Reunion (bagian 3)

Simpang Sibisa di Aeknatolu menjadi tempat yang meninggalkan kesan masa kecil yang cukup dalam. Dulu sering melewati tempat ini bersama ibu menuju Sibisa setiap kali mau berjualan pakaian. Kami biasa menumpang angkutan umum Parsito milik tetangga yang juga ikut berjualan ke sana. Pernah juga naik Datsun pickup milik ompung jualan ikan asin dan jauh sebelumnya pernah juga menompang kereta kerbau. dan dulu semua itu indah sekali.  Kini di Simpang Sibisa ada yang baru. Sebuah gerbang besar berdiri disana.

Gerbang besar itu adalah gerbang sebuah kawasan pendidikan seminari dengan nama Bukit Gibeon. Katanya kawasan pendidikan baru ini milik seorang konglomerat bermarga Sitorus. Ironis memang, dibawah gerbang besar itu jalanan masih darurat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diperbaiki, sehingga masyarakat sekitar juga merasakan manfaatnya.

selamat jalan
Gerbang Perbatasan Toba Samosir dengan Simalungun

Meninggalkan Aeknatolu, sebuah gerbang Selamat Jalan terpampang di depan. Kami meninggalkan kabupaten Toba Samosir dan memasuki wilayah kekuasaan kabupaten Simalungun. Ada satu dua sopo-sopo di pinggir jalan yang memajang buah nenas. Dari sejak saya kecil daerah perbatasan ini memang terkenal dengan dagangan nenasnya.

honas2
Sopo Penjual Nenas

Selain terkenal dengan sebutan Parbatasan, daerah ini dikenal juga dengan sebutan Parhonasan. Setiap akhir pekan para muda-mudi di kampung berkumpul di tempat ini. Saya tidak tahu entah apa yang mereka lakukan disana. Apa ya…? Namun telah lama tempat ini tidak lagi menjadi favorit muda-mudi. Para penjual nenas juga tidak lagi seramai dulu, dan nenas yang mereka jualpun  bukan lagi nenas yang mereka tanam sendiri, melainkan nenas yang diimpor dari daerah Sipahutar di Tapanuli Utara.

pasar napintor
Pasar Napintor

Perbatasanpun lewat dan masuk ke Sosorpea dengan Pasarnapintornya. Disebut Pasarnapintor karena hanya disanalah ada jalan lurus dan panjang di desa Sipanganbolon. Walaupun sebenarnya jalan itu tidak panjang-panjang amat. Lepas dari Sosorpea masuk ke Sidallogan dan selanjutnya ke Sidasuhut. Sebuah gereja besar di sisi kiri jalan berdiri kokoh. Gereja itu adalah Gereja HKBP Sipanganbolon dimana saya dibaptis, sekolah minggu, naik sidi dan menerima pemberkatan nikah. Ahhh…. jadi rindu dengan teman-tema sekolah minggu itu, guru-guru sekolah minggu itu, rindu juga dengan seorang sintua yang centil itu. Sorry ya tulang…., saya sebut sintua centil.

Sedikit tentang HKBP Sipanganbolon  silahkan klik (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

sd1 1
SD Negeri 1 Sipanganbolon

Di depan HKBP Sipanganbolon ada SD Negeri 1 Sipanganbolon. Saya memang tidak pernah sekolah di SD ini, tetapi SD ini menjadi bagian sangant penting dari kehidupan kami. Di sekolah inilah Bapak kami mengabdikan lebih dari separuh masa hidupnya. Setiap kali melintas di depan sekolah ini saya selalu teringat dengan sosok tangguh yang pekerja keras itu. Sosok yang tidak pernah mengeluh dan setiap kata-katanya selalu menjadi penyemangat. Salah satu ungkapannya yang selalu saya ingat,

“Jangan beristirahat sebalum kamu capek, tetapi kalau sudah capek segeralah kamu istirahat dan setelah capekmu berlalu segeralah kembali bekerja. Jangan kamu makan sebelum lapar, tetapi segeralah makan ketika kamu lapar dan jangan makan sampai kekenyangan. Jangan kamu tidur sebelum mengantuk, tetapi segeralah tidur kalau kamu sudah mengantuk dan segeralah bangun kalau kantukmu sudah berlalu”.

Sosok idola dan penyemangat itu telah pamit ke dunia barunya persis 21 tahun yang lalu, tetapi seluruh dedikasi, etos kerja, gurat di wajahnya dan sorot matanya masih tersimpan rapih di sudut spesial hati ini. Cinta dan kasih sayangnya masih nyata menemani hari-hariku.

Dari depan SD Negeri 1 ini saya juga bisa menatap jauh ke kompleks persawahan Rambatoruan di lereng Bukit Barisan. Persawahan ini tampak suram dan tidak terurus. Tidak ada lagi rumpun padi yang menghijau. Tidak ada lagi lahan-lahan terasering yang berjajar rapih. Semuanya tampak muram dan kusam. Kemanakah tubuh-tubuh kekar yang selalu merawat Rambatoruan itu. Kemanakah para ibu dan gadis yang setia menemani tubuh-tubuh kekar itu. Barangkali mereka sudah lelah. Ahh… Rambatoruan yang dulu permai itu, kini sudah tarulang.

Di ujung sana juga terlihat jelas salah satu puncak bukit barisan yang kami kenal dengan Dolok Sitanggurung. Bukit ini juga tidak kalah tragisnya dengan Rambatoruan. Bukit ini terlihat seperti kepala seorang pasien kangker yang telah dikemoterapi. Pohon-pohonnya yang dulu rimbun, kini terlihat gersang dan terlihat ada warna coklat kekuningan bekas longsor.

jumbatan
Jembatan Binanga Naborsahan

Dari Sidasuhut mobil terus melaju menyusuri jalan menurun ke arah jembatan Binaga Naborsahan. Jembatan inilah satu-satunya jembatan di jalan raya di Sipanganbolon dan Binanga Naborsahan adalah satu-satunya sungai di Sipanganbolon. Sungai Naborsahan inipun tidak lebih baik dari Rambatoruan dan Dolok Sitanggurung. Seluruh pinggiran sungai sudah tertutup semak belukar. Sawah-sawah di pinggiran sungai juga sudah tidak diolah lagi. Permukaan sungai sudah tidak terlihat lagi. Padahal dulu sungai ini menjadi salah satu tempat favorit untuk bermain, berenang, tempat mencuci pakaian dan perabotan. Sepertinya saluran air minum yang sudah masuk ke rumah-rumah, membuat sungai ini dilupakan.

Dalam waktu singkat mobil sudah mendekati sebuah rumah yang kami tuju.

Bersambung ke bagian 4.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s