Aku Bahagia:-)

Bahagia…?.

Kebahagiaan milik semua orang tanpa terkecuali. Ia hadir setiap saat, di semua tempat. kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya, tetapi mengapa banyak orang yang merasa tidakbahagia? Kita tidak tau kalau krbahagiaan itu ada disekitar kita dan setiap saat. Kita sering kali berpikir kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat yang entah dimana dan disuatu waktu yang entah kapan. Karena itu kita sering berlari mengejar kebahagiaan itu, sampai-sampai kita letih, tetapi kebahagiaan itu rasanya makin jauh. Akhirnya kadang disaat kelelahan kita, kita akan berpikir kalau kebahagiaan itu bukan milikorang separti kita. Akhirnya kita menerima ketidakbahagiaan sebagai takdir. Padahal kita salah.

Kebahagiaan bukanlah masalah apayang kita miliki, tetapi bagaimana kita menyikapi apapun yang ada di sekitar kita. Kebahagiaan hanyalah masalah pikiran dan perasaan. Pikirkan dan rasakanlah hari ini bahagia (apapun keadaannya) maka hari ini akan benar-benar jadi hari yang membahagiakan. Pernahkah kita meluangkan sedikit waktu untukmemperhatikan sekeliling kita…? Apa yang bisa kita lihat..? Ternyata banyak hal di sekitar kita yang sering luput dari perhatian kita. Anak kita yang sudah bisa merangkak, isteri yang lagi menyiapkan hidangan makan malam, sahabat yang tersenyum disaat bertemu, orang tua yang menyebut namakita dalam doanya, sinar matahari yang mengintip dibalik jendela pagi hari, hujan yang menyentuh genteng rumah dengan suara gemericik, sms yang kita terima dari seseorang dan banyaklagi. Itu semua adalah kebahagiaan. Rasakanlah, nikmatilah, rayakanlah dan syukurilah maka esok akan lebih banyaklagi kebahagiaan yanh menyentuh hidup anda.

Jadi siapapun anda, apapun yang andamiliki dan bagaimanapun keadaan anda, jadilah bahagia. Kebahagiaan adalah hak anda, hak saya dan hak kita semua.

my wonderfull office, 25 juni 2008

sangMatahari

Iklan

senja di the plaza semanggi

Kemarin 7 juni 2008 adalah sebuah hari yang ditunggu banyak orang, pesta bola terakbar tahun ini dimulai, yaitu EURO 2008. Yang mau aku ceritakan disini bukanlah cerita tentang bola tersebut, melainkan sebuah kegiatan yang biasa-biasa saja.

Jakarta adalah kampung yang sangat besar, tempat berkumpulnya jutaan manusia dari penjuru nusantara. Bisa aku pastikan seluruh daerah, suku,budaya, bahasa dan semua yang ada di Indonesia pasti terwakili disini. Tidak terkecuali batak dengan segala budayanya.

Hari Sabtu adalah hari yang istimewa bagi hampir semua orang batak yang ada di Jakarta. Hari sabtu merupakan pilihan paling tepat melangsungkan ritual budaya, khususnya budaya adat pernikahan. Hari Sabtu kemarin aku diajak abangku memenuhi undangan sebuah pernikahan. Sebenarnya ada 2 undangan pernikahan yang diterima abangku, tetapi karena waktunya bersamaan, tidak mungkin kedua undangan itu dipenuhi. Abangku memilih memenuhi undangan yang di Gedung Sejahtera, sedangkan yang di restu, biarlah Tulang nainggolan yang mengatasinya.

Kami tiba di Gedung Sejahtera sekitar pukul 13 lewat dan acara mankan sudah dimulai, tetapi masih banyak kursi yang kosong, sehingga kami tidak susah mencari tempat untuk mengikuti acara makan tersebut. Perut yang sengaja dikosongkan dari rumah, pas sekali dengan menu yang terhidang di meja. Nasi putih, sangsang, naniarsik, daun singkong, ayam panggang dan pisang barangan. Tanpa banyak bicara aku lansung mengikuti ritual makan bersama itu, tidak lupa terlebih dulu aku mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, karena kami tiba sesaat setelah doa makan selesai. Acara makan itu diiringi oleh alunan music dan lagu-lagu batak, namun sayang sekali saund systemnya distel kencang sekali hingga memekakkan telinga. Seandainya music itu mengalun dengan volume yang pas di telinga, pasti acara makan ini akan jauh lebih nikmat. Aku mengimpikan suatu saat bila Tuhan mengijinkan aku melakukan acara separti ini, aku ingin musiknya ditata dengan baik dan pas di telinga……he…he…he… semoga. Tapi biarlah, toh yang lain asik-asik aja.

Selesai makan aku bertemu dengan saudara-saudara yang lain, salaman, ngobrol dan selanjutnya pindah tempat duduk untuk mengikuti acara berikutnya.

Aku tidak berlama-lama disana, aku pamit pada abangku karena aku ada janji dengan temanku jam 16 di semanggi. Dari Sejahtera naik angkot kwk ke UKI Cawang melalui tol taman mini. Dari cawang naik Bis patas 6 turun di semanggi. Aku langsung ke plaza semanggi. Di sana singgah sebentar di Gramedia. Setiap kali mengunjungi mal atau tempat-tempat keramaian, aku selalu singgah di toko buku yang ada di tempat tersebut. Aku berterima kasih kepada toko-toko seperti gramedia, gunung agung, Immanuel, Hosana dan toko-toko buku yang lain, karena merekahlah aku bisa belajar banyak hal. Hanya di tempat-tempat seperti itu aku bisa berlama-lama dan sampai lupa waktu.

Aku tiba di plaza semanggi pukul 15.30, tiga puluh menit kemudian aku naik ke lantai 10. Wooowwww……indah sekali. Ini pertama kali aku kesana. Tempat makan yang sengaja ditempatkan di puncak plaja semanggi. Dari sana kita bisa melihat ke sekitar jalan sudirman dan gatot subroto. Gedung gedung tinggi di sepanjang sudirman jelas terlihat. Gedung yang paling jelas terlihat dari posisi dimana aku duduk adalah Sampoerna Strategic Square (dulunya gedung bank danamon), terlihat jelas dari bawah sampai ke lantai paling atas tanpa ada yang menghalangi. Aku selalu kagum setiap kali melintas di depan gedung ini. Gedung dengan dua menara yang tinggi dengan halaman luas yang ditata sedemikian rupa menjadi taman (tamannya masih dalam tahap pembangunan). Sekali lagi, pemendanagn kota Jakarta dari tempat ini cukup menarik, walaupun masih jauh lebih indah pemandangan di tempat yang waktu kecil aku anggap biasa-biasa saja, tetapi ternyata sangat luar biasa yaitu danau toba.

Tidak lama kemudian temanku datang. Kami segera memesan makanan. Aku pesan mie goreng ayam, jus jeruk dan air mineral. Temanku memesan mie kuah ayam dan teh manis dingin. Setelah pesanan terhidang dimeja, tercium aroma yang sangat enak. Tak usah lah aku membandingkan mana yang lebih enak makanan yang sekarang ada di hadapanku atau tadi di gedung sejahtera. Ke duanya mempunyai cirri khas masing-masing dan keduanya sama-sama enak. Satu hal yang harus aku bandingkan antara makan di gedung sejahtera sebelumnya dengan makan di plaza semanggi ini adalah musikyang menemani makan tersebut. Kalau di gedung sejahtera music membuat selera makan berkurang, di plaza semanggi music ditata sedemikian rupa sehingga sangat pas di telinga.

Sambil menikmati makanan yang enak itu,kami mengobrolkan banyak hal, tentang pekerjaan, tentang sekolah, saudara, teman, makanan dan lain-lain. Tidak terasa matahari sudah berlari ke barat dan sekejap hilang dari pandangan. Langit yang tadinya biru berganti jadi abu-abu, kemudian hitam dan malampun datang menyapa Jakarta.

Kalau tadi pemandangan cukup indah, sekarang ternyata lebih indah lagi. Lampu warna-warni membuat warna Jakarta lebih cantik, lebih semarak dan lebih romantis. Sayang sekali aku tidak membawa kaca mata yang baru mulai aku pakai sebulan yang lalu. Pasti keindahan ini akan lebih jelas terlihat. Tujuh tahun sudah aku bernaung di bawah langit ibu kota ini, tapi baru kali ini aku melihat langsung Jakarta dari sudut yang berbeda. Dari sebuah tempat yang setiap hari kulalui tapi baru kali ini aku singgahi.

Terima kasih kawan.

Kamu telah menunjukkan padaku satu sudut ibu kota yang belum pernah aku lihat. Mungkin bagi banyak orang ini adalah hal yang biasa, tetapi buatku ini sesuatu yang istimewa.

Senja di puncak “The Plaza Semanggi” penuh makna.

Janji…. Aku pasti akan kembali ke sana.

Istana kecilku, 7 juni 2008

sangMatahari

SATU HARI DI ALUN-ALUN KOTA BANDUNG

Waktu masih menunjukkan jam 10.50. Ada jam digital besar di dalam mesjid raya jawa barat yang dapat aku lihat dengan jelas dari tempat dimana aku duduk. Aku duduk di tembok sekaligus pagar yang mengelilingi alun-alun kota Bandung. Aku duduk dibawah naungan pohon-pohon besar yang tumbuh berbaris di sisi depan alun-alun itu. Dari ukurannya, usia pohon itu pasti sudah puluhan tahun. Bahkan munkin pada jaman penjajahan, pohon-pohon itu sudah ada disana. Seandainya mereka bisa berbicara, mungkin kita bisa bertanya tentang apa saja yang terjadi di sana, tentang sejarah, tentang perkembangan kota bandung dari jaman dulu sampai sekarang. Pohon-pohon yang setia menaungi siapa saja yang mau berlindung di bawahnya. Kita perlu belajar pada pohon-pohon itu tentang kerelaan memberi tanpa syarat.

Hari itu ada beberapa orang yang lagi duduk-duduk di sana. Kira-kira dua puluhan orang. Aku duduk disana sekitar setengah jam. Aku sempat memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Ada pedangang asongan yang menjual minuman botol, menjual buah, makanan ringan, rokok,dan lain-lain. Ada tukang foto, ada anak sekolah. Tetapi yang paling banyak adalah orang-orang yang aku tidak tau apa kerjaan mereka di sana. Mungkin juga banyak dari mareka sama seperti aku, datang ke sana hanya untuk sekedar istirahat dibawah rindangnya pohon, sekalian memandang bangunan mesjid raya jawa barat dengan dua menaranya yang menjulang tinggi.

Semakin lama jumlah orang disana makin bertambah, dan tembok panjang dimana aku duduk makin penuh. Aku yakin sebagian besar orang-orang tersebut tidak sedang bekerja. Yang sedang bekerja disana paling pedagang asongan dan juru foto itu. Aku sempat berpikir seandainya orang-orang ini dimasukkan dalam satu pabrik, sudah berapa banyak barang yang bisa dihasilkan. Seandainya orang-orang ini di ajak ke sawah, sudah berepa luas lahan yang bisa digarap. Ini baru orang-orang yang ada di alun-alun kota bandung. Bagaimana dengan alun-alun kota jogja, alun-alun kota semarang, Jakarta, Surabaya dan semua kota provinsi yang jumlahnya 33, demikian juga kota kabupaten dan kecamatan yang jumlahnya bisa sampai ribuan. Disana juga pasti banyak orang-orang yang sedang tidak bekerja seperti di alun-alun kota bandung ini.

Pantas saja Negara ini tidak maju-maju. Penduduknya banyak yang malas. Kerjanya hanya duduk-duduk di bawah pohon rindang (mungkin termasuk aku juga). Banyak penduduk yang mengeluhkan kehidupan yang semakin sulit. Mahasiswa berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban pemenrintah atas kesusahan ini. Banyak masyarakat yang hanya bisa menuntut dan mengeluh,tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki hidupnya. Mereka hanya bermimpi agar pemerintah menjadi malaikat penolong yang bisa memenuhi keinginan rakyat tanpa rakyat bekerja.

Kembali aku memperhatikan orang-orang di alun-alun itu. Aku melihat tukang foto itu. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menyapa orang-orang dan menawarkan jasa foto. Dari wajahnya, umurnya mungkin lebih dari 60 tahun. Mungkin bisa jadi lebih muda, tetapi karena dibakar matahari setiap hari, menyebabkan tubuhnya lebih tua dari umurnya. Di lehernya tergantung sebuah kamera SLR yang juga sudah tua. Sebuah tas menggantung di pundaknya. Pastilah di dalamnya terdapat peralatan untuk foto juga. Kepalanya ditutupi oleh topi yang warnanya telah pudar. Tubuhnya dibalut oleh rompi empat saku yang warnanya sama pudarnya dengan topi yang ada di kepalanya.

Aku prihatin juga melihat tukang foto itu. Selama aku berada di sana tak satupun yang memakai jasa fotonya. Dia juga sempat menyapa aku dan menawarkan untuk difoto, tetapi saat itu aku juga membawa kamera yang aku beli setahun yang lalu. Jadi aku menolak tawarannya. Dari mana penghasilannya kalau tidak ada lagi orang yang mau dia foto? Dulu mungkin banyak orang yang menggunakan jasanya. Tetapi sekarang sudah lain. Orang sekarang lebih suka memoto sendiri, karena sudah banyak orang memiliki kamera sendiri (termasuk aku). Bahkan orang yang memiliki kamera film atau yang labih dikenal dengan handycam pun sudah banyak. Mungkin lebih baik tukang foto itu alih profesi saja. Tapi apa mungkin orang setua dia masih bisa memulai peofesi baru? (harusnya orang seusia dia sudah pensiun dan bersenang-senang menikmati sisa hidup) Atau mungkin dia termasuk orang yang setia pada profesi?. Tetapi lagi, untuk apa setia pada profesi kalau profesi itu tidak bisa menghidupi? Tidak bisa membuat hidup lebih baik dan sejahtera? Hanya tukang foto itu yang tau, dan dia masih setia dengan profesinya. Yang pasti dia tidak menghasilkan uang banyak dari pekerjaannya. Yang paling pasti lagi, pasti ada sesuatu kepuasan tersendiri dari hanya sekedar uang yang dia peroleh dari kesetiaannya pada profesinya. Kita perlu belajar tentang kesetiaan profesi kepada tukang foto itu.

Hari makin siang, sinar mata hari makin panas, orang-orang di sana makin ramai. Aku beranjak dari tembok tempat aku duduk. Aku meninggalkan alun-alun kota bandung itu, karena perutku sudah lapar. Aku bergegas menuju satu tempat makan di yogya mall. Di sana aku makan nasi rames ikan mas dan minum es kelapa muda. Maknyooosss.

Alun-alun kota bandung,

satu hari setelah 100 tahun kebangkitan nasional

sangMatahari

Senyum sejenak (judul film dlm bahasa batak)

Judul Film dalam Bahasa Batak :

1. Enemy at the gates — Matte ho, nga ro musuhi!

2. Remember the Titans — Ingot hamu partompaon i

3. The Italian Job — Parbola

4. Die Hard — Dang ra mate

5. Die Hard II — Tong, dang olo mate

6. Die Hard III —— Dang marna mate puang !!

7. Bad Boys — Si roa balangs

8. Sleepless in Seattle — Markombur di radio, diaboi modom?

9. Lost in Space — Dibondut banua holling

10. X-Men — Pantang so bilak

11. X-Men 2 — Tong sai pabilak-bilakhon

12. The Brotherhood of War — Manat Mardongan-tubu

13. Paycheck — Bayar habis panen ma i, bah!

14. Independence Day — Agustusan

15. The Day After Tomorrow — Haduan

16. Die Another Day — Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi..

17. Home alone — Nunga lao tu balian natorasna

18. Silence of the Lamb — Hambing Parhohom

19. Planet of the Apes — Huta ni angka Bodat

20. Gone in Sixty Second — Marimpot-impot

21. Original Sin — Na taboi puang … (hush)

22. Freddy vs Jason — Peredi VS Jekson

23. Air Bud — Panangga (biang)

24. How To Lose A Girl in 10 Days — Nunga ditopari haletna

25. Lord Of The Ring — Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? )

26. Deep Impact — Hansit naii

27. Million Dollar Baby — Ai sajuta arga ni Babi saonari?

(Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? )

28. Blackhawk Down — Lali lao manangkup manuk

29. Saving Private Ryan — (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.)

30. Dumb and Dumber — Lam Loakon

31. The Collateral — Si Padalan Hepeng

32. Braveheart — Parate-ate

33. Payback — Garar Utangmu

34. My Greek Big Fat Wedding — Muli sikobol-kobol

35. I Know What You Did Last Summer – Datu

36. I Still Know What You Did Last Summer – Berarti Datu Bolon Ibana

37. Cold Mountain — Dolok Sanggul

38. Drunken Master — Parmitu

39. Any Given Sunday — Marminggu Hamu puang

40. The Gift — Durung-Durung

41. Run Away Jury — Martabuni Ho Tulang

42. Step Mom — Inang Panirang-Nirangan

43. Lion King = Sisingamangaraja

44. Beautiful Mind = Nipi Nama i

45. Mr. Mrs. Smith = Smith Dohot Oroan na.

46. Stop or my mom will shoot — Par roha ina

47. Rest In Peace = Dison Do Maradian

Pohon Pisang di Belakang Rumah

Waktu aku anak-anak, di samping kiri belakang rumah kami ada serumpun pohon pisang. Jenis pisang itu adalah pisang kepok, tapi orang-orang di kampung kami mengenalnya dengan pisang sitabar. Aku lupa entah darimana ibuku mengambil bibitnya kemudian ditanam di situ. Kalau aku tidak salah bibitnya diambil dari anakan pohon pisang yang ada dipekarangan rumah Oppung Toruan. Oppung Toruan adalah inang tua ibuku yang tinggal sekitar 50 m ke arah toruan dari rumah kami. Kami biasa memanggil sanak saudara sesuai dengan nama tempat tinggal mereka seperti Oppung Siattar, Oppung Paropo, Namboru Parapat, Namboru Timuran, Amangtua Girsang, Amangtua Banua, Tulang Sitabu, Inanguda Pahae, Inanguda Bandarbetsi, Abang Ujungpandang dan sebagainya. Kapan-kapan aku akan ceritakan tentang mereka.

Kembali ke masalah pohon pisang itu. Menurutku pohon itu luar biasa, karena dia lebih subur dari semua pohon pisang yang ada di sekitarnya. Batangnya besar-besar dan tinggi-tinggi, buahnya banyak dan rasanya cukup manis, bahkan sering kami makan tanpa terlebih dulu dimasak. Padahal pisang jenis ini biasanya dikonsumsi setelah digoreng atau direbus. Pisang jenis ini bukanlah jenis pisang yang biasa langsung dimakan seperti jenis pisang ambon, barangan, singali-ngali atau yang lainnya.

Awalnya aku heran mengapa pisang ini lebih subur dari yang lain. Ternyata penyebabnya adalah karena persis dekat pohon pisang itu ada kandang babi. Kotoran dari kandang babi itu telah menjadi sumber gizi terbaik bagi kemakmuran pohon pisang tersebut. Antara pohon pisang dengan babi yang ada di kandang itu telah terjadi simbiosis mutualisme. Kotoran babi menjadi pupuk dan sebagian daun pisang dimakan babi. Mereka telah lama hidup rukun dan saling menguntungkan. Sekali-sekali manusia perlu belajar ke mereka tentang kerukunan.

Ada kebiasaan masa kecil yang sering aku lakukan dibalik pohon pisang tersebut. Aku sering kencing di balik pohonnya yang besar. Pohon itu sanggup menutupi aku dari pandangan orang yang munkin lewat. Sebenarnya waktu itu, kami sudah memiliki WC, tetapi karena jaringan air bersih belum ada, jadi kebutuhan air untuk WC itu kami ambil dari air hujan yang ditampung dari talang atap rumah dan dikumpulkan dalam satu bak. Bila musim hujan air memang melimpah, tetapi bila musim kemarau air di bak kami akan surut, bahkan kadang-kadang sampai kering. Nah disaat musim kemaraulah rumpun pohon pisang itu menjadi tempat kencing terbaik dan praktis bagiku. Ini kebiasaan yang tidak boleh ditiru.

Banyak keuntungan yang kami dapatkan dari pohon pisang itu, terutama dari buahnya. Setiap kali dia berbuah dan buahnya dipanen, kakakku atau ibuku akan memasak sebagian buahnya. Sebagian lagi kami makan tanpa dimasak dan sebagian lagi kadang dimakan oleh musang atau burung waktu masih tergantung di pohonnya. Kakakku cukup pintar mengolah buah pisang itu menjadi makanan yang enak, kadang digoreng, dikolak, digoreng jadi keripik, dibuat lappet (kami menyebutnya lappet pisang karena biasanya lappet terbuat dari tepung beras). Tetapi kalau ibuku yang mengolah pisang itu, paling hanya direbus “dibolgang”. Walaupun hanya direbus, rasanya tetap enak dan kami biasa membawanya ke ladang atau ke sawah menjadi penganan disaat istirahat.

Selain buah, daunnya juga kami manfaatkan. Daunnya bisa dijual ke pekan Tigaraja, atau digunakan menjadi bungkus lappet. Di rumah lumayan sering memasak lappet untuk makanan bila ada acara arisan, partangiangan, atau hanya sekedar dibawa ke ladang atau ke sawah sebagai pengganti roti. Di kampungku waktu itu masih jarang ada roti. Kalaupun ada di warung “kode” paling roti kelapa, roti bulan dan roti ketawa. Disebut roti kelapa, karena isinya adalah kelapa parut yang dicampur gula. Disebut roti bulan karena bentuknya bulat pipih persis seperti bentuk bulan disaat purnama. Disebut roti ketawa karena roti ini besarnya sebesar bola gof, tetapi kulitnya pecah-pecah seperti bibir orang yang sedang tertawa. Daun pisang ini juga sering digunakan abang dan kakakku untuk membungkus nasi bila mereka sekolah sore. Waktu itu belum ada tapper wear seperti yang dibawa anak TK jaman sekarang ke sekolahnya. Waktu itu ada kebiasaan sekolah sore, yaitu pelajaran tambahan pada sore hari di sekolah, satu atau dua bulan menjelang ujian akhir (EBTANAS). Pagi-pagi sekali abang dan kakakku akan menyiapkan bekal untuk makan siang di sekolah. Nasi dimasak diperiuk “hudon” diatas tungku “tataring” dengan bahan bakar kayu “soban”. Lauknya biasanya telur dadar atau ikan teri digoreng kering, kadang-kadang digoreng sambal. Setelah nasi dan lauknya matang, kemudian dibungkus dengan daun pisang yang telah disiapkan sebelumnya. Daun pisang ini kadang-kadang sudah terlebih dahulu dipanaskan di dekat api agar lebih lentur sehingga tidak robek bila digulung dan dilipat waktu membungkus. Proses ini harus dilakukan dengan cepat agar tidak terlambat tiba di sekolah. Jarak sekolah mereka dari rumah kami sekitar 10 km. Kehidupan waktu itu adalah susah untuk ukuran jaman sekarang, tetapi waktu itu kami bisa menikmatinya dan bahagia. Percaya atau tidak, aroma makanan yang telah dibungkus dengan daun pisang ini akan menjadi unik dan menambah selera makan.

Selain untuk membungkus makanan, daun pisang tersebut dipakai juga untuk alas bila ada kegiatan memotong babi atau kerbau. Kegiatan memotong ini dilakukan pada saat ada acara pesta atau pada saat natal dan tahun baru. Memotong babi atau kerbau pada saat natal dan tahun baru disebut marbidda. Babi atau kerbau dipotong dan dibagikan dengan bagian yang sama kepada seluruh warga. Untuk membuat bagian menjadi sama digunakan alat timbangan yang terbuat dari batang kayu berbentuk lengan yang sama panjang ke kiri dan ke kanan. Lain waktu akan aku ceritakan tentang marbidda ini.

Karena pohon pisang itu cukup tinggi, maka untuk mengambil daunnya harus memakai alat bantu. Pohon pisang bukanlah jenis pohon yang bisa dipanjat. Alat bantu itu adalah sebuah sabit yang diikatkan di ujung sebuah galah panjang. Galah diarahkan ke atas menuju pangkal pelepah daun pisang. Setelah sabit persis berada di atas pelepah, galah tiba-tiba dihentakkan dan pelepahpun akan terpotong dan jatuh ke tanah bersama daunnya. Pelepah dipisahkan dari daunnya, kemudian daun digunakan sesuai dengan keperluannya.

Sementara itu pelepahnya sering dibuang. Tetapi menurutku anak-anak disana termasuk kreatif. Pelepah daun pisang itu dapat dibuat menjadi mainan seperti mobil-mobilan, kuda-kudaan, tembak-tembakan dan satu lagi yang tidak ada nama bahasa indonesianya yaitu lapak-lapak. Disebut lapak-lapak karena mainan ini mengeluarkan bunyi mallapak. Menurutku anak jaman sekarang perlu juga mengetahui mainan-mainan tersebut sebagai bahan perbandingan dengan mainan yang mereka beli di toko, atau mainan yang sering mereka mainkan dilayar monitor.

Sepanjang yang aku tau, pohon pisang itu selalu memiliki anakan yang bayak. Tetangga sering mengambil satu atau dua anakannya untuk mereka tanam diladang atau pekarangan rumah mereka. Mereka mengambilnya bukan membelinya. Dalam kehidupan tidak harus selalu menjual dan membeli. Ada rasa kepuasan dan sukacita yang dalam bila kita bisa memberi, demikian juga dengan orang yang menerimanya. Disinilah aku melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ibuku dulu tidak membeli anakan pisang tersebut, tetapi kami telah menikmati banyak dari pohon pisang itu. Sadar atau tidak, pohon pisang itu telah ikut mewarnai sepenggal perjalanan hidup kami.

Tetapi sudah beberapa tahun ini rumpun pohon pisang itu tidak lagi ada disana. Mungkin sudah saatnya dia pensiun dari belakang rumah kami. Kami benar-benar merasa kehilangan. Tapi sudahlah. Kami tidak pernah menyesalinya. Setidaknya kami pernah punya pohon pisang terbaik dikampung kami.

Istana kecilku, 9 Mei 2008

marga-marga batak

Dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak
Karya besar : Alm. H.B. situmorang
BPK Gunung Mulia, Jakarta - 1983

A.

1. AMBARITA
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)
4. ANGKAT
5. ANGKAT SINGKAPAL
6. ARITONANG
7. ARUAN

B.

8. BABIAT
9. BAHO (NAIBAHO)
10. BAKO
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN)
13. BANCIN
14. BAKKARA
15. BARINGBING (TAMPUBOLON)
16. BARUARA (TAMBUNAN)
17. BARUTU (SITUMORANG)
18. BARUTU (SINAGA)
19. BATUARA (NAINGGOLAN)
20. BATUBARA
21. BERASA
22. BARAMPU
23. BARINGIN
24. BINJORI
25. BINTANG
26. BOANGMANALU
27. BOLIALA
28. BONDAR
29. BORBOR
30. BUATON
31. BUNUREA (BANUAREA)
32. BUNJORI
33. BUTARBUTAR

D.

34. DABUTAR (SIDABUTAR ?)
35. DAIRI (SIMANULLANG)
36. DAIRI (SINAMBELA)
37. DALIMUNTA (MUNTE ?)
38. DAPARI
39. DAULAE
40. DEBATARAJA (SIMAMORA)
41. DEBATARAJA (RAMBE)
42. DOLOKSARIBU
43. DONGORAN
44. DOSI (PARDOSI)

G.

45. GAJAA
46. GAJADIRI
47. GAJAMANIK
48. GIRSANG
49. GORAT
50. GULTOM
51. GURNING
52. GUSAR

H.

53. HABEAHAN
54. HARAHAP
55. HARIANJA
56. HARO
57. HAROHARO
58. HASIBUAN
59. HASUGIAN
60. HUTABALIAN
61. HUTABARAT
62. HUTAJULU
63. HUTAGALUNG
64. HUTAGAOL (LONTUNG)
65. HUTAGAOL (SUMBA)
66. HUTAHAEAN
67. HUTAPEA
68. HUTASOIT
69. HUTASUHUT
70. HUTATORUAN
71. HUTAURUK

K.

72. KASOGIHAN
73. KUDADIRI

L.

74. LAMBE
75. LIMBONG
76. LINGGA
77. LONTUNG
78. LUBIS
79. LUBIS HATONOPAN
80. LUBIS SINGASORO
81. LUMBANBATU
82. LUMBANDOLOK
83. LUMBANGAOL (MARBUN)
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)
89. LUMBANRAJA
90. LUMBAN SIANTAR
91. LUMBANTOBING
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
94. LUMBANTUNGKUP

M.

95. MAHA
96. MAHABUNGA
97. MAHARAJA
98. MALAU
99. MALIAM
100. MANALU (TOGA SIMAMORA)
101. MANALU-RAMBE
102. MANALU (BOANG)
103. MANIK
104. MANIK URUK
105. MANURUNG
106. MARBUN
107. MARBUN SEHUN
108. MARDOSI
109. MARPAUNG
110. MARTUMPU
111. MATANIARI
112. MATONDANG
113. MEHA
114. MEKAMEKA
115. MISMIS
116. MUKUR
117. MUNGKUR
118. MUNTE (NAIMUNTE ?)

N.

119. NABABAN
120. NABUNGKE
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING

O.


139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT

P.

141. PADANG (SITUMORANG0
142. PADANG (BATANGHARI0
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANAGN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA)
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK

R.

175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE
181. REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI

S.

189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. SAPA
197. SARAGI (SAMOSIR)
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAAN (SERAAN)
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. SEUN (SEHUN)
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHAPINTU
234. SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG
283. SIPANGKAR
284. SIPANGPANG
285. SIPARDABUAN
286. SIRAIT
287. SIRANDOS
288. SIREGAR
289. SIRINGKIRON
290. SIRINGORINGO
291. SIRUMAPEA
292. SIRUMASONDI
293. SITANGGANG
294. SITANGGUBANG
295. SITARIHORAN
296. SITINDAON
297. SITINJAK
298. SITIO
299. SITOGATOROP
300. SITOHANG URUK
301. SITOHANG TONGATONGA
302. SITOHANG TORUAN
303. SITOMPUL
304. SITORANG (SITUMORANG)
305. SITORBANDOLOK
306. SITORUS
307. SITUMEANG
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO
312. SITUMORANG-SITOGANG URUK
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN
315. SITUNGKIR
316. SITURANGKE
317. SOBU
318. SOLIA
319. SOLIN
320. SORGANIMUSU
321. SORMIN
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
325. SUMBA
326. SUNGE
327. SUNGGU

T.

328. TAMBA
329. TAMBAK
330. TAMBUNAN BARUARA
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL
332. TAMBUNAN LUMPANPEA
333. TAMBUNAN PAGARAJI
334. TAMBUNAN SUNGE
335. TAMPUBOLON
336. TAMPUBOLON BARIMBING
337. TAMPUBOLON SILAEN
338. TAKKAR
339. TANJUNG
340. TARIHORAN
341. TENDANG
342. TINAMBUNAN
343. TINENDUNG
344. TOGATOROP
345. TOMOK
346. TORBANDOLOK
347. TUMANGGOR
348. TURNIP
349. TURUTAN

Tj ( C).

350. TJAPA (CAPA)
351. TJAMBO (CAMBO)
352. TJIBERO (CIBERO)

U.

353. UJUNG-RIMOBUNGA
354. UJUNG-SARIBU

KAROKARO

355. KAROKARO BARUS
356. KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINABULAN
369. KAROKARO SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI

TARIGAN

375. TARIGAN BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN CIBERO

PERANGINANGIN

387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAK
390. PERANGINANGIN KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR

GINTING

406. GINTING BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPA

SEMBIRING

421. SEMBIRING-BRAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KALOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TAKANG
439. SEMBIRING SOLIA

MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK

SINAGA

440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI

DAMANIK

448. DAMANIK-AMBARITA
449. DAMANIK BARIBA
450. DAMANIK GURNING
451. DAMANIK MALAU
452. DAMANIK TOMOK

SARAGI

453. SARAGIH-DJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP

PURBA

461. PURBA BAWANG
462. PURBA DAGAMBIR
463. PURBA DASUHA
464. PURBA GIRSANG
465. PURBA PAKPAK
466. PUBA SIIDADOLOK
467. PURBA TAMBAK

HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK

468. BARAT ( SIAN HUTABARAT)
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)
470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)
475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar
[sangti]
477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK)
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan
ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing)

-------
Seperti dikemukakan di awal, ini adalah salah satu versi tentang
Marga-marga Batak.
Yang mana tulisan ini juga mengacu pada Buku: PUSTAHA BATAK : Tarombo
dohot Turiturian ni Bangso Batak
karya besar : W. M. Hutagalung.
CV Tulus Jaya, 1991"

Raja Lontung

Tadi saya tertarik dengan sebuah artikel di web site k41ro wordpress.com

Mohon tanggapan dari pembaca, Terimakasih

Raja Lontung

Anak sulung Raja Lontung bernama Situmorang(sebagian orang berpendapat Sinaga ialah anak sulung Raja Lontung) , mendiami daerah Sabulan(Samosir). Selain di Sabulan marga Situmorang juga ada di Samosir selatan.

Marga Sinaga didapati juga di Samosir selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain. Di Simalungun terdapat marga cabang Sinaga yaitu: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.

Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan(Silindung). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan.

Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah yang disebutnya Nainggolan di Samosir. Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.

Marga Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho-Samosir.

Siregar pindah ke lobu Siregar-dekat Siborong-borong. Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan.

Marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang. Marga Peranginangin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.

Anak-anak si Raja Lontung( Si Sia Sada Ina):
1. Toga Situmorang (Situmorang).
2. Toga Sinaga (Sinaga).
3. Toga Pandiangan (Pandiangan).
4. Toga Nainggolan (Nainggolan).
5. Toga Simatupang (Simatupang).
6. Toga Aritonang (Aritonang).
7. Toga Siregar (Siregar).
8. Siboru Anak Pandan (menikah dgn Simamora).
9. Siboru Panggabean (menikah dgn Sihombing).

I. Toga Situmorang.
1. Raja Pande.
2. Raja Nahor.
3. Tuan Suhut ni Huta.
4. Raja Ringo (Siringoringo).
5. Sihotang Uruk.
6. Sihorang Tonga2.
7. Sihotang Toruan.

II. Toga Sinaga.
1. Raja Bonor >> Sidahapintu.
2. Raja Ratus >> Simaibang.
3. Sagiulubalang(Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.

III.Toga Pandiangan.
1. Raja Humirtap (Pandiangan).
2. Raja Sonang/Samosir (Gultom, Sidari, Pakpahan, Sitinjak).
– Sidari>> Harianja.

IV.Toga Nainggolan.
1. Toga Batu (Batuara, Parhusip)
2. Toga Sihombar(Rumahombar, Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian)
– Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.

V. Toga Simatupang.
1. Sitogatorop.
2. Sianturi.
3. Siburian.

VI.Toga Aritonang.
1. Ompu Sunggu.
2. Rajagukguk.
3. Simaremare

VII.Toga Siregar.

1. Silo.
2. Dongoran.
3. Silali.
4. Sianggian.

(sumber: Sejarah Batak, oleh Nalom Siahaan, 1964)

Tulisan Pertama

mmmmm………. Mau nulis apa ya…?

Beberapa hari yl aku jalan2 ke toko buku yg sudah menjadi kebiasaanku sejak kuliah dulu. Aku menemukan sebuah buku dengan judul “Understanding Your Potential” karangan Dr. Myles Munroe.

Yang menarik bagi saya, buku itu bercerita tentang kisah tragis sebagian besar umat manusia yang tidak pernah menemukan kemampuan terbaiknya sampai ajal menjemput mereka. Banyak orang yang tidak tau kalau dirinya memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri dan orang lain. Banyak karya-karya besar yang tidak sempat tercipta hanya karena pemilik karya itu tidak dapat melihat karya tersebut. Banyak lagu-lagu indah yang tidak sempat dinyanyikan karena pengarangnya belum menuliskan lagu itu. Banyak pemikiran-pemikiran baru yang belum dimanfaatkan karena pemikirnya tidak pernah membagikan pikiranpikiran itu. Semua ini adalah kisah tragis yang sangat mengerikan.

Yang menjadi pertanyaan “Apakah anda akan menambah kisah-kisah tragis itu…?