Reunion (bagian 2)

Bau tanah Toba dan dinginnya udara Bukit Barisan menyambut kedatangan kami. Bandara ini berada di ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.  Bandara kecil ini dikelilingi oleh lahan beruba sabana yang masih luas. Bandara sangat sepi, hanya ada satu pesawat Sriwijaya yang terparkir disana selain pesawat yang kami tumpangi. Gedung terminal kedatangan sangat kecil dan masih darurat. Di ruang sempit itulah kami merebutan barang bagasi termasuk para politisi tadi.

Ketika kami meninggalkan ruangan sempit itu dengan barang bawaan yang menunpuk di atas troli, ternyata kami tidak hanya disambut oleh bau tanah Toba dan angin dingin Bukit Barisan. Di depan ruangan itu banyak sekali orang yang menyambut kedatangan kami. Mereka menyapa dengan sangat sopan dengan bahasa Indonesai yang marpasir-pasir, bahakan ada yang marbatu-batu. Mereka juga menyajikan senyum terbaik yang bisa mereka berikan. Tetapi ketika kami melambaikan tangan, mereka satu persatu membuang seyum itu dan pergi menjauh. Hanya tinggal satu dua yang terus membuntuti kami. Mereka adalah para agen, calo, makelar dan sopir penyedia jasa angkutan dari bandara.

Seorang supir yang membuntuti kami menawarkan jasa mengantar dengan harga yang menurutnya harga paling murah dari bandara Silangit ke Sipanganbolon tempat yang akan kami tuju. Padahal harga yang ditawarkan itu masih jauh diatas harga standard yang biasanya. Untunglah beberapa hari yang lalu saya sudah bertanya kepada ompung “Google” mengenai tarif angkutan disana, sehingga proses tawar-menawar itu tidak berlangsung lama dan kami deal dengan harga yang wajar. Tadinya kami ingin menggunakan fasilitas angkutan DAMRI dari bandara, tetapi ternyata fasilitas ini masih hanya sampai kota Porsea. Mudah-mudahan di kemudian hari bisa di perpanjang sampai ke Parapat.

Dengan sigap si Lae supir itu mengangkat barang bawaan kami dari troli ke bagasi mobil Toyota Avanza yang akan kami tompangi. Barang bawaan kami terdiri dari satu buah koper super besar, satu buah kardus berisi oleh-oleh, tiga bauh tas besar berisi pakaian dan satu buah ransel berisi pelengkapan gado-gado mulai dari tissu, bubur bayi, air mineral, biskuit, charger HP sampai peralatan kosmetik dan banyak lagi perlengkapan yang kecil-kecil. Dalam waktu singkat semua barang itu tersusun rapi di bagasi mobil.

20161223082900-images-2-800x439 (1)Dengan perlahan mobil Avanza hitam itu meninggalkan area parkir bandara yang permukaannya masih belum mulus. Aurora, Ayugera dan mama duduk di bangku tengah, sementara saya dan Aletona duduk di samping lae supir. Saya mulai berkenalan dengan Si lae supir. Dia bermarga Sianipar dan menikah dengan boru Simanjuntak, sehingga saya merubah panggilan dari lae menjadi abang. Panggilan abang ini bukan karena dia marga Sianipar, tetapi karena isterinya boru Simanjuntak, jadi masih satu rumpun dengan isteri saya yang boru Siahaan.

Meninggalkan area bandara, mobil berbelok ke jalan besar yang cukup bagus. Mobil melaju lebih kencang. Angin semakin dingin membelai wajah. Sengaja kami membuka kaca jendela dan tidak menyalakan AC mobil. Kami ingin merasakan aroma Toba dan kesejukannya. Dalam waktu singkat kami memasuki kota Siborongborong. ombus ombusKota kecil ini memang benar-benar kecil dan keramaian hanya ada di sekitar jalan utama. Saya pernah melintasi kota ini dua kali sekitar 20 tahun yang lalu dan kota ini tidak banyak berubah.

Lagu-lagu batak mengalun perlahan dari audio mobil menemami perjalanan kami. Suasana menjadi sangat syahdu. Entah kenapa kenangan-kenangan masa lalu tiba-tiba datang memenuhi rongga kepala. Pohon-pohon pinus yang tumbuh di tebing kanan jalan ketika meninggalkan kota Siborongborong menambah kesyahduan itu.

Ai diingot ho dope ito rap dakdanak uju i
rap marmeam meam di hauma manang di balian i
ho marlojong lojong di batangi laos hu adu sian pudi
laos tinggang do ho ditikki i sap gambo bohimi
Lagu ini mengalun lembut dari audio mobil. Teringat kembali masa kecil ketika bekerja di sawah. Terlebih ketika masa menanam padi menjelang perayaan hari natal. Sebuah momen tahunan yang selalu dirindui semua orang di kampung. Aiihhh…. indahnya…. waktu ternyata begitu kencang berlari, hingga sering kita tak sanggup mengejarnya.
Ai diingot hodope ito nadiparsobanan i
ima naso tarlupahon au tikki roma rimbus i
laos hubukka ma dabajukki asa adong saong-saong mu
tung massai gomos do ho huhaol asa tung las ma daging mi
Syair ini mengingatkan masa-masa mengumpulkan kayu bakar ke hutan Sitahoan bersama teman-teman sebaya. Bila lapar, sering kita memakan buah apa saja yang ada di hutan itu. Buah markisa, buah rau, buah pirdot bahkan buah rotan. Kadang-kadang dihutan kita bertemu dengan gerombolan monyet atau babi hutan.  Setring juga disela-sela mengumpulkan kayu, kita menangkap burung “marpikket”. Kenangan yang sangat seru, menggembirakan, kadang-kadang memilukan dan kadang-kadang meyeramkan.
Hape dung saonari nungnga leleng dang pajumpang dohot ho hasian,
nungnga adong sappulu taon atik naung muli do ho
Molo tung namuli pe taho dang na pola sala i hasian
asal ma huida bohimi asa tung sonang rohakki
Anggo ala rokkap do itu si Tuhan ta do umboto i…..

ima na so tarlupahan au tingki ro

Teringat juga dengan orang-orang spesial yang pernah menggugah hati dan kini entah dimana.

Tidak lama mobil sudah mulai meninggalkan bukit-bukit dengan pohon-pohon pinus itu dan mulai memasuki kota Balige. Aurora dan Ayugera sudah tertidur pulas. Aletona juga sudah kembali ke pangkuan ibunya. Balige sedikit lebih ramai dari Siborong-borong. Namun menurutku Balige masih sebuah kota kecil, walaupun predikatnya sebagai ibu kota kabupaten. Danau Toba terbentang jelas di ujung sana. Melewati kota Balige, di kiri kanan jalan terhampar luas sawah yang sebagian sudah dipanen. Saya ingin menunjukkan sawah itu kepada Aurora, tetapi dia masih tertidur. Beberapa hari yang lalu dia bilang dia ingin melihat sawah. Kata temannya di sekolah, di sawah itu ada lumpur hidup yang bisa menelam orang. Ahhh. ada-ada saja.

KOTA-BALIGE-BALAM-HARIJalan lurus dan mulus ketika meninggalkan kota Balige membuat mobil bisa melaju dengan kencang. Kota Laguboti pun dimasuki dalam waktu singkat. Perut sudah mulai terasa lapar karena terakhir makan di pesawat hanya dengan setangkup nasi ayam. Namun rasa rindu untuk segera bersua dengan kampung halaman mengalahkan rasa lapar itu. Setelah Laguboti, kota Porseapun berlalu demikian pula dengan Lumban lobu lalu Lumbanrang, dan ketika memasuki Aeknatolu rasa rindupun semakin menggebu-gebu.

Simpang Sibisa menjadi tempat yang meninggalkan kesan masa kecil yang cukup dalam. Dulu sering melewati tempat ini bersama ibu menuju Sibisa setiap kali mau berjualan pakaian. Kami biasa menumpang angkutan umum Parsito milik tetangga yang juga ikut berjualan ke sana. Pernah juga naik Datsun pickup milik ompung jualan ikan asin dan jauh sebelumnya pernah juga menompang kereta kerbau. dan dulu semua itu indah sekali.

aeknatoluKini Simpang Sibisa ada yang baru. Sebuah gerbang besar berdiri disana.

Bersambung ke bagian 3.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s