Ai Na Ro Do Par Jakarta ?

Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta
Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta

Sekitar tahun 80-an, sudah ada beberapa orang dari kampungku Sipanganbolon yang merantau ke Jakarta. Bayanganku kala itu, orang yang merantau itu menjadi orang kaya setelah tinggal di Jakarta. Hal ini disebabkan penampilan yang mereka tunjukkan ketika mereka pulang kampung. Pakaian bagus-bagus, kulit putih mulus, beda jauh dengan kulit kami yang hitam legam dibakar matahari. Belum lagi dengan berbagai bawaan yang mereka bawa dengan koper-koper besarnya. Demikian juga dengan anak-anak mereka yang yang wajahnya tidak lagi marsuhi-suhi (bersegi, wajah kampungan khas orang batak), sehingga kala itu ada istilah “Ai na ro do Par Jakarta?”, terjemahan bebasnya Orang Jakarta datang ya?.

Kala itu setiap kali ada saudara yang pulang dari Jakarta selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri. Kehadiran mereka selalu menjadi berita besar. Para orang tua kami akan datang ke rumah tetangga yang anaknya pulang dari jakarta tersebut. Tentu saja kami anak-anaknya tidak mau ketinggalan, walaupun orang tua melarang kami ikut. Alasannya nanti bikin ribut, atau kami harus mengerjakan pekerjaan lain di rumah. Tetapi dengan berbagai cara, kami anak-anak selalu berhasil sampai di rumah par Jakarta tersebut. Salah satu alasan utama kami adalah agar ikut mencicipi dodol garut. Dodol garut yang menjadi oleh-oleh wajib yang dibawa Par Jakarta itu menjadi penganan yang nikmatnya tiada tara dan hanya akan kami temukan ketika ada  Par Jakarta yang pulang kampung. Selain itu kami juga pengen difoto. Biasanya par Jakarta membawa kamera foto dan itu adalah barang yang sangat langka di kampung kami kala itu. Jadi kalau wajah kita ikut nampang di foto, walaupun hanya terjepit di belakang wajah-wajah para orang tua, itu sudah menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Lebih membanggakan dibanding dapat juara satu di hari kenaikan kelas.

Tidak hanya anak-anak yang bergembira bila par Jakarta pulang kampung. Pengurus gereja juga ikut merasakannya. Biasanya par Jakarta akan memberikan persembahan minggu yang jauh lebih besar dibanding para jemaat setempat. Selain persembahan yang besar, par Jakarta juga akan memberikan uang ucapan syukur yang lebih kami kenal dengan “Sihamauliateon”. Ucapan syukur ini akan dibacakan pada saat warta jemaat atau “tingting”. Sintua yang membaca warta jemaat biasanya akan membaca demikian: “Jinalo do hamauliateon sian amanta Anu, anak ni ompu polan ala hipas-hipas do nasida diramoti Tuhan di pardalanan sian Jakarta sahat tu huta on. Dipasahat nasida tu huria xxx ribu rupiah, tu guru huria xxx ribu rupiah, tu parhalado xxx ribu rupiah, tu sintua lingkungan xxx ribu rupiah dohot tu diakoni sosial xxx ribu rupiah. Punguma sude xxx ribu rupiah. Sungguh mengagumkan memang par Jakarta ini.

Par Jakarta sering kali menginspirasi para anak-anak di kampung kami. Saya tidak tau persis alasannya mengapa perantau ke tempat lain seperti par Kalimantan, par Batam apalagi par Medan atau par Siantar tidak menginspirasi kami anak-anak kala itu. Par Jakarta menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami. Mungkin pelajaran di sekolah ikut membentuk bayangan kami kalau Jakarta itu adalah sebuah tempat yang paling membahagiakan. Ada istana presiden, ada kantor menteri-menteri, ada Monas dan banyak lagi. Walaupun kami hanya melihat dari gambar hitam putih di buku pelajaran SD, cerita para guru dan sesekali nonton TVRI hitam putih di tv tetangga, jakarta menjadi tidak asing di benak kami. Namun Jakarta yang ada di benak kami adalah jakarta yang serba bagus.

Hari ini saya sudah menjadi salah satu dari par Jakarta itu, walaupun saya tinggal di Bekasi. Saya tidak tahu lagi apakah istilah “Ai na ro do par Jakarta?” masih ada di kampung, karena ketika saya pulang kampung, saya tidak lagi mendengarya. Namun yang pasti setiap kali pulang kampung, saya selalu mengusahakan untuk membawa dodol garut. Saya sudah tahu kalau dodol garut bukanlah oleh-oleh khas Jakarta, tetapi kenangan masa kecil menikmatinya terlalu manis untuk dilupakan.

Jakarta memang tidak sesempurna bayangan saya kala masih kecil, orang-orang yang datang ke jakarta juga tidak otomatis menjadi orang kaya, bahkan sering kali membawa mereka tinggal di gang-gang sempit yang kumuh, tetapi bayangan masa kecil itu yang begitu kuat telah membawa saya sampai ke ibu kota ini.

Masihkah  Ai na ro do par Jakarta?????

Iklan

3 Replies to “Ai Na Ro Do Par Jakarta ?”

  1. Sekarang sudah beda uda, mungkin karna anak “kampung” sekarang tidak se “kolot” kita dulu, karena anak2 yg tinggal dikampung sekarang juga sudah menikmati banyak fasilitas yg kita dapatkan di Jakarta, mereka sudah tidak kalah mode lagi, bahkan anak kampung sekarang sudah familiar dengan dunia sosmed (sosial Mesdia), sudah lebih rajin org kampung update status dari org jakarta…. hehehe, kalau kita pulang kampung juga tidak se respon kita jaman2 dulu ketika kita menyambut kedatangan famili yang kita sebut tadi par Jakarta. Jaman sudah berubah uda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s