerjaan, menghantarkan anaknya diberkati pendeta dalam pernikahan kudus, menggendong cucu yang lahir dari anak-anaknya dan banyak lagi. Semua itu adalah hal yang membahagiakan orang tua dan paling membahagiakan dibandingkan dengan materi. Semua itu adalah hal yang alamiah dan tidak susah diberikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Dari sekian banyak hal yang membahagiakan orangtua, salah satunya adalah menyaksikan anaknya menikah. Orangtua batak dan kristen pula sebagaimana orangtua di keluarga kami sangat berbahagia ketika si orang tua mengantarkan anaknya ke altar gereja untuk mengikuti upacara pernikahan kudus di hadapan pendeta. Kebahagiaan ini akan berlanjut ketika orangtua memberikan ulos ke anaknya (bila putrinya yang menikah) atau menerima ulos (bila putranya yang menikah) pada acara adat pernikahan anaknya.
Sebaliknya orangtua akan sangat sedih dan kecewa ketika mengetahui anaknya menikah tetapi tidak dilangsungkan di gereja sehingga mereka tidak mungkin menghadirinya. Betapa sedihnya seorang ibu tidak dapat memeluk putrinya pada upacara pernikahan karena pernikahan itu dilakukan di hadapan penghulu. Betapa kecewanya seorang bapak tidak dapat menjadi orangtua pada pernikahan anaknya karena sianak mengucapkan ijab kabul. Orang tua batak dan kristen pula mana yang tidak akan menangis menyaksikan sahabatnya menyematkan ulos hela, sementara diseberang sana anaknya sendiri menyerahkan maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai.

Kesedihan dan kekecewaan si orang tua tidak berakhir pada selesainya prosesi pernikahan. Kekecewaan dan kesedihan itu akan berlajut karena sejak menikah kebiasaan hidup si anak akan berubah dan sangat berbeda dengan kebiasaan si orang tua. Perbedaan ini akan menjadi tirai pembatas yang akan sangat mengganggu hubungan orang tua dengan anak.
Jadi sekali lagi kekecewaan dan ketidansetujuan saya terhadap anggota keluarga kami yang menikah dengan orang yang tidak seagama, bukanlah masalah sorga dan neraka, tetapi semata-mata masalah hubungan orangtua dan anak yang berubah. Hubungan yang berubah ini menimbulkan kekecewaan terhadap orangtua dan juga si anak.
Di lain sisi aku melihat bahwa sebuah pernikahan adalah suci, kudus dan sakral. Pernikahan bukan saja menyatukan dua individu, tetapi menyatukan dua keluarga besar. Jadi menurut saya pernikahan yang tidak menyatukan dua keluarga besar bukanlah pernikahan yang baik. Oleh karena itu momen bahagia sebuah pernikahan seharusnya mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak dan membahagiakan banyak orang.

Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar kalau orangtua salah satu pihak yang akan menikah tidak memberikan restu? Pernikahan yang direstui saja belum tentu bahagia, apalagi pernikahan yang tidak direstui. Hal inilah yang harus dipahami sebelum memutuskan untuk menikah. Apakah pernikahan ini nantinya akan membuat lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan? Itulah sebabnya setiap orang yang memberikan ucapan selamat kepada mempelai adalah selamat berbahagia. Jadi pernikahan yang direstui oleh orang tua kedua mempelai adalah salah satu syarat mutlak menuju pernikahan yang bahagia.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya agar sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar, membahagiakan banyak orang dan yang terutama mendapat restu dari orangtua keua belah pihak. Sesungguhnya caranya tidaklah sesulit apa yang dibayangkan, namun memang melalui proses panjang yang membutuhkan pengorbanan, kedisiplinan dan waktu.
Proses panjang itu dimulai sejak si anak itu lahir dan bagaimana dia dididik oleh orangtuanya, tetapi baiklan proses ini kita potong sejak sianak sudah mulai pacaran. Setiap orang berhak mengenal banyak lawan jenis atau pacaran, tetapi setiap orang dianugrahi pencipta kemampuan untuk mengenal lawan jenis yang mungkin cocok atau tidak cocok dengan dirinya. Kemampuan ini tidak boleh diabaikan dengan alasan cinta itu buta. Selain itu bergaullah dalam lingkungan orang-orang yang berkwalitas dan sejalan dengan ajaran yang dianut oleh keluarga. Dengan demikian peluang mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan anda dan keluarga lebih besar. Jangan coba-coba bermain api. Bukan hanya anda yang akan dibakar oleh api itu, tetapi seluruh keluarga anda juga ikut terbakar.

Ketika seseorang telah menemukan seorang lawan jenis yang sudah cocok untuk dipacari, kenalkanlah sejak awal kepada keluarga terdekat, sehingga sejak awal keluarga sudah ikut menseleksi dan mengantisipasi bila ada hal-hal yang belum terpikirkan sebelumnya. Selanjutnya kalau ditemukan perbedaan yang prinsip jangan takut untuk memutuskan hubungan pacaran. Putus berkali-kali dalam pacaran bukanlah aib, tetapi perceraian adalah hal yang mutlak dihindari. Jadi jangan takut memutuskan hubungan dengan pacar yang didak direstui orang tua.

Jangan ada kata tidak tega. Saya sudah sangat mencintai dia, jadi saya tidak mungkin hidup tanpa dia. Dia baik sekali, tidak ada lagi orang lain yang sebaik dia. Saya memiliki banyak hutang budi kepada dia, jadi saya harus menikah dengan dia untuk membalas budi itu. Stop…! Hentikan semua alasan klise itu. Jangan pula ada alasan menikah itu kan hak saya, jadi siapapun yang akan saya nikahi tidak ada yang boleh melarang termasuk orang tua saya. Jangan juga beralasan menikah dengan orang yang beda agama kemudian mengikut agama pasangan kan tidak dilarang negara, sementara nilai-nilai yang dianut keluarga besar kita kan sudah kuno. Pikirkan kebahagiaan masa depanmu. Kalau kamu mau merubah nilai-nilai yang ada di keluarga kita dengan nilai-nilai yang menurutmu moderen, lakukanlah itu nanti ke anak-anakmu. Jangan lakukan itu untuk menyakiti orangtuamu.

Bagi saudara-saudaraku yang telah membuat jantung saya tersentak, saya minta tolong ikut memikirkan cara untuk menghindari timbulnya berita-berita buruk yang membuat kita sedih di esok hari. Biarlah adik-adik kita bisa menikah sesuai dengan harapan orang tua kita.

Bagi kalian yang yang sudah punya calon dan belum menikah, bawalah calonmu segera kerumah orang tua dan tanyalah mereka, apakah mereka setuju dengan pilihanmu. Kalau mereka tidak setuju, tanyakan alasan mengapa mereka tidak setuju. Kalau alasannya benar-benar demi kebahagiaanmu dan seluruh keluarga, tidak usah takut untuk mengganti calonmu.
Bagi yang belum punya calon, bergaullah di lingkungan yang baik menurut nilai-nilai yang dianut keluarga kita. Mudah-mudahan dari lingkungan itu kamu menemukan calon yang baik dalm ukuran nilai-nilai yang keluarga kita anut, dan kalau calonmu sudah ketemu, cepat-cepatlah bawa ke rumah lalu kenalkan kepada sebanyak mungkin saudara kita, terlebih kepada orangtua. Ikutkanlah mereka menseleksi calonmu.

Sekali lagi, buat adek-adek anggota keluarga besar kita yang belum menikah, tolonglah untuk tidak menikah dengan pasangan yang beda agama. Sudah terlalu banyak air mata orang tua kita yang tertumpah. Sudah terlalu banyak kekecewaan yang kita rasakan. Tinggalkanlah dulu egomu dan pikirkanlah kebahagiaan yang lebih besar yang bisa kau berikan kepada keluarga besar kita. Menikah dengan sesama orang batak dan kristen pula memang merepotkan, tetapi kerepotan ini merupakan bagian dari kebahagiaan keluarga kita. Mungkin kamu merasa orang lain lebih memperhatikan dan mengasihimu dibanding orang tua dan saudara-saudara mu, kamu salah besar. Ingatlah kami saudara-saudaramu dan terutama orangtuamu lebih sayang kepadamu dibanding dengan orang lain yang kau pilih karena dalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Sampai saat ini aku belum yakin, tetapi aku selalu berharap agar berita kemarin merupakan berita terakhir yang membuat jantungku tersentak.

HKBP Sipanganbolon (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

Saya tidak tahu kapan gereja ini pertama kali berdiri. Yang pasti sejak pertama, saya sudah melihat gereja ini berdiri kokoh, walaupun belum sebagus sekarang. Bahkan menurut cerita yang saya dengar sebelum almarhum ibu saya lahir gereja ini sudah berdiri. Yang paling mengejutkan saya adalah ketika saya membaca buku Biografi Cyrellus Simanjuntak saya jadi tahu kalau HKBP Sipanganbolon sudah ada pada tahun 1917. Dengan demikian gereja ini sudah berdiri hampir seratus tahun, atau bahkan mungkin lebih. Woww… sebuah usia yang cukup panjang.

Gereja ini dinamai dengan gereja HKBP Sipanganbolon karena memang terletak di Desa Sipanganbolon yang berjarak sekitar 9 km dari ibukota kecamatan, sekitar 40-an km dari ibukota kabupaten dan sekitar 180-an km dari ibukota provinsi. Gereja ini terletak persis di pinggir jalan lintas Sumatera, menempati lahan yang lumayan luas dengan halaman yang ditumbuhi rumput.

Bangunan yang ada di lokasi gereja terdiri dari bangunan utama gereja, rumah dinas pendeta, rumah dinas guru huria atau parhangir (maaf saya tidak tahu mengeja tulisan parhangir) dan bangunan yang terbaru adalah gedung taman kanank-kanak. Di bagian samping kiri belakang menyatu dengan gereja ada ruang konsistori yang dikenal juga dengan bilut parhobasan. Saya tidak tahu persis berapa ukuran pasti dari gedung gereja ini, namun gedung gereja inilah bangunan yang paling besar di Sipanganbolon (Saya tidak tahu apakah gedung HKI yang baru lebih besar).

Kalau dilihat dari bentuknya, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari bangunan gereja ini, Bentuknya persis dengan bentuk gereja HKBP kebanyakan. Bentuk memanjang monoton, atap segi tiga dan menara di bagian tengah depan, persis di atas atau merangkap teras. Apakah memang bentuk demikian sudah menjadi patokan HKBP yang harus diikuti..? Sesungguhnya saya lebih terkesan denga bangunan yang dulu dengan menara atau palas-palas yang terbuat dari kayu, dengan desain yang lebih artistik. Mungkin saking artistiknya sehingga menarik minat banyak burung wallet atau leang-leang untuk membangun sarangnya di sana. Kadang saya bertanya dalam hati apakah burung-burung itu tidak pusing mendengar suara dentangan lonceng besar yang sangat keras itu.

Menurut saya bentuk bangunan gereja yang paling artistik yang ada di Sipanganbolon adalah gereja Katolik yang berada persis di samping gereja HKBP. Bentuknya lebih unik walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin ukurannya disesuaikan dengan jumlah jemaat katolik yang tidak sebanyak jemaat HKBP di Sipanganbolon. Memang harus diakui bahwa hampir di semua tempat, gereja Katolik selalu mencuri perhatian. Namun posisi gedung gereja HKBP Sipanganbolon yang sangat strategis dengan halaman rumputnya yang luas membuat gedung gereja ini terlihat begitu anggun dan mencuri perhatian setiap orang yang melitas di sana. Saya sangant berharap halaman gereja HKBP yang luas dan hijau ini tetap dilestarikan. Karena halaman itulah yang membuat gereja itu menjadi anggun. Tak terbayangkan bila sesuatu dibangun di halaman itu dan menghalangi pandangan dari jalanan ke gedung gereja. Di masa mendatang pasti banyak godaan untuk membangun sesuatu di halaman gereja itu. Apakah itu sekolah, gedung serba guna, atau bahkan bangunan komersil. Mudah-mudahan tidak ada pimpinan atau anggota jemaat gereja di masa sekarang dan masa yang akan datang yang tergiur untuk merubah halaman hijau yang luas itu menjadi sesuatu yang menghilangkan keanggunan gedung gereja.

Berbicara mengenai halaman gereja ini, saya teringat suatu kejadian sederhana yang bagi saya sangat bermakna dan menyentuh. Ketika bangunan gereja yang sekarang selesai dibangun yang katanya atas bantuan mantan gubernur Sumatera Utara Rajainal Siregar, akan dilakukan pesta peresmian. Pesta peresmian ini dipimpin langsung oleh “ompui” Eporus HKBP saat itu SAE Nababan dan disaksikan langsung oleh Rajainal Siregar besrta para pejabat seantero sumatera utara. Beberapa hari sebelum acara puncak peresmian, oppung Sirait yang dikenal dengan sebutan Oppung Palliting, membawa mesin potong rumputnya kehalaman gereja itu dan merapikan rumput-rumput yang ada di halaman yang luas itu dengan tangannya sendiri dan tentu saja tanpa meminta bayaran. Kala itu Mesin potong rumput masih merupakan mahluk asing di Sipanganbolon, saya tidak tahu kalau sekarang. Mungkin bangi banyak orang tindakan Oppung Palliting yang tidak bisa membaca ini tidaklah begitu berarti, tapi menurut saya oppung yang suka marah-marah ini sangat tahu kalau keanggunan gedung gereja itu adalah karena halaman rumput hijaunya yang luas. Oppung yang sudah lama almarhum ini dengan mata rabunnya melihat dengan jelas keindahan halaman rumput hijau yang luas itu, sehingga dia dengan iklas merapikan rumput-rumput itu.

Awalnya gereja ini adalah gereja pagaran dari HKBP Ressort Parapat yang megah itu, tetapi beberapa tahun terakhir ini sudah naik kelas menjadi ressort. Ini adalah sesuatu yang harus disyukuri karena sejak jadi ressort disana sudah ditempatkan seorang pendeta tetap yang pengetahuan ke-HKBP-annya lebih fasih, kerohaniannya lebih dalam dan kepemimpinannya lebih mumpuni dibandingkan dengan hanya sekedar seorang sintua yang diangkat menjadi guru huria seperti pada masa pagaran dulu. Namun dilain pihak, jemaat dituntut untuk memberikan lebih karena semakin banyak pengeluaran gereja. Itulah konsekuensi logis, bila ingin kualitas lebih baik, harus mau membayar lebih banyak. Jemaat telah memilih untuk menjadikan gerejanya menjadi ressort, jadi jemaat harus dengan lapang dada menerima segala konsekuensinya. Tetapi lebih dari itu, saya berharap siapa saja pendeta yang ditempatkan di sana benar-benar dan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati melayani jemaat agar keimanan jemaat meningkat. Dengan kata sederhana agar pintu sorga dunia dan akhirat lebih terbuka buat seluruh jemaat. Kedengarannya memang terlalu berlebihan, tetapi saya pikir itulah tujuan utama mengapa jemaat bersusah payah menaikkan kelas gerejanya dari pagaran menjadi ressort.

Dari sejarahnya, gereja ini menjadi awal dimulainya pendidikan formal di Sipanganbolon. Sekolah dasar yang pertama, dilaksanakan di gereja ini. Guru yang mengajarpun dirangkap oleh guru huria gereja ini. Salah satu guru huria yang merangkap menjadi guru di gereja ini adalah Amangtua Tiopan Sinaga, abang kandung bapak saya. Setelah dari Sipanganbolon Amangtua ini pindah ke Tanahjawa dan terakhir dimakamkan di Girsang. Karena Amagtua inilah mengapa bapak saya bisa tingal di sipanganbolon, dan seterusnya menikah dengan ibu saya yang orang sipanganbolon dan selanjutnya melahirkan anak-anak di Sipangan bolon termasuk saya. Setelah beberapa tahun barulah pemerintah membangun gedung sekolah dasar didekat gereja ini yang dikenal dengan SD 1 dan proses belajar mengajar dipindahkan dari gedung gereja ke gedung sekolah yang baru. Waktu Saya masih sekolah minggu, masih ada beberapa bangku peninggalan dari sekolah yang dulu dipakai di gereja ini. Saya tidak tahu apakah bangku-bangku bersejarah itu masih ada.

Ketika terjadi pergolakan HKBP sekitar awal tahun 90-an yang menurut saya “memalukan” itu, yang menggenaskan itu, yang merusak hubungan persaudaraan itu, gereja HKBP Sipanganbolon tidak ikut-ikutan. Tidak beralih ke “SSA” dan tidak memihak ke “Monjo”, walaupun sesekali ada issu ancaman. Apalagi ketika berduyun-duyun massa melintas melewati Sipanganbolon menuju Tarutuang yang datang entah dari mana. Efek dari peristiwa ini sangat mengganggu jemaat HKBP Sipanganbolon. Keimanan jemaat saat itu banyak yang merosot. Kebaktian minggu sangat sepi, tidak ada koor selain parari kamis, pendeta resort jarang datang berkotbah ke Sipanganbolon dan banyak lagi. Tetapi puji Tuhan keadaan ini terlewati juga. Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi lagi mimpi buruk itu. Biarlah Pimpinan HKBP mengedepankan pelayanan kepada jemaat diatas kepentingan pribadi, golongan, apalagi ambisi pribadi.

Begitu banyak kenangan yang tertinggal di gereja ini. Masih jelas dalam ingatan bagaimana guru sekolah minggu bercerita tentang adam dan hawa yang biarpun tidak memakai baju tetapi hidup dengan damai di Taman Eden, namun pada akhirnya sang ular menggoda mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Guru sekolah minggu juga menceritakan tentang malaikat-malaikat Tuhan yang katanya cantik-cantik, hingga aku pernah bermimpi ingin bertemu dengan mahluk Tuhan yang cantik-cantik itu. Namun setelah saya tahu dati film-filn akhir pekan TVRI yang aku tonton di rumah tetangga bahwa orang yang bertemu dengan malaikat adalah orang yang diujung ajal, saya jadi takut dan tidak ingin lagi bertemu dengan mahluk cantik itu. Polos sekali pikiran saya kala itu. Masih jernih dalam memori ketika marayat-ayat “dimula ni mulana…” di altar gereja dengan pengeras suara TOA, penerangan lampu petromax dan ditemani pohon terang yang terbuat dari rangkaian ranting-ranting pohon pinus dengan lilin-lilin kecil sebagai hiasannya, ketika marguru malua, manghatindanghon haporseaon (sidi) dan yang paling istimewa ketika saya memasangkan cincin kawin di jari manis isteri tercinta di altar gereja ini. Jadi di gereja inilah banyak peristiwa penting hidup saya dilangsungkan. Mulai dari dibaptis sampai menerima pemberkatan nikah.

Di gereja ini jugalah saya mengenal sintua-sintua dengan segala karakternya masing-masing. Satu sintua yang tak munkin dilupakan adalah sintua Manurung dari Porti. Karakternya yang unik dan gemulai telah membuat gereja HKBP Sipanganbolon lebih berwarna, walau kadang-kadang ada yang tidak setuju dengan sikapnya. Namun bagi saya dia adalah sintua yang berkarakter dan istilah jaman sekarang “ngangenin”.

Dulu, ketika bapak dan ibu masih ada, sering kali rumah kami dikunjungi oleh calon pendeta, calon guru huria atau siapa saja yang ditempatkan pusat di gereja HKBP Sipanganbolon. Ada marga Bancin, marga Simanungkalit, marga Sitohang, marga Sihombing dan banyak lagi. Mudah-mudahan mereka datang bukan karena kala itu ada kakak saya yang cantik yang masih tinggal di rumah. Pernah juga ada calon guru huria yang lagi magang di Sipangan bolon sebanyak 5 orang sering datang ke rumah kami. Saking seringnya, sekalian saja ibu saya mengajak menreka mencangkul ke ladang. Salah satu diantara mereka orangnya nyentik dan suka bergaya. Pernah satu kali saya melihat dia melukai dagunya dengan pisau silet. Katanya biar dagunya berbelah seperti para bintang film barat itu. Ada-ada saja.

Saya sudah melakukan ibadah di beberapa gereja di tempat lain, di Siantar, di Medan, di Jakarta, di gereja HKBP Rawamangun yang katanya pelean mereka ke kantor pusat paling besar dari seluruh gereja HKBP yang ada, bahkan di sebuah gereja di Tokyo, tetapi perasaan saya ibadah di HKBP Sipanganbolon lebih mengena. Rasanya Tuhan lebih dekat kalau ibadah di HKBP Sipanganbolon dibanding semua gereja lain yang pernah saya kunjungi. Apakah munkin karena gereja ini lebih dekat ke langit…? Dari semua gereja yang pernah saya kunjungi, HKBP Sipanganbolonlah yang paling tinggi dari permukaan laut, sekitar 1000 m dpl. Jadi kalau paling tinggi dari permukaan laut, berarti paling dekat ke langit. Hhhhh… Kenikmatan beribadah di HKPB Sipanganbolon tentu saja bukan karen paling dekat ke langit. Ikatan batinlah yang menyebabkannya. Bukan hanya ibadah, tidurpun sangat nikmat di gereja ini. Berbahagialah jemaat HKBP Sipanganbolon memiliki gereja ini. Sayang sekali jika jemaat jarang datang ke gereja ini.

Saya dengar saat ini Gereja HKBP Sipanganbolon sedang melakukan renovasi, mengganti menara, memasang keramik lantai, memperpanjang bangunan gereja dll. Saya senang sekali mendengarnya. Itu tandanya kemajuan. Saya jadi teringat ketika acara pernikahan saya di gereja ini, samar-samar saya dengar suara seorang kerabat yang usil. Kok lantainya berbelang-belang…? Kok karpetnya berdebu…? Kok kembangnya plastik…? Kok…?,Kok….?, Kok…. Tetapi saya tidak terpengaruh. Saya bangga bisa melangsungkan pernikahan di gereja dimana masa sekolah minggu saya habiskan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun dengan pembangunan ini mungkin tidak akan ada lagi suara-suara sumbang dari orang seperti kerabat saya yang usil itu. Dan yang terpenting, dengan pembangunan ini mudah-mudahan Tuhan semakin dekat dengan jemaat dan bukan sebaliknya.

Saya berharap halama rumput hijau yang luas itu masih ada sampai seribu tahun lagi. (maaf… lebay dan saya baru bisa “omdo” omong doang)

Maaf bila ada kata yang tidak berkenan dalam tulisan ini. Tidak ada maksud lain selain mengungkapkan kecintaan terhadap HKBP Sipanganbolon.

Salam Hormat buat pimpinan HKBP Sipanganbolon
Tabe mardongan tangiang tu sude ruas HKBP Sipanganbolon

Walau sudah agak terlambat,

Selamat Tahun Baru 2012.

Sebuah pesta di halaman gereja HKBP Sipanganbolon

PARNASIB

Kata ini membawa ingatan ke masa yang tak terlupakan sekitar 13 tahun yang lalu. Kata ini membawa ke suasana akhir tahun yang hangat, walaupun hampir setiap hari ditemani oleh gerimis bahkan hujan deras. Kata ini memunculkan kembali wajah sahabat-sahat yang dengan mereka suasana kelahiran Yesus di kampung jadi berbeda. Kata ini membangkitkan kembali kenangan ketika menjahitkan satu stel Jas warna krem untuk yang pertama kalinya, karena harus berdiri di podium dengan penampilan terbaik. Kata ini membangunkan kembali memori yang sudah lama tersimpan dengan rapi di sudut ingatan.

Beberapa anak muda yang masih sangat muda dipaksa keadaan untuk meninggalkan kampung halamannya menuntut ilmu di ibukota propinsi. Dalam kesehariannya mereka bergaul dengan orang-orang yang kurang lebih senasib dengan mereka yang berasal dari berbagai dusun dan kampung di seantero propinsi. Mereka melihat ada kebiasaan yang berbeda yang dilakukan teman-teman mereka yang berasal dari kampung lain setiap menjelang akhir tahun. Teman-teman mereka itu akan sibuk berkumpul dengan teman-teman sekampung melakukan rapat, latihan koor, mencari dana dan selanjutnya akan melakukan perayaan natal di kampung mereka.

Awalnya pemuda-pemuda itu tidak terpengaruh oleh fenomena akhir tahun teman-teman mereka. Awalnya pemuda-pemuda itu tidak tertarik dengan suara-suara latihan koor teman-teman mereka itu. Namun di tahun 1998 godaan itu semakin kuat dan tidak terbendung lagi. Godaan yang kuat itu membangkitkan mimpi indah, kalau mereka bisa mengapa kita tidak…? Godaan yang kuat itu menyemangati langkah mereka untuk bergandengan tangan mewujudkan mimpi itu. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda mewarnai suasana akhir tahun di kampung. Gang Cipta di Jalan Jamin Ginting menjadi saksi pertama dari mimpi besar mereka. Si Cantik yang tinggal disana menjadi tuan rumah rencana besar itu. Selanjutnya Simalingkar menjadi markas setiap hari Minggu sore untuk mengurai mimpi dan rencana besar itu.

Awalnya memang tidak mudah. Ternyata banyak sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi. Mulai dari tidak adanya pengalaman (Ini adalah kegiatan PANASIB yang pertama, mudah-mudahan bukan yang terakhir), kesulitan mencari biaya (Mereka semua berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, boro-boro untuk menyisihkan uang, untuk biaya makan, kost dan SPP saja kadang kurang), kesusahan mengumpulkan banyak teman-teman setiap akhir pekan (mereka terpencar di pelosok ibukota propinsi yang kalau mau kupul di satu tempat memerlukan waktu dan biaya) dan banyak masalah yang lain. Masalah-masalah tersebut sempat menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan mimpi itu. Namun keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di kampung pada akhir tahun menggerakkan langkah mereka untuk terus melangkah menwujudkan mimpi itu.

Persiapan-persiapan pun dilakukan. Setiap hari minggu sore berkumpul di Simalingkar, sehingga Simalingkar serasa menjadi rumah sendiri. Panitia dibentuk dan sang tuan rumah di Simalingkar dinobatkan menjadi ketua. Dikemudian hari keberadaan ketua ini dipertanyakan beberapa orang di kampung hanya karena marganya bukan marga mayoritas, namun panitia tidak terpengaruh. Ternyata bagi sebagian orang, faktor mayoritas-monoritas sebegitu pentingnya. Proposal disusun, tujuan utamanya tentu saja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, namun di lain pihak proposal ini dimaksudkan untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kegiatan apa yang mau dilakukan dan yang tidak kalah penting untuk mendapatkan legalitas dari penguasa di kampung yaitu Kepala Desa.

Setelah kepanitiaan tersusun dan proposal sudah diteken, dimulailah perburuan dana. Target utama yang disasar adalah bapak mantan anggota MPR-RI yang dikenal dengan koperasi angkutan umumnya. Walau tidak sebesar yang dibayangkan, dari beliau didapatkan dana yang tidak bisa dikatakan sedikit. Selain beliau ada satu-dua donatur yang diharapkan bisa memberi lebih, selebihnya hanya donatur dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja, bahkan cenderung ekonomi lemah. Hingga menjelang hari H keadaan dana sangat menghawatirkan, tetapi di detik-detik terakhir ternyata dana yang dikumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Di luar dugaan banyak orang yang berbaik hati untuk kegiatan yang dikerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Beberapa hari menjelang kegiatan dilaksanakan, kesibukan di Simalingkar dipindahkan ke Balai Desa di Kampung. Langkah awal adalah menggabungkan panitia yang dari simalingkar dengan pemuda-pemuda yang ada di kampung. Penggabungan ini tidak berjalan mulus, namun tidak terlalu sulit. Ada beberapa pemuda yang tinggal di kampung yang merasa resistan, terganggu, atau apalah namanya dengan kegiatan tersebut. Mereka tidak mau ikut bergabung, tetapi tidak menjauh. Mereka memantau dari jarak yang menurut mereka aman. Hal ini menjadi masalah tersendiri. Panitia tidak memiliki solusi untuk masalah ini, dan ini menjadi catatan kedepan.

Dalam waktu yang sangat terbatas, persiapan di kampung dikebut dengan berbagai kesulitannya dan dua hari menjelang pergantian tahun acara pun digelar dengan segala kekurangannya. Gereja HKI menjadi pilihan terbaik melaksanakan acara ini. Memang masih ada gereja HKBP yang daya tampungnya lebih besar, namun pilihan jatuh ke HKI dengan alasan kehati-hatian. Panitia ingin kegiatan pertama ini berlangsung secara sederhana, namun benar-benar berkesan.

Sejak acara dimulai, awalya tidak ada masalah. Undangan yang hadir cukup banyak. Mereka duduk berdesakan dibangku-bangku panjang yang jumlahnya tidak banyak, bahkan sebagian undangan berdiri di bagian belakang. Mereka mengikuti acara dengan seksama. Mereka sepertinya menunggu kejutan-kejutan yang akan muncul dalam acara tersebut. Tanpa diduga-duga kejutan itupun muncul. Tanpa disangka-sangka dipertengahan acara terjadi gangguan teknis. Sound system gereja yang dayanya kecil bermasalah. Panitia berusaha memperbaiki, tetapi tidak berhasil, sehingga hampir separuh acara berlangsung tanpa bantuan pengeras suara. Ketiadaan pengeras suara ini sangat mengganggu. Undangan jadi tidak mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh pengisi acara dari depan.

Yang lebih menghawatirkan panitia adalah operet yang akan ditampilkan di ujung acara bakal menjadi mimpi yang tidak akan terwujud kalau tidak ada pengeras suara. Operet ini hanya bisa dilakukan kalau ada sound system. Operet ini dilakukan dengan mengikuti suara dari kasette yang diputar, sehingga pemeran yang tampil hanya mengikuti suara yang muncul dari kasette saja. Tidak terbayangkan kekecewaan panitia, bahkan mungkin undangan, bila operet ini tidak jadi ditampilkan. Panitia sempat panik dan hampir pasrah, namun ditengah kepanikan panitia ada warga yang mengetahui kepanikan itu dan berbaik hati memberikan bantuan. Seseorang menawarkan ke panitia untuk menggunakan peralatan sound system yang ada di rumahnya. Seseorang ini menjadi dewa penolong disaat panitia hampir putus asa. Ternyata begitu banyak orang yang berbaik hati untuk menolong kegiatan yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati.

Acarapun diakhiri dengan menyantap lappet yang tadi siang dimasak oleh beberapa orang yang berbaik hati dan minum air mineral Aeros yang dijemput langsung dari Balige. Semua undangan bahagia sambil menikmati lappet dan minum aeros. Namun yang paling bahagia adalah panitia. Tujuan untuk memberikan sebuah sentuhan yang berbeda di kampung pada akhir tahun tercapai. Inilah kegiatan pertama dari pemuda yang tergabung dalam sebuah nama yang mereka sebut dengan PARNASIB. Nama ini dirancang oleh seseorang di sebuah kamar berukuran kecil ketika dia hendak tidur beberapa hari sebelum panitia dibentuk. Ketika nama ini ditawarkan ke panitia, semua setuju tanpa ada yang komplain. Mungkin nama ini langsung pas di hati mereka.

Malam telah larut ketika semua undangan meninggalkan gedung gereja HKI. Daun-daun pisang bekas bungkus lappet berserakan dimana-mana, demikian juga dengan gelas-gelas plastik aeros. Panitia bertanggung jawab membersihkan semua sampah itu, dan panitia melakukannya dengan suka cita.Tenaga yang dikerahkan untuk membersihkan sampah-sampah itu tidak seberapa disbanding dengan seyuman bahagia di wajah para undangan yang meninggalkan gedung gereja. Perayaan memang harus usai, namun semangat yang ditimbulkannya tetap bersemayam dalam hati. Mimpi itu telah jadi kenyataan, walaupun tidak sesempurna yang dibayangkan. Namun keyataan itu menunjukkan bahwa sesuatu maksud baik bisa terwujud bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Demikianlah pada masa itu ternyata pemuda-pemuda itu mampu memberikan sentuhan akhir tahun 1998 yang manis dan berkesan. Setiap masa memang memiliki generasi sendiri-sendiri. Setiap generasi berhak mengapresiasikan dirinya dimanapun dia berada. Setiap anak muda pasti punya berjuta mimpi mulia yang ingin dia sumbangkan buat orang-orang di sekitarnya. Hanya kesungguhan dan kerja keraslah yang bisa membuat mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Tentu saja dengan tidak boleh melupakan kemurahan Tuhan.

Tahun-tahun berikutnya kegiatan PARNASIB itu juga dilakukan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Namun beberapa tahun kemudian kembali redup. Tiba-tiba tanpa sengaja tahun kemarin saya dengar kegiatan itu kembali dibangkitkan lagi. Tentu saja dengan pemuda-pemuda yang berbeda. Saya sangat senang mendengarnya. Saya senang sekali kalau pemuda-pemuda yang ada sekarang di sana mau mengapresiasikan diri bagi orang-orang disekitarnya. Sesungguhnya banyak hal bisa di lakukan, bukan hanya sekedar perayaan natal saja. Saya yakin pemuda-pemuda yang ada sekarang disana mampu melakukan bayak hal yang bisa menggairahkan kampung. Yakinlah.. sekecil apapun sentuhan yang diberikan buat kampung kita pasti ada maknanya, pasti ada imbalanya. Tuhan juga pasti berpihak kepada mereka yang mau bekerja keras mewujudkan mimpi dan membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Saya rindu setiap wajah orang tua di kampung tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang pekerja keras. Saya rindu anak-anak kecil yang tinggal disana memiliki impian yang tinggi melihat abang dan kakaknya yang kreatif.

Salam hormatku buat panitia Natal Parnasib 2011
Tabe mardongan tangiang tu sude Naposo Sipanganbolon.
Tetap Semangat…..!

Kenangan itu muncul kembali dan terlalu manis untuk dilupakan.

Kenangan Natal Parnasib tahun 1999

Hasian

Sejak pertama seseorang mengenalkanmu kepadaku,

aku sudah jatuh cinta,

walaupun aku belum melihat wajahmu,

bahkan belum mengetahui siapa namamu.

 

Aku ingin segera bertemu denganmu sayang.

Aku tidak sabar segera melihat wajahmu,

mencium keningmu, membelai rambutmu,

bahkan mencurahkan segala cintaku kepadamu.

Namun Tuhan menghendaki aku harus menunggu lama.

Selama berbulan-bulan aku menanti dengan tidak sabar.

 

Ketika waktunya akan tiba bertemu dengan dirimu,

degup jantungku terasa berlari kencang.

Akankah dirimu sesempurna yang aku harapkan…?

Akankah wajahmu secantik yang aku bayangkan…?

Banyak pertanyaan yang tidak penting memenuhi rongga kepalaku.

Semua pertanyaan itu tak bisa kujawab dan membuat aku gugup.

Semakin dekat waktunya aku semakin gugup.

 

Akhirnya dalam keadaanku yang was-was, khawatir, gugup, Tuhan mempertamukan kita.

Dan pandangan pertama kita menghilangkan semua khawatir itu seketika.

Aku benar-benar bahagia.

Ternyata kau begitu sempurna sayang..!

Kau bahkan lebih cantik dari apa yang kubayangkan sebelumnya.

 

Kini hampir setahun kita hidup bersama.

Engkau telah memberikan banyak kebahagiaan,

Walau memang kuakui kadang-kadang aku tidak bisa mencurahkan seluruh waktuku kepadamu,

tetapi cinta dan sayangku akan selalu utuh kepadamu.

 

Boru Hasian…

29 Desember ini genaplah setahun usiamu.

Banyak sudah yang telah kita lakukan bersama selama setahun ini

Saya kagum akan perkembanganmu.

Ketika kamu menangis untuk yang pertama kalinya

Ketika kamu membuka mata untuk yang pertama kalinya

Ketika kamu mulai bisa membalikkan bandan

Ketika kamu mulai bisa duduk

Ketika gigimu mulai tumbuh

Ketika kamu mulai bisa berdiri

Semua itu itu sungguh-sungguh hadiah terindah dari Tuhan buat aku dan ibumu.

 

Kadang-kadang aku dan ibumu begitu khawatir

ketika kamu demam,

ketika kamu mogok makan,

ketika kamu lemas karena diare,

ketika ee’ mu keras

ketika kamu menangis sejadi-jadinya

ketika aku harus meninggalkan kamu berdua saja dengan ibumu untuk urusan pekerjaan,

bahkan ketika dokter menyuntik vaksin ke tubuhmu, ibumu tidak berani melihat.

Itu semua menjadi pengalaman baru dan luar biasa bagi aku dan ibumu.

 

Boru Hasian…

Hanya dalam hitungan hari engkau akan memasuki tahun kedua kehidupanmu.

Aku yakin akan semakin bayak pengalaman-pengalaman baru yang akan kita alami

Dan aku tidak sabar menunggu pengalaman-pengalaman itu.

Mungkin diantara pengalaman-pengalaman itu ada yang tidak kita harapkan.

Tidak apa-apa boru, Tuhan akan menguatkan kita untuk menjalaninya.

 

Aku dan ibumu ingin kita bertiga saja yang merayakan ulang tahunmu.

Untuk itu ibumu telah memesan kue ulang tahun.

Mudah-mudahan nanti tidak turun hujan

sehingga kue ulang tahun mu dikirim kerumah kita tepat waktu.

 

Selamat menyambut hari jadi yang pertama boru hasian Aurora Masniari Sinaga

Selamat menjalani pengalaman-pengalaman baru

Tuhanlah senantiasa yang menjadi kekuatan kita.

 

Satu Hari di Pajak Horas Bersama Ibu

Bagi orang-orang yang tinggal di sekirat Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun tak asing lagi dengan Pajak Horas yang sebenarnya bernama Pasar Horas. Disebut Pajak Horas karena di daerah Sumatera Utara pasar dikenal dengan sebutan pajak. Pajak Horas berada persis di tengah-tengah Kota Pematang Siantar dan diapit oleh dua jalan utama yaitu Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Pasar ini merupakan pasar terbesar yang dimiliki oleh Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Pasar ini agak mirip dengan Pasar Senen yang ada di Jakarta. Disana dijual berbagai keperluan mulai dari pakaian sampai bumbu dapur.

Satu kali ketika saya masih SD, ibu mengajak saya ke pasar ini untuk belanja pakaian yang nantinya akan dijual kembali oleh ibu. Selain pekerjaan utama bertani, ibu memiliki pekerjaan sampingan yaitu berjualan pakaian. Saya senang sekali diajak ibu ikut berbelanja ke Pajak Horas. Waktu itu kami berangkat pagi-pagi dari rumah. Perjalanan dari rumah ke pasar ini memakan waktu sekitar 2 jam. Angkutan yang kami naiki adalah bis 3/4 bernama Koperasi Diori. Selama perjalanan menaiki Koperasi Diori ini kepala saya pusing dan beberapa kali saya muntah. Untunglah ibu telah mengantisipasinya dengan menyediakan kantongan plastik untuk menampung muntahan saya. Dengan wajah saya yang lemas kami turun di Terminal Parluasan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan naik angkot atau disana dikenal dengan Mopen menuju Pajak Horas.

Sesampainya di Pajak Horas, kami lansung menuju ke grosir-grosir pakaian. Saya menikmati pemandangan di pasar itu. Para pedagang pakaian yang sibuk memajang dagangannya, penjual perabotan, penjual buku, dan yang lainnya menarik perhatian saya. Semua pemandangan itu telah membuat saya melupakan kepusingan saya selama perjalanan dari kampung sampai ke Terminal Parluasan.

Ternyata butuh waktu lama untuk memilih pakaian-pakaian yang akan dibeli ibu. Tak terasa waktu sudah lewat tengah hari ketika ibu menyelesaikan semua belanja pakaiannya. Ibu tahu kalau saya sudah lapar, kemudian ibu menitipkan semua belanjaannya kepada pemilik grosir yang sudah menjadi langganan nya, lalu ibu mengajak saya mencari tempat makan siang. Saya berharap ibu mengajak saya makan di kedai-kedai bakmi yang ada di Jalan Bandung atau Jalan Surabaya yang tidak jauh dari Pajak Horas itu. Kedai-kedai bakmi itu menjadi tempat makan favorit bapak kami ketika dia masih sehat. Bapak hamper tiap bulan ke sana karena urusan pekerjaan. Setiap kali pulang dari Siantar bapak pasti membawakan bakmi sebagai oleh-oleh, dan itu menjadi makanan yang sangat luar biasa buat saya. Mungkin itu juga yang meyebabkan sampai hari ini kami sekeluarga sangat memfavoritkan bakmi Siantar.

Pernah ada kisah unik mengenai bakmi ini. Ketika bapak saya meninggal, abang-abang saya yang tinggal di luar Sumatera (waktu itu saya masih kuliah di Medan) pulang bersama-sama dengan mencarter mobil dari Polonia menuju kampung. Di Siantar mereka singgah untuk makan siang. Mereka memilih makan bakmi, karena bakmi menjadi makanan kesukaan keluarga kami. Ketika mereka makan, pemilik kedai ngobrol dan berkenalan dengan abang-abang saya. Si pemilik bakmi mengatakan kalau dulu dia memiliki pelanggan seorang bapak yang marganya sama deangan marga kami dan kampungnya juga sama. Tapi entah kenapa sudah lebih dari sepuluh tahun si bapak itu tidak pernah muncul lagi. Pendek cerita ternyata si bapak yang dimaksud pemilik kedai itu adalah bapak saya. Dan si pemilik kedai itu sangat kaget kalau orang-orang yang lagi makan di kedainya adalah anak-anak dari si bapak langganannya itu, dan lebih kaget lagi kalau orang–arang yang lagi makan itu dalam perjalanan menuju kampung menemui bapaknya yang baru saja meninggal.

Ketika kami berjalan meninggalkan grosir pakaian sudah terbayang kelejatan bakmi Siantar di pikiran saya. Aromanya yang khas seakan menggoda indra penciuman saya. Mienya yang kenyal seakan menari-nari di mulut saya. Kuahnya yang gurih seakan sudah meluncur ke kerongkongan saya. Dan daging merahnya seakan memanggil-manggil untuk segera dikunyah. Wowww sedapnya…. Inilah kali pertama saya akan menikmati bakmi ini langsung di tempat penjualnya. Tidak seperti biasanya, saya memakan bakmi ini di rumah kami karena dibawa pulang oleh bapak kami. Perut sayapun semakin lapar membayangkan kelejatan bakmi Siantar itu.

Dalam perjalanan menuju tempat makan ternyata kami tidak meninggalkan gedung Pajak Horas tersebut. Saya malah diajak ibu menuju lantai bawah di pojok bagian belakang. Disebuah pojokan yang agak gelap terdapat sebuah kios kecil penjual makanan. Ternyata kesanalah ibu mengajak saya untuk malan siang. Disana hanya ada sebuah meja kecil, sebuah bangku panjang dari kayu, di atas meja ada rak kaca yang kacanya sudah agak buram sebagai tempat makanan di pajang, dan disana ada seorang ibu tua yang menungguinya.

Si ibu tua mempersilahkan kami duduk di bangku panjang dan menayakan kami mau makan apa. Saya melihat disana hanya ada menu berupa beberapa ekor ikan kembung yang digoreng, sedikit ikan teri dan beberapa butir telor rebus yang dibuang kulitnya lalu diberi sambal goreng. Seketika itu juga rasa lapar saya hilang. Saya ingin protes ke ibu, kenapa ibu mengajak saya makan di tempat yang sumpek ini, sementara di tempat yang tidak jauh dari sana ada bakmi lezat yang sudah menggoda hayalan saya sedari tadi. Namun saya tidak berani protes. Setahu saya belum pernah di keluarga kami ada yang protes, apalagi protes masalah makanan kepada orang tua. Saya hanya memendam kekecewaan saya di dalam hati.

Ibu memesan dua porsi nasi dengan lauk telor dan sayurnya kol bercampur buncis yang dimasak dengan santan seadanya. Minumnya adalah air putih yang warnanya tidak begitu jernih. Dengan perasaan terpaksa saya memakan makanan yang sudah terhidang di hadapan saya. Harapan akan nikmatnya bakmi pupus sudah. Sementara itu ibu hanya memakan separuh nasi yang ada di piringnya. Selebihnya dia pindahkan ke piring saya. Saya tau ibu juga lapar, tapi saya tidak mengerti mengapa ibu melakukan itu.

Sejak makan siang itu saya tidak lagi menikmati perjalananku dengan ibu sampai kami kembali ke rumah. Saya kecewa berat dengan makan siang itu. Cukup lama saya memendam kekecewaan itu. Namun setelah saya dewasa saya memahami tindakan ibu waktu itu. Sejak bapak kami sakit, ibu harus bertanggungjawab akan semua kebutuhan kami. Ibulah yang harus mencari uang, dan untuk itu ia harus berhemat sehemat mungkin. Bukannya ibu tidak mau mengajak saya makan siang di kedai bakmi kala itu, tetapi ibu lebih memilih membayar uang sekolah kami anak-anaknya dari pada hanya sekedar makan bakmi.

Begitulah cara yang ibu tau untuk memperjuangkan kehidupan kami. Mungkin pada saat itu banyak tindakan ibu yang tidak saya pahami, tapi hari ini saya menyadari bahwa semuanya ibu lakukan semata-mata agar masa depan kami lebih baik daripada kehidupan yang dia alami.

PODA NI DAINANG (Masih Perlukah Mengikuti Nasehat Orangtua…?)

Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika saya harus pergi meninggalkan kampung halaman, tanah dimana saya lahir dan dibesarkan, meninggalkan orang tua dan meninggalkan banyak orang yang saya kasihi dan mengasihi saya, untuk jangka waktu yang sampai entah kapan, untuk meraih cita-cita di tanah pengharapan, meraih kehidupan yang lebih baik di negeri nun jauh di sana. Ketika itu kakak saya yang tertua yang selalu tinggal bersama ibu, memotong seekor ayam dan memasaknya menjadi hidangan khusus untuk jamuan makan keberangkatan saya. Kami menikmati makanan itu bertiga, saya, ibu dan kakak. Sebelum makan seperti biasa ibu akan mengawali setiap ritual makan bersama kami dengan memanjatkan doa. Doa yang sederhana. Doa yang hampir sama dari waktu ke waktu, sampai-sampai aku sudah hafal doa itu. Tapi sekarang aku sadar bahwa doa-doa itu adalah salah satu doa terbaik di dunia ini, karena doa itu benar-benar tulus dan tidak bertele-tele. Doa kali ini sedikit berbeda dari doa-doa biasanya, karena di dalam doa itu ibu juga meminta agar TUHAN menemani dan menjaga saya di perjalanan sampai di tempat yang akan saya tuju.

Selesai makan, kami masih tetap berkumpul di tempat di mana kami makan, yaitu ruang tengah rumah kami yang hanya di gelari tikar plastik. Ibu memberikan pesan kepada saya agar nanti sesampainya di tempat yang saya tuju, saya harus tetap menjadi orang baik, jangan sampai lupa berdoa dan ke gereja, selalu menghormati dan turut kepada abang dan kakak-kakak saya, jangan malas, harus rajin dan bekerja keras dan lain-lain. Satu lagi pesan ibu dari dulu setiap kali saya akan bepergian adalah hati-hati menjaga uang dan jangan sampai hilang, jangan sampai dicuri orang. Dulu saya pikir ibu terlalu hati-hati masalah uang, tetapi sekarang saya sadar bahwa kehati-hatian ibu saya cukup beralasan. Ibu mempunyai 8 orang anak, sedangkan bapak hanyalah seorang guru sd, jadi ibu harus pintar mengelola dan mecari tambahan agar gaji bapak cukup untuk membiayai kehidupan kami. Dan karena itulah ibu bisa membiayai sekolah saya sampai tamat sarjana. (Terima kasih ibu)

Ibu selalu memberikan banyak nasihat kepada kami anak-anaknya, di malam hari setiap kali kami berkumpul makan bersama, setiap kali kami di sawah atau di ladang, bahkan disetiap kesempatan dan terlebih setiap kali kami anak-anaknya akan berangkat merantau.

Sesaat sebelum saya berangkat, kami bertiga menyempatkan diri kembali menyatukan kedua tangan, menundukkan kepala dan ibu memanjatkan doa permohonan khusus untuk keberangkatan saya.

Ibupun turut mengantar saya hingga ke terminal, dan disanalah kami berpisah. Ibu memeluk saya dan berpesan agar saya menjaga diri dan segera memberikan kabar sesampainya saya di tempat yang saya tuju. Ibu tidak menangis seperti ketika abang dan kakak saya dulu pergi merantau. Mudah-mudahan ibu tetap tidak menangis bahkan setelah saya pergi dan ibu kembali ke rumah.

Tujuh tahun sudah waktu berlalu, poda itu masih tetap saya jaga di dalam hati saya.

Demikianlah PODA atau nasehat telah menyirami hidup saya hingga saya bisa menjadi apa saya sekarang ini (walaupun saya belum menjadi apa-apa dalam ukuran saya). Nasehat menjaga saya dari bahaya, memotivasi dan menyemangati saya, menghibur dikala sedih, mengingatkan disaat keliru, membangkitkan saya dikala jatuh, memberi solusi disaat masalah datang.

Saat ini saya melihat ada pergeseran makna dari sebuah nasehat. Kehidupan yang berlangsung sekarang ini menjadi suka-suka tanpa aturan. Anak-anak tidak lagi membutuhkan nasihat. Mereka hanya memerlukan rupiah yang bisa mereka gunakan untuk membeli kesenangan bahkan apa saja yang mereka suka. Orang tua tak lagi memiliki waktu untuk menasihati anak-anaknya. Mereka sibuk, sibuk dan sibuk.

Saya sungguh prihatin dengan keadaan ini. Banyak anak-anak yang melarikan diri dari orang tua. Sianak lebih betah berlama-lama diluar rumah, bersama-sama dengan teman-temannya. Mereka pulang jika hanya jika uangnya habis. Orang tua juga menganggap bahwa kewajibannya kepada anak hanya lah sebatas memberikan materi. Uang. Mereka tidak peduli apakah anak sedang di rumah atau tidak.

Mengapa ini terjadi…?

Banyak alasan.

Alasan orang tua
Jaman sudah berubah….!
Anak-anak sudah disekolahkan, diberikan segudang les…!
Ada pembantu yang menjaga anak-anak…!
Anak-anak lebih pintar dari orang tuanya…!

Alasan anak-anak
Sekarang jaman modern, globalosasi….!
Segala sesuatu hanya bisa diselesaikan dengan uang…!
Teman lebih penting dari orang tua…!
Nasehat bisa dicari di TV, majalah dan internet…!
Orang tua berpikirnya kuno….?

Benarkah alasan orang tua itu…?
Benarkah alasan anak-anak itu…?

Tidak….!
Baik orang tua, maupun anak hanya mencari-cari alasan untuk melepaskan tanggung jawab.

Kehidupan yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar jauh berubah dari 100 tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, setahun yang lalu, bahkan dari hari kemarin. Perubahan berlari begitu kencang.
Kalau dulu orang-orang masih berkirim surat untuk memberikan kabar, sekarang orang tinggal mengirimkan sms dan saat itu juga pesan akan sampai ke orang yang akan dituju. Atau mengirimkan e-mail, bahkan ke ujung dunia manapun akan bisa dijangkau. Kalau dulu kita membutuhkan waktu berhari-hari naik bis atau naik kapal menuju satu tempat yang jauh, sekarang pesawat dapat membawa kita hanya dalam hitungan jam, bahkan hitungan menit. Kalau dulu orang berdesak-desakan dipasar untuk membeli keperluan sehari-hari, sekarang sudah banyak supermarket yang akan menampung semua pengunjung dan pembeli. Kalau dulu anak-anak harus membuat sendiri barang-barang mainannya, sekarang tinggal membeli di toko, atau tinggal membuka layar digital dan memainkannya.

Demikianlah perubahan terus terjadi dan bergerak semakin cepat. Perubahan ini telah membawa pegaruh besar bagi orang-orang yang hidup di dalam perubahan itu. Pengaruh yang terjadi ada yang positif, tetapi banyak juga pengaruh negative. Banyak orang yang kaget dengan perubahan tersebut. Mereka beranggapan kalau perubahan itu adalah dewa penyelamat yang akan merubah kehidupannya ke kehidupan mimipi yang menyenangkan. Sering kali mereka lupa kalau perubahan itu adalah suatu keadaan yang harus disikapi dengan bijak. Perubahan itu bukan tuan yang harus disembah, tetapi hamba yang harus di atur dan dimanajemen dengan benar.

Keadaan ini memang telah diperkirakan beribu-ribu tahun yang silam. Raja Salomo salah satu orang yang telah memperkirakan dan memikirkan akibatnya, sehingga dia menuliskan banyak pesan kepada orang-orang agar bisa menjalani perubahan itu dengan baik dan benar. Kalau kita simak dan renungkan dengan dalam, semua pesan dan nasihat yang dituliskan Raja Salomo akan tetap berlaku di setiap masa,bahkan sampai jaman yang paling modern sekalipun.

Sesungguhnya apa yang dipesankan Salomo bukanlah sesuatu yang luar biasa, bukan pula sesuatu yang rumit dan susah dimengerti, melainkan sesuatu yang sederhana, bahkan saking sederhananya,banyak orang yang menyepelekannya.

Apa susahnya menasihati anak, apa susahnya bangun pagi-pagi, apa susahnya menghormati yang lebih tua, apa susahnya berbicara dengan santun, apasusahnya berpakaian dengan sopan, apa susahnya berhemat, apa susahnya menegur orang yang melakukan kesalahan, apa susahnya memaafkan kesalahan orang lain, apa susahnya memberikan senyuman, apasusahnya mengucapkan terimakasih, apa susahnya tidak korupsi, apa susanya menjaga kebersihan, apa susahnya rajin bekerja, apa susahnya mengasihi orang lain…?

Tidak susah….

Tetapi karena tidak susah, banyak orang yang menyepelekannya dan ada yang menganggap hal-hal seperti itu adalah kuno, kolot dan tidak modern.

Akhirnya…kalau kita mau menjalani kehidupan yang lebih berkwalitas dalam ukuran kehidupan yang sebenarnya dan ukuran TUHAN, baiklah kita kembali kepada hal-hal sederhana seperti apa yang dinasihatkan Raja Salomo. Baiklah para orang tua memberikan nasihat kepada anak-anaknya sebagaimana salah satu kewajiban seorang orang tua. Biarlah nasihat selalu mengalir dari mulut orang tua untuk mengawal anak-anaknya mengarungi kehidupan yang sungguh berubah ini. Biarlah orang tua memberikan waktu terbaikknya kepada anak-anaknya lebih dari kepada siapapun. Biarlah orang tua menjadi teman terbaik bagi anak-anaknya, tempat bertanya, tempat mengadu dan tempat berlindung dan biarlah orang tua menjadi idola terbaik bagi anak-anaknya.

Anak-anak juga, patuhlah kepada orang tuamu. Anak-anak harus sadar bahwa anak tidak bisa memilih dari orang tua mana dia lahir . Yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan orang tuanya manjadi orang tua terbaik bagi dirinya. Pahamilah, kasih sayang orang tuamu jauh lebih berharga dibanding segudang rupiah yang diberikannya kepadamu. Belajarlah menyenangkan hati orang tuamu. Orang tuamu tidak menuntut macam-macam dari kamu. Mereka tidak meminta bayaran atas semua kebutuhanmu yang telah mereka penuhi. Mereka tidak meminta kelak dihari tuanya kamu membiayai sisa hidup mereka. Mereka hanya menginginkan agar kamu patuh kepada nasehat mereka.

Alangkah indahnya bila anak, ibu dan bapak hidup rukun, melakukan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Baiklah bapak benar-benar menjadi bapak, ibu benar-benar menjadi ibu dan anak benar-benar menjadi anak.

Alangkah bahagianya bila dimalam hari bapak, ibu dan anak berkumpul menikmati makan malam yang telah dimasak oleh sang ibu. Sebelum makan semua menundukkan kepala, melipat tangan dan sibapak memimpin doa ucapan syukur ke Sang Pencipta. Dalam suasana hangat saling berbagi dan meikmati makanan. Setelah makan, semua anggota keluarga mengutarakan pengalamannya hari itu, pengalaman sedih, gembira, lucu, berbagi tawa, berbagi cerita dan bersama-sama mencari solusi bila ada masalah yang tidak bisa diatasi sendiri. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anak. Dan terahir berdoa meminta kekuatah dan pertolongan TUHAN untuk menjalani esok hari.

Mungkinkah……….?

Poda 6: 20-29
6:20 Ale anaha, sai radoti ma tona ni amangmu, jala unang tulakkon poda ni inangmu.
6:21 Duduk ma angka i tongtong tu bagasan roham, jala horunghorungkon tu rungkungmu.
6:22 Molo mardalani ho, ingkon i ma mangiringiring ho; molo modom ho, ingkon i ma mangaramoti ho; jala ia dungo ho muse, ingkon * i ma donganmu mangkatai.
6:23 Ai * sulusulu do tona i, jala patik i do panondang, jala dalan tu hangoluan do angka pinsangpinsang ni pangajaron.
6:24 Laho mangaramoti ho maradophon parompuan parjahat dohot maradophon dila elaela ni sibabijalang.
6:25 Unang ma mangapian roham di hinaulina, jala unang tarjorgong ho binahen ni pangkirdop ni salibonna.
6:26 Ai binahen ni parompuan sibabijalang sahat iba tu roti sanseat sambing, jala jolma ni halak sileban mangago tondi na arga i.
6:27 Tung tarpatuba halak ma api di gedekgedekna, so soksohanna angka ulosna?
6:28 Tung tarbahen halak ma mardalan di atas gara ni api, so matutung patna?
6:29 Laos songon i do manang ise na manopot jolma ni donganna: Ndang tarbahen so manginsombut tu ganup na jerjer jamajama.
Martua ma halak na umbege Hata ni Debata jala naumpeopsa.

Pulogadung, 15 juni 2008

Inanguda Pahae

Hari itu adalah hari libur sekolah. Saya dan abang Ben sedang membuat pagar di sebidang tanah berjarak tiga rumah dari rumah kami. Matahari hampir berada di atas ubun-ubun ketika sebuah bis berhenti di depan rumah kami. Seorang ibu dan seorang anak laki-laki turun dari bis tersebut. Beberapa bungkusan dan karung diturunkan juga dari bis tersebut. Seketika itu juga kami menghentikan kegiatan membuat pagar dan menyongsong ibu tersebut. Dia adalah adik ibuku yang kami sebut dengan Inanguda Pahae. Kami menyebut demikian karena inanguda tersebut tinggal di Pahae, yaitu satu daerah di kabupaten Tapanuli Utara.

Dengan terlebih dahulu menyapa, kami membantu mengangkat barang bawaan inanguda tersebut ke rumah kami. Ada durian, ada petai dan beberapa bawaan lainnya yang dibawa inanguda sebagai oleh-oleh. Inilah kali kesekian aku bertemu dengan inanguda Pahae. Saya jarang ketemu dengan inanguda itu karena memang dia jarang datang ke rumah kami dan saya tidak pernah datang ke rumahnya di Pahae. Waktu itu bagiku Pahae adalah sebuah negeri yang sangat jauh dari kampungku.

Sebelumnya saya mengetahui tentang inanguda itu dari cerita orangtua dan kakak-kakakku. Ketika gadis, inanguda itu tinggal di Siantar bersama dengan Oppung (orangtuanya). Di Siantarlah inanguda itu berkenalan dengan seorang laki-laki marga Sinaga yang kemudian menjadi suaminya dengan cara kawin lari atau dalam istilah batak mangalua, karena mempelai laki-laki tidak memiliki cukup biaya untuk mangadati dan juga oppungku tidak menyetujui hubungan mereka.

Setelah menikah mereka masih tinggal di Siantar, karena amanguda itu bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan rokok di Siantar. Namun tidak begitu lama, amaguda itu mulai sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja lagi di perusahaan rokok tempat dia bekerja. Kemudian mereka pulang kampung ke kampung amanguda itu di Pahae. Di Pahae mereka bekerja sebagai petani mengolah tanah warisan dari orangtua amanguda. Selain itu mereka juga bekerja mengumpulkan getah kemenyan yang ada di hutan di daerah itu. Dari getah kemeyan inilah penghasilan terbesar mereka, walaupun jumlahnya hanya cukup buat kebutuhan rumah saja.

Pertama kali saya bertemu dan mengenal inanguda itu, saya heran melihat wajahnya yang keras dan kelihatan lebih tua dari ibu saya. Saya semakin heran melihat rokok yang dihisapnya yaitu rokok yang dilinting sendiri terbuat dari daun tembakau. Mereka menyebutnya dengan timbaho bakkal. Menurut inanguda itu banyak orang dewasa termasuk ibu-ibu di Pahae mengkonsumsi rokok timbaho bakkal itu untuk mengusir nyamuk dan menghangatkan badan ketika mengumpulkan getah kemenyan di hutan.

Sejak mereka tinggal di Pahae, penyakit yang diderita amanguda itu tidak pernah sembuh. Pernah satu ketika kami mendapat kabar kalau amanguda itu meninggal dan keluarga yang ada di kampung berangkat ke pahae untuk menghadiri acara adat kematian amanguda itu, tetapi ternyata amanguda itu belum meninggal, hanya saja penyakitnya semakin memburuk. Beberapa tahun kemudian amanguda itu meninggal. Dia meninggalkan inanguda, tiga orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki. Sejak saat itu Inanguda pahae menjadi orang tua tunggal yang mengasuh keempat anaknya.

Kedatangan inanguda kali ini, selain karena rindu dengan kami keluarganya yang ada dikampung, dia juga mau menjual hasil kebunnya yaitu petai. Inanguda itu membawa beberapa karung petai dan dia minta tolong ke ibuku untuk membantu dia menjualnya. Ibuku selalu mengomel setiapkali ada saudara yang datang minta bantuan ke rumah kami, walaupun pada akhirnya dia pasti akan memberikan bantuan semampu keluarga kami. Selain karena ibuku tidak tega, juga karena desakan bapak agar ibu jangan pelit untuk memberikan bantuan terutama kepada saudara dekat.

Begitulah cara inanguda itu untuk menambah penghasilan. Penghasilannya dari mengumpulkan getah kemenyan di hutan ternyata masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka berlima. Kadang aku berpikir kehidupan tidak adil buat inanguda ku ini. Perjuangannya yang begitu keras tergambar jelas pada gurat-gurat wajahnya. Jerih payahnya untuk menyekolahkan anak-anaknya tidak berbuah semanis yang didambakan.

Satu hal yang luar biasa kutemukan pada inangudaku ini, ia mampu menertawakan kesusahan yang dia alami. Ia tidak sungkan-sungkan menceritakan segala penderitaannya dengan cerita lucu yang membuat saya ikut tertawa mendengarnya. Salut buat inanguda, tetap semangat. Saya yakin kebahagiaan akan selalu bersama inanguda.

PAGODA PARAPAT

PAGODA PARAPAT
Pagoda yang ada di kota Parapat bukanlah pagoda sebagaimana umumnya kita ketahui berupa bangunan bertingkat-tingkat menyerupai menara yang banyak terdapat di Thailand. Pagoda yang ada di Parapat adalah berupa sebuah lapangan terbuka dan sebuah rumah panggung tradisional Batak Simalungun. Saya tidak tahu mengapa tempat ini disebut dengan nama pagoda.

Tempat ini juga disebut dengan ‘Open Stage’ yang artinya lapangan terbuka. Tempat ini memang merupakan lapangan resmi yang digunakan oleh pemerintah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, layaknya lapangan merdeka atau alun-alun di tempat lain. Di lapangan inilah upacara 17 Agustus atau upacara/acara “kenegaraan” se-kecamatan Girsang Sipanganbolon dilaksanakan. Di lapangan ini juga dilaksanakan acara puncak Pesta Danau Toba setiap tahun. Selain acara-acara pemerintah, lapangan ini juga digunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat meyelenggarakan upacara adat, khususnya upacara adat pernikahan. Pentas kesenian sekolah juga sering dilakukan di lapangan ini. Selebihnya tempat ini digunakan anak-anak untuk tempat bermain.

Saya tidak tahu kapan persisnya Pagoda ini dibangun dan mulai digunakan sebagai lapangan resmi pemerintah, namun dari penampakannya terutama dari bangunan rumah adatnya, saya yakin tempat ini sudah ada lama sekali. Saya pertama kali ke lapangan ini ketika saya masih duduk di bangku kelas satu SD tahun 1982. Kala itu semua murid dari sekolah kami harus ikut merayakan 17 agustus di lapangan ini bersama semua sekolah sekecamatan. Sejak saat itu, saya mengagumi tempat ini. Lapangannya yang dikelilingi oleh lereng berumput hijau, rumah panggungnya yang gagah dengan berbagai ukiran gorganya, latar belakang Danau Tobanya dan yang lainnya membuat tempat ini semakin mengagumkan.

Lapangan ini sangat berbeda dibandingkan dengan banyak lapangan di tempat lain. Salah satu keunikan dari lapangan ini adalah kontur tanah yang mengelilinginya. Pada bagian utara dan barat berkontur miring menanjak, sementara bada bagian yang lain konturnya rata menuju ke danau toba. Kontur ini membentuk pagoda mirip stadion atau amphiteater setengah lingkaran. Bentuk yang sedemikian rupa ini memungkinkan banyak orang bisa menempati kontur yang miring itu untuk menyaksikan ketika ada pertunjukan di panggung yang ada di sana. Hal ini jugalah yang manjadi salah satu faktor mengapa tempat ini selalu menjadi tempat penyelenggaraan acara puncak Pesta Danau Toba. Tempat ini bisa menampung ribuan penonton, dan semua penonton dapat menyaksikan pertunjukan tanpa ada yang terhalang oleh penonton yang ada di bagian depan.

Selama saya duduk di bangku SMP, saya senang sekali kalau di tempat ini ada acara yang mengharuskan murid-murid dari sekolah kami menghadirinya, dan acara seperti itu cukup sering diadakan. Setiap kali acara selesai, saya tidak langsung meninggalkan tempat ini. Saya menyempatkan bermain bersama teman-teman, kadang sampai sore hari. Walaupun hanya bermain kejar-kejaran, menaiki balkon rumah adatnya melaui tangga berputar atau hanya sekedar bermain ayunan atau jungkat jungkit yang dulu ada di sana. Permainan akan kami akhiri dengan menceburkan diri ke air danau yang ada di pantai Danau Toba tidak jauh dari lapangan ini. Setelah puas menikmati dinginnya air danau, baru saya meninggalkan tempat ini dan pulang ke rumah yang jaraknya tidak kurang dari 10 km.

Sejak saya menamatkan sekolah menengah pertama, saya jarang datang ke lapangan ini, tetapi setiap kali datang ke Parapat, saya selalu menyempatkan ke lapangan ini walaupun hanya sekedar melintas menuju pantai Danau Toba yang ada di sana. Ketika saya kuliah saya semakin jarang datang ke lapangan ini. Namun ada satu kesempatan yang mengharuskan saya datang setiap hari ke tempat ini selama sebulan, yaitu ketika tahun 1998 ada kegiatan KKN dari kampus dimana saya kuliah. Saya bersama dengan tujuh teman saya ditempatkan KKN di kelurahan Tigaraja, dimana kantor kelurahan Tigaraja berada persis di belakang lapangan ini.

Selama saya KKN saya merasa lapangan ini menjadi kampung saya. Setiap pagi saya bersama teman-teman harus datang ke lapangan ini menemui Lurah. Di sore hari menonton teman-teman yang bermail bola dilapangan ini dan sebelum pulang ke posko mandi dulu di Danau Toba dan kadang-kadang mencoba keberuntungan memancig ikan. Disini juga saya mengenal seseorang bernama Doni. Doni dipercaya oleh Lurah untuk merawat pagoda. Sebagai konsekuensinya Doni diijinkan tinggal di lantai 2 rumah adat yang ada dilapangan itu. Selain merawat pagoda, Doni juga memelihara beberapa ekor kuda yang disewakan kepada wisatawan untuk berkeliling di sekitar pagoda dan pantai di sekitar pagoda. Di sela-sela kegiatan KKN kami sering ngobrol dengan doni di rumah adat pogoda ini sambil sekali-kali menikmati teh manis hangat dan pisang goreng yang kami beli urunan dari warung dekat lapangan itu.

Sejak saya mengenal lapangan ini sampai sekarang tidak ada perubahan yang signifikan. Perubahan yang pernah dilakukan hanyalah penambahan panggung di depan rumah adatnya, penambahan atap peneduh untuk penonton di beberapa tempat dan perubahan kecil lainnya. Namun bagi saya, semua perubahan ini tidaklah menambah pagoda ini semakin cantik, malah semakin semberaut. Apalagi dengan dipasangnya atap panggung di depan rumah adat, telah menghalagi keanggunan rumah adat panggung yang berdiri kokoh di belakangnya. Dua buah papan besar di kiri kanan rumah adat juga sangat mengganggu pemandangan. Demikian juga dengan tiang-tiang lampu penerang lapangan yang berdiri tak beraturan. Belum lagi kebersihan dan keasriannya yang semakin berkurang. Saya tidak tahu apakah pemerintah disana merasakan seperti apa yang saya rasakan. Semakin hari lapangan ini kian gersang.

Saya berharap pagoda kembali ke keadaan sekitar tahun 80-an, asri, rapi, bersih dan yang terutama karakter rumah adatnya jelas terlihat dan tidak diganggu oleh aksesoris atau banguna tambahan lain yang tidak selaras dengan rumah adat tersebut. Seandainya mau di tambah dengan fasilitas lain harus disesuaikan dengan karakter yang sudah ada. Biarlah karakter pagoda tetap ada menyimpan berjuta kenangan orang-orang yang pernah singgah di sana. Saya sangat berharap pemerintah memeliharanya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai satu saat pagoda ini berpindah tangan ke investor dan mengubahnya menjadi Hotel, Resort, atau peruntukan yang lain.

IRONI

Belakangan ini semakin banyak saya lihat di internet pembahasan mengenai keadaan di daerah “Bona Pasogit”-nya orang batak. Daerah ini mencakup Tapanuli, Toba, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi dan daerah-daerah di sekita Danau Toba. Sebagian besar pembahasan itu menyatakan bahwa daerah tersebut mengalami ketertinggalan dibanding dengan daerah lain di Indonesia.

Saya tidak tahu pasti apakah keyataan yang sesungguhnya memang benar-benar memprihatinkan, namun kalaulah memang benar demikian, alangkah menyedihkannya. Daerah yang telah melahirkan banyak orang sukses di negeri ini bahkan di luar negeri menjadi daerah yang tertinggal adalah sebuah ironi. Seharusnya daerah ini adalah daerah yang paling makmur di negeri ini, karena telah terlahir dari sana orang-orang hebat yang bahkan bisa mengubah dunia.

Ketika saya masih tinggal di kampung, saya melihat bagaimana para orang tua di sana bekerja sangat keras untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Mereka seakan tak kenal lelah membanting tulang agar anak-anaknya bisa menjadi orang hebat. Namun ketika si anak itu telah berhasil menjadi orang hebat, mereka akan tinggal di tempat yang jauh dan membangun daerah di mana mereka tinggal. Demikianlah bona pasogit tidak pernah menjadi daerah yang lebih baik karena orang-orang hebat yang lahir dari sana kurang memperdulikannya.

Dari sekiaan banyak bahasan mengenai ketertinggalan bona pasogit yang saya baca di internet banyak membahas solusi untuk membangun daerah tersebut. Dari hasil pembahasan itu memang banyak yang hanya sebatas wacana dan hanya sedikit yang direalisasikan. Tetapi semuanya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Menurut saya hal ini disebabkan kurangnya pemahaman dan kesadaran mengenai betapa bona pasogit menjadi bagian yang sangat penting bagi keberhasilan para orang hebat itu. Coba kita pikirkan seandainya para orang tua di bona pasogit tidak mau menyekolahkan anak-anaknya, apakah anak-anak itu akan menjadi orang hebat…? Bisa jadi ada yang menjadi orang hebat, tetapi jumlahnya akan sangat sedikit.

Sesungguhnya pemahaman dan kesadaran ini yang harus segera dibangkitkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Bagaimana caranya…? Serahkan saja pada pakarnya. Sudah banyak orang batak yang ahli dibidang itu. Setelah pemahaman dan kesadran tu bangkit lalu apa yang harus dilakukan…? Sederhana sekali. Para orang batak yang telah sukses itu melakukan gotong royong sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pikiran sederhana saya mengatakan, inilah cara terbaik untuk memajukan bona pasogit.

Dalam gotong royong itu tentu saja dibutuhkan biaya. Darimana biayanya…? Tentu saja biayanya dari para orang batak yang sukses itu. Kalau kita mendata, pasti ada lebih dari satu juta orang batak yang telah bermukim di bumi ini. Baiklah kita anggap satu juta saja. Apabila kita mengumpulkan dana 1% saja dari penghasilan orang batak yang jumlahnya satu juta itu, sudah beraba banyak dana yang terkumpul. Misalkanlah penghasilan rata-rata mereka sebesar 2 juta perbulan, maka dana yang terkumpul adalah 20 milliar perbulan. Dengan dana sebesar ini sangat banyak yang bisa dilakukan untuk membangun bona pasogit.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mendorong para pengusaha batak membuka usahanya di bona pasogit. Sangat banyak peluang usaha yang menjanjikan yang bisa dilakukan di sana seperti usaha pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, pendidikan, kesenian, kebudayaan dan banyak lagi. Usaha-usaha ini akan menyerap tenaga kerja dan selanjutnya akan meningkatkan perekonomian masyarakat di sana. Para lulusan perguruan tinggi juga harus didorong menjadi pelopor yang mau tinggal di bona pasogit dan mencari peluang disana untuk dikembangkan. Saya tidak mengatakan para lulusan perguruan tinggi itu mengabdikan dirinya di bona pasogit, tetapi mencari peluang yang ada disana untuk dikelola dan dikembangkan sehingga tercipta sibiosis mutualisme. Dengan demikian mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik di bona pasogit dibanding mereka tinggal di tempat lain.

Saya membayangkan sepuluh tahun yang akan datang saya tidak lagi menemukan diskusi-diskusi diinternet yang membahas ketertinggalan daerah bona pasogit, melainkan orang-orang akan berbicara tentang kemajuan bona pasogit dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal disana. Mungkin mimpi saya ini sama dengan mimpi banyak orang batak lainnya. Semoga mimpi-mimpi ini menemukan kekuatannya untuk bereinkarnasi menjadi kenyataan indah.