Berita Itu Menyentak Jantungku

Kemarin aku dengar lagi salah satu anggota keluarga kami telah menikah dengan seorang muslim. Kembali jantungku tersentak, walaupun tudak sekuat sentakan-sentakan sebelumnya. Mungkin karena semakin sering saya mendapat berita yang sama. Jantungku semakin terbiasa mendapatkan kabar seperti ini. Pertama sekali aku mendapat kabar seperti ini sekitar empat belas tahun yang lalu, duniaku rasanya mau kiamat. Berita itu bagiku lebih buruk dibandingkan dengan berita meninggalnya bapakku dua tahun sebelumnya. Berhari-hari aku merasa berduka (jauh lebih lama dari duka sepeninggal bapakku) tanpa ada yang menghibur. Semuanya terasa sesak mengganjal di rongga dadaku. Sampai hari ini aku belum bisa berdamai seratus persen dengan kekecewaan itu. Hari ini memang perasaanku tidak lagi sedahsyat kala itu. Hari ini memang dadaku tidak sampai sesak walau napasku sejenak tertahan. Hari ini memang saya tidak sampai berduka. Namun tetap saja berita kali ini menggangu pikiranku. Berita kali ini membangkitkan kembali ingatan akan berita-berita yang sama .

Mungkin bagi banyak orang apa yang saya rasakan kedengaran terlalu berlebihan. Bukankah seharusnya aku ikut bergembira, karena telah banyak anggota keluarga besar kami yang berasimilasi dengan agama yang berbeda di negara yang berbinneka tunggal ika ini. Bukankah seharusnya aku ikut berbahagia karena sebagian saudaraku sudah menerapkan demokrasi dan toleransi yang sangat tinggi dalam kehidupannya yang paling pribadi. Bukankah seharusnya aku mendorong agar saudara-saudaraku yang lebih muda lebih banyak lagi mengikuti kakak-kakaknya.

Tidak…! Sekali lagi tidak…!

Sesungguhnya aku tidak pernah membenci atau bahkan memusuhi orang yang tidak seagama denganku. Aku sangat menghormati semua agama dan aliran kepercayaan, bahkan sejak kecil aku sudah bergaul dan bersahabat dengan sahabat-sahabat terbaik dari berbagai agama. Ada yang beragama Islam, Hindu, Budha, Parmalim dan juga yang tidak beragama. Aku tidak pernah menganggap agamaku lebih baik dari mereka atau sebaliknya. Tapi mengapa aku belum rela anggota keluarag kami menikah dengan agama lain selain kristen? Hal ini bukanlah karena aku menganggap saudaraku yang menikah dengan agama selain kristen kelak tidak akan masuk sorga. Menurutku agama tidak membawa seseorang masuk sorga atau masuk neraka, tetapi hubungan pribadi seseorang dengan Sang Maha Penciptalah yang menentukan.

Sekali lagi mengapa sampai saat ini aku tidak rela anggota keluarga kami menikah dengan orang yang agamanya bukan kristen? Tentu saja banyak alasan yang menyebabkannya. Keluarga besar kami adalah keluarga Batak Kristen yang tentu saja menganut banyak sekali kearifan budaya suku Batak dan ajaran Kristen. Salah satu kearifan budaya itu adalah keharusan menghormati orang tua dan kearifan ini juga sejalan dengan ajaran kristen dalam “Patik Palimahon: ikkon pasangaponmu natorasmu”(Harus menghormati orang tua).

Aku merasakan sendiri sejak kecil bagaimana keharusan menghormati orang tua ini diterapkan. Keharusan menghormati orang tua ini diterapkan bukan hanya sepihak dalam artian hanya enak di orang tua saja. Namun aturan menghormati orang tua ini telah memaksa orangtua bertindak bahkan berjuang sehingga orangtua layak dihormati. Orang tua bahkan berjuang mati-matian demi kebaikan anak-anaknya sehingga kelak anak-anaknya juga menjadi anak-anak yang terhormat. Dalam hal ini yang dimaksudkan terhormat bukanlah gila hormat, tetapi sejahtera, bermartabat dan bisa menolong orang lain, sehingga tidak dilecehkan orang lain. Aku merasakan sendiri bagaimana orang tua kami berjuang mati-matian agar kami anak-anaknya bisa sekolah. Menurut orang tuaku kala itu pendidikan (sekolah) merupakan cara terbaik memperbaiki kehidupan anak-anaknya.

Orang tuaku dan kebanyakan orang tua batak yang tinggal di kampung adalah pekerja keras. Kerja keras mereka semata-mata hanyalah untuk anak-anaknya. Mereka tidak pernah mengatakan kepada anak-anaknya agar kelak anak-anak membayar segala jerih payang mereka. Mereka sudah sangat bahagia bila kelak mengetahui anaknya sudah berhasil sesuai dengan alur kehidupan yang mereka pahami. Untuk semua jerih payah orang tua itu haruskah sianak mengabaikan…? Tentu saja tidak. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh si anak untuk kebahagiaan orang tuanya..? Sebagaimana yang saya rasakan dan juga terjadi pada banyak orang batak dan kristen pula, kebahagiaan yang dirasakan orang tua dari seorang anak menurut alur kehidupan yang mereka pahami dimulai sejak sianak itu lahir. Orang tua akan sangat bahagia mendengar tangisan pertama anaknya, menggendong sianak dibabtis di altar gereja, mengantarkan anaknya ke sekolah dengan seragam sekolah pertamanya, menerima kertas ulangan anaknya dari sekolah, menyaksikan anaknya “marayat-ayat” di malam natal, mendengar si anak lulus dari sekolahnya, menemani si anak mengikrarkan iman kesetiaannya dalam upacara sidi, Mengetahui anaknya mendapat pekerjaan, menghantarkan anaknya diberkati pendeta dalam pernikahan kudus, menggendong cucu yang lahir dari anak-anaknya dan banyak lagi. Semua itu adalah hal yang membahagiakan orang tua dan paling membahagiakan dibandingkan dengan materi. Semua itu adalah hal yang alamiah dan tidak susah diberikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Dari sekian banyak hal yang membahagiakan orangtua, salah satunya adalah menyaksikan anaknya menikah. Orangtua batak dan kristen pula sebagaimana orangtua di keluarga kami sangat berbahagia ketika si orang tua mengantarkan anaknya ke altar gereja untuk mengikuti upacara pernikahan kudus di hadapan pendeta. Kebahagiaan ini akan berlanjut ketika orangtua memberikan ulos ke anaknya (bila putrinya yang menikah) atau menerima ulos (bila putranya yang menikah) pada acara adat pernikahan anaknya.
Sebaliknya orangtua akan sangat sedih dan kecewa ketika mengetahui anaknya menikah tetapi tidak dilangsungkan di gereja sehingga mereka tidak mungkin menghadirinya. Betapa sedihnya seorang ibu tidak dapat memeluk putrinya pada upacara pernikahan karena pernikahan itu dilakukan di hadapan penghulu. Betapa kecewanya seorang bapak tidak dapat menjadi orangtua pada pernikahan anaknya karena sianak mengucapkan ijab kabul. Orang tua batak dan kristen pula mana yang tidak akan menangis menyaksikan sahabatnya menyematkan ulos hela, sementara diseberang sana anaknya sendiri menyerahkan maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai.

Kesedihan dan kekecewaan si orang tua tidak berakhir pada selesainya prosesi pernikahan. Kekecewaan dan kesedihan itu akan berlajut karena sejak menikah kebiasaan hidup si anak akan berubah dan sangat berbeda dengan kebiasaan si orang tua. Perbedaan ini akan menjadi tirai pembatas yang akan sangat mengganggu hubungan orang tua dengan anak.
Jadi sekali lagi kekecewaan dan ketidansetujuan saya terhadap anggota keluarga kami yang menikah dengan orang yang tidak seagama, bukanlah masalah sorga dan neraka, tetapi semata-mata masalah hubungan orangtua dan anak yang berubah. Hubungan yang berubah ini menimbulkan kekecewaan terhadap orangtua dan juga si anak.
Di lain sisi aku melihat bahwa sebuah pernikahan adalah suci, kudus dan sakral. Pernikahan bukan saja menyatukan dua individu, tetapi menyatukan dua keluarga besar. Jadi menurut saya pernikahan yang tidak menyatukan dua keluarga besar bukanlah pernikahan yang baik. Oleh karena itu momen bahagia sebuah pernikahan seharusnya mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak dan membahagiakan banyak orang.

Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar kalau orangtua salah satu pihak yang akan menikah tidak memberikan restu? Pernikahan yang direstui saja belum tentu bahagia, apalagi pernikahan yang tidak direstui. Hal inilah yang harus dipahami sebelum memutuskan untuk menikah. Apakah pernikahan ini nantinya akan membuat lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan? Itulah sebabnya setiap orang yang memberikan ucapan selamat kepada mempelai adalah selamat berbahagia. Jadi pernikahan yang direstui oleh orang tua kedua mempelai adalah salah satu syarat mutlak menuju pernikahan yang bahagia.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya agar sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar, membahagiakan banyak orang dan yang terutama mendapat restu dari orangtua keua belah pihak. Sesungguhnya caranya tidaklah sesulit apa yang dibayangkan, namun memang melalui proses panjang yang membutuhkan pengorbanan, kedisiplinan dan waktu.
Proses panjang itu dimulai sejak si anak itu lahir dan bagaimana dia dididik oleh orangtuanya, tetapi baiklan proses ini kita potong sejak sianak sudah mulai pacaran. Setiap orang berhak mengenal banyak lawan jenis atau pacaran, tetapi setiap orang dianugrahi pencipta kemampuan untuk mengenal lawan jenis yang mungkin cocok atau tidak cocok dengan dirinya. Kemampuan ini tidak boleh diabaikan dengan alasan cinta itu buta. Selain itu bergaullah dalam lingkungan orang-orang yang berkwalitas dan sejalan dengan ajaran yang dianut oleh keluarga. Dengan demikian peluang mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan anda dan keluarga lebih besar. Jangan coba-coba bermain api. Bukan hanya anda yang akan dibakar oleh api itu, tetapi seluruh keluarga anda juga ikut terbakar.

Ketika seseorang telah menemukan seorang lawan jenis yang sudah cocok untuk dipacari, kenalkanlah sejak awal kepada keluarga terdekat, sehingga sejak awal keluarga sudah ikut menseleksi dan mengantisipasi bila ada hal-hal yang belum terpikirkan sebelumnya. Selanjutnya kalau ditemukan perbedaan yang prinsip jangan takut untuk memutuskan hubungan pacaran. Putus berkali-kali dalam pacaran bukanlah aib, tetapi perceraian adalah hal yang mutlak dihindari. Jadi jangan takut memutuskan hubungan dengan pacar yang didak direstui orang tua.

Jangan ada kata tidak tega. Saya sudah sangat mencintai dia, jadi saya tidak mungkin hidup tanpa dia. Dia baik sekali, tidak ada lagi orang lain yang sebaik dia. Saya memiliki banyak hutang budi kepada dia, jadi saya harus menikah dengan dia untuk membalas budi itu. Stop…! Hentikan semua alasan klise itu. Jangan pula ada alasan menikah itu kan hak saya, jadi siapapun yang akan saya nikahi tidak ada yang boleh melarang termasuk orang tua saya. Jangan juga beralasan menikah dengan orang yang beda agama kemudian mengikut agama pasangan kan tidak dilarang negara, sementara nilai-nilai yang dianut keluarga besar kita kan sudah kuno. Pikirkan kebahagiaan masa depanmu. Kalau kamu mau merubah nilai-nilai yang ada di keluarga kita dengan nilai-nilai yang menurutmu moderen, lakukanlah itu nanti ke anak-anakmu. Jangan lakukan itu untuk menyakiti orangtuamu.

Bagi saudara-saudaraku yang telah membuat jantung saya tersentak, saya minta tolong ikut memikirkan cara untuk menghindari timbulnya berita-berita buruk yang membuat kita sedih di esok hari. Biarlah adik-adik kita bisa menikah sesuai dengan harapan orang tua kita.

Bagi kalian yang yang sudah punya calon dan belum menikah, bawalah calonmu segera kerumah orang tua dan tanyalah mereka, apakah mereka setuju dengan pilihanmu. Kalau mereka tidak setuju, tanyakan alasan mengapa mereka tidak setuju. Kalau alasannya benar-benar demi kebahagiaanmu dan seluruh keluarga, tidak usah takut untuk mengganti calonmu.
Bagi yang belum punya calon, bergaullah di lingkungan yang baik menurut nilai-nilai yang dianut keluarga kita. Mudah-mudahan dari lingkungan itu kamu menemukan calon yang baik dalm ukuran nilai-nilai yang keluarga kita anut, dan kalau calonmu sudah ketemu, cepat-cepatlah bawa ke rumah lalu kenalkan kepada sebanyak mungkin saudara kita, terlebih kepada orangtua. Ikutkanlah mereka menseleksi calonmu.

Sekali lagi, buat adek-adek anggota keluarga besar kita yang belum menikah, tolonglah untuk tidak menikah dengan pasangan yang beda agama. Sudah terlalu banyak air mata orang tua kita yang tertumpah. Sudah terlalu banyak kekecewaan yang kita rasakan. Tinggalkanlah dulu egomu dan pikirkanlah kebahagiaan yang lebih besar yang bisa kau berikan kepada keluarga besar kita. Menikah dengan sesama orang batak dan kristen pula memang merepotkan, tetapi kerepotan ini merupakan bagian dari kebahagiaan keluarga kita. Mungkin kamu merasa orang lain lebih memperhatikan dan mengasihimu dibanding orang tua dan saudara-saudara mu, kamu salah besar. Ingatlah kami saudara-saudaramu dan terutama orangtuamu lebih sayang kepadamu dibanding dengan orang lain yang kau pilih karena dalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Sampai saat ini aku belum yakin, tetapi aku selalu berharap agar berita kemarin merupakan berita terakhir yang membuat jantungku tersentak.

4 pemikiran pada “Berita Itu Menyentak Jantungku

  1. “Jangan coba-coba bermain api. Bukan hanya anda yang akan dibakar oleh api itu, tetapi seluruh keluarga anda juga ikut terbakar.” >>>> berat kata2nya da,,,hehehehehe

  2. setuju yang dikatakan ito itu benar 🙂

    tidak akan pernah ketemu dalam smua acara keluarga batak yg beda keyakinan, terkecuali ada pengertian yg tulus tp setulus2nya pasti ada di hati knapa beda keyakinan…

    tp memang jaman hedon skrg banyak yg lupa nasihat orangtua dan di sisi lain sudah longgar komunikasi yg bersaudara….

  3. Semoga jangan ada lagi anggota keluarga kita yang tega menguras air mata orang tuanya dan kita saudaranya. Saya selalu berharap mudjijat Tuhan nyata di Keluarga kita. Tuhan Menyertai seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s