Reunion (bagian 4)

Dari Sidasuhut mobil terus melaju menyusuri jalan menurun ke arah jembatan Binaga Naborsahan. Jembatan inilah satu-satunya jembatan di jalan raya di Sipanganbolon dan Binanga Naborsahan adalah satu-satunya sungai di Sipanganbolon. Sungai Naborsahan inipun tidak lebih baik dari Rambatoruan dan Dolok Sitanggurung. Seluruh pinggiran sungai sudah tertutup semak belukar. Sawah-sawah di pinggiran sungai juga sudah tidak diolah lagi. Permukaan sungai sudah tidak terlihat lagi. Padahal dulu sungai ini menjadi salah satu tempat favorit untuk bermain, berenang, tempat mencuci pakaian dan perabotan. Sepertinya saluran air minum yang sudah masuk ke rumah-rumah, membuat sungai ini dilupakan.

balaidesaDalam waktu singkat mobil sudah mendekati sebuah rumah yang kami tuju. Rumah itu tidak jauh dari Kantor Kepala Desa Sipanganbolon. Jaraknya hanya sekitar sepelemparan batu saja. Rumah itu hanya berjarak dua rumah di seberang simpang Sitahoan. Bentuk rumah itu kurang lebih sama dengan rumah-rumah di sekitarnya. Bentuknya kotak memanjang ke belakang dengan dinding sepertiga dari bawah menggunakan beton dan sisanya menggunakan papan. Sementara itu atapnya segi tiga yang terbuat dari seng. Dikampung hampir semua rumah menggunakan aptap seng dan hanya satu dua yang menggunakan genteng, itupun baru ada belakangan ini.

Saya meminta Abang Sianipar menghentikan mobilnya persis di depan rumah bercat kuning itu. Rumah ini tidak ada yang berubah sejak terahir aku mengunjunginya. Hanya catnya saja yang baru, tetapi dengan warna yang sama. Di rumah inilah aku dilahirkan 41 tahun yang lalu. Masa kecilkupun berlangsung dengan penuh kegembiraan di sini. Ketika aku mulai meninggalkan rumah ini untuk urusan sekolah, rumah ini menjadi sebuah magnet yang selalu menarik aku untuk pulang. Dan setiap kali pulang ke rumah ini aku selalu malas dan enggan untuk meninggalkannya. Entah sihir apa yang selalu membuat aku nyaman berlama-lama di bawah naungannya.

Suasana rumah sepi. Di teras hanya ada Arga dan ompungya yang sedang menuang bensin dari jerigen ke botol-botol kecil. Mereka di sana membuka warung kecil dan juga menjual bensin ketengan. Warung itu telah ada sejak aku masih SD, namun bensin ketengan itu baru ada sekitar 10 tahun terakhir ini.

Ketika mobil berhenti, mereka tidak memperhatikan kalau kami yang datang. Mereka baru sadar ketika aku turun dari mobil dan melangkah masuk ke teras rumah. Ompung Arga langsung berdiri, melepaskan botol yang tadi dipegangnya dan dengan seyum khasnya menyambut kedatanganku. Spontan aku langsung memeluknya dengan erat dan entah kenapa titik bening langsung menggelayut di sudut kelopak mataku.Titik bening itu hampir saja meluncur ke pipi, namun aku tahan sekuat yang aku mampu. Aku tak ingin Itoku itu melihatnya. Titik-titik bening itu hanya membuat mataku berkaca-kaca. Kami tidak banyak bicara, tetapi pelukan hangat itu lebih dari ribuan kata-kata sebagai ungkapan kerinduan pasombu sihol.

Ito itu masih tangguh dan sorot matanya masih setajam dulu. Tubuhnya yang relatif kurus masih seperti sebelumnya dan tidak ada yang berubah. Sepertinya usianya tidak bertambah sejak terakhir kami bertemu lebih dari setahun yang lalu. Saongsaong yang dia gunakan menambah kesan pekerja kerasnya. Saongsaong adalah kain sarung penutup kepala yang biasa dikenakan perempuan dikampung kami ketika beraktifitas di ladang atau sawah untuk menghindari terik sinar matahari. Saongsaong ini biasa terbuat dari sarung tenunan Balige.

Dibelakangku menyusul mama yang menggendong Aletona, kemudian Aurora dan Ayugeera. Mereka juga memeluk Ito itu secara bergantian. Kami berbicara sebentar menanyakan kabar berita. Kami juga menyapa Arga dan memeluknya. Dia terlihat salah tingkah dan malu-malu. Sementara itu sopir yang mengantar kami telah selesai menurunkan barang bawaan kami. Saya menemui si sopir untuk menyelesaikan transaksi sesuai dengan harga yang kami sepakati ketika di bandara Silangit. Setelah transaksi selesai si Sopirpun melajukan mobilnya meninggalkan kami dan kembali ke arah Siborongborong.

Memasuki ruang tengah itu saya merasakan aura khas yang tidak pernah aku temukan di tempat lain. Aura kedamaian yang sulit aku gambarkan. Di ruang tengah itu rasanya saya disambut oleh bapak dan ibu yang fotonya terpampang di dinding yang langsung menghadap ke pintu masuk. Senyum ibu di foto itu seakan menyapa “Ai na ro do ho hasian?“. Demikian juga dengan tatapan bapak yang beralis tebal di foto itu seakan berbisik “Ai nungnga masihol au da amang”. Dalam hati aku menjawab “Nungnga ro be au Inong“, “Au pe masihol do Among“. Pingin rasanya kembali ke masa itu ketika bapak dan ibu masih ada di sana. Mereka selalu menyambut kepulanganku dengan hangat walaupun tak pernah diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terlihat jelas dari raut wajah mereka.

Di ruang tengah ini terlah digelar tikar lebar yang menutupi hampir seluruh lantai ruangan. mereka sengaja mempersiapkannya karena kami sudah bemberitahukan sebelumnya akan kedatangan kami. Jam dinding yang tergantung di dinding menunjukkan waktu setengah tiga. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari bandara Silangit sampai ke Sipanganbolon. Seandainya kami lewat bandara Kualanamu, kami akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, sekitar empat sampai lima jam.

Bersambung ke bagian 5.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s