Aurora Masniari Sinaga

Hari masih pagi ketika aku bersama isteri menaiki Blue Bird dari rumah kami di Pondok Hijau Permai menuju Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi –barat. Hari itu 28 Desember 2010, matahari bersinar terang walaupun banyak awan menghiasi langit. Tepat jam 7.30 kami tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar bersalin sesuai dengan perjanjian dengan dokter pada hari sebelumnya.

Saya mengantar isteri saya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan atas kandungannya yang telah memasuki minggu ke 41. Menutur dokter, usia kandungan isteri saya sudah melawati batas usiakandungan normal, oleh karena itu kondisi janin harus diperiksa apakah masih mampu bertahan dalamkandungan. Ketika iteri diperiksa di ruang bersalin, saya hanya boleh menunggu di luar ruangan. Disana juga ada beberapa orang laki-laki yang sedang menunggu isteri mereka yang akan melahirkan.

Tidak sampai satu jam pintu ruangan bersalin terbuka dan seorang suster memanggil saya dengan sebutan “Suami Ibu Rospita”. Saya mengikuti perawat tersebut ke dalam ruangan. Diruangan tersebut saya melihat beberapa tempat tidur untuk bersalin yang dibatasi oleh tirai-tirai panjang. Tempat tidur itu dilengkapi dengan penopang-penopang kaki. Di samping tempat tidur ada tabung oksigen, box bayi, sebuah benda mirip radio tape jaman dulu [beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa alat tersebut adalah alat untuk merekam dan mendeteksi detak jantung bayi yang masih dalamkandungan] dan beberapa peralatan elektronik dengan monitor yang tidak saya tau apa nama dan kegunaannya. Di sebelah kiri ada beberapa tempat tidur yang diperuntukkan bagi mereka yang masih menunggu persalinan, dan isteri saya sedang berada di salah satu tempat tidur tersebut. Di sebelah kanan ada sebuah pintu yang menghubungkan ruangan tersebut dengan ruang bersalin VIP. Di dekat pintu masuk ada meja dan beberapa kursi. Saya dipersilahkan duduk di kursi tersebut. Seorang perawat senior menjelaskan keadaan istri saya dengan menunjukkan tiga lembar kertas berisi grafik yang mirip dengan grafik seismograf gunung merapi. Perawat itu menjelaskan apa arti dari grafik tersebut dan menyimpulkan bahwa isteri saya harus tinggal di rumah sakit sampai melahirkan. Untuk itu saya diminta segera memesan kamar perawatan yang akan ditempati istri saya nanti setelah melahirkan.

Dari ruang bersalin di lantai 2 dengan menuruni tangga saya menuju tempat pemesanan kamar perawatan di lantai satu. Disana seorang petugas berseragam merah menyambut dan menanyakan keperluan saya denganbegitu ramah. Saya menjelaskan apa yang saya inginkan sesuai dengan pesan dari perawat di ruang bersalin. Petugas tersebut menunjukkan selembar kertas berisi pilihan kelas-kelas kamar lengkap dengan tarifnya. Saya memilih kelas IIA dengan alasan satu kamar ditempati oleh tiga orang pasien. Saya pikir ini adalah jumlah yang pas, tidak kebanyakan dan tidak terlali sepi, jadi nanti istri saya punya teman ngobrol.

Setelah menentukan pilihan, saya mengisi formulir dan segera kembali ke ruang bersalin. Di Koridor panjang depan ruang bersalin yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tunggu para suami-suami yang menunggui istrinya melahirkan, terlihat beberapa orang ibu hamil yang mengenakan seragam berwarna merah muda sedang mondar-mandir. Mereka memang sengaja disuruh jalan-jalan di depan ruang bersalin untuk memepercepat dan mempermudah proses persalinan mereka. Salah satu dari mereka adalah istri saya.

Saya langsung menghampiri istri dan menanyakan alasan mengapa dia harus tinggal di rumah sakit sampai melahirkan, walaupun tadi seorang perawat sudah menjelaskannya kepada saya. Dia mengatakan bahwa anak kami yang dikandungnya sudah tidak betah di dalam kandungan, walaupun isteri belum mengalami kontraksi. Hal itu bisa diketahui dari pemeriksaan detak jantung janin dengan menggunakan alat seperti radio tape itu. Detak jantung bayi kami sudah berada sedikit dibawah normal. Kalau dibiarkan, lama-lama denyut jantung tersebut akan melemah dan bisa membahayakan nyawa janin. Lalu bagaimana caranya agar anakkami segera lahir, sementara istri saya belum mengalami kontraksi, fleg apalagi bukaan. Ketiga istilah terahir ini menjadi kosa kata yang sangat sering saya dengarkan selama menunggu proses prsalinan istri saya.

Istri saya mengatakan bahwa dia telah diinduksi untuk merangsang kontraksi dan bukaan untuk mempercepat proses persalinan. Istilah apalagi induksi ini…? Setahu saya induksi adalah proses perpindahan panas dari satu titik ke titik lain melalui benda padat. Namun dalam hal ini, induksi adalah pemberian hormon tertentu ke dalam tubuh si ibu untuk merangsang segala perangkat persalinan dalam tubuhnya. Saya tidak tahu persis bagaimana detailnya. Namun sampai berjam-jam kemudian istri saya tidak merasakan efek dari induksi tersebut. Tetapi efek secara pisikologis semakin meresahkan dia. Efek ini disebabkan oleh erangan-erangan ibu-ibu yang kesakitan menahan kontraksi kandungan mereka di ruangan bersalin. Karena begitu ngeri menlihat dan mendengarkan ibu-ibu tersebut, istri saya jadi lebih sering keluar dari ruang bersalin dan duduk bersama-sama dengan saya di ruang tunggu.

Selama saya berada di ruang tunggu, ada lebih dari sepuluh orang anak yang lahir. Setiap kali seorang ibu akan melahirkan, perawat akan memanggil suami dari ibu yang akan melahirkan tersebut dengan menyebutkan “Suami Ibu …..”. Pertama-tama si suami itu akan diminta menyiapkan pakaian isterinya berupa sehelai sarung atau kain panjang, baju atasan, celana dalam dan gurita. Selanjutnya si suami akan masuk kedalam ruang bersalin dan menemani isterinya sampai anaknya lahir. Setelah si anak lahir, si suami disuruh keluar ruangan dan menunggu perawat membersihkan bayi dan ibunya. Setelah itu kembali si suami dipanggil masuk untuk menyaksikan pengukuran panjang dan penimbangan berat bayi. Selanjutnya bersama-sama dengan si suami, bayi yang berada dalam boks transparan dibawa oleh perawat menuju ruang perawatan bayi dilantai lima. Di ruang perawatan bayi, bayi tersebut diidentifikasi dan identitasnya digelangkan di pergelangan tangan kanan bayi. Disana cap jari tangan dan cap telapak kaki bayi juga diambil. Semua proses itu disaksikan oleh si Suami. Setelah itu si suami atau si bapak kembali ke ruang bersalin menunggu kesiapan istrinya untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah semuanya siap, si suami menemani istrinya yang berbaring di tempat tidur bersama perawat dan keluarga yang ada menuju kamar perawatan.

Saya menyaksikan proses di atas berulang-ulang sebanyak isteri yang melahirkan selama saya ada di ruang tunggu. Setiap kali pintu ruang bersalin terbuka,saya selalu berharap nama saya yang dipanggil. Tetapi sampai hari pertama berlalu, isteri saya belum juga mengalami tanda-tanda akan melahirkan. Dalam hati saya semakin kawatir, jangan sampai isteri saya dioperasi. Memang sekarang ini proses melahirkan dengan jalan operasi sudah menjadi hal yang biasa dan resiko ketidakberhasilannya semakin kecil bahkan mendekati nol. Saya tetap saja khawatir. Dalam hati saya selalu memohon pertolongan Tuhan agar istri saya kuat dan anak kami lahir normal, selamat dan sehat. Namun kekawatiran itu tidak pernah saya tunjukkan kepada isteri saya. Saya tidak mau rasa takutnya bertambah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s