Na Olo Do Au-3

Martuppol

Hari kedua aku di Sipanganbolon, aku bangun kesiangan. Tadi malam kami ngobrol sampai larut. Udara dingin Sipanganbolon juga membuat aku enggan melepas selimut yang membungkus tubuhku bagai kepompong. Matahari sudah mengintip di timur ketika aku bangun. Sinarnya yang hangat perlahan mengusir udara dingin. Di teras telah terhidang teh manis hangat dan pisang goreng. Dengan bermandikan cahaya matahari pagi, aku menyeruput teh hangat dan pisang goreng itu. Wahhh…nikmat sekali.

Pagi ini waktuku banyak kugunakan untuk ngobrol dengan saudara-saudaraku dan juga tetangga yang datang ke rumah. Sepertinya tidak habis-habis topik yang kami bicarakan. Menjelang siang hari aku bersiap-siap untuk acara martuppol nanti. Satu stel jas warna biru gelap ku keluarkan dari bungkusnya. Jas yang kami jahitkan di tukang jahit Sianipar di Pondok Kelapa. Bahannya dibeli khusus dari Pasar Baru. Kuperiksa sekilas lalu kugantung di dinding dekat kamar. Kemudian sepatu hitam yang aku beli di Pasararya Grande Blok M kulap untuk memastikan tidak ada debu yang menempel. Dasi berwarna biru muda yang kami beli bersama Ros di Pasar Baru kucoba ikatkan dileherku.

Setelah semua perlengkapan siap, aku beranjak untuk mandi. Lagi-lagi rasa dingin menjadi masalah. Air yang ada di rumah dinginnya luar biasa. Dinginnya sama dengan air yang dikeluarkan dari dalam kulkas. Untung saja sudah ada air yang telah dimasak untuk air minum dan jumlahnya cukup banyak. Air inilah yang aku gunakan untuk madi setelah terlebih dahulu dicampur dengan air dingin untuk mendapatkan suhu yang pas dikulitku. Uuuhhhh…. Segarrr. Baru ini aku mandi sejak dari jakarta kemarin.

Sebelum jam 12 aku sudah siap. Jadwal keberangkatan kami ke Siantar adalah jam 13.00. Makan siang juga telah selesai dengan menu yang tidak jauh berbeda dengan menu tadi malam, tetapi rasanya tetap sangat nikmat di lidahku. Ikan mujahir goreng dengan sambal andaliman itu lo yang tak mungkin aku lewatkan. Rasa ikan mujahir itu sangat beda dengan ikan mujahir yang dijual di Jakarta. Mungkin karena diambil langsung dari Danau Toba, bukan dari tambak atau keramba.

Satu-persatu saudara dan tetangga mulai berdatangan ke rumah. Jam 13 tepat kami berangkat dengan dengan dua buah mobil yang di sana dikenal dengan ELTOR singkatan dari L tolu ratus, L300. Perjalanan dari Sipanganbolon ke Siantar ditempuh tidak lebih dari satu setengah jam. Sekitar jam 14.30 kami sudah tiba di rumah bapatuanya Ros di Rambung Merah Siantar. Rumah masih sepi dan Ros masih di Salon. Kedatangan kami membuat suasana rumah menjadi rame. Banyak dari rombongan kami adalah tukang cerita dan cerita-cerita yang mereka lontarkan membuat kami tak sanggup menahan tawa.

Satu kisah nyata paling unik yang diceritakan adalah. Ketika salah seorang dari antara kami pernah pergi mengikuti sebuah undangan pesta pernikahan ke suatu daerah. Mereka berangkat menaiki satu bus besar dan satu mobil kijang. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, sopir mobil kijang pamit dan akan kembali ke tempat acara nanti sore sesuai dengan jadwal yang disepakati. Ketika acara dimulai dan giliran parboru akan menyampaikan ikan mas, ternyata ikan mas yang mereka bawa tidak kelihatan. Dicari ke semua tempat yang mungkin, tidak ketemu. Ternyata ikan mas tersebut masih tertinggal di mobil kijang yang yang telah pamit tersebut. Keadaan menjadi panik. Acara pemberian ikan mas ditunda sementara. Seorang dari rombongan berinisiatif mencari ke warung makanan khas batak yang ada di daerah itu. Ternyata tidak ditemukan masakan ikan mas yang sesuai dengan yang diinginkan. Dengan keadaan terpaksa dipakailah ikan mas yang telah dipotong-potong yang tersedia di warung yang ada disana. Dengan perasaan sangat malu, pihak parboru menyampaikan ikan mas yang apa adanya itu. Ketika hari sudah sore sopir kijang kembali ke tempat acara. Dengan emosi yang meluap dan tanpa basa-basi bapak dari mempelai perempuan langsung mendatangi si sopir kijang lalu mendarat sebuah pukulan telah di wajah si sopir. Si sopir tidak terima dengan pelakuan si Bapak, lalu mengadukan penganiayaan ini ke polisi. Sebuah kejadian yang tragis….

Dalam kesesriusan kami mendengarkan cerita tadi, Ros dengan dandanannya yang aduhai memasuki rumah dimana kami telah berkumpul. Kebaya merah jambu yang dijahit oleh Mas Min [dipanggil mas mince karena kromosom x nya lebih domonan] di daerah Cempaka Putih membalut tubuhnya. Bibirnya yang dipoles lipstik menebar senyum sambil menyalami satu-persatu orang yang ada di rumah. Aku jadi pangling melihat penampilannya….  wajahnya, rambutnya sampai ke ujung kaki begitu elegan, meminjam istilah orang-orang mode dan kecantikan. Menyusul dibelakang Ros ada Nantulang yang seminggu kemudian menjadi mertuaku. Dia juga telah siap dengan penampilan terbaiknya.

Tanpa menunggu lama, kami siap-siap untuk berangkat ke gereja. Dengan terlebih dahulu memanjatkan doa memohon penyertaan Tuhan yang dipimpin oleh Tulang marga Situmorang, kami meninggalkan rumah menuju gereja. Tiba di depan gereja, disana sudah ada beberapa saudara menunggu. Mereka langsung ke gereja, karena mereka tidak tau alamat rumah Tulang, bapatuanya Ros. Lumayan banyak juga saudara yang datang untuk mengikuti prosesi martuppol ini.

Gereja HKBP Parsaoran Na Uli menjadi tempat dimana aku dan Ros akan “Patuppolhon” rencana pernikahan kami. Aku tidak pernah menduga akan punya urusan lagi dengan gereja ini, tetapi kenyataan menhendaki lain. Lebih dari 18 tahun yang lalu, aku sering kebaktian di gereja ini. Waktu itu aku tinggal di rumah tulang di Gang Aman jalan Ahmad Yani Pematang siantar, karena aku sekolah di SMA N 2. Tampilan gereja ini masih persis seperti 18 tahun yang lalu. Altarnya atau langgatannya yang dipenuhi oleh relief-relief tentang TUHAN Yesus tidak ada yang berubah dan ini yang tak mungkin aku lupa dengan bangunan gereja ini. Yang berubah hanyalah di halamnnya yang cukup luas berdiri sebuah bangunan baru yang lebih besar dari bangunan gereja itu sendiri. Bangunan ini munkin adalah bangunan serba guna. Bagiku bangunan ini mengurangi keanggunan gereja tersebut.

Acara partoppolon dimulai dengan mengadakan persiapan di bilut parhobasan atau ruang konsistori yang ada persis di belakang gereja. Saat persiapan ini dijelaskan tata cara paruppolon yang akan dilaksanakan, diperiksa semua berkas-berkas yang diperlukan terutama surat pengantar dari gereja dimana mempelai laki-laki dan perempuan terdaftar. Aku terdaftar di gerja HKBP Sola Gratia Kayu Mas Jakarta Timur dan Ros terdaftar di gereja HKBP Duren Jaya Bekasi. Pada persiapan ini juga ditunjuk saksi-saksi yang akan turut menandatangani berita acara martuppol dan juga diberikan teks ikrar yang akan dibacakan oleh kedua mempelai di depan jemaat.

Selesai persiapan, seluruh jemaat, kedua mempelai dan parhalado memasuki gedung gereja. Lagu dari buku ende dinyanyikan bersama oleh jemaat yang dipandu oleh seorang parhalado menjadi awal dari kebaktian partuppolon. Yang menjadi puncak dari acaraini adalah disaat kedua mempelai maju kedepan altar dan menghadap jemaat membacakan ikrar ata perjanjian partuppolon atau pra nikah. Inti dari ikrar ini adalah bahwa kedua mempelai sudah siap menikah dan akanmemenuhi segalakonsekwensi dari sebuah pernikahan ala kreistren, yang salah satu aturannya adalah tidak mengenal perceraian. Satu lagi inti dari ikrar ini  adalah peryataan  tidak mempunyai hubungan khusus dengan orang lain. Di acara ini juga pimpinan acara mewakili gereja memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengajukan keberatan apabila mengetahui bahwa mempelai laki-laki maupun perempuan masih memiliki hubungan khusus dengan orang lain selain pasangannya yang sekarang. Kesempatan pengajuan keberatan ini diberikan selama rentang waktu dari martuppol sampai hari pemberkatan nikah atau mamasu-masu. Sesuai peraturan gereja HKBP, rentang waktu ini diberikan selama waktu dengan melewati dua kali hari minggu, dimana setiap hari minggu yang dilewati akan diadakan pengumuman di gereja dimana mempelai mertuppol dan dipasu-pasu. Pengumuman ini dikenal dengan tingting parbogason. Khusus buat kami yang tidak memiliki waktu cuti yang lama, maka hari minggu yang dilewati hanya sekali, jadi ting-ting parbogason hanya sekali. Acara kebaktian partuppolon diakhiri dengan kotbah dan doa berkat.

Selesai acara kebaktian, seluruh jemaat disuguhi dengan makanan ringan berupa lappet dan minuman kopi dan teh manis. Sambil menikmati makanan yang disediakan kami saling menanyakan kabar dengan saudara yang baru ketemu di gereja itu. Suasana begitu akrab dan kesan yang saya tangkap dari setiap obrolan dengan sadara2 yang ada disana, mereka sangat bahagia dengan acara pernikahan ini. Mereka sangat berharap kami bisa menjadi teladan bagi keluarga besar kami. Mereka berharap pernikahan kami membuat kehidupan keluarga besar kami lebih baik lagi. Wahhh…. Sebuah tanggung jawab yang sungguh besar. Sanggupkah kami mewujudkannya….? Semoga.

Usai seluruh rangkaian martuppol, kami meninggalkan gedung gereja. Kami rombongan mempelai laki-laki kembali ke Sipanganbolon, sedangkan Ros dengan rombongan mempelai perempuan kembali ke rumah bapatuanya. Perjalanan kami ditemani oleh guyuran hujan yang sangat lebat hingga jalanan menjadi banjir. Baru sekali ini aku melihat jalanan dari Siantar menuju Parapat banjir. Ada apa gerangan…? Apakah ini akibat dari perubahan iklim yang sering kita dengar di tipi-tipi…? Tapi sudahlah… aku anggap saja ini hujan berkat dari Tuhan. Hujan yang yang akan memberikan kehidupan di bumi. Seminggu lagi aku dengan Ros akan diberkati di gereja HKBP Sipanganbolon.

Bersambung….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s