Na Olo Do Au-5

Durian Itu
Hari ini hari ketiga aku di Sipanganbolon. Tadi malam aku berencana pagi ini mau bangun agak siang, namun keyataannya pagi ini aku bangun hari masih pagi. Tidak lebih dari jam tujuh ketika aku menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhku. Udara masih dingin, namun suara rame para pembeli di warung Lisbet di ruangan kiri depan rumah kami menarik perhatianku. Mereka adalah para tetangga yang ingin belanja dan juga anak-anak sekolah yang singgah jajan sebelum berangkat ke sekolah. Anak-anak sekolah yang ceria itu mengingatkanku ketika aku masih sekolah separti mereka. Bersekolah, bermain menjadi kegiatan yang sangat menggembirakan. Walaupun seringkali terjadi keributan atau perkelahian sesama kami, tetapi kami tidak pernah bermusuhan dalam waktu yang lama. Bahkan seingatku tidak pernah bermusuhan lebih dari satu hari. Bermusuhan diantara kami sering kami sebut dengan “Marsending”. Memang hal-hal yang sangat kecil bisa memicu perkelahian, tetapi kami selalu memaafkan. Wah… ceritanya jadi ngelantur ya….. Begitulah kalau sudah mengingat masa-masa kecil.

Hari Sabtu menjadi hari yang istimewa bagi seluruh warga Sipanganbolon. Setiap hari Sabtu, warga Sipangan bolon akan berbelanja ke Pekan Tigaraja. Saya tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai. Demikian juga hari ini, Ito mama Lisbet juga pergi ke pekan Tigaraja. Ito akan belanja kebutuhan di rumah untuk seminggu ke depan. Selain itu ito juga akan membeli tiga ekor lomok-lomok untuk keperluan acara tanggal 22 sesuai dengan keputusan pembicaraan tadi malam. Aku juga memesan ke ito untuk membeli beberapa meter kabel listrik, fitting dan bohlam untuk dipasang di WC belakang.

Hari ini hanya ito yang pergi ke Tigaraja sedangkan Lisbet di rumah menjaga warungnya dan suaminya Lisbet pergi ke ladang yang ada di Simandalahi. Di sana mereka sedang menanam cabe. Sedangkan aku sendiri duduk-duduk di teras memandang ke jalanan memperhatikan kendaraan yang lewat terutama memperhatikan truk-truk logging yang turun dari harangan Sitahoan. Rumah kami berada persis di simpang Sitahoan. Aku heran mengapa truk-truk itu masih beroperasi…? Bukankah aktivitas penebangan hutan oleh Indorayon di Sitahoan sudah dihentikan….? Dan mengapa truk-truk besar yang bermuatan penuh kayu itu ditutupi oleh terpal…? Berbagai pertanyaan tentang truk-truk kayu itu muncul di kepalaku. Tapi sudahlah… aku datang ke Sipanganbolon saat ini bukan mau mengurusi truk-truk itu. Tujuanku adalah memenuhi salah satu kodratku sebagai manusia yaitu menikah. Aku tak mau acara pernikahanku nanti diganggu oleh pikiran-pikiran tentang truk-truk logging itu.

Aku masih duduk-duduk di teras ketika Tulang Walsen dengan motor RX King-nya berhenti di depan rumah. Dia membonceng sekeranjang penuh buah-buah durian. Tulang itu berhenti mau membeli bensin untuk motornya. Selain membuka warung,Lisbet juga menjual bensin ketengan di depan rumah. Aku menghampiri Tulang Walsen, menyalamnya dan menanyakan kabarnya. Dengan terlebih dahulu membuka helemnya, dia menyambut uluran tanganku dan membalas menayakan kapan aku datang. Sambil ngobrol, saya tertarik dengan buah durian yang dibawa Tulang Walsen. Saya menanyakan mau dibawa kemana durian-durian itu. Dia menjelaskan kalau diasekarang berjualan durian. Dia membeli durian dari Girsang dan menjajakannya sepanjang jalan di Sipanganbolon. Saya berminat dan Tulang itu menawarkan sebuah durian yang paling besar yang dia bawa. Harganya hanya 15 ribu rupiah. Tanpa menawar aku langsung membelinya dengan memastikan kalau buah durian tersebut enak dan tidak busuk. Tulang Walsen memberikan jaminan dengan mengatakan akan mengganti bila durian itu tidak enak. Saya hanya membeli satu saja. Nanti kalau enak saya akan beli lagi.

Setelah bensin selesai diisikan ke motor Tulang Walsen dan pembayaran selesai dilakukan, diapun pamit untuk melanjutkan perjalanannya menjajakan durian-durian yang dia bawa. Aku membawa durian yang kubeli ke ruang belakang rumah kami. Aku mencium aromanya yang begitu menggoda. Aku tak sabar untuk mencicipinya. Aku ambil parang dan kupakai untukmembelah durian tersebut. Susah juga ternyata membelah durian yang satu ini. Aku coba lagi-lagi dan lagi. Akhirnya durian itu terbelah juga dan langsung kucicipi. Waaww….. Mmmmmmmm…. Nikmat sekali. Rasanya pas. Benar-benar durian yang sangat enak. Rasanya tidak terlalu manis, ada sedikit rasa pahitnya. Matangnya juga pas. Tidak mengkal dan tidak terlalu matang.

Saat aku menikmati durian yang luar biasa enak itu, aku langsung menelepon Ros memeritahukan kalau aku sedang menikmati durian yang sangat enak. Aku berharap dia juga suka durian dan nantibila dia sudah ada di Sipanganbolon, akan aku belikan juga buat dia durian seperti ini. Aku membayangkan akan lebih nikmat bila kami bisa menikmatinya bersama. Namun ternyata Ros tidak suka durian. Dia tidak suka dengan buah yang aromanya kuat termasuk pete dan jengkol. Wah… sayang sekali Ros, ini buah yang sangat enak lo…. Ya sudahlah kalau Ros tidak suka,biar kunikmati sendiri. Di ujung pembicaraan kami di telepon, dia pesan agar jangan banyak-banyak makan durian nanti bisa pusing atau mabok. Ok Bosss…. Aku tidak memakan semua isi dari durian yang aku beli. Akuhanya memakan dua kamar saja. Nantilah kami makan bersama sisanya sesudah ito mama Lisbet pulang dari Tigaraja dan suaminya Lisbet pulang dari ladang.

Tidak lama ito mamanya Lisbet di Tigaraja. Dia sudah pulang sebelum tengah hari. Dia mambawa tiga ekor lomok-lomok, aneka belanjaan, peralatan listrik yang aku pesan dan yang yang aku tunggu-tunggu, jajanan pasar berupa pecal, misop, dan kue-kue basah khas pekan Tigaraja. Tanpa buang-buang waktu, kami langsung makan siang. Suaminya lisbet pun sudah pulang dari ladang. Makan siang yang nikmat dengan lauk ikan mujahir goreng dan pecal serta misop yang dibawa ito mama Lisbet. Aku makan sampai nambah. Entah mengapa perutku selalu lapar sejak tiba di Sipanganbolon, padahal makanku cukup banyak. Selesai makan siang, kami menuntaskan buah durian yang tadi aku sisakan. Rasanya perutku seperti karet balon yang bisa mengembang menampung apa saja yang aku masukkan. Kembali aku menikmati durian yang rasanya luar biasa itu.

Dari informasi yang kuterima dari ito mamanya Lisbet, ternyata sekarang itu lagi musim durian dimana-mana, termasuk di Girsang dan Sipanganbolon. Pada hal tahun-tahun sebelumnya,aku tidak pernah melihat pohon durian berbuan di Sipanganbolon. Dulu kami bisa makan durian yang didatangkan dari tanah jawa, Bandar dan daerah di sekitar Siantar, atau dari Pahae. Pernah satu kali ketika aku masih SD, inanguda adeknya mama yang tinggal di Pahae membawa durian satu goni dan kami memakannya sampai puas. Pahae memang penghasil buah durian,namun rasa durianPahaemasihkalah dibanding rasa durian Tanah jawa. Tanah jawa yang kumaksud bukan pulau jawa, tetapi satu daerah di kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Durian….oh durian…. Tulang Walsen… besok datang lagi ya…..! Bawa durian yang lebih enak lagi….. aku pasti beli….

Bersambung……

4 pemikiran pada “Na Olo Do Au-5

  1. wah padahal makan durian enaknya berdua sama pasangan tercinta…:-)

    tapi durian yang ditanam ayahanda alm di Paras juga lagi lebat berbuah, hingga 50an buah padahal pokoknya tidak terlalu besar, tapi memang tinggi.

    1. Iya.. enaknya sih makan bersama pasangan, tp karena si Dia tidak suka, ya… jadinya makan sendirilah….

      Toho do i, ramosan sude durian na di Sipanganbolon i.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s