My Name Is Khan

Setelah lebih dari tiga bulan tidak menonton film di bioskop, kemarin saya bersama pacar yang telah menjadi isteri saya memutuskan untuk menonton bioskop lagi. Judul film yang kami pilih adalah My Name Is Khan. Dari judulnya saya langsung tau kalau film ini adalah film India. Film ini diperankan oleh Shah Rukh Khan dan Kajol. Keduanya adalah bintang dari sebuah fim india fenomenal di tahun 90-an berjudul Kuch Kuch Hota Hai yang berhasil mendobrak main sream film India kebanyakan.

Film ini tidaklah sama seperti kebayakan film india. Dalam film ini tidak ada orang yang menari-nari sambil menyanyi yang durasinya sekali menyanyi bisa sampai lima menit, tidak ada kisah cinta si kaya dan simiskin, tidak ada inspektur vijay, tidak ada tuan takur dan tidak ada adegan perkelahian antara anakmuda dan penjahat, apalagi berkelahi dibawah guyuran air hujan juga tidak ada. Namun film ini tetap berdurasi hampir 3 jam layaknya film India yang lain.

Karan Johar yang menjadi sutradara film ini ingin menceritakan dilema seorang muslim bernama Rizvan Khan, yang mempunyai penyakit bernama Aspergers Sindrom sejenis penyakit autis. Rizvan dicap sebagai seorang teroris hanya karena dia seorang muslim. Peristiwa ini terjadi setelah kejadian 9/11.

Disebabkan oleh penyakitnya, sejak kecil Rizvan mempunyai masalah sosial dan tidak mampu berinteraksi secara normal. Walaupun demikian Rizvan mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam hal tulisan dan hafalan. Dia sangat cepat menghafal apa yang dia baca dan dia dengar. Ibu Rizvan selalu mengajarkan bahwa tidak ada orang islam baik dan orang islam jahat, tidak ada orang kristen baik dan orang kristen jahat, tidak ada orang hindu baik dan orang hindu jahat. Kebaikan dan kejahatan ada pada manusianya, tetapi tidak ada kaitannya dengan agama yang dianutnya. Didikan ibunya tertanam kuat dalam benak Rizvan hingga dia merasa didikan ibunya benar, tetapi realitas yang dia hadapi sangat jauh berbeda.

Setelah ibunya meninggal, Rizvan Khan menyusul adiknya ke Amerika dan tinggal di sana. Di sanalah ia bertemu dengan seorang penata rambut bernama Mandira yang diperankan oleh Kajol. Mandira adalah seorang janda yang baik hati dan tinggal bersama anaknya, Sam yang baru berusia 6 tahun.
Cerita cinta Rizvan-Mandira agak luar biasa kerana latar belakang mereka berdua yang berlainan agama dan gaya hidup. Pernikahan mereka yang awalnya mendapat tentangan adiknya karena Mandira beragama hindu, berakhir dengan baik. Namun kisah cinta mereka yang baru mulai, ‘terputus’ karena peristiwa September 11 di New York City yang menyebabkan beberapa insiden.

Sam dipukuli oleh anak-anak Amerika sampai meninggal di lapangan bola sekolahnya hanya karena namanya diakhiri dengan Khan yang diambil dari nama ayah tirinya Rizvan Khan. Akibat peristiwa ini Mandira menganggap Risvan Khan lah yang menyebabkan kematian Sam, sehingga Mandira mengusir Rizvan.
Segalanya berubah, keduanya terpisah dan cerita cinta mereka kemudian mengharu birukan emosi penonton. Hanya satu saja syarat yang diberikan Mandira untuk Rizvan untuk boleh kembali. Dia harus bertemu dengan Presiden Amerika dan memberitahunya, My Name Is Khan…And I Am Not A Terrorist.

Bagi Mandira, selama namanya masih Khan, dia akan tetap dianggap sebagai teroris. Dan di sinilah babak pertama film ini dimulai, di mana Rizvan ‘Shah Rukh’ Khan mengenggam tiga biji batu hitam sambil mulutnya berzikir ‘Qul Huwallahu Ahad’ sehingga menimbulkan curiga mata-mata yang memandangnya.
Perlakuan ‘rasial’ yang dialami Rizvan ada kalanya menyentuh perasaan, membuat kita berpikir bagaimana buruk sangka dapat membuat manusia berubah dari baik ke sifat binatang. Bagaimana suasana yang dulunya harmonis berubah menjadi anarkis. Bagaimana kedamaian berubah menjadi konflik.

Film ini dengan sangat jelas menggambarkan bagaimana kebingungan bahkan ketakutan orang-orang bahkan negara sebesar Amerika paskah penyerangan teroris di gedung WTC pada 9/11 itu. Orang-orang yang tidak tahu-manahu menjadi korban. Orang-orang menjadi bingung apakah akan tetap mempertahankan identitas agamanya, karena identitas itu dicap sebagai teroris. Negara juga bingung menentukan mana orang yang benar-benar baik dan mana orang yang sungguh-sungguh jahat.

My Name Is Khan berhasil menunjukkan bahwa teroris itu tidak ada kaitannya dengan agama. Teroris itu adalah orang-orang yang memperalat agama sebagai dalih untuk pembenaran tindakan mereka. Film ini dengan tepat menunjukkan kepada penonton bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan berbuat baik tidak mengenal batas-batas agama dan ras. Kebaikan adalah universal.

Layaknya film-film india, film ini diakhiri dengan cukup manis dimana Mandira akhirnya menemuai Rizvan dan tidak akan pernah melepaskan Rizvan lagi dari kehidupannya setelah ia merelakan kepergian Sam. Di akhir cerita Khan dengan didampingi oleh Mandira berhasil menemui presiden Amerika dan menyampaikan My Name Is Khan…And I Am Not A Terrorist.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s