Reunion (bagian 5)

Di ruang tengah ini terlah digelar tikar lebar yang menutupi hampir seluruh lantai ruangan. mereka sengaja mempersiapkannya karena kami sudah bemberitahukan sebelumnya akan kedatangan kami. Jam dinding yang tergantung di dinding menunjukkan waktu setengah tiga. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari bandara Silangit sampai ke Sipanganbolon. Seandainya kami lewat bandara Kualanamu, kami akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, sekitar empat sampai lima jam.

sambal andalimanTidak butuh waktu lama dihadapan kami sudah terhidang menu makan siang. Rasa lapar yang tadi diperjalanan sudah sempat terlupakan, kini muncul kembali. Nasi putih hangat, ikan teri goreng sambal tomat, gulai ayam dan sambal andaliman sangat menggoda selera. Dengan tak lupa mengucapkan syukur pada Sang Pencipta, kami langsung menyantap hidangan itu. Waww… rasanya nikmat sekali. Ikan terinya khas dan rasa asinnya pas. Gulai ayam dengan ayam kampung yang masih muda rasanya maknyusss. Sambal andalimannya benar-benar menggetarkan lidah. Sampai sampai aku menambah nasiku sampai dua kali. Saat inilah kuliner kampung dimulai.

Selesai makan siang yang kesorean ini, kami melanjutkan bincang-bincang kami. Kami membicarakan banyak hal. Aku menanyakan keadaan itoku dalam setahun terakhir ini. Aku juga menanyakan keadaan saudara-saudara kami yang tinggal di kampung. kami juga membicarakan persiapan acara super spesial besok yang akan kami ikuti. Semua persiapan telah dilakukan dengan baik dan berjalan dengan sangat lancar, tinggal besok kami datang dan mengikuti acara itu.

Di tengah pembicaraan kami, mamanya Arga muncul di depan pintu. Dia mengangkat banyak sekali selimut tebal. Bawaannya langsung ditaruh di atas hamparan tikar dekat pintu masuk, ketika melihat kami sudah ada di rumah. Aku bangkit dari dudukku dan langsung memeluknya. Dia tersenyum bahagia melihat kami sudah tiba di rumah itu. Dialah satu-satunya putri itoku itu. Hatinya sangat baik dan sangat penurut kepada ibunya. Mamanya Arga baru datang dari rumah Dolok. Rumah Dolok adalah rumah mertuanya yang sekarang telah menjadi rumah mereka. Rumah ini terletak persis di depan gereja HKBP Sipanganbolon. Dia membawa selimut-selimut itu untuk kami pakai nanti malam. Angin malam di kampung yang sangat dingin harus dilawan dengan selimut-selimut yang sangat tebal.

Tidak terasa kami telah ngobrol begitu lama dan hari sudah menjelang malam. Anak-anak harus dimandikan, tetapi karena air di kamar madi sangat dingin, anak-anak tidak akan sanggup memandikannya. Aurora menyebut bak penampungan air yang ada di kamar madi itu adalah sebuah kulkas yang sangat besar, sehingga air yang ada di dalamnya menjadi dingin. Dia tidak tau kalau air itu sudah dingin sejak datangnya dari gunung. Untuk menghangatkan air itu, satu panci besar air harus dipanaskan terlebih dahulu. Namun tetap saja anak-anak itu mengigil ketika keluar dari kamar mandi.

Setelah anak-anak, kini giliran saya yang akan merasakan air dingin itu. Saya ingin merasakannya tanpa campuran air panas. Ketika air menyentuh kulit, dinginnya langsung merasuk sampai ke tulang. Uuuuuuu….. dinginnya luar biasa sampai-sampai kulit dan bagian tubuh yang lain mengkerut. Saya tidak tahan berlama-lama. Saya tidak mau membeku di kamar mandi itu. Kurang dari 10 menit saya sudah mengenakan pakaian kembali.

Ketika saya kembali ke ruang tengah, disana telah banyak saudara-saudara berkumpul. Mereka adalah saudara-saudara yang sudah datang ke kampung sebelum kami dan langsung berkumpul di Parapat. Mereka adalah Abangku yang tertua yang tinggal di Papua, Abang dan Kakak yang tinggal di Pulogadung beserta satu orang anaknya, Abang dan Kakak yang tinggal di Halim beserta ketiga anaknya, Mama Benny yang tinggal di Cempaka Putih dan Abang Duma yang tinggal di Parapat. Seperti biasa kami saling bersalaman, menanyakan kabar dan sebagainya. Selanjutnya dibicarakan kesiapan acara untuk besok dan ada beberapa keluarga dekat yang belum diundang. Malam ini orang-orang yang belum diundang itu akan dikunjungi langsung.

Sebelum Abang Papua dan Abang Duma kembali ke Parapat, kami terlebih dahulu makan malam. Malam ini ada menu spesial yaitu Ikan Mujahir goreng, daun singkong rebus dan sambal andaliman spesial. Ikan mujahirnya bebar-benar gurih, apalagi bila dicampur dengan sambal andalimannya, waww… benar-benar nikmat. Kali ini aku juga nambah dan rasanya perut tidak pernah kenyang. Dua potong ikan mujahir ukuran besar benar-benar aku tuntaskan dan tinggal tulang dan durinya yang tersisa di atas piringku.

Tidak lama setelah makan malam usai Abang Papua dan Abang Duma bergegas kembali ke Parapat. Mereka menaiki motor. Sementara yang lain masih tinggal di rumah. Mereka masih membicarakan ulos-ulos untuk keperluan besok. Mereka juga membicarakan salon yang sudah mereka pesan jauh-jauh hari. Ada yang akan bersalon di Parapat dan ada yang akan bersalon di rumah Sipanganbolon. Katanya tukang salon yang akan datang ke Sipanganbolon akan datang nanti jam satu dini hari. Haaa……. jam satu? Fantastis…, kapan tidur dan istirahatnya…? Luar biasa memang perjuangan kalian para ibu yang akan mengenakan konde itu.

Karena ulos yang mau dibeli lagi cukup banyak, maka ito ompung arga pun ikut bersama dengan kakak Pulogadung berangkat ke Tigaraja untuk membelinya. Sekalian Abang Pulogadung dan anaknya serta Mama Benny ikut bersama mereka yang akan kembali ke Parapat. Abang Halim yang sengaja mencarter mobil dari Medan mengantar mereka ke Tigaraja. Tidak lama mereka di Tigaraja. Tidak lebih dari 2 jam ompung Arga bersama dengan Abang Halim sudah kembali lagi di rumah Sipanganbolon.

Sekembalinya di rumah, abang Halim langsung tidur dengan mengenakan selimut tebal berwarna merah. Seingatku selimut itu sudah ada ketika ibu masih ada. Abang Halim harus istirahat, karena dari pagi ia menyetir mobil sejak mereka tiba di Bandara Kualanamu. Aurora, Ayugeera, Aletona dan mamapun sudah tidur di kamar. Kamar itu adalah kamar utama yang dulu ditempati bapak dan ibu. Di Kamar ini dulu ada sebuah tempat tidur besi dengan kasur yang terbuat dari kapuk. Katanya dulu aku sering ngompol di kasur itu, hingga kamar itu sering bau pesing. Kini tempat tidur itu sudah dipindah ke kamar sebelah. Sekarang sebuah kasur pegas telah menggantikannya yang langsung diletakkan di atas lantai.

Bersambung ke bagian 6.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s