Villa Hubers

Hari itu Sabtu 18 Augustus 2012. Hari sangat cerah bahkan sedikit gerah ketika phanter biru melaju di jalan tol yang sepi. Kami berdesakan bersama setumpuk barang bawaan dalam panter biru itu. Segala harapan akan kenikmatan kawasan puncak mengalahkan kesesakan dalam mobil. Kerinduan akan berkumpul bersama keluarga besar begitu menggelora di dalam dada. Hanya sekitar satu jam kami sudah tiba di daerah puncak. Hari ini jalanan benar-benar lancar. Mungkin para pemudik yang kemarin mensesaki seluruh jalanan ke luar kota Jakarta telah tiba dikampung halaman.

Namun butuh sedikit waltu lebih untuk mencapai lokasi yang dituju. Sebuah villa bernama Hubers. Dari namanya, villa ini menggambarkan gaya eropa yang mempesona. Mendengar namanya sudah terbayang bangunan klasik yang pernah kulihat di pilim-pilim. Jalanan menuju villa sangat kecil. Kami harus bertanya beberapa kali ke penduduk setempat untuk sampai di sana.
Tiba disana pohon-pohon pinus berbaris menyambut kedatangan kami. Aroma daunnya bersama segarnya udara puncak mengucapkan selamat datang. Hamparan rumput yang luas menggoda kaki untuk bermain di atasnya bak anak kecil. Sebuah bangunan tua dua lantai berdiri kokoh dipagari oleh pohon-pohon pinus itu. Dindingnya berwarna merah bata dan atapnya genteng beton. Inilah villa Hubers. Walaupun tidak semegah yang dibayangkan sebelumnya, namun yahhh..cukup menariklah. Mudah-mudahan dalam tiga hari ini akan banyak tercipta kegembiraan di sini. Akan banyak tertinggal kenangan-kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.
Ketika kami tiba, disana sudah ada keluarga Tono, Roni, Velin dan Melani. Anak-anak sudah pada bermain, bahkan sudah ada yang berenag, sementara ibu-ibu berbenah di dapur dan bapak-bapak sedang bermain kartu di teras samping. Kami memindahkan semua barang yang kami bawa ke dalam kamar depan, karena mobil yang kami tumpangi harus kembali ke Bekasi. Setelah barang-barang dipindahkan kami langsung bergabung denga aktivitas saudara-saudara yang lebih dulu tiba.

Tidak lama setelah kami tiba, perut sudah terasa lapar. Nasi hangat, ikan teri sambal, soup bakso, ikan mas arsik dan babi kecap langsung menggoda untuk disantap. Tanpa berlama-lama menu-menu lezat itu telah berpindah ke dalam perut. Entah sihir apa yang ada di daerah puncak ini, sehingga makanan yang sama terasa lebih nikmat di sini. Porsi makankupun kali ini lebih besar dibanding di rumah, bahkan anak-anak masih menambah porsi makan mereka dengan mi rebus yang mereka masak sendiri-sendiri. Barangkali udara sejuk inilah sihir itu.

Selesai makan kami duduk-duduk di teras depan. Dari gerbang datang seorang pedagang pisang. Ia memikul dua keranjang pisang. Satu jenis pisang ambon dan satu jenis pisang kepok. Dengan terlebih dulu melakukan proses tawar-menawar yang cukup alot akhirnya pisang itu kami beli. Kalau saya tidak lupa harganyasemua pisang itu dua puluh ribu rupiah. Ternyata murah juga. Dia berjanji besok akan datang lagi membawa talas.

Pedagang pisang meninggalkan villa, keluarga Benni tiba. Mereka hanya bertiga menaiki avanza hitam. Tanpa menunggu lama mereka langsung makan. Sementara mereka makan, saya bersama beberapa anak menuruni tangga di halama belakang menuju kolam renang. Disana sudah ada beberapa anak yang sedang berenang. Mereka sangat menikmati bermain di kolam itu. Kolam renang ini cukup unik. Air kolam diperoleh dari air gunung. Melalui sebuah pancuran kecil air masuk ke dalam kolam. Kolam berbentuk lingkaran dan di sisi yang berseberangan dengan pancuran diletakkan sebuah perosotan. Kedalaman air dalam kolam kira-kira 30 cm, sehingga cukup aman buat anak kecik sekali pun. Yang paling unik dati kolam ini adalah diameternya tidak ebih dari 2m…. hhhhhh… Walaupun demikian imut… yahhh cukuplah untuk tempat anak-anak berendam dan mereka sangat menikmatinya. Tadinya saya ingin berenag dikolam itu, tetapi karena begitu imut, saya mengurungkan niat itu.


Matahari terasa bergerak lebih cepat di sini. Tidak terasa hari sudah sore ketika kami meninggalkan kolam renang yang imut itu. Kami kembali ke villa dan dua mobil memasuki halaman. Mereka adalah keluarga oppung Gita. Dengan cipika-cipiki kami menyambut kedatangan mereka. Mereka membawa rombongan yang banyak dan barang yang banyak pula. Oppung gita langsung memeriksa semua perlengkapan, terutama perlengkapan dapur. Ia memastikan semua barang dan peralatan yang kami butuhkan sudah tersedia. Karena dua kamar yang ada di dalam villa sudah penuh, mereka memilih kamar belakang yang ukurannya lebih kecil.


Menghabiskan waktu sore hari kami berkumpul di halaman depan, dibawah naungan pohon-pohon pinus, di atas gelaran tikar pandan. Ada yang tidur-tiduran dan ada yang duduk-duduk. Kami berbagi cerita dan tertawa. Ternyata banyak juga yang memiliki koleksi cerita lucu. Mulai dari kisah cinta sampai cerita masa kecil. Cerita sambung menyambung dari yang satu ke yang lain. Setiap akhir cerita kami pasti tertawa. Semua saling menunjukkan kehebatan cerita masing-masing. Sore yang penuh dengan kegembiraan. Sementara itu sebagian anak bermain bola di halaman samping dan sebagian lagi bermain ayunan.

Hari mulai gelap dan kamipun harus bubar dari halaman. Masih banyak waktu besok untuk melanjutkan cerita-cerita, pengalaman dan perbincangan yang menggembirakan itu. Anak-anak harus mandi. Ibu-ibu harus mempersiapkan makan malam. Semua perut yang sudah lapar lagi harus segera diisi kembali. Nanti malam akan ada kebaktian yang akan dipimpin ompung Gita doli, jadi semua harus berkumpul di ruang tengah Villa sebelum jam 8 malam.

Tepat jam delapan kebaktian dimulai. Sebagian tidak ikut kebaktian. Sebagian anak-anak sudah tidur. Kebaktian berjalan dengan khikmad, hening dan santun. Lagu pujian dikumandangkan. Firman Tuhan dibacakan. Firman Tuhan dipilih dari Kitab Amsal. Firman ini merisi tentang ajaran untuk berhikmad. Kitab Amsal ini dipilih untuk mengingatkan kita semua untuk melakukan kebaikan dan mengejar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Doa-doa dipanjatkan. Doa permohonan agar semua anggota keluarga besar kita baik yang di kampung, maupun yang di perantauan selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Kebaktian berakhir dengan doa Bapa Kami.

Kebaktian berakhir, namun kebersamaan masih berlanjut. Obrolan yang terputus tadi sore dibawah naungan pohon pinus kembali berlanjut di ruang tengah ini. Namun kali ini yang melanjutkan obrolan itu sebagian besar adalah perempuan, sementara sebagian laki-laki pindah ke teras belakang bermain kartu. Permainan yang mereka lakukan mereka sebut dengan permainan bento. Dulu waktu saya kuliah di Medan, permainan itu dikenal dengan permainan leng.

Malam telah larut ketika semua mengambil posisi tidur. Semua lantai villa berubah menjadi tempat tidur. Dikamar, di ruang tengah, di ruang atas di kamar belakang bahkan di bangunan kecil di ujung halaman menjadi tempat tidur. Setelah saya hitung, ternyata kami semua berjumlah 45 orang mulai dari bayi sampai ompung-ompung. Bagus juga kami memilih Villa yang tidak begitu besar, sehingga kami bisa tidur berdesak-desakan. Jadinya kami terhindar dari dinginnya angin malam kawasan puncak.

Malam berganti pagi, di luar masih gelap, tetapi beberapa orang sudah bangun. Ada yang mempersiapkan sarapan pagi di dapur, ada yang olah raga mengelilingi villa, ada yang lagi duduk bermalas-malasan di teras, ada yang lagi nongkrong di WC dan ada yang lagi antri untuk nongkrong di WC. Memang ada sedikit masalah ketika pagi hari. Untuk melayani kami yang berjumlah 45 orang hanya ada 2 WC. Bisa dibayangkan betapa panjang antrian di depan pintu WC. Apalagi karena kemarin siang dan malam kami makan banyak, waktu nongkrong menjadi lebih lama.

Pagi ini menu sarapan kami adalah nasi goreng spesial pakai telor, nasi putih, ikan teri sambal tomat, ikan asin goreng kripik dan minumnya adalah teh manis hangat. Wawww… nikmatnya. Sambil sarapan kami melanjutkan cerita-cerita lucu yang tidak ada habisnya. Semua tertawa, semua gembira. Tidak lama semua menu sarapan pagi habis masuk ke dalam perut, bahkan anak-anak ada yang masih menambah dengan mie rebus yang dimasak sendiri. Ada 3 dus mie rebus yang kami sediakan dan kini hanya tinggal kurang dari separoh.

Anak-anak seakan tidak ada capeknya. Selesai sarapan mereka langsung bermain bola. Anak kecil sampai dengan bapak-bapak ikut bersama-sama bermain bola. Bermain bola keroyokan, namun portif. Adegan-adegan lucu sering terjadi ketika anak kecil yang menendang bola dan itu membuat semua pemain tertawa. Ada 4 orang pemuda bernadan gelap yang belum aku kenal ikut dalam permainan bola ini. Tadinya saya kira mereka pemuda setempat, ternyata mereka adalah tetangga Roni. Mereka datang tadi malam naik motor. Nantinya saya jadi tahu kalau satu dari ke empat pemuda itu ada yang lagi menaksir satu dari anggota keluarga kami. Siapakah dia…?

Hari ini kami berencana untuk melaksanakan ibadah minggu, karena hari ini memang hari minggu. Saya berharap dalam acara ibadah minggu ini akan semakin banyak makna, hikmah, atau apalah namanya yang kami peroleh selama di puncak ini. Akan semakin akrab kekeluargaan keluarga besar kami. Di bayangan saya, setelah kebaktian ini akan ada kesempatan bagi kami untuk mengutarakan isi hati kami dengan lebih formil. Disinilah waktunya kami membagikan kebanggaan kami akan keluarga besar ini. Disini juka kami akan mengoreksi atau memberikan masukan untuk perbaikan punguan ini. Namun karena alasan yang tak kupahami acara ibadah minggu tidak jadi dilaksanakan. Kebaktian minggu yang tidak jadi dilaksanakan tidak mengurangi arti kebersamaan kami di Villa Hubers ini.
Bersambung…………………..

Iklan

Satu pemikiran pada “Villa Hubers

  1. Horas Ito, salam kenal rumahku dibelakang gereja HKBP Simpangan Bolon, kak lisbet kan nikah dengan pariban ku kandung (josdi Sitorus), senang baca artikelnya jadi bangga nih menjadi keluarga besar simpangan bolon.Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s