Parbue Matumona Holong ni Damang Dainang

Abang1

Mataharimu mungkin mulai condong ke barat,

tetapi panasnya masih membelai ubun-ubun.

Sinarnya yang dulu tajam kini tidak lagi menyilaukan mata.

Badai yang dulu sering datang tak diundang,

kini tinggal sepoi-sepoi membelai wajah.

 

Engkaulah parbue matumona dari holong ni damang dainang.

Engkaulah pewaris sempurna dari habengeton ni dainang itu.

Engkaulah penerus sejati dari etos kerja damang itu.

 

Ketika hariku masih pagi, sosokmu menjadi gantungan mimpi dan cita-citaku.

Aku ingin kelak berkelana di angkasa yang telah kau arungi hingga ke seberang lautan.

Kabar beritamu yang rutin kau kirimkan dengan pesan berprangko dari ujung negeri

sangat menakjubkanku.

Kami serlalu membacanya berulang-ulang, bergantian,

sembari memvisualisasikan semua untaian kata-kata dalam pesan itu di dalam kepala

sesuai dengan pemahaman kami masing-masing yang terbatas.

Setiap kali pesan berprangko itu datang,

ibu dan bapak kita sangat bahagia walau tidak pernah diungkapkan dengan kata,

tapi terlihat dengan jelas di wajah mereka.

 

Pesonamu kala mudik sangat mengagumkanku.

Bahkan inanguda depan rumah kita menyebut “ai na ro do halak Korea on?”

bila tiba-tiba kamu muncul di teras rumah kita.

Dodol garut yang selalu menjadi buah tanganmu, nikmatnya tiada tara.

Sering beberapa biji aku sembunyikan untuk kubagi ke teman-temanku di parmahanan.

 

Kisah-kisahmu di masa lalu membangkitkan gairah dan semangatku.

Kerja kerasmu sejak belia,

semangatmu menuntut ilmu sejak muda,

tutur katamu kepada yang lebih tua,

kepedulianmu kepada yang tidak punya,

penghormatanmu kepada semua tulang kita

dan pengabdianmu kepada ibu bapak kita.

Semua itu membuat terpana.

 

Kesedihan dan hidup yang kadang sulit selalu kau jadikan bahan tertawaan,

hingga kami sering terpingkal-pingkal mendengarnya.

Kau selalu menggambarkan kehidupan yang bahagia dan penuh suka cita,

walau aku yakin di sudut-sudut perjalananmu banyak kerikil yang menghalang.

Bersyukur adalah ajaranmu yang gak boleh dibantah atas semua warna kehidupan, bahkan warna hitam sekalipun.

Pernah sekali waktu saya melihat kebimbangan di keningmu.

Pernah sekali waktu saya melihat emosi yang tertahan di bola matamu.

namun tidak berlangsung lama, karena kisah-kisah lucumu segera menghapusnya.

Rasa syukurmu yang tidak pernah bersyarat segera mengobatinya.

 

Sejak bapak kita pamit menuju dunia barunya,

wajahmulah pengobat rindu itu.

Sejak ibu kita juga pamit menyusul bapak ke dunia sana,

sosokmulah yang mengambil alih pengayom itu.

 

Kini gurat-gurat mulai terlihat di wajahmu.

Rambut lebatmupun mulai keperakan.

Tetapi pesonamu dan kekagumanku tak pernah berubah.

Bahkan karisma bapak kita jelas tergambar di wajahmu.

Kehangatan Ibu kita jelas terasa kala berada di sampingmu.

 

Terimakasih Kakak tersayang yang telah menjaga Abang ini dengan baik.

Seandainya bapak dan ibu masih ada di sini,

mereka pasti akan mengungkapkan hal yang sama,

karena Kakak telah merawat buah hati mereka dengan sempurna.

 

Doaku, kiranya Sang Pencipta selalu menyertai kalian dengan kasih sayangnya.

 

 

Ditulis di atas Citilink

Denpasar-Jakarta,

19 April 2017

07.20 wita-08.10 wib

 

 

 

paber sinaga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s