Danau Toba

Halo dunia!
Tahukah anda kalau di kaki pegunungan bukit barisan ada sebuah tempat yang begitu cantik?. Tahukah anda kalau ditempat itu ada sekumpulan bukit-bukit batu yang memagari sebuah danau nan elok? Tahukah anda kalau di tengah danau itu ada sebuah pulau besar dan beberapa pulau kecil yang menawan? Tahukah anda kalau di tempat itu bemukim budaya luhur dengan sejuta tradisi mulia?
Ya… disana ada Danau Toba. Danau yang begitu luas dan rupawan. Airnya yang jernih berkilauan ketika disapa sinar mentari bak permata. Bukit-bukit batu yang kokoh dan tangguh menjaganya. Orang-orang yang hidup apa adanya bermukim di sekitar danau itu. Rumah-rumah tradisional dan ritual budaya lokal menambah pesona danau itu. Perahu-perahu nelayan pencari ikan mujahir menambah semarak permukaan danau.
Sampai pertengahan tahun 90-an danau toba menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Bahkan menjadi tujuan wisata ketiga terbesar setelah Bali dan Yokyakarta. Ketika itu menyaksikan wisatawan luar negeri atau bule merupakan hal biasa di sekitar danau toba. Bule dengan bebas berinteraksi dengan masyarakat setempat, makanya jangan heran kalau penduduk setempat banyak yang mahir berbahasa inggris. Di sana juga ada satu kampung yang penduduknya lebih banyak bule dibanding orang lokal. Danau toba memang sangat terkenal dan memang wajar karena keindahannya.
Salah satu efek dari ketenaran danau toba adalah kemakmuran banyak orang yang tinggal di sekitar danau toba. Banyak masyarakat setempat berprofesi sebagai pengusaha, terutama usaha yang berkaitan denga dunia pariwisata. Ada pengusaha hotel dan penginapan, pengusaha kapal, pengusaha angkutan jalan raya, pengusaha restaurant, pengusaha travel dan biro perjalanan, pengusaha barang-barang souvenir dan bayak lagi. Semua itu membuat kehidupan penduduk setempat menjadi makmur. Dengan kemakmuran itu banyak anak-anak yang sekolah ke sekolah-sekolah yang bagus di sumatra dan ke pulau jawa, bahkan ada yang ke luar negeri.
Kala itu industri pariwisata di danau toba benar-benar menggairahkan. Banyak hotel-hotel besar dibangun untuk menampung para wisatawan. Kapal ferry untuk menyeberangkan mobil dan penumpang pun diadakan. Jalan-jalan barupun dibuka agar semakin mabyak sudut danau yang dapat dinikmati. Pesta danau toba pun digelar setiap tahun dengan berbagai pertunjukan budaya, perlombaan olahraga tradisional, olah raga air dan juga olah raga modern seperti gantole dan power boating. Semuanya begitu menggairahkan, menyenangkan dan memakmurkan masyarakat.
Kebahagiaan itupun lambat laun memudar. Sebuah perusahaan raksasa datang menggunduli hutan-hutan yang menjadi sumber mata air danau toba. Setiap hari truk-truk pengangkut logging memadati jalan raya denga tonase berlebih. Jalanan hancur, air danau menyusut, bukit-bukit meranggas dan wisatawanpun berkurang. Aktivitas perusahaan raksasa itu terus berlanjut, muncul lagi masalah baru. Kabut asap yang datangnya entah dari mana menyelimuti daerah danau toba. Keindahan pun hilang dari pandangan mata. Tidak cukup sampai disitu masalah baru muncul kembali. Gangguan keaman terjadi di Aceh yang mengakibatkan wisatawan takut datang ke Sumatra. Hotel-hotel mulai mengeluh, mulai mem-phk karyawannya. Wisatawan semakin berkurang. Puncaknya datanglah badai krisis moneter (krismon) yang melumpuhkan industri pariwisata di danau toba. Hotel-hotel banyak yang beralih fungsi menjadi rumah dan tempat ibadah, bahkan banyak yang tutup total. Kapal-kapal bayak yang tidak lagi jalan karena tidak ada penumpang. Semuanya lesu bermuram durja. Kemakmuran yang dulu begitu meyenangkan berubah total. Banyak pengusaha yang bankrut, banyak pengusaha yang stress dan depresi. Anak-anak banyak yang putus sekolah. Pengusaha industri pariwisata banyak yang beralih profesi menjadi petani.
Kelesuan ini berlangsung begitu lama. Ketika daerah lain mulai bangkit, danau toba masih terpuruk. Tidak ada tanda-tanda pemulihan keadaan. Ketika daerah lain mulai berbenah, danau toba masih terlena dengan keterpurukannya. Ketika daerah lain telah bergairah kembali, danau toba belum juga berbuat apa-apa. Malah banyak muncul daerah pariwisata baru yang lebih diminati ketimbang danau toba. Banyak daerah yang tidak memiliki keindahan alam menjadi tujuan wisata yang diburu karena dipoles dengan berbagai fasilitas.
Hari ini danau toba benar-benar bagaikan seorang gadis manis yang sendirian jauh dari peradaban. Kejayaan pariwisata yang dulu pernah ada di danau toba seakan tak meninggalkan bekas. Bahkan jejak-jejak wisatawan luar negeri yang pernah menghiasi bibir danau toba kini hilang disapu angin dan riak-riak air danau. Begitulah danau togba yang begitu terpuruk sudah dihapus dari peta tujuan wisata Indonesia. Terbukti dengan tidak dicantumkannya danau toba sebagai tujuan wisata pada tahun kunjungan wisata 2008. Menyedihkan memang, sebuah danau yang sungguh indah yang pernah menjadi primadona wisata Indonesia, kini tidak dianggap lagi. Tetapi itulah kenyataan yang ada.
Jelaslah sudah bahwa industri pariwisata memang sudah benar-benar berubah. Keindahan alam tidak lagi menjadi penentu akan berlangsungnya industri pariwisata di sebuah tempat. Kekayaan budaya dan kearifan lokal tidak lagi menjadi jaminan orang-orang akan datang melihatnya. Industri pariwisata benar-benar berubah. Manajemen pariwisata menjadi kata kunci bagi keberhasilan pariwisata suatu daerah. Daerah yang gersang sekalipun bila ditata, dikelola dan dipromosikan dengan baik akan mendatangkan banyak wisatawan. Sebagai contoh siapa sangka gurun pasir Dubai menjadi tempat yang diserbu para wisatawan. Siapa sangka negara kecil Singapura menjadi tujuan wisata terbesar di Asia Tenggara. Semua itu karena penerapan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi yang dikelola denga manajemen serta pemerintahan yang baik.
Jadi apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan pariwisata di danau toba? Jawabannya terapkan manajemen pariwisata yang baik di danau toba. Jangan lagi hanya terpesona dengan keagungan di masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu. Semua pihak harus bekerja keras menuju masa depan yang cemerlang.
Sebagai langkah awal yang harus dilakukan adalah membentuk suatu institusi atau badan atau perkumpulan atau apalah namanya. Institusi ini harus dibentuk oleh pemerintah provinsi dengan melibatkan orang-orang yang profesional dibidang manajemen pariwisata. Mengapa harus provinsi yang membentuk? karena danau toba berada di satu propinsi yaitu Sumatera Utara, tetapi berada di banyak kabupaten atau lintas kabupaten. Pengelolaan pariwisata danau toba harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh dan tidak boleh dikelola sendiri-sendiri oleh masing-masing kabupaten.
Setelah institusinya dibentuk, selanjutnya diadakan inventarisasi seluruh permasalahan yang ada di danau toba. Dari hasil inventarisasi ini kemudian dirumuskan dan disusun pedoman pengembangan pariwisata danau toba. Dalam pedoman ini harus jelas tercantum apa-apa saja yang akan dilakukan, apa-apa saja target yang mau dicapai dan siap-siapa saja yang akan melaksanakan. Tentu saja semua lapisan masyarakat disana harus dilibatkan dan harus menikmati hasilnya. Secara bertahap dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama pekerjaan dari institusi tersebut harus selalu dianalisa dan diaudit sehingga jika terjadi masalah bisa segera diselesaikan.
bersambung……

Iklan

4 pemikiran pada “Danau Toba

  1. halo…salam kenal bang…..(panggil bang saja yah..hehe)
    Saya tertarik dengan blog ini….saya lahir dan tinggal di daerah pesisir Danau yang sangat indah itu..(saya sangat sangat mengagumi keindahannya).

    Tetapi, Danau Toba tidak ada yang mempedulikan…masyarakat bagaikan BENALU yan seenaknya saja memamfaatkan kekayaan alam Danau Toba tanpa berpikir untuk melestarikannya.

    Sebenarnya Danau Toba berpeluang sebagai Objek wisata yang bertaraf internasional…tidak kalah indahnya dengan BALI (walaupun saya belum pernah kesana, tapi saya nyakin kekayaan alam Danau Toba lebih dari itu).

    Lebaran kemaren saya pulang, dan para wisatawan sangat rame sekali.Jalan-jalan di sekitar Parapat macet total….apakah akan terus begini?????apakah Pemerintah tidak berpikir untuk membuat Parking area….

    Hmmm…Banyak yang harus dibenahi, kesadaran masyarakat dan tentunya gebrakan dari pemerintah….(please dech)…

    Saya takut hanya pengkritik saja…..

    Jujur, saya adalah salah seorang yang terbeban untuk perubahan itu..

    Pastinya banyak anak Bona pasogit yang memiliki kerinduan ini juga……

    trims bang…

    1. Horas ito Lusi, salam kenal juga.

      Kalau boleh tau, ito tinggal dimana di pinggiran danau toba..?
      Benar sekali ito, Danau Toba sangat berpeluang menjadi daerah tujuan wisata internasional bahkan melebihi pulau Bali. Segala potensi untuk itu sudah ada, hanya saja tidak dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh.

      Saya yakin semua orang yang mengenal danau toba, apalagi orang2 yang berasal dari sana pasti menginginkan kejayaan danau toba. Untuk itu kita sendiri bisa ikut berpartisipasi walaupun hanya sekedar melakukan hal-hal kecil misalnya mempromosikan Danau Toba kepada orang-orang disekitar kita agar datang berlibur ke danau toba.

      1. Marhata Batak ma hita ate bang….

        Au tinggal di Ajibata……..

        oh ya bang, tgl 20-24 oktober 2010 ini akan digelar Pesta Danau Toba…

        hmmhmmm….

        mudah2an ini jsalah satu cara untuk mempromosikan Danau Toba lagi….

        okay bang….

  2. Secara ngak sengaja semalam aku jalan2 ke Cambridge City Square Medan…

    Wow…aku senang bangat ternyata ada pameran foto ” Danau Toba in Frame”

    Mau beli, tapi muahaallllll….hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s