Aurora Masniari Sinaga 2

Pada pukul 6 pagi, perawat memberikan tindakan lanjutan kepada istri saya yaitu pemasangan balon. Pemasangan ini dilakukan karena proses induksi yang dilakukan sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa. Pemasangan balon ini diharapkan dapat merangsang bukaan dan kontraksi. Setelah pemasangan balon ini, istri saya dibolehkan keluar ruang bersalin dan berjalan mondar-mandir di depan ruang perawatan. Tidak lama berselang, istri saya mulai merasakan sakit di pinggul dan bawah perutnya. Rasa sakit itu semakin lama semakin sakit dan frekwensinya semakin banyak.

Menjelang siang hari, perawat memberitahukan kepada saya bahwa isteri saya sudah mengalami bukaan 4 dan balon telah dilepas. Kata perawat juga, kalau sudah bukaan 4 tidak lama lagi akan berlanjut ke bukaan-bukaan berikutnya. Sebelumnya saya tidak paham apa arti dari bukaan-bukaan yang dimaksud, walaupun saya sudah sering mendengarkannya. Ternyata bukaan yang dimaksud adalah bukaan jalan lahir si bayi yang diukur dengan satuan centi meter. Jadi bukaan satu artinya adalah jalan lahir si bayi sudah terbuka selebar 1 cm. Jumlah bukaan ini ada 10, sehingga setelah bukaan 10 baru si bayi akan dilahirkan.

Berjam-jam setelah bukaan 4, bukaan istri saya tidak bertambah-bertambah. Dokter mengatakan kepada saya apa bila dalam beberapa jam lagi bukaan tidak tambah, maka isteri saya harus di operasi. Saya kaget dan hati saya makin kacau. Saya meminta kepada dokter agar ditunggu saja selama bayi dan ibunya masih kuat. Dokter mengiyakan permintaan saya dan mengatakan akan menunggu sampai bukaan 5. Setelah itu air ketuban akan dipecahkan agar bukaan selanjutnya bisa cepat terjadi.

Hari telah malam, namun bukaan istri saya belum bertambah. Saat itu di televisi ada siaran langsung final sepakbola AFF antara Indonesia dengan Malaysia. Perawat, dokter, pengunjung bahkan beberapa pasien terkonsentrasi di depan beberapa telivisi yang ada di rumah sakit itu. Sementara di ruang bersalin istri saya menahan rasa sakit yang makin lama makin luar biasa. Saya sendiri duduk seorang diri di ruang tunggu. Hati saya tidak tenang. Saya tidak tega meninggalkan ruang tunggu hanya sekedar untuk ikut menyaksikan pertandingan bola di televisi yang ada di ruang sebelah. Saya hanya bisa mendengar teriakan-teriakan mereka ketika serangan-serangan indonesia kandas di depan gawang malaysia.

Sementara itu dari dalam ruang bersalin saya mendengar erangan istri saya. Saya menanyakan perawat apakah keadaan istri dan anak saya baik-baik saja. Perawat mengatakan bahwa rasa sakit yang dirasakan istri saya adalah pertanda bahwa proses kelahiran anak kami akan semakin cepat.

Setelah menunggu cukup lama, istri saya mengalami bukaan 5 dan perawat memindahkannya ke tempat tidur bersalin. Di sana air ketuban dipecah dan rasa sakit yang dirasakan istri saya semakin sakit dan intervalnya semakin cepat. Setelah air ketuban dipecahkan saya dibolehkan mendampingi istri saya. Bukaan demi bukaan pun terus terjadi dan setengah jam setelah pertandingan bola selesai, bukaan sudah sampai pada bukaan 10. Semua perawat bersiap-siap. Mereka mengenakan celemek plastik dan sarung tangan karet. Isteri saya diposisikan pada posisi melahirkan.

Dengan bantuan para perawat, istri saya mulai mengedan. Proses mengedan ini dilakukan berulang-ulang. Agak susah juga istri saya melakukan proses ini. Mungkin karena rasa sakit yang luar biasa yang dia rasakan menyebabkan tenaganya banyak terkuras. Tak berapa lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan dan mengambil alih komando persalinan. Dokter meminta istri saya untuk mengedan kembali, dan kalau saya tidak lupa, pada edanan ke 4 setelah dokter ada di ruangan anak kami lahir. Saya bahagia sekali. Tiba-tiba air mata saya mau keluar, namun saya tahan di kelopak mata. Saya tidak ingin kelihatan cengeng. Trima kasih Tuhan, akhirnya anak ini lahir juga setelah kami menunggu di rumah sakit ini selama 39 jam.

Setelah si anak keluar dari rahim ibunya, si anak tidak langsung menangis. Hati saya sempat kacau. Apa yang terjadi dengan anak kami. Haruskah kegembiraan dan kebahagiaan ini akan berahir sampai di sini. Haruskah air mata bahagia yang tertahan di kelopak mata berubah menjadi tangisan duka. Dokter menepuk-nepuk pantatnya dan seorang suster menyemprotkan sejenis cairan kemulutnya dan kemuadian anak itupun menangis, tapi hanya sekali saja. Kekacauan hati saya sempat menguap mendengar tangisan itu, tetapi muncul lagi ketika anak itu kembali diam. Tuhan tolong kuatkan dia.

Setelah diam beberapa saat, kembali anak itu menangis dan menagis sejadi-jadinya. Kekacauan di hati sayapun sirna. Dokter memotong tali pusarnya dan menyerahkan anak itu ke seorang perawat untuk dibersihkan. Sementara dokter dan perawat melanjutkan pekerjaannya, saya keluar ruangan bersalin. Saya menemui saudara saya yang ada di ruang tunggu. Saya menyampaikan kabar gembira itu dan merekapun ikut merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. Ucapan selamat aku terima dari semua orang yang ada di ruang tunggu itu. Lalu aku duduk di kursi dan menghela nafas merasakan darah yang mengalir dalam tubuhku.

Saat duduk itu aku menyadari ternyata aku sekarang sudah menjadi seorang bapak. Bapak dari seorang bayi perempuan mungil yang cantik. Wajahnya bundar, pipinya tembem, hidungnya mancung dan matanya sipit. Dia mirip sekali dengan wajahku waktu anak-anak. Lalu aku berandai-andai bila nanti dia sudah besar, saya kan mengantarnya  ke sekolah minggu dan kesekolah juga. Kemudian dia akan bertambah dewasa, dia akan menjadi seorang gadis yang cantik. Dia akan menjadi kebanggaan ibu dan bapaknya. Dia juga akan menjadi kebanggaan keluarga kami.

Tiba-tiba andai-andaiku hilang ketika seorang perawat memanggilku masuk ke ruang bersalin. Disana perawat memeriksa seluruh tubuh anak kami dan mengatakan kepada saya kalau anak kami sempurna. Kemudian anak kami diukur panjangnya dan ditimbang beratnya. Panjangnya 48 cm dan beratnya 3,5 kg. Setelah di kenakan popok dan kain bedong, anak kami langsung kami antar ke ruang perawatan bayi di lantai lima. Seharusnya anak kami diinisiasi dulu sebelum ke runag perawatan bayi, tetapi karena telapak tangan dan kakinya berwarna biru, maka dia harus segera dihangatkan di ruang perawatan bayi.

Seperti halnya bayi-bayi yang lain, di ruang perawatan bayi anak kami diidentifikasi dan dipasangkan gelang identifikasi di tangan kanannya. Kemudian cap jari dan telapak kaki diambil. Terakhir saya menandatangani sebuah formulir sebelum turun ke lantai dua dan meninggalkan anak kami di ruang perawatan bayi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s